
Cafe itu terlihat ramai, banyak motor dan 2 mobil terparkir didepannya. Sepertinya akan sulit untuk mendapatkan tempat duduk di jam seperti ini.
Kaniya melangkah masuk ke dalam kafe, dia mengedarkan pandangan ke sekitar mencari tempat duduk. Rencananya dia akan menghubungi Afdhal setelah sampai.
Kaniya berjalan sambil merogoh hp nya dari dalam tas kecil yang dibawanya. Saat akan melakukan panggilan, hp nya berbunyi menampilkan panggilan masuk dari Afdhal. Kaniya segera mengangkatnya.
'kamu langsung masuk aja yah. Aku ada di meja paling pojok di belakang'
Kaniya menatap ke arah yang disebutkan Afdhal. Dia tersenyum melihat Afdhal yang melambaikan tangan. Disampingnya ada sepasang suami istri yang menemani Afdhal waktu pertama menemui Kaniya untuk tugasnya. Tanpa menjawab, Kaniya langsung memutuskan panggilan dan melangkah ke meja Afdhal.
Di luar dugaan Kaniya, ternyata Afdhal lebih dulu datang darinya. Padahal, Kaniya telah berusaha datang lebih cepat agar tidak membuat mereka menunggu
"Assalamu Alaikum" Sapa Kaniya setelah sampai.
"waalaikum salam wa rahmatullah" ucap ketiga orang didepannya bersamaan.
Kaniya duduk di kursi kosong didekat istri Andi. Afdhal yang melihat Kaniya telah duduk nyaman segera memanggil pelayan kafe untuk memesan makanan.
Mereka berbincang santai sambil menunggu pesanan. Dari percakapan mereka,.Kaniya jadi tahu bahwa Andi menikah dengan Nabila, istrinya saat mereka baru semester 3. hal ini disebabkan karena orang tua Andi tak mau anak mereka melakukan zina. apalagi Nabila beberapa kali dibawa ke kampung.
Andi sendiri telah memiliki penghasilan pribadi dengan kios barang campuran yang dirintisnya mulai dari SMA. Sedangkan Nabila telah berjualan online sejak SMA.
Ruko yang diberikan orang tuanya di jalan poros desa, membuat kios itu sangat ramai pengunjung. Apalagi, Andi juga menyediakan air panas di depan toko bagi pengunjung yang ingin membuat mie siram.
Kios Andi memiliki halaman yang cukup luas. tempat parkirnya bisa memuat 2 mobil dan 5 motor. Ada sebuah kolam ikan yang terletak di sebelah kiri toko yang bisa nampak dari luar. Tempatnya cukup teduh bagi ikan-ikan karena beberapa pohon hias ditanam disana.
Dipinggir kolam ditanami rumput sintetis dan diantara rumput itu ada sejenis batu pijakan bagi yang ingin berdiri di dekat kolam tanpa merusak rumput. Banyak juga pelajar yang sengaja berbelanja agar bisa foto-foto di tempat itu. Andi mengizinkan yang penting tidak merusak rumput atau tanaman lain didekatnya.
Di sebelah kanan, terdapat tempat duduk mengeliling pohon mangga yang berjejer rapi sebanyak 5 pohon. Biasanya, yang makan mie siram atau menunggu keluarganya berbelanja, akan duduk di tempat ini.
Makanan pesanan mereka tersaji rapi di meja setelah kurang lebih 10 menit menunggu. Mereka menghentikan obrolan dan menyantap makanannya didepan mereka.
"Put.... Draft tesis ku sudah selesai dan aku akan melanjutkan penelitian. Makasih yah bantuannya. Aku harus segera menyelesaikan tesis ku. Setelah itu, aku akan pindah ke kota B karena perusahaan tempatku bekerja membuka cabang baru disana. Dan aku ditugaskan untuk mengurus perusahaan di kota itu" Jelas Afdhal panjang lebar
"Lalu???" Kaniya merasa heran dengan penjelasan Afdhal.
"ummm..." Afdhal menimbang-nimbang bagaimana menyampaikan maksudnya.
"Begini put, aku.. maksudku, kita kan sudah lama saling kenal" Kaniya masih setia dalam diam, menunggu kata-kata Afdhal.
"Put, bisa tidak menatapnya jangan sok serius begitu... Aku kan jadi grogi sendiri... hhhhhh" Afdhal menghela nafas panjang, semakin sulit menjelaskan.
"Ya, kan aku lagi serius menunggu kamu berbicara, salahku dimana??" Kaniya mengerjapkan mata. sungguh dia bingung dengan tingkah Afdhal.
"Aku antar Nabila dulu yah ke toilet" Andi yang tahu gerak gerik sang sepupu yang ingin kembali melamar sang pujaan pun bergegas menuntun istrinya ke toilet.
Kaniya atau Afdhal tak mungkin melarang. apalagi wanita hamil kadang susah menahan keinginannya untuk buang air kecil.
Kaniya dan Afdhal kembali dalam mode diam. Afdhal bingung harus bicara apa, terlebih ini adalah lamaran kesekian yang akan dilakukannya pada Kaniya.
Afdhal lalu menarik nafas panjang, dan menatap Kaniya yang sontak saja menundukkan pandangan. Afdhal yang tersadar berbuat salah lagi, hanya bisa mengulum senyum. Dia mengenal Kaniya dari kecil dan menyukainya dari zaman sekolah. Dia sangat kagum dengan perubahan Kaniya yang dulu belum mengenakan hijab, sekarang sudah berhijab. Teman-temannya dulu kebanyakan lelaki, dan sangat akrab, bahkan tak pernah risih saat harus berkumpul dengan banyak teman lelaki di kafe atau tempat nongkrong lain. Kaniya yang sekarang sangat menjaga dirinya, bahkan bertemu dengannya pun harus ada teman yang menemani.
Afdhal menganggap itu adalah bonus, karena jika Kaniya menikah dengannya, tidak perlu lagi dia memintanya menutup aurat. Meskipun Kaniya sudah berumur 38 tahun lebih dan dia masih menuju 36 tahun, namun Afdhal tidak mempermasalahkan usia. Dia sudah terlanjur mencintai Kaniya dan tambah mencintainya dengan perubahannya saat ini.
"Put..., ini untuk kesekian kali aku meminta, apakah kamu bersedia ikut denganku ke kota B..." Afdhal berhenti sejenak dan memperhatikan raut wajah Kaniya yang berubah. Entahlah, Afdhal tidak tahu apa yang dipikirkannya. Tapi, kepalang tanggung, ia harus melanjutkannya.
"Maksudku, maukah kau menikah denganku dan ikut ke kota B??"
Kaniya yang cukup terkejut dengan lamaran Afdhal, hanya bisa termenung. Dia sudah berjanji pada kakaknya untuk memikirkan mengenai lamaran Afdhal, Jika dia kembali melamarnya. Dan hari ini, Afdhal kembali memintanya untuk menikah.
Afdhal sudah memasrahkan diri, merelakan jika dirinya kembali ditolak. Mungkin ini saatnya dia move on dari Putri yang sangat dicintainya.
Kaniya memejamkan mata, mengingat semua hinaan bahkan tuduhan yang terarah kepadanya, hanya karena sampai saat ini dia belum menikah. Diingatnya wajah keluarganya di rumah yang menginginkannya untuk menikah. Namun sekelebat bayangan masa lalu juga turut menghantui. Dia takut, masa lalunya akan menjadi bumerang untuk kehidupannya di masa depan. Lalu, apakah dia harus membuka tabir masa lalunya pada Afdhal? apakah Afdhal akan menerima Kaniya yang tidak seperti dalam bayangannya?
Afdhal segera menjauhkan tangannya, diapun refleks melakukan itu karena khawatir dengan Kaniya.
"Mmmaaf"cicit Kaniya
"Aku yang minta maaf, Put. tidak seharusnya aku membuatmu kaget dengan permintaanku. Tapi aku sangat serius, jika tidak bisa menjawab sekarang aku akan memberimu waktu, tolong pertimbangkan dengan baik" ucap Afdhal tulus dan penuh harap.
Kaniya merasa sangat kagum dengan keteguhan pria didepannya.
'terima saja Kaniya, Afdhal pria baik dan sangat serius terhadapmu, dia sudah pernah melamar bersama orang tuanya, kamu tolak dia tetap berusaha. Dia juga tidak pernah terdengar terlibat dengan gadis lain selama ini, bukankah lebih baik menikah dengan pria yang mencintai kita?' bisikan itu seolah terdengar nyata ditelinga Kaniya. Kaniya tersenyum dan hendak menjawab.
'eh...jangan buru-buru menerima dia, Kaniya. kamu kan belum tahu kenapa sampai saat ini dia belum menikah. Tidak mungkin karena menunggumu bukan? Lagian, kalau dia tahu masa lalu mu, apakah dia akan masih mau menerima mu' bisikan lain pun membuat Kaniya membatalkan niatnya.
'memangnya kenapa dengan masa lalumu, kamu kan tidak berbuat dosa. tepatnya, belum sempat berbuat dosa besar. Setiap orang punya masa lalu, dan itu adalah hal yang wajar berbuat kesalahan di masa muda' Bisikan demi bisikan membuat Kaniya mumet sendiri
"ah..sudahlah"
"maksudnya..?" tanya Afdhal bingung.
"eh... maaf" Kaniya menatap Afdhal dengan rasa bersalah.
"Dhal, makasih yah sudah begitu teguh ingin menjadikan ku istri, tidak pernah tersinggung saat kutolak..." menjeda ucapannya sedikit. Kaniya merasa haus, sehingga dia langsung meminum teh manis didepannya.
Afdhal masih menunggu kelanjutan ucapan Kaniya.
"Aku bukanlah wanita yang sempurna Dhal. aku memiliki masa lalu yang cukup buruk untuk dikenang. Tapi, bisakah masa laluku tidak kamu pertanyakan suatu hari nanti? bisakah masa lalu itu hanya jadi milikku dan bairkan terkubur bersama waktu. dan bisakah kamu hanya menerima diriku yang sekarang?"
Afdhal tertegun dengan ucapan Kaniya. Rasa penasaran akan masa lalu seperti apa yang dibicarakan Kaniya, apa yang dia sembunyikan selama ini. Apakah itu alasan yang membuatnya tidak menikah sampai sekarang? pertanyaan itu hanya ada di dalam hatinya.
Tapi satu poin yang cukup membuat Afdhal lega, pertanyaan ini menyiratkan bahwa Kaniya sudah mau menerimanya. Dia pun tidak akan memperdulikan masa lalu Kaniya, dia sangat mencintai teman kecilnya itu. Dia akan menerima masa lalu Kaniya, apapun itu.
"Kaniya, setiap orang punya masa lalu. Apapun itu, aku akan menerimamu apa adanya. Aku pun tidak sebersih yang terlihat saat ini, tapi aibku di masa lalu, biarlah terkubur karena Allah pun sudah menutupnya. Dan semoga masa lalu kita tidak akan berpengaruh ke masa depan. Jika nanti masa lalu kita hadir, bisakah kita tetap saling berpegangan tangan dan tidak terpengaruh??" Afdhal berucap dengan serius.
Kaniya mengangguk. Melihat hal itu, Afdhal pun ikut tersenyum.
"Jadi, Adinda Kaniya Putri, Apakah kamu bersedia menikah denganku??" Tanya Afdhal lagi memastikan.
"Bismillahirrahmanirrahim...." Afdhal sudah ketar ketir menunggu jawaban dari Kaniya yang seperti mengulum senyum.
"Aku akan bersedia menerima lamaran mu, jika kamu dan keluargamu melamar ke rumah" ucap Kaniya tersenyum. Mungkin ini adalah jawaban dari kegalauannya.
Afdhal tersenyum sumringah, berucap syukur dalam hati.
'Prok..prok..' suara tepuk tangan mengalihkan pandangan mereka kepada sepasang suami istri yang tampak mendekat. Kaniya dan Afdhal bahkan lupa jika mereka di kafe ini bersama sepupu Afdhal.
"selamat yah, semoga kalian dapat segera menikah" ucap Andi sambil memeluk sepupunya. Sementara istrinya menggenggam tangan Kaniya, memberikan dukungan.
"Makasih yah kalian, sudah bersedia menemaniku mengejar cinta, heheheh.. " ucap Afdhal tulus.
"eh.." Kaniya yang bingung hanya menatap dengan penuh tanya.
"Jadi.. tesis yang minta bantuanmu untuk mengerjakan hanya modus. Dia sebenarnya bisa mengerjakan sendiri tesis nya. Tapi..., karena itu bisa jadi alasan buat kalian dekat lagi, jadilah dia minta bantuan, hehehe..." Afdhal yang mendengar ucapan Andi yang membuka rahasianya hanya bisa meringis malu, tapi tak mengurangi rasa bahagianya.
Kaniya hanya tersenyum mendengarnya. meskipun kaget, tapi dia memang agak bingung waktu Afdhal meminta bantuannya mengerjakan tesis. Hanya saja, dia tidak pernah berpikir bahwa Afdhal melakukan ini untuk kembali mengejarnya.
Sebagai perempuan, wajar dia merasa tersanjung saat diperjuangkan sekeras ini. Dia merasa bahwa memilih Afdhal adalah pilihan yang tepat.
Hari ini, Kaniya pun mengambil keputusan bahwa dia akan menerima Afdhal dan berusaha mencintainya setulus hati. Meninggalkan semua kenangan masa lalu yang selama ini membelenggunya.
***