
Kaniya mulai mengurus perceraiannya dengan Dani. Berbeda dengan pemikirannya saat bertemu dengan Dani, ternyata proses yang dilaluinya tidak terlalu sulit.
Dani akhirnya bisa menerima keinginan Kaniya untuk bercerai. Kaniya tidak tahu kenapa Dani bisa berubah pikiran. Tapi dia tidak terlalu peduli. Yang dia inginkan, mereka bercerai secepatnya.
Orang tua Dani merasa sangat sedih dengan keputusan mereka. Apalagi, mereka baru saja bertemu Kaniya lagi.
Tapi, mereka juga tidak mungkin memaksakan kehendak. Apalagi, sekarang Dani telah memiliki istri yang lain dengan anak yang lucu-lucu.
Kaniya juga berhak menemukan kebahagiaannya sendiri.
Bulan berlalu, akhirnya Kaniya telah resmi bercerai dengan Dani. Kaniya merasa lega dan akan melanjutkan hidupnya dengan lebih tenang.
Hingga putusan pengadilan keluar, Dani tidak pernah lagi mengganggunya.
***
"Ayah, Ibu, maafkan Kaniya yang baru datang. Hari ini, Kaniya sudah bebas dari pernikahan dengan Dani. Maafkan atas kesalahan kaniya, ayah, ibu. Sekarang, Kaniya berjanji akan menjalani hidup lebih baik" Kaniya berbicara pada dua batu nisan yang ada di depan nya. Dibersihkan nya rumput liar yang tumbuh di kedua pusara itu.
lalu memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya. Kak Ranti yang menemaninya, hanya melihat dari jarak beberapa meter. Dia memilih membersihkan kuburan mertuanya.
"Yah, Bu, Kaniya pamit yah. Kaniya akan memulai mengurus sekolah yang Kaniya rintis bersama teman Kaniya dulu di kota wisata M" Lalu Kaniya mengusap nisan ayah dan ibunya bergantian. Dia lalu Mendokan keduanya dengan khusuk.
"Sudah selesai, Din?" Ranti berjalan mendekati Kaniya, saat dilihatnya Kaniya mendoakan orang tuanya.
Kaniya pun hanya mengangguk dan mengajak Ranti pulang.
Ranti, melihat Kaniya lebih tenang saat ini. Dulu, dia merasa enggan membawa Kaniya ke tempat ini karena setiap Kaniya kesini dia akan menangis histeris. Dia akan terus menangis memanggil ayahnya.
Kaniya memanglah anak ayah. Dia sangat dekat dengan ayahnya. Bahkan, ayahlah yang paling sering menemuinya di kota.
Tapi dia membuat kesalahan yang membuatnya harus menikah dan mengecewakan ayahnya. Rasa bersalah membuatnya begitu sedih atas kepergian sang ayah.
Ranti menatap pusara kedua orang tua mereka, lalu mendoakan mereka berdua agar diberi keselamatan, dijauhkan dari siksa kubur, dan bisa tetap bersama di surga Nya.
Setelah itu, Mereka pun berjalan meninggalkan area pekuburan.
Kaniya menuju tempat motornya di parkir. Dia lalu membonceng kakaknya kembali ke rumah.
Di rumah, semua sudah berkumpul untuk melepas kepergian Kaniya. Kali ini, Kaniya akan diantar menggunakan mobil yang baru dibelinya untuk keluarganya.
Dengan adanya mobil ini, setidaknya mereka tidak akan kerepotan saat akan bepergian bersama.
Mobil ini akan disimpan di rumah Kaniya, dan Ridho yang dipercayakan untuk mengurusnya. Setiap keluarga yang membutuhkan bisa menggunakan mobil itu.
Tapi tidak bisa menjualnya, karena Kaniya memberikan mobil itu untuk digunakan bersama bukan diberikan kepada salah satu dari mereka.
Tabungan Kaniya sebenarnya mulai menipis selama merenovasi rumah sudah sangat terkuras. Hasil kerjanya selama bertahun-tahun, tentulah memiliki batas untuk digunakan.
Namun, Dani memberikan uang cukup banyak dan Kaniya tidak bisa menolaknya karena itu adalah persyaratan yang diminta Dani untuk bercerai.
Dani juga ingin, Kaniya tidak mengembalikan uang yang selalu dikirim ke rekeningnya selama mereka menikah hingga berpisah. Padahal, selama ini Kaniya tidak pernah menyentuh uang itu.
Selain itu, Dani menyerahkan rumah yang mereka tempati dulu tapi Kaniya memberikannya pada ibu Dani, lengkap dengan semua perhiasan dan barang-barang berharga lain yang ada didalamnya..
Kaniya tidak bisa menolak pemberian Dani, tapi dia bisa memberikan barang-barang itu pada orang lain. Kaniya tidak ingin kembali ke rumah, yang akan mengingatkannya pada masa lalu yang ingin dikuburnya.
"Serius kak, lagian aku kan gak tahu bawa mobil, kubawa malah akan mubazir. Biarlah mobilnya ditinggal disini, jadi kalau kalian mau refreshing di Villa sekaligus jenguk aku kan jadi mudah, gak usah sewa mobil" jawab Kaniya bijak.
"Wah.. Tante yang terbaik deh. Tan, toko gimana?"
"Gimana apanya? kan sudah ada kalian berdua yang urus"
"Tapi kan, aku dan ridho belum terlalu bisa urus keuangannya Tan"
"Nindya, semua orang memang perlu belajar supaya bisa. Jika Tante terus-terusan yang urus keuangan, kapan dong kalian mandiri".
"Iya, Tan. Yang bulan lalu, laporannya sudah Tante periksa kan??"
"Sudah dong. itu juga yang buat Tante tenang menyerahkan toko pada kalian. keuntungan kita meningkat pesat 2 bulan terakhir. Dan semua berkat kerja kerasmu bersama Ridho"
Nindya hanya tersipu mendengar pujian tantenya. Dia dan ridho beberapa bulan ini bekerja sangat keras agar toko ATK tantenya dapat terus berkembang.
Bahkan, setelah ide pembuatan buket dirintis oleh Kaniya, mereka yang menjalankan ide itu karena Kaniya sibuk dengan pernikahan yang akhirnya batal. Tapi bukannya berhenti sibuk, Kaniya malah harus mengurus perceraiannya.
Hal itu membuat Nindya dan ridho harus betul-betul mandiri menjalankan usaha mereka. Dan sekarang, Kaniya malah harus pergi dari desa ini. Tentu mereka harus menerima tantangan menjalankan toko mereka agar bisa lebih maju lagi.
"Tan, makasih yah. Tante sudah memberikan lapangan kerja untuk kami. Bahkan, beberapa remaja di desa ini juga sudah kami rekrut untuk bekerja di toko karena banyaknya pesanan buket yang dijual online" Ridho berucap tulus.
Kaniya hanya mengangguk mendengar penuturan Ridho. Lalu Kaniya dan ridho menghambur ke pelukan Kaniya
"Jaga rumah yah sayang. Kalian harus selalu akur. Jaga keluarga kita agar tetap harmonis. Telpon Tante kalau ada masalah"
"Nindya pasti kangen sama Tante" Nindya lalu menangis sesegukan.
Kaniya yang merasakan Isak tangis Nindya mengurai pelukannya.
"Jangan nangis gitu dong, kayak Tante mau kemana aja. Ke tempat Tante cuma butuh dua jam loh. Kita masih dalam satu daerah. Lagian, kalian juga akan ikut mengantar. Jadi jangan sedih. Datang kapan saja kalian mau"
Kaniya mengusap air mata Nindya yang mendadak manja. Mereka berdua memang sangat dekat. Bahkan selama tinggal di desa, Nindya selalu bersama Kaniya.
"Iya nih, Nindya cengeng" Ridho mengejek Nindya, tapi terlihat jelas bahwa matanya juga sudah mulai memerah.
"Sudah-sudah. Kita harus segera berangkat. Jangan sampai kita kemalaman di jalan dan dapat kabut"
Jalanan ke kota wisata M memang seringkali dipenuhi kabut. Apalagi saat sore hari.
Meski demikian, tak menyurutkan para wisatawan untuk berkunjung ke tempat ini.
Banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi, diantaranya air terjun, kebun stroberi dan kebun teh.
Pohon Pinus, membuat udara di kota ini selaku terasa segar. Ditambah lagi, sepanjang jalan mata dimanjakan dengan bunga-bunga cantik yang bermekaran.
Jadi wajar, jika kita ini menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat digemari.
"Iya, ayo kita berangkat sekarang" Tiara ikut menimpali.
Mereka pun bersiap masuk ke mobil agar bisa segera berangkat.
***