
Ting..
Kaniya melihat hp nya yang berdenting menandakan pesan masuk. Dibukanya pesan dari Fatimah yang ingin berpamitan pulang.
"Bi, aku ketempat Fatimah dulu yah. Dia mau pulang bareng anak-anak" Pamit Kaniya pelan.
"Ok, love. Ayo kita kesana" Saat hendak berdiri, Kaniya menahan Abidzar.
"Nggak usah, Bi. Aku kesana sendiri aja yah. Kamu temani Tante Maya aja.
Abidzar akhirnya mengangguk memberikan izin. Dia menatap kepergian Kaniya dengan tidak rela.
"Abi, kamu dan Kaniya ketemu dimana?" Tanya Maya begitu Kaniya pergi ke arah Fatimah yang sudah menuju jalan keluar bersama Akbar dan kawan kawan.
"Ketemu di hotel, Tan" Jawab Abidzar singkat
"Hotel??" Renata dan Maya menatap tak percaya. Mata Tante sampai membola saking kagetnya.
"Iya, hotel. Saat itu aku dan Syifa nginap di hotel. Kebetulan kami ketemu di lift. Syifa menyapa Kaniya, mereka berkenalan hingga akhirnya makan malam bersama. Pertemuan-pertemuan kami selanjutnya terjadi secara kebetulan. Jadi, aku anggap jodoh dan melamarnya"
"Semudah itu? Abi, kamu sudah mengenal Kaniya? Kita harus tahu bibit, bobot dan bebetnya. Jangan asal pilih"
Abidzar dan kedua orang tuanya hanya tersenyum mendengar perkataan Maya.
"Kami sudah tahu semua kok tentang Kaniya, May. Kamu jangan ragukan kemampuan kami dalam menyelidiki seseorang dong" Jawab Rahayu ibu Abidzar.
"Jadi kamu tahu kalau Kaniya sudah pernah menikah? Dia diceraikan loh, Yu. Gimana kalau alasan dia bercerai karena nggak mampu kasih anak ke suaminya. Apalagi usianya sudah 38 tahun lebih, pasti akan susah hamil" Tanya Maya dengan menggebu.
Kaniya yang kebetulan sudah pulang dari mengantar Fatimah, membeku ditempatnya. Lagi-lagi masalah umur. Dia kira menikahi Abidzar yang sudah punya anak, tak akan ada lagi yang membahas masalah umurnya.
"Sudah, May. Kami sudah tahu kok. Maya itu wanita sempurna. Dia bercerai dengan suaminya atas keinginan sendiri, bukan karena mandul. Kamu jangan berlebihan lah"
"Tapi, Yu. Keluarga kalian butuh keturunan dari Abidzar. Sedangkan Kaniya sekarang usianya sudah lebih 38 tahun, pasti akan susah hamil" kekeh Maya.
"Kami tak pernah menuntut keturunan dari Abidzar, May. Masalah anak itu rejeki Allah. Dulu, Abidzar dan istrinya menikah muda tapi mereka juga tidak diberi momongan. Lama mereka menunggu, hingga Syifa hadir dalam kehidupan mereka" Papar ibu Abidzar.
"Tapi kan pada akhirnya, dia hamil juga. Dia bisa memberikan Syifa adik, tapi sayang saja karena sakitnya sulit diobati, malah meninggal"Jawab Maya
"Tante, bisakah menghentikan pembahasan tentang istri dan almh. Istriku? Terus terang aku tak nyaman dengan pembahasan ini. Kaniya adalah pilihanku, pilihan ayah dan direstui ibuku. Lalu apa yang harus diperdebatkan lagi. Kaniya berasal dari keluarga terhormat. Ayah dan ibunya jelas orang yang disegani di desanya. Kaniya memang pernah menikah, dan sudah bercerai. Tante tidak usah khawatir, sekarang ini, usia tak lagi jadi halangan untuk bisa memiliki anak. Jangankan yang di bawah empat puluh tahun, di atas empat puluh pun masih bisa hamil. Kami akan berusaha dan mohon doakan kami agar secepatnya memiliki keturunan" Ucap Abidzar berusaha tenang menanggapi segala keluhan tantenya.
"Kalian sih, padahal dulu ayah Renata pernah menjodohkannya dengan Abidzar. Kenapa juga Abidzar malah menolak. Apa coba kurangnya Renata, masih muda dan dia sudah punya anak waktu dengan mantan suaminya artinya subur, bisa memberikan keturunan pada Abidzar. Ini malah menikah dengan wanita yang sudah berumur lebih tiga puluh delapan tahun. Sudah menikah dari muda, tapi belum punya anak. Bisa saja kan mandul" Kekeh Bu Maya.
"May.. sudah dong. Aku nggak enak kalau sampai keluarga Kaniya dengar. Susah loh, Abidzar ini ngejar Kaniya. Jangan sampai dia yang dapat masalah gara-gara ucapanmu"
Maya tambah bingung dengan penuturan Ayu, sepupunya. Dia pikir, kenapa pula ada gadis desa yang menolak dilamar lelaki kaya raya seperti Abidzar.
"Maksudnya gimana?" Tanya Maya
Renata hanya diam mendengarkan. Dia tidak ingin terlalu memperlihatkan ketidaksukaannya atas pernikahan Abidzar dan Kaniya.
"Jadi Maya, Kaniya itu lama baru menerima Abidzar. Sampai Abidzar melakukan acara lamaran di kebun teh dan berakhir jatuh disaat lamaran romantisnya" Cerita ibu abidzar berusaha menahan tawa, saat mengingat moment itu.
"Tertawa saja, Bu. Ibu ini suka sekali berbahagia di atas deritaku. Aku kan malu Bu kalau mengingat itu" Rajuk Abidzar pada ibunya.
Semua yang duduk di meja itu tertawa. Bahkan Syifa yang dari tadi diam, karena tak ingin menyela pembicaraan orang tua juga ikut tertawa. Kecuali Renata yang tampak masam, membayangkan lamaran romantis ala Abidzar.
Dia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Abidzar lebih memilih Kaniya daripada dirinya.
"Kayaknya seru sekali, maaf yah lama. Tadi singgah di meja keluarga ku dulu" Kaniya akhirnya memberanikan diri untuk kembali ke meja mereka.
"Kok nggak bilang-bilang sih, love. Aku kan juga ingin menyapa mereka. Seharian ini belum ketemu kan yah sama keluargamu" Jawab Abidzar tidak enak.
"Nggak apa apa, Bi. Mereka paham kok. Kita kan jadi raja dan ratu lagi hari ini, jadi mereka mengerti kalau kita akan sibuk menyambut para tamu"
Maya tidak bisa menampikkan bahwa Kaniya memang memiliki nilai plus dari pembawaannya. Tapi tetap saja, bagi Maya, seorang wanita akan lebih sempurna jika mampu memberikan keturunan. Dan dia masih mengkhawatirkan tentang hal itu.
"Kaniya, apa Tante bisa bertanya?" Tanya Maya.
Kaniya merasa was-was, namun dia tak ingin memperlihatkan kekhwatirannya pada yang lain. Dia lalu mengangguk dan tersenyum.
"Kenapa Tan?"
Abidzar menatap Tante Maya dengan tatapan tak suka. Sementara Renata berusaha menahan senyumnya.
"Bu, aku bawa Syifa keluar yah. Dia bisa main sama anaknya kak citra. Tan, aku pamit keluar dulu yah" Tanpa menunggu jawaban, Nur membawa Syifa pergi dari meja itu. Dia tak ingin Syifa terlalu lama mendengar obrolan orang dewasa yang menurutnya sudah tak sehat didengar anak kecil sepertinya.
"Tan, kita sudah membahas ini tadi.." Jawab Abidzar mulai emosi. Tapi, Kaniya memegang tangan suaminya berusaha menenangkan.
"Usiaku, 38 Tan, bulan tiga nanti masuk 39 tahun. Kenapa yah, Tan?" Tanya Kaniya sopan.
"OOO... Kamu nanti ikut sama Abidzar atau akan tetap bekerja? Tanya Maya lagi
"Ikut kemauan suami aja, Tan. Kalau diizinkan, aku akan sesekali memantau langsung ke sekolah" Jawab Kaniya
"Memantau? bukankah kamu guru disana?" Heran Maya, Abidzar pun demikian.
"umm.." Kaniya berpikir, tapi dia sendiri jadi bingung menjelaskannya. Dia sama sekali tidak mau membeberkan semua aset ataupun usaha yang dimilikinya saat ini. Tapi, dia kelepasan bicara tadi.
"Kaniya itu pemilik sekolah tempatnya mengajar, Maya. hanya saja, dia tak pernah memberitahukan orang lain akan hal itu. Dia juga memiliki beberapa usaha di tempat ini, mulai dari perkebunan sampai penginapan. Jadi kamu jangan khawatir, aku memilih Kaniya dengan latar belakang yang jelas. Hanya saja, dia memang tidak suka memamerkan kekayaanya. Meskipun tidak sekaya keluarga kita, tapi dia sangat mampu hidup mewah meskipun tanpa nafkah dari Abidzar. Apalagi sekarang ini, dia adalah pemilik 10 persen saham di perusahaanku"
Jelas ayah Abidzar yang membuat Kaniya, Abidzar dan Renata membulatkan mata.
'Dari mana ayah mertuanya tahu semua aset yang dimilikinya' Tanya Kaniya dalam hati.
'Ternyata, Kaniya ku memang sehebat itu' Abidzar mengembangkan senyumnya.
'Ternyata, Mas Adijaya dan Ayu memang sudah menelesuri segala hal tentang wanita ini. Aku berharap, Kaniya bisa memberikan keturunan pada mereka. Kasihan saat tidak ada penerus Abidzar. Syifa hanya perempuan yang dilahirkan dari anak perempuan pula. Nanti pun, dia harus ikut suaminya ' Batin Maya.
'Cih... sekaya apapun, umur tidak akan berbohong. lihat saja nanti, sebntar lagi kulitnya akan berkeriput, tak mampu lagi mengimbangi Abidzar yang akan makin mempesona seiring waktu, apalagi jika tuntutan anak semakin mengekangnya. Aku yakin, Abidzar akan membuka mata dan melempar dia dari hidupnya. Aku hanya perlu bersabar dan menunggu waktu tepat untuk menyingkirkannya' Batin Renata.
"Wah.. Kaniya, ternyata kamu hebat yah. Tapi,.kamu kan wanita karir, apa kamu akan bersedia mengandung anak untuk Abidzar? Apalagi... Usiamu akan memasuki usia 39 tahun. Maaf... Tante tidak bermaksud mempermasalahkan umurmu, tapi kan usia segitu sudah beresiko jika harus hamil." Meskipun kagum dengan pencapaian Kaniya, Maya masih kekeh dengan masalah hamil.
"Insya Allah, saya siap Tan. Hanya saja, semua kita kembalikan sama Allah. Saat Dia berkehendak lain dari yang kita harapkan, maka sekuat apapun keinginan kita, sekeras apapun kita berusaha maka kehendakNya lah yang akan terjadi. Aku berharap, Allah masih mempercayakan padaku untuk memiliki anak" Jawab Kaniya.
"Kamu yakin bisa punya anak? Dulu saja,.kamu masih muda tapi belum memiliki anak hingga bercerai? apa itu jadi penyebab suamimu menceraikanmu?" Tanya Maya lagi.
"Tan.. Tante sudah keterlaluan pertanyaannya. Ayah saja tidak pernah menanyakan hal seperti itu" Abidzar berusaha tidak meninggikan suaranya. Meja ini memang agak terpisah dari meja yang lain. Tapi tetap saja, orang lain kemungkinan bisa mendengar percakapan mereka jika tidak sibuk mendengarkan musik yang mengalun merdu atau berbicara dengan rekannya.
"Tenang, Bi" Kaniya meremas tangan suaminya.
"Aku pernah hamil kok Tan, tapi keguguran saat mendapati suamiku menikah dengan orang lain" Jawab Kaniya berusaha tenang.
Sedapat mungkin ia menahan tangis saat mengingat tentang anaknya yang tak sempat lahir, bahkan baru diketahui keberadaannya saat dia keguguran.
Maya terhenyak mendengarkan penuturan Kaniya. Tak menyangka, bahwa Kaniya mengalami kisah seperti itu. Dia pernah berada di situasi itu. Suaminya berselingkuh dan menikahi selingkuhannya di bawah tangan. Meskipun, sekarang suaminya telah menceraikan wanita itu dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, namun dia selalu merasa sakit ketika mengingatnya.
"Maaf, Kaniya. Tante tidak bermaksud... Maksud Tante.. Tante nggak menyangka kamu mengalami hal seperti itu. Maafkan, Tante yah" Ucap Maya dengan penuh rasa bersalah.
"Tidak apa apa kok Tante. Apakah masih ada pertanyaan, Tan? Aku harus ke toilet dulu sebntar, dari tahan ingin buang air kecil" Tanya Kaniya sopan.
" Tidak ada, kamu cepat ke toilet jangan biasakan menahannya. Nanti malah sakit" Maya berkata dengan penuh perhatian. Pandangannya pada Kaniya seketika berubah.
Kaniya segera berjalan menuju ke rumah bagian dalam. Dia memasuki kamar Abidzar, dan menutup pintu meskipun tidak di kuncinya. Lalu dia masuk ke toilet, menyalakan krang air dan mengeluarkan tangisnya.
Abidzar yang mengikutinya masih bisa mendengar suara istrinya yang menangis pilu. Dia sangat tahu bahwa Kaniya akan sangat sedih ketika mengingat anaknya. Dia menunggu istrinya sampai puas menangis di kamar mandi. Karena dia tahu, Kaniya tak ingin memperlihatkan kesedihannya pada Abidzar.
Dia sempat marah pada tantenya sebelum menyusul Kaniya. Ayah dan Ibu Abidzar pun demikian. Dia menyayangkan sikap Maya yang biasanya ramah pada orang lain, tapi tadi bertindak seperti itu pada menantunya.
Maya pun hanya bisa meminta maaf, banyak sedikitnya dia agak terpengaruh dengan cerita dari Renata. Sehingga penilaiannya terhadap Kaniya menjadi cukup negatif.
Abidzar berpesan pada mereka bahwa dia dan Kaniya akan istirahat di kamar saja. Ayah dan ibu serta keluarga Kaniya yang akan menyambut para tamu. Apalagi sekarang sudah sore dan tamu yang tinggal hanya keluarga dekat saja. Mereka masih akan menginap di villa ini untuk keluarga Abidzar sementara keluarga Kaniya akan menginap di Villa Kaniya.
Ayahnya tentu tidak keberatan dengan hal itu. Tadi, dia sempat melihat Kaniya yang memerah matanya menahan tangis. Meskipun Kaniya berusaha menyembunyikannya dengan senyum, Tantu dia bisa melihat hal itu.
click ...
Terdengar suara pintu yang terbuka. Abidzar mendongak menatap istrinya
"Bi..."