
Afdhal perlahan membuka matanya. Nuansa putih langsung menyambutnya. Genggaman tangan dari ibunya tak pernah lepas. Kemarin, Afdhal mengalami kecelakaan karena keteledorannya berkendara.
Orang-orang di kampung yang sempat menyaksikan saat Afdhal mendatangi Kaniya merasa kasihan, menganggap Afdhal seperti itu karena tidak terima dengan Kaniya yang akan segera menikah.
Beberapa tetangga yang menjenguk Afdhal akhirnya menceritakan segala kejadian yang mereka lihat di depan rumah Kaniya. Ayah Afdhal tidak ingin menyalahkan Kaniya, karena mereka sendiri yang membatalkan pernikahan anaknya dan Kaniya. Jadi wajar bila Kaniya menerima orang lain sebagai suaminya.
Bahkan saat tidak sadar, Afdhal terus memanggil nama kaniya. Ayah Afdhal tak pernah menyangka bahwa anaknya akan sehancur ini saat kehilangan Kaniya.
"Bu..." Afdhal membuka suaranya yang agak tercekat.
"Alhamdulillah, Dhal. Kamu sudah sadar" Ibu Afdhal segera mengambil air minum dan memanggil dokter untuk melihat Afdhal.
Ayah Afdhal yang melihat anaknya sadar, tak mampu membendung rasa syukur. Dia ingin mendekati Afdhal, tapi rasa bersalah lebih mendominasi. Andai dia bisa memahami anaknya, Kaniya tidak akan menikah dengan orang lain. Afdhal mungkin tidak akan dalam kondisi seperti ini.
Afdhal meneguk air yang diberikan ibunya. Terasa sangat sulit ia menelan.
"Bu..., Putri akan menikah dengan orang lain. Kalian menang, Afdhal tidak akan pernah bisa bersatu dengannya" Ucap Afdhal lirih.
"Maafkan kami, nak. Relakan Kaniya. Dia tidak berjodoh denganmu. Jika nanti kamu kembali ingin menikah, ibu tidak akan pernah menghalangi lagi" Ibu sudah sesegukan melihat kondisi anaknya yang terlihat begitu lemah.
Selang beberapa waktu, dokter masuk ke dalam ruangan dan melakukan pemeriksaan.
Afdhal hanya mengalami luka ringan. Lamanya dia tidak sadar, lebih kepada tekanan rasa sakit di hatinya. Terkadang, lelaki pun jadi begitu lemah saat berhubungan dengan perasaan.
Hari ini, Afdhal telah diizinkan pulang. Afdhal hanya diam melihat ibunya yang berkemas. Rasa sesak di dadanya masih sangat terasa. Sangat sulit untuknya bernafas saat ini.
"Bu... Maafkan aku. Aku telah banyak berdosa. Mungkin itu sebabnya aku kehilangan Putri. Dia terlalu baik untukku yang penuh dosa" Kata Afdhal terisak.
"Apa maksudmu, Dhal?" Tapi Afdhal hanya terus menangis. Dia tak ingin mengungkapkan kesalahan masa lalunya. Tapi, dia terus menghubungkan kehilangan Kaniya dengan kejadian di masa lalunya.
Ibu dan ayahnya pun tidak lagi bertanya. Ibu hanya memeluk Afdhal hingga dia tenang.
***
Hari yang ditunggu Abidzar telah tiba. Minggu pagi ini, mereka sekeluarga bersiap ke rumah Kaniya. Abidzar turut serta dalam acara lamaran yang sekaligus akan membicarakan segala hal yang berhubungan dengan pernikahan mereka.
Kurang lebih dua jam, Abidzar dan keluarga telah tiba di rumah Kaniya. Keluarga Kaniya menyambut dengan ramah. Keluarga dari pihak ayah dan ibunya menatap takjub empat mobil yang memasuki pekarangan rumah.
Mereka berjejer rapi menyambut di luar rumah. Keluarga Abidzar yang hanya terdiri ayah, ibu, anak dan adiknya berada dalam satu mobil yang sama. Om nya, kakak dari ibu Abidzar menggunakan mobilnya sendiri bersama istrinya. Tantenya, adik bungsu dari ibunya pun demikian, mereka menggunakan mobilnya sendiri. Sementara dua sepupunya bersama keluarganya masing-masing pun menggunakan mobilnya masing-masing.
"Assalamu Alaikum" Sapa ayah Abidzar pada keluarga Kaniya yang berjejer di jalan masuk.
"Waalaikum salam. Silahkan masuk pak, Bu" Kakak Kaniya menjawab salam dan menyambut uluran tangan dari keluarga Abidzar. Yang laki-laki saling berjabat tangan sementara perempuan hanya menangkupkan tangan.
Mereka semua masuk ke dalam rumah. Kursi-kursi telah di keluarkan dari kemarin sore. Lantai di alasi dengan karpet warna merah dengan meja pendek di atasnya yang telah dipenuhi dengan berbagai hidangan.
Di bagian dalam meja telah duduk bersila, perangkat desa yang turut hadir, seperti kepala desa, imam desa, kepala dusun dan imam dusun yang kesemuanya masih keluarga dekat alm. ayah Kaniya.
"Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Om dari Abidzar memulai pembicaraan.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh"
"Maksud kedatangan kami kesini adalah untuk menanyakan mengenai ananda Adinda Kaniya Putri, apakah saat ini sudah ada yang melamar atau belum?"
"Bagaimana, nak Sulaiman? Apakah Kaniya sudah ada yang melamar?"
"Kebetulan, saat ini belum pak imam" Sulaiman menjawab pertanyaan bapak imam dusun dengan mantap.
"Kalau begitu, kami bermaksud melamar ananda Adinda Kaniya Putri untuk putra kami Muhammad Abidzar. Apakah, Ananda Kaniya Putri bersama keluarga, menerima pinangan kami?" lanjut dari om Abidzar.
"Bagaimana, keluarga dari Kaniya?" kembali Pak imam bertanya pada Sulaiman sebagai sosok kakak tertua di keluarga Kaniya.
"Insya Allah, Kaniya setuju dan kami pun telah menyetujuinya" Jawab Sulaiman sekaligus mewakili Kaniya yang masih berada di dalam kamar.
"Alhamdulillah" ucap mereka semua bersamaan. Abidzar yang turut mendengarkan tak sabar ingin melihat Kaniya. Tapi rupanya, adat di desa ini berbeda dengan adat mereka. Biasanya, saat lamaran, si lelaki lah yang akan menyampaikan lamarannya langsung kepada perempuan. Atau jika diwakili oleh orang tua, maka si perempuan harus ada di tempat tersebut.
"Karena lamaran kami telah diterima, maka sesuai dengan adat di desa ini, calon pengantin lelaki harus membayar uang belanja untuk calon pengantin perempuan. Maka, berapakah kiranya uang belanja yang dibutuhkan oleh keluarga mempelai perempuan. Berapa nominal yang harus kami bawa?" Om Abidzar masih berkata dengan begitu ramah. Beliau telah lama tinggal di kota yang memiliki adat tidak jauh beda dengan di desa ini. Namun, ini adalah pertama kalinya menjadi seorang juru bicara.
Pak imam memberikan kesempatan kepada Keluarga Kaniya untuk berbicara. Tadi pagi, Sulaiman telah mengatakan bahwa mereka menerima berapa saja uang yang akan di bawa oleh keluarga Abidzar. Tapi, keluarga Kaniya terutama dari pihak ibunya tidak menerima. Apalagi Kaniya adalah lulusan S2. Sehingga harus meminta banyak uang belanja.
"Sesuai kesepakatan keluarga kami tadi pagi, Kami meminta dua ratus juta dan beras sebanyak 200 liter" Jawab om Kaniya, adik dari ibunya.
Keluarga Abidzar tampak kaget. Kekagetan mereka menjadi pusat perhatian dari keluarga Kaniya. Mereka mulai saling berbisik. Menganggap bahwa keluarga Abidzar tidak akan mampu memenuhi permintaan tersebut.
Bahkan ada yang mengatakan bahwa, bisa saja mobil yang mereka pakai adalah mobil sewaan.
"Maaf sebelumnya" Ayah Abidzar yang berbicara.
"Apakah keluarga anda tidak salah menghitung anggaran pesta?" lanjutnya.
Abidzar tampak mengangguk dengan pertanyaan ayahnya. Diapun sebenarnya sangat heran dengan jumlah yang diminta.
"Kami sudah berembuk pak, dan ini sudah sangat sesuai karena kami adalah keluarga besar, sehingga membutuhkan banyak persiapan. Selain itu, Kaniya adalah lulusan S2, jadi kami anggap bahwa jumlah tersebut sangat sepadan" Jawab om Kaniya yang diangguki yang lain. Sementara kakak-kakak Kaniya, hanya bisa diam menerima keputusan dari para tetua di keluarga mereka.
"Apakah keluarga bapak tidak sanggup dengan jumlah itu?" Kali ini pak imam desa yang mengambil alih. Beliau adalah adik sepupu dari ayah Kaniya. Diapun sebnarnya sangat menentang permintaan yang memberatkan mempelai pria.
"Bukan begitu, Kami hanya merasa jumlah itu terlalu sedikit. Apalagi, Kaniya memiliki keluarga besar. Tentu, akan banyak tamu yang diundang. Belum lagi, persiapan pernikahan yang memerlukan banyak biaya. Bukankah jumlah yang anda minta tadi terlalu sedikit?" Kali ini, ibu Abidzar bersuara.
Dia tidak paham, bahkan saat melaksanakan pesta pernikahan keponakannya di kota,.dia menghabiskan uang sampai miliaran rupiah. Kenapa keluarga Kaniya hanya meminta dua ratus juta.
Kali ini, keluarga Kaniya yang melongo. Mereka tak menyangka bahwa permintaan mereka dianggap sangat sedikit. Padahal, di kampung ini, anak perempuan dari orang terkaya yang menikah hanya membawa uang belanja sebesar seratus juta rupiah.
"Pak, kami sudah cukup dengan uang belanja tersebut. Kaniya hanya ingin pesta sederhana. Jumlah itupun sebenarnya terlalu banyak bagi kami" Sulaiman berkata dengan tidak enak. Dia sebenarnya tidak ingin memberatkan siapapun yang akan menikah dengan Kaniya. Hanya saja, dia tidak bisa membantah saudara-saudara alm. ayah dan ibunya.
"Baiklah, kalau begitu kami menyanggupi uang dua ratus juta dan beras dua ratus liter. Tapi, saya secara pribadi akan menambahkan dengan satu set perhiasan" Paman Abidzar kembali berkata.
"Saya juga ingin menambahkan dengan sawah di desa ini. Kebetulan, saya baru saja membeli beberapa petak sawah yang jika di total semuanya seluas satu hektar. Jadi, itu akan diberikan bersama dengan uang dan perhiasan pada saat akad nikah akan berlangsung" Kakak sepupu Abidzar yang dari tadi tampak sibuk dengan ponselnya. Ternyata dia bertanya kepada asistennya yang diminta untuk membeli sawah di desa ini. Minggu lalu, saat abidzar menyampaikan akan menikah dengan orang di desa ini, dia meminta asistennya untuk mencari sawah sebagai hadiah pernikahan.
Sementara adik perempuannya yang merasa iri pada kakaknya, langsung menatap suaminya. Si suami yang mendapatkan tatapan seperti itu, juga langsung bersuara.
"Saya pun akan menambahkan satu unit mobil Fortuner, agar memudahkan nanti pada saat mengantar undangan. Besok bisa diantarkan kesini"
"Saya juga mau memberikan villa saya di kota wisata untuk Kaniya, karena sudah mau menikah dengan keponakan saya yang tampan ini" Adik dari ibu Abidzar tak mau kalah.
Ibunda Abidzar yang dari tadi hanya melihat aksi keluarganya, akhirnya pun akan angkat suara, tapi keduluan oleh adik Abidzar.
"Saya akan menanggung semua biaya pesta di rumah ini sampai selesai" Jawabnya mantap.
Ibunda Abidzar menarik nafas panjang. Idenya ternyata lebih dulu disampaikan eh anaknya. Suaminya yang melihat, kejengkelan istrinya karena merasa kalah dari yang lain segera berinisiatif agar istrinya kembali ceria. Syifa yang duduk di pangkuannya tampak anteng mendengarkan pembicaraan orang-orang dewasa. Dia tidak ingin mengganggu, karena mereka sedang berbicara serius agar Tante Kaniya bisa jadi ibunya. Itu yang diajarkan oleh ayahnya.
"Kalau begitu, Ayah dan ibu akan menambahkan saham untuk Kaniya sebanyak 5 persen. Jadi total sahamnya sekarang adalah sebanyak 10 persen di perusahaan"
Semua keluarga Kaniya tak bisa bicara apa-apa, mereka hanya melongo dengan ajang pamer hadiah dari keluarga abidzar. Padahal yang sedang mereka bicarakan adalah uang belanja. Yang biasanya akan menimbulkan acara tawar menawar dari pihak laki-laki dan perempuan hingga mencapai kata sepakat. Ini malah, permintaan mereka seolah bukan apa-apa. padahal untuk ukuran di desa ini, permintaan itu terlalu banyak.
Bahkan beberapa orang tadi yang sempat berpikir bahwa keluarga abidzar datang dengan mobil sewa, belum dapat mengatupkan mulutnya yang dari awal terbuka.
Abidzar hanya diam dari tadi. Dia tidak menyangka bahwa kejengkelan keluarganya karena mendengar beberapa bisik-bisik keluarga Kaniya akan membuat mereka masing-masing memamerkan hadiah. Bagaimana tidak, bisik-bisik tapi terdengar jelas orang lain.
Padahal di keluarga mereka, tidak pernah ada yang memamerkan hadiah saat ada acara seperti ini. Hadiah akan diberikan secara pribadi saat kumpul keluarga dekat saja. Dan hadiah-hadiah seperti ini adalah hal yang biasa buat keluarga Abidzar saat ada yang menikah.
"Baiklah, berarti kesepakatan telah tercapai, yaitu dua ratus juta uang belanja, dua ratus liter beras, satu set perhiasan, satu hektar sawah, satu mobil Fortuner, lima persen saham perusahaan, dan semua biaya pesta akan ditanggung oleh nona cantik disana" Pak imam memantapkan kembali apa yang di berikan oleh Abidzar dan keluarganya.
"Alhamdulillah, kalau begitu, kita akan melangkah ke sesi selanjutnya, yaitu pembicaraan tentang mahar. Untuk mahar, kebetulan karena calon mempelai lelaki ada disini, silahkan untuk menyebutkan sesuai dengan kemampuannya" Pak imam dusun memberikan kesempatan kepada Abidzar untuk berbicara.
Abidzar yang ditatap oleh banyak orang menjadi salah tingkah. Pasalnya, dia dan Kaniya belum menemukan kesepakatan tentang jumlah mahar yang akan diberikan. Dia menatap ibunya, yang menatapnya seolah ingin berkata 'Awas saja kalau mahar yang kamu berikan tidak berbobot'
'Wah..Kaniya sangat beruntung yah, sudah calon suaminya tampan, kaya lagi. Keluarganya juga tampak sangat kaya dan ringan tangan. Tapi, saya dengar dia itu duda dan sudah punya anak' suara wanita berbisik tapi masih bisa didengar Abidzar.
'Kan Kaniya juga janda bu, jadi wajarlah dia dapat duda. Tapi kalau dudanya kayak begini, aku juga maulah. Kaniya kok beruntung sekali yah, kami bahkan seusia, dia dan aku sama-sama lahir bulan satu tanggal 1 tahun 1984. Tapi kenapa dia seberuntung ini dapat suami, sedangkan aku, hufttt ... sangat tak bisa dibandingkan' perempuan yang lebih mudah malah terdengar curhat.
Abidzar tak lagi mendengarkan, dia telah mendapatkan ide untuk mahar Kaniya.
"Bismillahirrahmanirrahim. Untuk mahar, saya akan memberikan 38 gram emas, 1 unit rumah, 1 unit toko, uang sebesar 1984 dollar dan seperangkat alat shalat" Jawab Abidzar mantap.
'Wah.. ' decapan kagum kembali terdengar. Kaniya menikah dengan orang yang betul-betul kaya.
Sementara Kaniya yang berada di dalam kamar, bukannya senang malah bersungut-sungut mendengarkan mahar yang diberikan Abidzar. Padahal dia sudah mewanti-wanti agar tidak memberikan sesuatu di luar nalar.
***