38 +

38 +
Nur dan Afdhal



Sementara itu, setelah akad nikah berlangsung. Afdhal baru sampai di rumah Kaniya.


Dia memperhatikan tiap orang untuk mencari Nur. Hingga ia melihat Nur duduk bersama seorang gadis yang dilihatnya kemarin.


Afdhal memperhatikan interaksi antara Nur dan gadis kecil itu. Dia belum berniat menemui Nur. Dia tidak ingin membuat keributan di acara pernikahan Kaniya.


Afdhal terus memerhatikan pergerakan Nur. Bahkan saat Nur berfoto bersama Abidzar, Kaniya dan Syifa di pelaminan. Dia masih bersabar menunggu, hingga Nur berjalan keluar untuk mengantar keluarganya yang akan pulang lebih dulu. Sementara dia masih harus terus menunggu hingga pesta selesai.


"Nur.." Afdhal berdiri di depan Nur yang baru saja akan berbalik kembali ke dalam rumah.


"Kau..." Nur kaget melihat Afdhal telah berdiri di depannya. Dia mengingat Afdhal, sangat mengingatnya. Mereka dulunya ada teman yang cukup akrab, hingga suatu kejadian membuat Nur meninggalkan Afdhal.


Nur terlihat gugup. Dia seperti ketakutan melihat Afdhal. Nur hendak segera masuk ke dalam rumah Kaniya, namun di cegah oleh Afdhal.


"Nur, kenapa menghindari ku?" Tanya Afdhal yang heran dengan tindakan Nur. Matanya menyiratkan ketakutan. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Nur terlihat takut padanya.


Afdhal hanya ingat bahwa mereka mengadakan pesta ulang tahun teman kantornya di sebuah hotel. Afdhal sendiri meminta Nur untuk menemaninya.


Siapa sangka, Afdhal menjadi korban salah sasaran. Dia meminum minuman yang sedianya diperuntukkan buat Nur. Salah seorang teman mereka telah lama menyukai Nur tapi selalu ditolak. Dan malam itu, dia ingin menjebak Nur agar jatuh kepelukannya.


Afdhal yang merasa ada yang aneh dengan badannya pun meminta izin untuk pulang duluan. Karena sedari awal dia datang bersama Nur, maka Afdhal pun mengajak Nur untuk pulang. Kebetulan apartemen mereka berdekatan, berada di lantai yang sama.


Lalu ingatannya, langsung pada saat dia terbangun dan Nur masih tertidur di sampingnya. Dia sangat kaget karena mereka hanya berbalut selimut. Wajah lelah dan sembab Nur membuatnya mengurungkan niat untuk membangunkannya. Dia memilih ke kamar mandi. Tapi saat dia keluar, Nur sudah tidak ada dan bercak darah di seprei apartemennya itu semakin membuatnya yakin bahwa semalam mereka telah melakukan hal yang tidak seharusnya.


Afdhal segera berpakaian dan mencari keberadaan Nur hingga di apartemen nya. Namun, Afdhal tak menemukan Nur. Nur seperti menghilang bak ditelan bumi. Afdhal kehilangan jejak dan semenjak itu, Afdhal tak pernah lagi mau bergabung dengan teman-teman kantornya. Diapun Resign dari kantor tempatnya bekerja dan memutuskan pindah ke kota Jakarta, menerima tawaran pekerjaan dari temannya.


Afdhal melalui hari-harinya dengan penuh rasa bersalah. Dia dan Nur telah berteman lama, namun dia merenggut hal berharga dalam ketidaksadarannya. Bahkan Afdhal tak tahu bagaimana bisa mereka berakhir seperti itu.


Nur yang melihat Afdhal seperti melamun hendak melarikan diri. Namun, cengkraman Afdhal di tangannya sangat kuat.


"Jangan menghindari ku lagi Nur. Aku sudah cukup lama mencarimu. Kenapa kau tiba-tiba menghilang?. Sebenarnya apa yang terjadi, aku hanya ingat malam itu kita ke pesta, lalu karena badanku rasanya tidak enak, kita pulang bersama. Dan saat pagi terbangun, kita berdua sudah..."


"Stop....tidak usah dijelaskan. Aku sedang banyak pekerjaan di dalam. Aku tidak punya waktu untuk berbicara denganmu" Nur menghempaskan tangan Afdhal lalu berlari masuk ke halaman rumah Kaniya yang telah didekor seindah mungkin untuk pesta pernikahannya. Tentu semua atas campur tangan Nur.


Afdhal yang melihat Nur berlari tidak mungkin mengejar karena tak ingin menarik perhatian banyak orang yang berdiri layaknya pagar ayu dan pagar bagus.


Afdhal mengikuti Nur yang masuk ke dalam. Dilihatnya Nur yang terus berbaur dengan panitia acara. Tapi Afdhal dapat melihat bahwa Nur tak lagi seriang tadi, sebelum bertemu dengannya. Dia melihat sorot mata Nur yang lain.


Saat Nur naik ke pelaminan, berbicara dengan Abidzar digunakan Afdhal untuk melakukan hal yang sama. Afdhal seperti tamu lain yang mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


Abidzar yang melihat Afdhal dan mengenalinya sebagai mantan calon suami Kaniya, langsung memeluk pinggang istrinya posesif.


"Selamat yah, semoga kalian berdua selalu berbahagia" Ucap Abidzar tulus.


"Kaniya, siapa wanita cantik di samping suamimu?" Kaniya menatap heran Afdhal yang barisannya tertarik menanyakan seorang perempuan.


"Mau apa kamu tanya-tanya tentang adikku. Jangan mentang-mentang kamu gagal menikahi Kaniya, sekarang malah mau merayu adikku?. Jangan harap aku mau menjadikanmu iparku" Abidzar menatap Afdhal dengan nyalang. Dia memang seposesif itu terhadap keluarganya. Apalagi Afdhal berpotensi masih memiliki rasa pada Kaniya.


"Adik??" Afdhal menatap tak percaya pada takdirnya bersama Nur. Bagaimana bisa Nur sekarang menjadi ipar Kaniya. Bagaimana dia harus mendekati Nur, sementara Kaniya merupakan cinta yang sulit dilupakannya.


"Ya betul, Nur adalah adikku. Adik kesayanganku, jadi saat kamu ingin mendekatinya, maka bersiaplah menghadapi ku" Abidzar berkata dengan tegasnya, hingga Afdhal menelan ludah.


"Ma....ayo kesana, Syifa mau makan bakso" Syifa menarik tangan Nur yang dari tadi hanya diam.


Nur yang menyadari keberadaan Syifa semakin tegang. Semua tak luput dari pengamatan Afdhal.


"Kak.. aku menemani Syifa dulu yah" pamit Nur pada kakaknya.


"Ayah, aku dan mama makan bakso dulu yah, da..." Syifa segera berlalu mengikuti mamanya yang seperti lari dikejar hantu.


"Ma...tunggu, kan Syifa yang mau makan bakso, kok mama sih yang lebih semangat" Nur tidak menjawab. Dia terus berusaha menghindari Afdhal bahkan rasanya ia ingin bersembunyi agar Afdhal tak melihatnya. Pun dengan Syifa, dia tak ingin Afdhal melihat Syifa yang banyak sedikit ada kemiripan dengannya.


"Nur.. " Afdhal yang tak putus asa, berusaha mengikuti Nur kemana mana. Bahkan diapun mengikuti Nur dan Syifa yang sedang mengambil bakso yang ada pada hidangan di pesta ini.


"Ma, dipanggil sama om itu ma" Syifa menatap heran mamanya yang tidak mendengar panggilan Afdhal padahal jarak mereka dekat.


"Syifa ambil bakso sendiri, bisa?" Tanya Nur menyamakan tinggi dengan Syifa. Syifa hanya mengangguk. Nur segera memberi kode pada panitia di tempat bakso tersebut untuk melayani Syifa.


"Kalau begitu, mama bicara dulu yah sama om itu" Nur tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan Syifa atau orang lain mendengarkan percakapannya dengan Afdhal. Dia harus membuat Afdhal pergi dan tidak lagi mengganggunya.


Nur berjalan keluar rumah, menuju teras samping yang sepi.


"Nur, aku minta maaf, tapi aku tidak tahu kenapa kamu seperti ketakutan melihatku. Kenapa waktu itu kamu pergi, padahal aku mau bertanggung jawab" Tanya Afdhal frustasi.


"Tanggung jawab?? Tanggung jawab seperti apa yang bisa diberikan seorang lelaki pada wanita yang ditidurinya saat hatinya masih mencintai orang lain?" Tanya Nur dengan menahan tangisnya.


Dia sangat ingat, malam itu dia pulang bersama Afdhal.


flashback on


Nur menyetir mobil karena Afdhal terlihat mabuk. Bahkan di mobil pun, Afdhal seperti orang kepanasan dan langsung membuka bajunya begitu saja.


Untunglah jarak antara hotel tempat pesta yang mereka datangi tidak begitu jauh dari apartemen, sehingga mereka bisa sampai sebelum Afdhal berbuat hal lebih aneh daripada sekedar membuka baju.


Dia segera mengantar Afdhal naik ke apartemennya. Dengan meminta bantuan satpam, dia akhirnya bisa membawa Afdhal masuk ke kamarnya.


Namun sayang, setelah pak satpam pergi. Afdhal malah menyerang Nur membabi buta, hingga Nur kesulitan melawan. Tenaga Nur berbanding jauh dengan Afdhal, dia hanya bisa menangis saat Afdhal menguasai dirinya.


Afdhal terus memaksakan dirinya pada Nur, hingga apa yang dijaga Nur selama ini terenggut paksa. Meskipun Nur mempunyai perasaan cinta yang disembunyikannya rapi selama ini, tapi dia tidak pernah ingin melakukan hal seperti ini dengan orang yang bukan suaminya. Sekalipun untuk alasan cinta. Dia sangat menjaga dirinya, menjaga amanah yang diberikan orang tua dan kakaknya yang tinggal jauh di negara lain.


Nur terus menangis, merasakan sakit yang teramat sangat di bagian intim dan juga hatinya. Dia tak menyangka bahwa kehormatannya akan direnggut paksa oleh pria yang dicintainya.


Kesedihan Nur semakin menjadi saat Afdhal memperoleh pelepasan dalam dirinya, memenuhi rahimnya dengan benih pria itu namun malah nama "Putri" yang disebutnya.


Nur terus menangis sepanjang malam hingga jatuh tertidur. Saat terbangun di pagi hari, dia kembali mengingat kejadian semalam. Dia tak mendapati Afdhal di sampingnya, tapi dia mendengar suara gemercik air di kamar mandi. Jadi dia menyimpulkan Afdhal sedang mandi.


Sesegera mungkin, dia mengumpulkan pakaiannya. Memakainya lalu segera meninggalkan apartemen Afdhal. Dia tak ingin, Afdhal kembali menyerangnya. Hari itu juga, Nur kembali ke negara tempat ayahnya tinggal.


Flashback off


"Tapi,.aku betul-betul ingin bertanggung jawab. Terlepas dari aku mencintai orang lain, tapi aku tahu telah merenggut kehormatanmu. Aku nggak akan lari dari tanggung jawab itu Nur"


"Lalu,.kamu akan bercinta denganku tapi hatimu membayangkan orang lain? oh..tidak. terimakasih, karena sudah ingin bertanggung jawab. Tapi,.aku tak butuh orang yang tidak mencintaiku"


"Nur, Cinta akan datang karena terbiasa. Kita hanya perlu kesempatan untuk itu" Afdhal berusaha meyakinkan. Lalu dia teringat sesuatu.


"Nur.. gadis kecil itu, apakah dia anakku?" Tanya Afdhal.


Nur seakan sesak nafas mendengar pertanyaan itu. Begitu lama ia menyimpan rahasia itu bahkan dari ayah dan kakaknya. Dia bahkan mengancam akan bunuh diri saat ayahnya berusaha mencari tahu tentang ayah dari anak yang dikandungnya. Hingga jalan tengah yg diambil, abidzar yang belum punya anak memasukkan anak itu dalam kartu keluarganya. Mengenalkan Syifa pada masyarakat umum sebagai anaknya bersama sang istri.


"Bu.. bukan. Dia anak Kak abidzar bersama almh. istrinya" Jawab Nur terbata.


Afdhal yang melihat kegugupan dari Nur semakin yakin bahwa anak itu adalah anaknya.


"Nur.., aku berjanji, kamu akan menjadi milikku. Aku tak akan lagi membiarkanmu meninggalkanku. Ada atau tidak ada cinta dihatiku untukmu, aku akan tetap berusaha mendapatkanmu. Aku percaya, cinta akan datang terbiasa. Apalagi diantara kita ada seorang anak" Ucap Afdhal yakin.


Afdhal akan menemui Abidzar dan Kaniya, tapi saat masuk ke tempat pesta, Kaniya dan Abidzar telah meninggalkan pelaminan. Dia pun mengurungkan niatnya dan kembali menatap Nur yang ketakutan.


"Persiapkan dirimu Nur, aku akan mendatangi orang tuamu dan menjelaskan apa yang terjadi pada kita di masa lalu" Tanpa menunggu jawaban Nur, Afdhal pun meninggalkan tempat acara.


Nur hanya terpaku menatap kepergian Afdhal. Bagaimanapun juga, perbuatan Afdhal di masa lalu masih meninggalkan trauma untuknya. Dia bahkan harus melakukan pengobatan selama bertahun-tahun. Dia kehilangan waktu berharga bersama anaknya, meskipun wajah sang anak lebih dominan mewarisi dirinya.


***


Kaniya keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Dia pun bergegas menuju lemari untuk mengambil pakaian. Dia seperti lupa bahwa sekarang dia tak lagi tinggal sendiri di kamar ini.


Hingga, sebuah tangan melingkar dipinggangnya. Kaniya memekik kaget, tapi segera tersadar saat mencium aroma abidzar yang dikenalinya.


"Mandinya kok lama sih love, aku kan jadi kangen" ucapnya manja sambil mendusel leher Kaniya.


"Cuma 20 menit kok. Tuh, lihat jamnya. Rindunya kok terlalu sih, belum juga sehari, masih di kamar yang sama pula" ucap Kaniya.


"Kan, semenit rasa setahun, love" Tangan Abidzar pun mulai tak tahu aturan. Meraba kesetiap sudut yang diinginkannya sehingga Kaniya hanya mampu mendesah.


Kegiatan mereka berlanjut hingga Kaniya tersadar telah terlentang diatas ranjangnya yang dipenuhi bunga-bunga yang entah kapan dan dari mana datangnya.


Tapi, Abidzar tak memberikan waktu padanya untuk sekedar bertanya. Dia terus menunjukkan cinta pada istrinya itu, mengagumi tubuh istrinya yang selama ini, haram pun sekedar ditatap lama. Tapi malam ini, dia memanfaatkan kekuasaannya atas diri Kaniya yang telah halal disentuhnya.


Kaniya memasrahkan diri pada sang suami, menikmati segala cinta yang diberikan Abidzar. bersama, mereka mengarungi dingin malam yang berubah jadi panas. Enggan berhenti, bahkan saat bulir keringat telah memenuhi tubuh mereka. Hingga, Abidzar dapat menyemaikan benih cintanya pada ladang sang istri.


Mereka tersenyum dan saling mendekap, hingga terbuai dalam tidur.