
Kaniya keluar dari kamar dengan wajah yang segar. Dia menggunakan gamis hijau muda dengan motif polkadot. Jilbab polos warna hijau muda terulur sampai pinggangnya.
Dengan santai, dia berjalan menuju ruang tamu. Kakaknya, Sulaiman terlihat tegang menatap ke arah pria yang duduk didepannya.
Kaniya belum melihat wajah sang pria yang tampak samping dari arah Kaniya berjalan.
Dengan penasaran, Kaniya segera menemui mereka.
"Kak Dani??"
"Kejutan, sayang..?" Dani berdiri menyambut Kaniya dengan senyuman manisnya.
Kaniya kaget melihat Dani berani muncul di rumahnya.
"Kenapa kakak kesini??"
"Tentu saja untuk menjemput istriku"
"Kak.. Aku bukan lagi istri kakak, kita sudah berpisah bertahun-tahun lalu"
"Tapi.. aku tidak pernah menceraikanmu dan tidak akan pernah..."
"Diam kalian" Sulaiman berdiri dari duduknya dan menghentikan perdebatan mereka.
"Kaniya..., bagaimana bisa pria ini mengatakan bahwa kau adalah istrinya??" Sulaiman menatap Kaniya dengan menuntut.
"Kak Sul, ini tidak seperti yang kakak kira. Aku..." Kaniya gugup.
"Bicara yang jelas Kaniya, kakak punya banyak waktu untuk mendengarkan..Kamu sudah sangat dewasa untuk membuat sebuah drama di saat pesta pernikahanmu akan segera dilaksanakan"
"Kak... maafkan Aku,.... aku tahu telah melakukan kesalahan. Tapi sungguh, aku tidak tahu semua akan seperti ini" Kaniya menjatuhkan diri, bersimpuh di depan kakaknya. Dia kembali menangis untuk masalah yang sama.
Suara ribut di ruang tamu, mengundang semua penghuni rumah di keluarga Kaniya keluar..Mereka menatap Kaniya yang bersimpuh di depan Sulaiman.
"Dinda,.kenapa? Laki-laki ini siapa, Dinda selingkuh dari Afdhal?" Kakak Kaniya bertanya ke arah Sulaiman.
"Dia mengaku suami Kaniya.." Sulaiman berkata dengan raut marah.
"Apa.." koor suara itu menggema di ruang tamu rumah Kaniya. Semua nampak tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Sulaiman.
"Saya suami Kaniya, ini buktinya" Dani mengeluarkan akta nikah mereka.
"Diam kamu. Aku bukan lagi istrimu, sejak kau menikah dengan wanita lain" ucap Kaniya dengan marah. Dia menatap benci kepada Dani. Kemarin, dia bisa memaafkan dani meskipun tak bisa melupakan rasa sakit hatinya. Dia bisa memaklumi perbuatan Dani di masa lalu, karena terdesak.
Tapi saat ini, Dani telah lancang membongkar masa lalu mereka tanpa bicara dulu dengan Kaniya. Dia tak mampu lagi berbicara sopan pada Dani dibawah tatapan kecewa dan penuh tanya dari keluarganya.
"Bicaralah Dinda"
Kaniya menatap semua keluarganya. Hatinya teriris melihat tatapan kecewa dari mereka. Dia kembali terkenang tatapan kecewa sang ayah dan anaknya yang gugur dalam kandungan.
Kaniya pun mau tak mau harus menceritakan semua kejadian di masa lalunya. Dimulai dari kedatangan sang ayah saat dia dan Dani sedang bersama di dalam kamar. Dinikahkan dan tidak diijinkan pulang, hingga mendapati suaminya menikah dengan perempuan lain dan keguguran.
Keluarga Kaniya terhenyak dengan cerita Kaniya. Tanpa terasa, air mata mereka berjatuhan, termasuk Sulaiman yang baru tahu adiknya begitu menderita selama ini karena memendam masalahnya sendiri. ibu dan ayah mereka, bahkan mengubur rahasia ini bersama jasad mereka. Mereka baru menyadari, kenapa ayah dan ibunya tidak pernah meminta mereka menghubungi Kaniya, sekedar bertanya kabar.
"Maafkan aku kak, maafkan aku... " Tangis Kaniya pecah, tak mampu lagi menahan untuk tidak meraung meratapi kesalahannya.
"Ayah... ibu... maafkan Kaniya... maafkan Kaniya..."
"Kaniya...... Hei... Kaniya..." Sulaiman mengguncang tubuh Kaniya yang terus menangis, lalu tiba-tiba terhenti dan tubuhnya terkulai.
Ranti yang melihat keadaan Kaniya, langsung menyongsong tubuh adiknya, membantu Sulaiman membawa Kaniya ke kursi panjang didekatnya.
Kaniya ditidurkan di kursi, Nindya sigap mengambilkan aroma terapi di kotak obat terdekat.
Dani yang menyaksikan itu hanya mampu menatap dengan penuh rasa bersalah. Tak ada lagi yang menghiraukan kehadirannya. Dia kembali melihat Kaniya dalam kondisi yang memprihatinkan, bahkan kejadian hari ini lebih buruk dari yang dia dapati waktu, Kaniya bercerita pada Afdhal.
Sulaiman berdiri dari tempatnya duduk, dia menatap Dani dengan wajah murka. Dani merasa terancam dengan tatapan itu. Tapi, dia bertekad akan menerima apapun yang dilakukan keluarga Kaniya padanya.
Dia menginginkan Kaniya kembali padanya. Tak peduli apapun yang akan terjadi, Kaniya harus tetap menjadi istrinya.
Buk buk..
Suara gebukan Sulaiman membuat semua perhatian tertuju padanya. Dani telah tersungkur di lantai. Bibirnya berdarah, perutnya terasa nyeri karena pukulan Sulaiman. Meskipun bukan seorang atlet bela diri, tapi Sulaiman adalah seorang petani yang terbiasa bekerja berat. Ototnya terbentuk karena pekerjaan, kepalan tangannya pun menghasilkan pukulan yang menyakitkan.
"Pergi dari sini, pec*ndang. Kamu tidak pantas menjadi suami adikku. Kami akan mengurus perceraian kalian"
"Aku tidak akan pernah menceraikan Kaniya. aku mencintainya, aku selalu mencintai Kaniya. Aku mohon... biarkan aku bersama Kaniya..."
"Tidak akan, kamu sudah membuat adikku menderita.."
"Sul..." Ranti berteriak dan segera berdiri menarik Sulaiman dari Dani yang terlihat sudah tidak berdaya. "kamu bisa membunuhnya"
"Aku tidak peduli, aku akan membunuh pria ini" Tanpa mereka sadari, Afdhal dan keluarganya telah berdiri diambang pintu masuk, menyaksikan semua itu.
Mereka terpaku menyaksikan bagaimana Sulaiman menyiksa Dani. Sementara Dani terus meneriakkan rasa cintanya pada Kaniya.
Keluarga Afdhal yang tidak mendengar secara keseluruhan cerita, jadi bersimpati kepada Dani. Dia merasa kasihan pada Dani yang begitu mencintai Kaniya tapi malah disiksa oleh keluarganya.
Mereka tidak akan mampu menerima, jika Afdhal yang harus menerima semua ini suatu saat nanti.
Rasa kagum pada Kaniya yang selama ini dianggap wanita pintar, mandiri, bisa menjaga diri, dan selalu bisa mengatasi hinaan sebagai perawan tua tanpa terburu buru memilih pasangan, lenyap seketika.
Kali ini mereka menyimpulkan, Kaniya meninggalkan suaminya yang masih sangat mencintainya, mungkin hanya karena salah paham atau ego Kaniya. Bahkan suaminya rela di pukuli hanya demi dirinya.
Ibu menatap Afdhal yang terlihat menatap Dani penuh dendam. Ibunya melihat amarah Dimata anaknya, seperti hendak menerkam tubuh Dani.
"Nak..." Ibu menyadarkan Afdhal dari lamunannya yang ingin membunuh Dani.
Dani menatap ibu, lalu keluarganya yang seperti tidak terima dengan perlakuan Sulaiman kepada suami adiknya.
"Dia pantas menerimanya, Bu. Jangan bersimpati pada pria itu" kata Afdhal seakan tahu pikiran keluarganya.
Mendengar suara afdhal. Sulaiman dan Ranti menatap ke arah pintu masuk. Betapa kagetnya mereka melihat keluarga Afdhal yang menatapnya, menghakimi. Seolah-olah dia adalah penjahat yang sedang menghabisi korbannya.
Tapi, dia sama sekali tidak merasa bersalah. Laki-laki yang telah menyakiti adiknya, harus mendapatkan ganjaran. Dia tak peduli, jika keluarga Afdhal memutuskan hubungan ini. Dia pun sadar, saat ini pernikahan Afdhal dan Kaniya tidak akan bisa dilanjutkan.
"Maaf atas pertunjukan tidak menyenangkan ini, jika kalian masih sudi untuk masuk, silahkan masuk. Kami tidak akan menutupi apa-apa dari kalian. Karena kami hanya akan menyerahkan Kaniya pada keluarga yang bisa menerima dia apa adanya" ucap Sulaiman tegas.
Sulaiman telah banyak makan asam garam kehidupan, meskipun dia tidak berpendidikan tinggi, tapi dia dapat melihat arti tatapan keluarga Afdhal. Dia menduga, keluarga Afdhal telah tahu tentang Kaniya.
"Bawa dia ke puskemas" Mendengar suara ayahnya berbicara, Ridho langsung memapah Dani keluar rumah dan mengantarkannya ke puskesmas.
"Aku tidak akan pernah menceraikan Kaniya. Kalian tidak akan bisa menikahkan Kaniya dengan orang lain.. Kaniya.
Kaniya.. kamu akan tetap jadi istriku" Meskipun dengan kepayahan, Dani tetap berusaha berbicara... Dia berteriak, tapi ridho tetap memapahnya keluar.
Afdhal yang emosi, hendak memukul Dani yang berlalu di dekatnya. Tapi, ibu yang melihat anaknya langsung memegang tangannya agar tidak melakukan kebodohan yang lain.
Mereka masuk ke ruang tamu. Afdhal melihat Kaniya yang terbaring di kursi panjang. Dia sangat cemas menatap Kaniya yang pingsan.
Sementara beberapa tetangga telah berdatangan ke rumah mereka melihat keluarga Afdhal datang. Mereka berpikir untuk membantu Ranti menyiapkan hidangan.
Tapi rasa kaget tak bisa mereka hindari saat seorang pria dipapah keluar dalam keadaan babak belur. Ditambah pria itu berteriak tentang Kaniya istrinya.
"Mohon maaf ibu-ibu, sementara ini kami akan menyelesaikan masalah keluarga. Mohon ibu-ibu kembali saja dulu. Terimakasih atas kedatangannya" Ranti yang paham dengan niat ibu-ibu yang ingin membantu, terpaksa meminta mereka pulang. pembicaraan mereka sebentar tak bisa jadi konsumsi publik.
"iya Ranti. Maaf yah, kami kira kamu butuh bantuan untuk membuat hidangan". lalu ibu-ibu itu pergi meskipun dengan raut penasaran.
***
Kaniya seperti mendengar suara ribut didekatnya, tapi matanya enggan terbuka. Bau aroma terapi menyeruak masuk ke indra penciumannya. Matanya perlahan terbuka. Dia menyesuaikan penglihatan dan melihat banyak orang termasuk Afdhal dan keluarganya.
"Dhal... ?" lirih Kaniya. Dia sudah tahu maksud kedatangan Afdhal dan keluarganya.
Ranti yang melihat Kaniya sudah sadar, segera memberikan air minum. Kaniya minum hingga melegakan tenggorokannya yang terasa tercekik,. sehingga sulit bernafas.
"Kami datang kesini untuk membatalkan pernikahan Kaniya dengan Afdhal. Kaniya masih berstatus istri orang lain, jadi dia tidak bisa menikah dengan Afdhal" Om Tanu memulai pembicaraan.
"Om.. Kaniya bahkan baru sadar" protes Afdhal.
"Tidak apa-apa, Dhal. Aku tahu tujuan kalian datang memang untuk itu. Aku sudah ikhlas menerima semuanya. Aku juga tidak mungkin menikah denganmu dalam keadaan masih berstatus istri kak Dani" Ucap Kaniya lirih. Tenaganya seperti terkuras setiap menceritakan masa lalunya, terutama saat harus mengingat ayah dan kematian anaknya dalam kandungan.
"Tapi,.put. Kita sudah sepakat hanya akan menunda pernikahan kita. Kita lanjutkan saat kamu sudah resmi bercerai dengan dia"
"maaf, Dhal. Tapi, aku tidak bisa berjanji padamu. Kak Dani tidak mau menceraikanku. Pasti kasus perceraian kami akan memakan waktu lama. Aku tak mungkin memintamu menunggu dalam ketidakpastian"
"Kaniya benar, Afdhal. Kami juga tidak bisa membiarkan Kaniya masuk ke dalam keluarga yang tidak bisa menerima masa lalunya. Aku yakin, saat ini dalam pikiran keluargamu telah banyak prasangka untuk adikku. Tapi kami tidak akan menjelaskannya. Dan kuharap, masa lalu adikku, jikapun kamu tahu, biarkan itu jadi rahasia kalian saja yang sudah terlanjur tahu".
"Dhal, aku menerima keputusan orang tuamu. Keluargaku pun telah menerima keputusan itu. Jadi, mari kita akhiri hubungan ini dengan baik seperti saat kita memulainya. Semoga kamu bertemu dengan jodohmu, Dhal. Aku akan sangat bahagia jika kamu bisa menemukan pendamping terbaikmu. bagaimanapun juga kita adalah teman. Kita memang hanya cocok jadi teman, benar kan?"
Kaniya mencoba tersenyum pada Afdhal. Afdhal hanya membisu, bahkan tak mampu untuk sekedar membalas senyum Kaniya.
Dia berdiri berjalan keluar meninggalkan rumah Kaniya. Dia tahu Kaniya tidaklah mencintainya. Mendapati Kaniya menerima lamarannya, bahkan hanya seperti mimpi baginya. Dan mimpi itu, kini benar-benar telah berakhir. Dia terbangun dengan cara yang sangat menyakitkan.
***