
Sore hari, Akbar dan teman-temannya telah sampai di depan rumah Kaniya. Mereka tampak kagum melihat rumah Kaniya yang penuh dengan tanaman yang tertata dengan rapi.
Seorang pegawai Villa mengantar mereka ke rumah Kaniya lewat samping villa. Sesampai disana pegawai Villa tersebut kembali ke depan.
"Assalamu Alaikum" Akbar mengucap salam dengan suara agak besar karena meskipun rumah terbuka, tidak nampak ada orang di dalam.
"Assalamu Alaikum..." Ulangnya lagi yang tidak mendengar ada jawaban.
"Waalaikum salam. Adek cari siapa?" Jawaban itu bukan dari dalam rumah, tapi dari luar.
"Kami cari Bu Kaniya, om. Om kakaknya Bu Kaniya yah??. Bu Kaniya lagi kemana, kok dari tadi kami ucap salam tapi nggak ada yang jawab?" Tanya Akbar.
"Oo.. biasanya Kaniya lagi di kebun belakang, atau mungkin lagi di kamar. Kalian mau apa cari Kaniya?"
"Kami mau mengajak Bu Kaniya ke kebun teh, om. Tadi sudah janjian di sekolah" Kali ini Rohani yang menjawab, teman Akbar yang perempuan.
Abidzar yang mendengar jawaban itu, langsung memasang wajah waspada. Dia menatap lekat wajah Akbar dan akhirnya sadar bahwa dia adalah siswa yang nampak akrab dengan Kaniya di sekolah.
"Oo.. Kaniya dan saya ada acara malam ini, bagaimana kalau kalian berangkat hari Minggu?. Nanti, saya yang akan membiayai kalian semua ke kebun teh"
Kebun teh adalah salah satu tempat wisata di kota ini yang paling digemari. Pengunjung akan disuguhkan dengan hamparan kebun teh yang terlihat indah, apalagi jika digunakan untuk foto-foto, cantik sekali.
Hanya saja, bagi seorang pelajar, tentu tiket masuk di perkebunan ini tergolong mahal. Harga tiket yang mahal, tentulah sepadan dengan apa yang disediakan di tempat ini. bukan hanya perkebunan teh, tetapi terdapat pula berbagai macam destinasi wisata lain didalamnya. Seperti taman bunga, aneka satwa dan air terjun. Di puncak perkebunan, terdapat area resto n kafe yang menyediakan makanan dan berbagai minuman teh yang langsung dipetik dari perkebunan ini.
Abidzar yang paham dengan kondisi tersebut, memanfaatkan peluang yang ada untuk menjalankan rencananya.
"serius om??" Jihan tak langsung percaya
"Serius dong. Masa bercanda" jawab Abidzar mantap.
"Hari Minggu, tiket masuknya naik jadi 65.000, kami ada 25 orang yang akan pergi. Memang om bisa membayarkan kami semua? Ikhlas om??" Akbar kembali bertanya untuk meyakinkan. Dia tidak mau sampai disana, mereka malah harus bayar sendiri-sendiri.
"Sangat yakin. Tapi, kalian harus membantu om" Abidzar mulai bernegoisasi dengan siswa-siswi Kaniya.
"Ummm.. nah, ini yang dari tadi kutakutkan. Om mau memanfaatkan kami yah. Kami nggak mau loh, kalau sampai berbuat hal yang menyalahi aturan. Bu Kaniya bilang, kamu ini tidak boleh berbuat hal-hal yang melanggar meskipun di iming imingi uang atau hadiah dari orang lain" Akbar mulai menunjukkan rasa tidak sukanya.
Mereka adalah siswa yang selalu dianggap Badung di sekolah. Tapi, Bu Kaniya memberikan mereka kepercayaan dan motivasi untuk berubah lebih baik. Akbar dan teman-temnnya, dulu sering sekali membuli teman-temannya, utamanya dari kelas yang dianggap pintar oleh guru-guru.
"Tidaklah, om kan mau minta bantuan kalian. makanya, dengarkan dulu penjelasan om"
Akbar dan teman-temannya bertukar pandang. Mereka datang berlima, yang lain menunggu di luar. Beberapa orang masih menunggu informasi dari Akbar dari rumahnya.
"Baiklah" jawab Akbar setelah mendapatkan persetujuan dari teman-temannya. Mereka harus mengambil kesempatan ini. kapan lagi bisa jalan-jalan gratis di kebun teh. Tapi, mereka juga harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan.
Abidzar lalu mengajak mereka keluar dari area rumah Kaniya. Abidzar membawa mereka ke kafe terdekat.
Setelah sampai di kafe. Abidzar meminta mereka untuk memesan makanan dan minuman. Akbar dan kawan-kawan segera memesan, karena tidak sabar mengetahui apa yang diinginkan Abidzar untuk mereka lakukan.
"Jadi, begini" Abidzar menatap ke Akbar dan teman-temannya. Setelah yakin mereka akan mendengarkan dengan baik penjelasannya, Abidzar pun melanjutkan.
"Saya ini adalah calon suami Kaniya. Kaniya minta saya mengajukan proposal pernikahan dan memaparkan di depan keluarganya. Jadi, saya ingin kalian membantu saya mewujudkan lamaran istimewa pada Kaniya. Apa kalian bisa membantu saya?"
Siswa Kaniya tentu saja kaget dengan penjelasan Abidzar. Mereka tidak pernah melihat om ini mengantar atau menjemput Kaniya, kenapa tiba-tiba dia berkata sebagai calon suaminya.
Akbar bahkan pernah melihat seorang pria tampan memperhatikan Kaniya. Dia terlihat seperti seorang kekasih yang sedang rindu, tapi takut untuk bertemu karena si pacar sedang marah. Akbar pikir, dia itu pacar Bu Kaniya.
"Apa buktinya kalau om adalah calon suami Bu Kaniya?" Akbar tak ingin langsung percaya.
"Kalau bukti lamaran belum ada. Karena saya tidak merekamnya waktu itu. Tapi, saya akan menelpon Kaniya agar kalian percaya"
Akbar dan teman-temannya hanya mengangguk. Abidzar pun segera menghubungi Kaniya.
"Assalamu Alaikum, Kaniya" Sapa abidzar ketika melihat panggilannya telah diangkat.
"Kaniya, gimana dengan proposal pernikahan yang harus kuajukan, apa harus ditulis juga kayak yang lain, dengan sederetan biodata diri dan visi-misi atau bisa langsung aja dipaparkan?" Tanya abidzar, sengaja bertanya langsung agar siswa Kaniya dapat mempercayainya.
"Terserah kamu saja, yang penting lamaran itu betul-betul menggambarkan tentang dirimu dan pernikahan seperti apa yang akan kita jalani nantinya sesuai dengan harapanmu. Aku nggak bisa dong, kasih detail nya harus ini itu. Kamu usaha yang keras yah, supaya aku terkesan, hehehe.." Jawab Kaniya sambil cengengesan. Dia sebenarnya tak ingin menyulitkan abidzar dengan permintaan anehnya. Dia hanya ingin melihat kesungguhan Abidzar kepadanya. Sampai Dimana Abidzar memperjuangkannya.
"Ok deh. Aku pastikan, kamu akan segera jadi istriku" Abidzar berkata dengan antusias dan penuh keyakinan.
"Aamiin. Semoga sukses, Bi"
"Makasih. Aku tutup dulu yah. Wassalamu Alaikum"
"Waalaikum salam"
Setelah mematikan HP. Abidzar menatap Akbar dan kawan-kawan. Mereka tampak tertegun dengan percakapan Abidzar dengan Kaniya.
Akbar bahkan tampak shock mendengar panggilan sayang Kaniya terhadap abidzar. Dia tak menyangka bahwa Kaniya bisa berkata semanis itu, dan menggunakan panggilan sayang "by" untuk baby atau hubby. Pikiran ini pun mungkin sama dengan teman-temannya yang lain.
"Om pacaran dengan Bu Kaniya sudah lama?" Randi tampak kepo.
"Kami tidak pacaran, Kaniya itu tidak pernah mau diajak pacaran. Pergi berduaan saja tidak mau, gimana mau pacaran" Jawab abidzar.
"Tapi, kok manggilnya sudah By By begitu??" Usman ikut kepo.
Abidzar tampak bingung dengan pertanyaan itu. Apanya yang salah memanggil namanya dengan Bi. Begitu yang ada dalam pikirannya. Meskipun dia juga paham bahwa kata Bi itu memang terdengar manis, jadi dia senang-senang aja dipanggil begitu oleh Kaniya. Bi bisa jadi dari kata baby, atau hubby.
'Eh.. apa maksud mereka Kaniya memanggilku begitu untuk kata baby atau hubby yah?' tanya abidzar dalam hati.
Dia yang merasa paham dengan arah pertanyaan mereka dan tidak ingin mereka mencontoh hal-hal yang Kaniya sebenarnya tidak lakukan, akhirnya memberikan klarifikasi.
"Apa yang salah dengan panggilannya?. Namaku itu Abidzar. Orang-orang terdekat memanggilku Abidzar dan Kaniya memanggilku Abi. Jadi saat bicara seperti tadi yah wajar kalau dia singkat jadi Bi" jelas abidzar. Jika yang menanyakan ini adalah cowok-cowok yang ingin mendekati Kaniya, dia tentu saja akan senang mengiyakan prasangka mereka. Tapi, karena ini adalah siswa Kaniya, dia harus menjaga agar mereka selalu meneladani hal yang baik dari gurunya itu.
"oo... " koor Akbar dan kawan-kawan.
"Kami percaya om. Jadi, silahkan om mengatakan apa yang harus kami lakukan" tanya Akbar.
Abidzar langsung menjelaskan rencananya dan apa-apa saja yang harus anak-anak ini lakukan bersama teman-temannya yang lain. Abidzar pun memberikan uang kepada Akbar, agar saat masuk di loket karcis mereka bisa langsung membayar. Rencananya, Abidzar akan berangkat lebih dulu untuk menyiapkan semuanya.
"Bagaimana, kalian paham?" tanya Abidzar.
"Paham om" jawab semuanya, tersenyum sambil mengangguk.
Akbar dan teman-temannya merasa senang akan dilibatkan dalam acara ini. Mereka sangat sayang kepada Bu Kaniya. Jadi mereka akan berusaha sebaik mungkin, agar acaranya dapat berjalan dengan lancar dan berkesan bagi Bu Kaniya.
Para gadis bahkan berhayal, jika nanti ada seorang pria yang akan melamarnya dengan cara seperti ini.
"Kalau kalian sudah paham, sampaikan ke teman-teman kalian yang lain. Dan terimakasih yah"
"Sama-sama om, kami melakukan ini sebenarnya lebih karena Bu Kaniya adalah guru kami yang paling baik. jadi, kami mau yang terbaik untuknya. Jadi, om gak usah khawatir, kami akan berbuat sebaik mungkin, agar acara lamaran om dapat berjalan dengan sukses" Akbar menjawab dengan serius.
"Terimakasih" Ucap Abidzar tulus.
Mereka lalu menghabiskan makanan dan minuman yang dari tadi disajikan, namun karena serius berbicara, makanan pun diabaikan.
Sesi perkenalan baru berlangsung setelah makanan habis. Akbar memperkenalkan teman-temannya. Lalu bertukar nomor hp dengan abidzar.
Setelah itu, mereka meninggalkan kafe. Abidzar melajukan mobil kembali ke villanya sementara Akbar dan kawan-kawan kembali ke rumah masing-masing.
Melalui chat grup yang tidak ada guru di dalamnya, Akbar menyampaikan rencana keberangkatan ke kebun teh yang diundur ke hari Minggu. Dia pun menjawab pertanyaan teman-temannya tentang penundaan dan menjelaskan rencana dari om Abidzar.
***