
"aaaa....." Abidzar berteriak histeris melihat penampakan di depannya.
Seseorang yang matanya bersinar kaget, air mata terlihat terus mengalir tapi berwarna hitam. Di bawah matanya terlihat berwarna hitam.
Mata Abidzar melihat ada makanan lain di sekitar bubur kacang ijo, yang hampir habis. Sebuah mangkuk berisi sisa makanan berwarna merah darah, sekilas tampak seperti jemari. Abidzar bergidik ngeri. Apakah dia sedang bertemu makhluk halus pemakan..... ? Abidzar menghentikan pikiran buruknya.
"kenapa baru pulang? Mau ikut makan denganku. Kok kaget gitu sih?"
"K..Kaniya?" Tanya Abidzar tak percaya. Kenapa istrinya bisa disini? Wajahnya kenapa bisa seperti itu?..Semua pertanyaan bercokol dalam hatinya
"Ya.. Kenapa?. Kamu masih marah sama aku? Apa kamu mau usir aku sekarang?. Tunggu yah, aku kasih habis ini dulu.. hizzz.. setidaknya makanan ini harus kuhabiskan. khizz. .. ke kampung kan butuh waktu lama. kalau aku kelaparan gimana, khiz..khiz.." Kaniya berbicara sambil terisak. Tapi, dia menyingkirkan bubur kacang ijo di depannya yang sudah habis, menggantikan dengan es pisang ijo yang penuh dengan sirup berwarna merah atau merah muda? Abidzar tak begitu menghiraukannya
Yang pasti, pikiran Abidzar sedang blank, bagaimana tidak, dia seharian mencari sang istri di luar, tapi malah mendapatinya sedang makan di dapur dengan kondisi mengenaskan seperti ini.
"Love.. ini beneran kamu??" Tanya Abidzar lagi masih belum percaya.
Kaniya hanya mengangguk tak begitu peduli. Dia begitu menghayati makan es pisang ijo di depannya. Dia sengaja meminta pelayan rumah ini memasaknya tadi. Entah mengapa, dia begitu ingin makan ceker ayam pedas, bubur kacang ijo dan es pisang ijo.
"Iyalah.. memang kamu ada perempuan lain di rumah ini?. Atau wajahku tiba-tiba berubah jadi jelek karena kamu sudah tidak sayang aku lagi?" Kaniya tiba-tiba saja berkata dengan keras, lalu membanting sendok di tangannya.
Pisang ijo pun sudah tandas hanya dalam hitungan menit. Abidzar pun masih tak percaya istrinya bisa seperti ini, seperti tak bertemu makanan puluhan tahun. padahal sebelumnya, Kaniya tidak pernah makan sebanyak ini. Apalagi melihat wajah istrinya yang tak bisa dikatakan indah dilihat. Dia lebih terlihat menakutkan.
Kaniya berdiri, melangkah menuju Abidzar berdiri. Tapi tidak berhenti, dia terus melangkah menuju kamar.
Abidzar yang dari tadi melihat gerakan Kaniya, masih terpaku. Kakinya menyentuh lantai, tak ada gerakan melayang. Akhirnya, dia tersadar bahwa, ini betul-betul istrinya. Bukan penampakan seperti yang dikhawatirkannya tadi.
"Love... tunggu" Abidzar bergegas mengejar kaniya ke dalam kamar. Tapi baru membuka pintu, dia sudah mendengar suara gaduh dan teriakan dari arah kamar mandi.
"Akhhhhh"
Abidzar segera menuju ke kamar mandi yang untungnya tidak terkunci dari dalam.
Dilihatnya Kaniya yang sedang duduk dilantai, sambil meringkuk menutup wajah.
"Love...kamu kenapa?" Tanya Abidzar panik.
Kaniya yang mendengar suara Abidzar, mendongak dan menatap Abidzar. lingkaran hitam di bawah matanya, beserta warna hitam yang meleleh bersama air matanya masih tercetak jelas di pipinya.
Abidzar antara khawatir dan merasa lucu dengan penampakan istrinya yang sekarang berusaha keras untuk tidak tertawa. Tadi, dia begitu takut melihat wajah ini, dikiranya makhluk halus. Sekarang dia paham bahwa Kaniya baru saja bercermin dan melihat penampakan wajahnya yang amburadul.
"Bi... a..da hantu. A..ku takut Bi.. khizzz .. aku nggak mau tinggal disini lagi" Kaniya terus-terusan terisak
Abidzar yang merasa kasihan pada istrinya meraih Kaniya ke dalam pelukannya.
"Tenang yah love, kan ada aku disini. Sekarang, kita usir hantunya yah" Abidzar berusaha menenangkan.
Meskipun bingung dan takut, Kaniya tetap menurut. Entah kenapa dia jadi begitu penakut, bahkan cenderung sangat cengeng. Kaniya pun tak bisa mengendalikan dirinya saat ini.
Abidzar menuntunnya kembali ke depan cermin.
"Lihat... tatap cermin itu love" ucap Abidzar lembut.
Kaniya menurut, tapi tetap kaget melihatnya. Dia melihat di cermin, wajah itu di pegang suaminya, lalu bibirnya dikecup sekilas dan Kaniya merasakannya.
"I..itu aku Bi? Kok wajahku jadi begini? apa iya aku kuwalat karena membelanjakan uang suami terlalu banyak dan tanpa izin?" Tanya Kaniya panik.
Dia masih ingat, gara-gara marah pada suaminya yang cemburuan, dia berbelanja dengan kalap. Bahkan, dia membelikan Syifa, Nur, ibu dan ayah mertuanya pakaian.
Lalu, Kaniya pergi makan di beberapa restoran, meskipun ujung-ujungnya tak ada yang bisa masuk ke perutnya karena keburu mual duluan. Jadilah pesanan yang banyak itu dia bungkus dan bagikan ke beberapa anak jalanan.
Kaniya lalu memutuskan kembali ke rumah dan meminta dibuatkan pisang ijo dan ceker ayam pedas. Dia merasa, bubur kacang ijo yang dipesannya tadi pagi belum cukup.
Ketiga makanan itu menari-nari minta dinikmati. Kaniya sampai meneteskan liur saat membayangkannya. padahal, normalnya ketiga makanan itu bukanlah pasangan tepat untuk dinikmati bersamaan.
Entah apa yang membuat nyonya nya meminta pesanan aneh begitu. Dia segera menelpon temannya yang masih di pasar agar membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Setelahnya, dia kembali ke kamarnya, menunggu sang teman, untuk bersama-smaa menyiapkan makanan tersebut.
Sementara Kaniya melanjutkan masuk ke kamar, memeriksa belanjaannya dan melihat ada make up yang dibelinya gara-gara promo sehingga satu paket hanya dua ratus ribu rupiah. Ini belanjaan satu-satunya yang dibeli dengan uang di dompetnya.
Entah kenapa, Kaniya ingin mencobanya. Tapi, karena mengingat akan shalat magrib, Kaniya mengurungkan niatnya. Dia memilih mandi, lalu berganti pakaian. Saat hendak memakai baju, dia tiba-tiba teringat pakaian yang dibelikan untuk suaminya.
Kaniya pikir, sepertinya sangat lucu kalau dia menggunakan baju itu. Dengan segera, ia mencari dan memakainya.
Adzan magrib berkumandan, Kaniya wudhu dan shalat magrib.Setelah itu, dia menggunakan make up yang dibelinya tadi.
Kaniya lalu membenahi semua belanjaannya, meletakkan di sudut kamar yang tak begitu terlihat. Setelah semua beres, Kaniya menuju taman belakang.
Kaniya duduk diayunan, sambil membaca novel. Dalam novel diceritakan sang suami yang cemburu tanpa mau mempedulikan penjelasan istrinya, lalu menceraikan istrinya itu. Lalu sang suami menikah dengan perempuan yang menjebak istrinya padahal sang istri sedang hamil muda. Sang istri pun diusir dari rumah, tanpa tahu harus kemana.
Kaniya menangis sesegukan membaca cerita tersebut. Dia beberapa kali mengucek matanya karena sedih. Belum selesai dia membaca, tiba-tiba rasa lapar menyerangnya. Kaniya masuk ke dapur mencari makanan yang dipesan tadi pada pelayan.
Di meja makan, semua telah tersedia. Kaniya memakan ceker ayam dengan lahap bersama nasi yang hanya sesendok. Rasa pedas membuat air matanya terus mengalir. Namun, dia tak kuasa untuk berhenti, hingga ceker itu habis.
Kaniya lalu beralih ke pada bubur kacang ijo yang tampak menggiurkan. Hingga, sebuah suara menginterupsinya dari makanan itu. Dia agak kaget melihat suaminya.
Tapi, karena bubur kacang ijo itu sulit ditolak pesonanya, dia tetap melanjutkan makan dan hanya sesekali menimpali perkataan suaminya yang entah kenapa begitu kaget melihatnya.
Kaniya bertambah sedih begitu suaminya bahkan tak percaya jika itu dia. Apa begitu berubahnya dia di mata suaminya. Apa suaminya tak mencintainya lagi, hingga seperti ini. Dengan sedih dan perasaan lapar yang entah kenapa sulit diatasi, Kaniya melanjutkan menghabiskan es pisang ijo didepannya. Setelah itu berlalu ke kamar.
Kaniya yang merasa sedih, pergi ke kamar mandi, berniat mencuci wajah. Tapi begitu melihat wajahnya di cermin, Kaniya berteriak histeris, kaget dengan penampakan wajahnya. Dan disinilah dia sekarang, di pelukan suaminya.
Abidzar lalu membantu Kaniya membasuh wajahnya dengan sabun muka.
"Kamu nggak salah, love. Mau kamu habiskan uangku juga nggak masalah buatku. Yang penting kamu ada bersamaku sekarang. Kamu tahu? aku seperti orang gila mencarimu tadi?" Ucap Abidzar sambil menuntun Kaniya ke ranjang mereka.
Kaniya didudukkan, lalu Abidzar berjongkok di depannya. Memegang tangan Kaniya dan menciuminya.
"Maafkan aku, love. Aku memang terlalu cemburu tadi siang. Kamu jangan pergi jauh dariku saat marah" Ucap Abidzar memelas.
"Kan, aku sudah pamit Bi. Aku nggak mau didekatmu saat marah. Bagaimana kalau tiba-tiba mukul aku" Ucap Kaniya serius. Dia masih ingat, dulu mantan suaminya sangat mengerikan saat marah.
"lagian, tadi kamu sudah membalas ok" lanjut Kaniya. merasa jengkel saat ingat suaminya menjawab sesingkat itu.
"Hehe.. maaf, aku kira tadi bisa mengikutinya. Jadi aku iyakan saja saat kamu izin. Siapa sangka, aku salah orang. Tapi kok bisa yah love. Aku ingat loh, Plat nomor taksi yang kamu naiki tapi pas di rumah sakit yang turun malah ibu-ibu sangar. Aku disuruh bayar taksinya lagi karena ngaku sebagai suaminya. Padahal kan, aku kira yang didalam taksi itu kamu" Ucap Abidzar berapi-api masih dengan posisi tadi.
"Oh yah?? tadi itu ada ibu-ibu menunggu mobil sambil kesakitan. jadi aku minta supir taksi berhenti dan mengantarkan ibu itu saja" Ucap Kaniya merasa lucu dengan cerita suaminya.
"iya, love. Trus aku dapat pesan, kamu lagi gunakan kartu buat belanja. Nah, aku kesana deh. Tapi pas nyampe, kamu malah dah lanjut lagi dengan taksi. Aku nggak bisa ngejar karena mobilku sudah terparkir jadi cukup lama untuk keluar"
Mereka akhirnya saling meminta maaf dan memafkan. Mereka terus bercerita tentang pengalaman hari ini. Kaniya berharap suaminya lebih bisa menahan emosinya. Apalagi rasa cemburunya yang terkadang keterlaluan. Kaniya merasa tidak dipercaya. Dan Abidzar pun paham dengan sifatnya itu. Dia berjanji akan berubah jadi lebih baik. Tapi tetap saja, dia tidak suka saat Kaniya dekat atau peduli pada lelaki lain.
"Love, kamu kok tambah manis yah. Aku jadi lapar" Ucap Abidzar dengan tatapan laparnya.
"oh.. di dapur ada banyak makanan, yang. Kamu mau?" Ucap Kaniya dengan nada serius.
"Yang?? Kamu bikin aku tambah lapar dengan panggilan itu love" Mendengar itu, Kaniya hendak beranjak mengambilkan makanan untuk suaminya.
Tapi belum sempat berdiri, Abidzar sudah menahannya.
"Bukan makanan yang itu, love. Aku laparnya karena ingin makan kamu. Kita kan sudah saling memaafkan, mari kita rayakan dalam buaian cinta" Dan tanpa menunggu jawaban sang istri, Abidzar telah mulai menyantap hidangan kesukaannya itu.
Hingga kamar mereka menjadi saksi kebrutalan Abidzar menyantap sang istri yang hanya bisa melenguh dengan suara tertahan karena mulutnya pun dikunci dengan bibir milik suaminya.
Hingga pukul 02.00 dini hari, Kaniya benar-benar sudah tak kuat dan tertidur. Abidzar yang melihat istrinya kelelahan, berbaik hati membilas tubuh istrinya dengan handuk basah dan menyusulnya ke alam mimpi.