
Kaniya merebahkan dirinya di tempat tidur. Bayangan kejadian di toko ATK tadi terus berputar di otaknya.
'Kamu bahkan mengenaliku pada saat pakai masker. trus panggilan itu, untuk apa memanggilku demikian. Kita sudah berakhir, bukankah kamu sudah menikah. Anakmu pasti sudah besar sekarang. Sudah lebih sepuluh tahun kan. Saat itu kandungannya 3 bulan. Sayang... huftt... Sayang... sayang jadi mantan... cih..' Kaniya terus bermonolog dalam hatinya, masih dongkol dengan pertemuannya tadi bersama Dani, mantan terburuknya. Yang rasanya ingin dia masukkan ke lubang buaya.
Mungkin faktor kelelahan fisik maupun pikirannya sehingga begitu mudah tertidur. Kaniya terbuai dalam tidur dan mimpi indah yang selalu menghantuinya.
***
"Sayang.. hari ini kita ketemu orang tuaku yah. mereka mau bertemu denganmu. jadi, hari ini kita langsung ke rumah"
"Ok kak" Kaniya hanya menjawab singkat ajakan Dani. lagian, selama ini dia sudah sering bertemu orang tua Dani. Hanya saja, Dani belum berani bertamu ke rumah orang Kaniya. Setelah itu, Kaniya kembali mengerjakan tugasnya.
Melihat itu, Dani tampak gemes dengan kekasihnya. "Say....." panggilnya lagi sambil mencolek lengan Kaniya.
"Apa sih kak.. Say.. say... memangnya Kaniya Say...ton, manggil-manggil kayak gitu??" Kaniya mencebikkan bibir tanpa menatap Dani.
"Heheheh... habisnya kamu nyuekin aku dari tadi.. tapi bisa juga sih dipanggil kayak gitu, kamu kan hobbynya goda iman aku"
"Lah, sejak kapan aku ngegoda kak Dani, yang ada kak Dani yang mepet-mepet terus"
"Nah, itu dia Yang, kan gara-gara melihatmu, aku selalu tergoda untuk mepet terus" Dani tak mau kalah.
"itu sih dasar otak kakak aja yang geser, mes*m" Kaniya kembali menekuni tugas didepannya. Gayanya sudah seperti ikan duyung terdampar di darat.
"Yang... berhenti dulu dong kerja tugasnya. nggak kangen apa sama aku. ini sudah sepekan loh kita gak ketemu" Dani mulai memelas, mengharap perhatian.
Kaniya yang merasa kasihan, akhirnya duduk dan membenahi buku-bukunya yang berserakan. Hari ini, Dani datang bersamaan dengan tugas Kaniya yang menumpuk. Sehingga, Dani merasa sedikit terabaikan tapi tidak bisa memaksa Kaniya meninggalkan tugasnya.
"Kakak kenapa sih, rewel sekali. Lagi dapet yah..." Kaniya tersenyum jahil menggoda pacarnya.
"Kamu ini, aku ini cowok tulen loh sayang, gak akan deh dapat tamu bulanan kayak cewek yang bikin PMS sehingga mood nya naik turun gak jelas"
"yang bilang kakak dapat yang kayak cewek siapa . orang, aku mo bilang 'lagi dapat yah teguran di kantor', xixixixixi" Kaniya terkikik karena berhasil membuat Dani bersungut mendengarkan kelanjutan perkataannya. Tahun ini, Dani sudah bekerja dan Kaniya kuliah di universitas negeri impiannya.
"HM... mulai jahil kamu yah... tunggu pembalasan aku" Danu menatap tajam Kaniya dan segera mengulurkan tangan untuk menggelitiknya.
"Eh.. kak... jangan, hahaa... geli kak... sudah... Kak.. geli.." Kaniya terus berusaha menghindar dari serangan Dani. Tapi Dani tidak mau berhenti. Dia akan memberikan pelajaran pada kekasihnya itu. lama mereka bergelut dalam upaya menyerang dan menghindar, hingga Kaniya terjatuh terlentang diatas lantai dengan Dani yang ikut tertarik menimpanya.
Dalam posisi di atas Kaniya, Dani menatap sang kekasih. Dengan hembusan na*su yang ditiupkan syait*n, Dani mulai mengikis jarak lebih dekat. Memang benar kata orang tua, saat berduaan di dalam ruang tertutup, maka yang ketiga adala syait*n. Kaniya seolah terhipnotis, dia seolah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Dani dan memejamkan matanya, Hingga....
'Brakkkk...'
"Ayah...??"
***