
Sebelumnya di ruang makan
"Ayah, Kapan datang? bukannya ayah bilang, pekan datang baru bisa datang?" Abidzar begitu kaget melihat ayahnya. Dia bahkan belum menyiapkan diri untuk mempertemukan Kaniya dengan ayahnya. Bagaimana kalau Kaniya shock melihat beliau. Bagaimana kalau ayahnya menolak Kaniya dengan kasar. Banyak pikiran buruk menghantui pikiran Abidzar.
"Ayah pulang cepat karena mendengar anak ayah ini sedang melamar wanita dengan romantis, sampai-sampai ia terjatuh saking gembiranya karena diterima" ? Abidzar menundukkan kepalanya, dia tahu ayahnya sedang marah karena bukannya menemukan dan melamar Dewi penolong ayahnya. Dia malah melamar wanita lain.
"Kaniya ada disini, yang. Kamu pasti akan senang mengenal dia" Ibu Abidzar berusaha membantu anaknya.
"Aku tahu, banyak gadis cantik, baik yang bisa kamu nikahi. tapi, apa salah jika ayah ingin kamu memenuhi permintaan ayah untuk menikah dengan Putri, wanita yang ayah pilih. Dia sudah berjasa pada ayah. Dia menolong ayah. Jika bukan karena pertolongannya, mungkin ayah sudah tidak ada diantara kalian" Ucap ayah dengan lirih menahan marah agar tidak berucap kasar di depan istri yang sangat dicintainya.
"Yah... dia memang menolong ayah, tapi semua itu sudah ketentuan Allah agar ayah selamat. Dia hanya perantara yang dikirim Allah untuk ayah" balas Abidzar.
"Walau begitu, ayah merasa berutang Budi, nak. Wanita seperti itu yang kamu butuhkan di sisimu. Dia begitu baik dan penyayang pada sesama. Kamu tahu, sebelum ayah kecelakaan, ayah melihat seorang gadis yang menyeberangkan nenek tua di jalan. Ayah begitu kagum dengan kebaikan hati sang gadis"
"lalu, apa hubungannya dengan wanita yang ayah jodohkan denganku?" Tanya Abidzar penasaran.
"Sore hari, saat ayah akan pulang, mobil ayah kecelakaan. Sebuah mobil truk menabrak dari belakang. Ayah sangat kaget waktu merasakan badan ayah terpental dari kursi. Lalu ayah tidak tahu apalagi yang terjadi. Tapi yang pasti, saat bangun dari pingsan, ayah melihat gadis itu menjaga ayah karena tidak bisa menghubungimu. Dia gadis yang sama dengan yang ayah lihat sedang membantu nenek-nenek.
Dia membantu nenek yang tak dikenalnya, menjaga ayah yang bahkan juga tidak dikenalnya. apalagi, jika itu adalah keluarganya. Kamu akan beruntung memiliki istri sepertinya. Syifa akan sangat menyayangi sosok penyayang seperti dia dan Putri pun akan sangat bahagia memiliki Syifa sebagai anaknya"
"Tapi, yah. Aku sangat mencintai Kaniya. Bisakah ayah memberikan hal lain untuk dijadikan balasan? bagaimana dengan saham?" Tanya abidzar.
"Ayah sudah melakukannya. Tapi dia tampak acuh tak acuh dengan pemberian ayah. Ayah sudah memberikan saham perusahaan sebesar 5 persen sebagai ucapan terimakasih. Tapi itu tak cukup, karena ayah ingin memasukkannya dalam keluarga kita"
"Angkat aja jadi anak, yah. Otomatis kan masuk keluarga kita" Jawab Abidzar cuek.
"Kamu pikir, wanita dewasa usia hampir 40 tahun masih mau di angkat jadi anak? Raut wajah ayah mulai tegang.
Saat ini
Ketegangan wajah pada kakek berubah jadi raut kaget saat menatap Kaniya. Pun Kaniya, seakan merasa pernah bertemu dengan bapak didepannya.
"Kek.. kenalin, ini Tante Kaniya. Calon ibu Syifa. Ayah bilang, asal Syifa rajin berdoa, Tante Kaniya akan jadi ibu Syifa. Syifa senang kek. apalagi sebentar lagi mereka mau menikah" Ucap Syifa dengan ceria.
"Kaniya?" kening kakek mengerut. mencoba berpikir. Wanita ini sangat mirip dengan putri.
"Assalamu Alaikum, pak. Lama tidak bertemu. bagaimana keadaanya sekarang, sehat?" Sapa Kaniya, setelah dia ingat bapak di depannya. Beliau adalah laki-laki yang pernah di tolongnya lebih dari 10 tahun saat dia masih kuliah S1 di kota ini.
Bapak ini jugalah yang menjadi awal dia kenal dengan bisnis. Bagaimana tidak, saat itu si bapak memberikannya sejumlah saham di perusahaannya. Sehingga deviden yang didapatkan Kaniya, langsung dijadikan modal untuk buka usaha kecil-kecilan di kota wisata..Meskipun itu dilakukan setelah melanjutkan S2 di kota berbeda.
Abidzar tidak pernah bertemu Kaniya. Kaniya tidak pernah datang ke perusahaan bahkan meskipun sedang diadakan RUPS. Kaniya selalu meminta teman baiknya, Fatimah untuk mewakilinya. Disana pulalah Fatimah bertemu si dosen ganteng, suaminya.
"waalaikum salam. Putri??"
"Iya, pak".
"Masya Allah. Kamu sudah dewasa sekarang, tambah cantik. Wah, pasti banyak pria yang senang saat bertemu denganmu. Alhamdulilah, saya sekarang sudah sehat
Terimakasih karena telah menolongku waktu itu" Ucap ayah abidzar tulus.
"Tunggu..tunggu.. Aku belum paham. Maksudnya ini bagaimana yah? Kaniya, kamu kenal ayah??" Kaniya hanya mengangguk. tampaknya ia mulai paham dengan apa yang terjadi.
"Jangan dong, yah. Masa dijadikan saudaraku sih. Kaniya kan calon istriku. Lagian mana ada manusia dewasa yang diangkat jadi anak" Ucap Abidzar.
"Ya, diadakanlah. Kan kamu yang minta tadi. Ayah cuma mengikuti permintaan anak laki-laki ayah satu-satunya. Ayah tidak ingin dia kecewa" Jawab ayah abidzar mencoba menahan senyum.
"Yah.. kan tadi aku belum tahu kalau Putri yang bapak maksud itu adalah Adinda Kaniya Putri" Rajuk Abidzar.
"Ayah sama anak nih sama saja, Kaniya berdiri lama begitu bisa pegel. Kalau nanti kakinya bermasalah, harus ke dokter, lama lagi deh ibu dapat menantu" Ucap ibu menghentikan pertikaian ayah dan anak itu.
"Ayo duduk, Tante" Syifa menarik kursi untuk Kaniya, lalu menarik satu lagi untuk nya.
"Ini bagaimana ceritanya, Kaniya dan putri bisa jadi satu orang. Kenapa anakku ini beruntung sekali bertemu denganmu, put. padahal dari dulu, disuruh cari kamu tapi nggak pernah ketemu?" Tanya ayah.
"Ya... namanya Kaniya memang Adinda Kaniya Putri, Yah. Jadi wajar kalau mereka itu satu orang yang sama..Cuma, aku nggak pernah kepikiran kalau mereka itu sama. Aku juga salah sih, karena nggak pernah minta nama lengkap dan fotonya sama ayah. " Jawab Abidzar.
"Kalau masalah beruntung, itu sih memang aku banget, Yah. Penuh dengan keberuntungan. Bagaimana tidak, pertama bertemu Kaniya kan sebenarnya nggak sengaja. Bertemu kedua kali pun nggak sengaja. Syifa dan aku merasa nyaman bersama Kaniya. Jadi, aku berencana akan mengunjungi rumahnya untuk melamar. Tapi, saat meminta seseorang ke kampung Kaniya untuk mencari tahu alamat jelasnya dan melihat situasi disana, bukan karena nggak yakin dengan sifatnya, tapi lebih pada takut 'gimana kalau Kaniya sudah menikah'. Dan ternyata, orang suruhan ku melaporkan bahwa Kaniya akan menikah" Lanjut abidzar.
"Jadi, aku mundur teratur, yah. Kan wanita dalam pinangan orang lain tidak boleh kita lamar. Terus, aku berusaha membuat Syifa lupa dengan Kaniya. Kan, dia minta terus terusan minta ketemu sama Tante Kaniya nya. Lalu, Aku membelikan vila di kota wisata, sehingga setiap liburan kami menginap di villa. Syifa yang sangat menyukai bunga yang ada di villa, akhirnya berhenti merengek tentang Kaniya" Semua mendengarkan penjelasan Abidzar.
"Tapi, ternyata Allah memang sepertinya sudah menjodohkan kami. Saat aku, ibu dan Syifa ke pasar di kota wisata. Aku malah ketemu lagi secara tidak sengaja dengan Kaniya. Lebih beruntungnya aku, Kaniya ternyata gagal menikah. Menang banyak kan aku" Lanjut Abidzar berapi-api.
Kaniya hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan Kaniya. Bagaimana pun dia merasa diinginkan, dia tidak bisa membendung rasa bahagia dalam hatinya.
Ayah Abidzar yang membuatnya was-was selama ini, ternyata juga adalah orang yang sangat baik. Orang yang dulu ditolongnya. Meskipun, sebenarnya, itu sudah kewajibannya sebagai sesama manusia. Tapi ayah Abidzar memberikan balasan yang sangat fantastis menurut Kaniya, yaitu saham di perusahaanya.
"Abidzar ini bodoh, yah. Masa waktu ketemu lagi sama Kaniya, dia malah langsung melamarnya di pasar" Ibu Abidzar bercerita sambil memutar bola matanya.
hahahha...
Ayah Abidzar dan Kaniya tertawa mendengarkan cerita ibu. Kaniya pun sebenarnya merasa lucu saat ingat masa itu. Sedangkan Syifa berusaha memahami pembicaraan orang-orang dewasa di dekatnya. Dia tidak mau menginterupsi pembicaraan orang dewasa. jadi, dia hanya menikmati makanan di depannya.
"Lalu, kejadian kemarin itu yang paling lucu, yah. Abidzar kan mau lamar Kaniya dengan cara romantis. Jadi, dia sudah mengatur sebaik mungkin bahkan bekerja sama dengan siswa Kaniya dan beberapa orang di perkebunan teh di kota wisata. Tapi Yah, Abidzar malah jatuh saat melompat tinggi, gegara Kaniya menerima lamarannya"
hahahaha... ayah Abidzar tertawa lagi.
"Senang benget anaknya jatuh" ucap Abidzar merengut.
"Nggak usah bergaya seperti itu, sudah tidak cocok. Ingat umur kamu" Ucap ayah nya menatap abidzar.
Kaniya tersenyum karena interaksi ayah dan anak itu. Mereka tarnyata sehangat ini saat bertemu.
"Ayo kita makan aja. Lihat Syifa, kayaknya dari tadi sudah lapar mendengarkan kalian jadi makan duluan"
"Hehe.. Bener nek, Syifa lapar, tapi takut ganggu, jadi Syifa langsung makan aja. Tadi sudah ada Tante Kaniya yang bantu mengambilkan lauk, jadi nenek nggak perlu khawatir" Ucap Syifa.
"Kalau begitu, kita mulai makan" Lalu semuanya khusu' untuk makan.
***