
Kaniya terbangun saat alarm di ponsel nya berbunyi. Tidur malamnya cukup tenang kali ini, tanpa mimpi tentang Dani.
Dia segera mandi dan melaksanakan kewajibannya. Setelah itu membaca ayat-ayat Al-Qur'an dengan merdu. Surah Al Waqi'ah menjadi pilihannya subuh ini. Dilanjutkan dengan surah Al Hadid dan Al Mujadilah.
Saat waktu menunjukkan pukul 7 pagi, Kaniya memutuskan untuk menelpon Nindya. Mereka berbincang cukup lama, lalu membaca pesan masuk di hp nya, membalas yang perlu.
Kaniya, membaca pesan dari Abidzar bahwa dia dan putrinya tiba-tiba harus ke rumah adiknya pagi ini karena akan di bawa ke rumah sakit untuk melahirkan.
"Semoga dilancarkan persalinannya, dan ibu serta anaknya diberikan kesehatan" balas Kaniya.
Sebenarnya Kaniya masih bingung, kenapa Abidzar sampai harus menyampaikan hal ini padanya. Padahal mereka baru kenal.
"Hhh.. mungkin saja, Syifa, yang meminta, karena takut aku mencarinya" gumam Kaniya.
Kaniya menghabiskan waktunya di hotel dengan bermalas-malasan. Dia memutuskan akan meninggalkan kamar menjelang makan siang. Tujuannya kali ini adalah toko Asyifa yang bisa ditempuh 15 menit dari hotel tempat Kaniya menginap.
Pukul 11.00, Kaniya meninggalkan hotel menuju toko Asyifa. Kebetulan toko ATK tersebut menyediakan masjid di samping kanan dan cafe di samping kiri. Jadi sekali jalan, Kaniya bisa melaksanakan kewajiban, lalu makan dan belanja kebutuhan toko. dia tak lagi berminat ke toko A untuk sekedar membandingkan harga. Kejadian kemarin cukup membuatnya berpikir ulang untuk kesana lagi.
Saat sampai, Kaniya masuk ke toko dan melihat-lihat barang yang hendak dibeli. Mencatatnya di kertas, lalu memberikan kepada pegawai toko untuk diambilkan.
Sambil menunggu semua barang yang dipesannya, Kaniya duduk di kursi yang disediakan untuk pelanggan. Inilah menyenangkannya belanja disini, pegawai tokonya siap sedia mengambilkan pesanan kita untuk dibawa ke kasir, jika kita malas mencari sendiri atau pesanannya dalam jumlah banyak.
Ketika adzan berkumandang, Kaniya bergegas ke masjid tapi sebelumnya dia menitipkan pesan dulu agar pegawai yang mengambilkan semua pesanannya tidak kebingungan mencari.
Berjalan ke luar, Kaniya melihat banyak pegawai toko yang ikut ke masjid. Kasir pun tinggal tiga saja yang melayani, yang lain bergegas ke masjid.
Kaniya yang selalu berusaha menjaga wudhu tak lagi antri untuk berwudhu. Dia segera masuk ke Masjid. Sebelum duduk, Kaniya melaksanakan shalat dua rakaat.
"Tante Kaniya??"
"Syifa.." Kaniya yang baru saja menyelesaikan shalat Sunnah nya dikagetkan dengan kehadiran Asyifa didekatnya.
"Tante... Kita ketemu lagi. Syifa senang deh Tan.. Ayah memang benar bahwa kita akan secepatnya bertemu lagi, kalau Syifa berdoa. Tadi, Syifa berdoa agar kita dipertemukan dan Allah langsung mengabulkan. Alhamdulillah ya Allah...." Syifa menengadahkan tangan mengucap syukur, lalu memeluk Kaniya.
"Tante juga senang ketemu Syifa, tapi suaranya dikecilkan yah sayang nanti yang lain terganggu shalatnya " Kaniya tersenyum mendengarkan celoteh Syifa dan membalas pelukannya.
Kaniya memang sangat senang bertemu lagi dengan Syifa. Meskipun masih bingung kenapa anak ini bisa berada disini. Dia juga sebenarnya masih agak canggung jika harus bertemu ayah Syifa.
"Syifa sama siapa disini?"
"Sama ayah Tan... tapi ayah di depan, harus jadi imam shalat" Kaniya yang mendengarnya menatap ke depan, tapi tentu saja TDK akan terlihat karena ada hijab yang membatasi tempat shalat pria dan wanita.
"trus, kamu di belakang sini sama siapa?"
"Alhamdulillah, tantenya baik yah mau menemani Syifa Shalat. sudah bilang terimakasih belum?"
"Be .."
Belum sempat Syifa menjawab, lantunan Iqamah dari depan sudah terdengar. Semua jamaah berdiri, termasuk Syifa dan Kaniya. Mereka khusuk dalam melaksanakan shalat Dzuhur.
Selesai shalat Dzuhur Kaniya dan Syifa melanjutkan shalat Sunnah dua rakaat. Lalu setelahnya, mereka beranjak keluar dari masjid.
Kaniya menatap kagum pada Syifa yang telah begitu pandai melaksanakan shalat dengan tertib diusia semuda ini.
'Pastilah anak ini dididik dengan baik dalam keluarganya, diajarkan pemahaman agama sejak kecil, Masya Allah. Semoga nanti, aku punya kesempatan memiliki putri Sholehah seperti ini' batin Kaniya.
"Tan, duduk disana yuk, sambil menunggu ayah keluar" Syifa menggandeng tangan Kaniya, untuk diajak ke ayunan diantara pohon mangga depan masjid.
"HM.. Gimana kalau kita ke cafe sebelah saja, Kita menunggu disana" tawar Kaniya yang khawatir asam lambungnya naik jika terlambat makan.
"Maaf mbak, tapi saya diminta pak Abidzar untuk menjaga anaknya. Jadi anda tidak bisa membawanya dari sini" ucap perempuan yang bersama Syifa.
Kaniya yang sempat melupakan keberadaan perempuan itu, akhirnya menoleh menatapnya sambil tepuk jidat.
"Maaf yah mbak saya lupa kalau Syifa bersama anda. Begini saja, anda ikut dengan kami, lalu saya akan chat Abidzar untuk meminta izin" Kaniya langsung mengetikkan pesan di HPnya kepada Abidzar.
"Tante Atika, Tante Kaniya ini calon ibu saya, jadi tidak masalah kalau saya pergi dengannya. Tante juga boleh ikut kok, ayah juga tidak akan marah kalau saya pergi dengannya" Syifa berbicara dengan sopan meskipun tidak terdengar bersahabat.
Atika yang mendengar pengakuan Syifa tentang perempuan didekatnya ini tentu saja kaget. Selama dia mengenal Abidzar, tidak pernah sekalipun terlihat dekat dengan seorang gadis. Ia tahu Abidzar adalah duda satu anak yang ditinggal mati istrinya. Dia telah berusaha dengan berbagai cara untuk mendekati Abidzar, termasuk mendekati anaknya.
Selama ini, Abidzar bersikap baik padanya. Ibu Atika dan Abidzar adalah teman arisan. Mereka kerap kali jadi bahan jodoh-jodohan oleh teman-teman ibu mereka, saat bertemu dalam sebuah acara dan Abidzar hanya menimpalinya dengan senyum. Tak pernah berkata keberatan ataupun mengiyakan, sehingga Atika berpikir, Abidzar pun memiliki perasaan terhadapnya.
Orang tua Abidzar pun tidak pernah berbicara resmi untuk menjodohkan mereka, meski kerap kali mendapat dorongan dari teman-temannya. Orang tua Abidzar selalu menyerahkan keputusan tentang pasangan hidup kepada masing-masing anaknya.
Sama kagetnya dengan Atika, Kaniya pun kaget dengan pernyataan Syifa. Dia ingin menyangkal tapi raut bahagia saat Syifa menjelaskan tak ingin dihapusnya. Dia takut, penyangkalannya akan membuat Syifa terluka. Di sisi lain, Kaniya juga takut jika Abidzar salah paham padanya dan menganggap dia menghasut Syifa. Bagaimanapun mereka baru saja kenal kemarin.
Apalagi saat Kaniya menatap wajah Atika yang terlihat pucat. Dia takut, Atika adalah kekasih Abidzar dan berujung salah paham. Dia bingung harus berkata apa.
"Ayah...." Suara Syifa yang lantang membuyarkan lamunan Kaniya.
Syifa berlari memeluk ayahnya yang langsung disambut dengan hangat. Abidzar menatap Kaniya dengan senyuman penuh arti.
'Kita bertemu lagi, dan semoga akan ada pertemuan selanjutnya, jodohku' ucap Abidzar lewat matanya.
***