
Pasca pembatalan pesta pernikahan Kaniya dan Afdhal, keluarga Kaniya sibuk memberitahukan kepada sanak saudara mereka.
Para tetangga sudah kasak kusuk membicarakan pembatalan tersebut. Apalagi, beberapa ibu-ibu mendengar saat Dani berteriak memanggil Kaniya, istrinya.
Sementara itu, Kaniya berdiam diri di kamar. Dia bukannya sakit hati terhadap gunjingan tetangga. Dia hanya tidak siap jika harus menjawab pertanyaan seputar pernikahannya.
Di sisi lain, di sebuah rumah besar berlantai dua. Seorang anak tampak merengek manja pada ayahnya.
"Yah... Kapan ke rumah Tante Kaniya nya.. Syifa kangen"
Syifa sepanjang hari ini selalu merengek tentang Kaniya.
Abidzar jadi serba salah. Dia sangat ingin memenuhi keinginan anaknya, tapi dia takut jika anaknya itu akan memupuk harapan terhadap Kaniya untuk jadi ibunya.
Pasalnya, Minggu lalu Abidzar telah meminta orang kepercayaannya untuk mencari tahu tentang Kaniya di desanya. Dia ingin memiliki informasi lengkap tentang Kaniya sebelum mendatangi wanita itu di rumahnya.
Tapi, abidzar malah mendapatkan informasi bahwa Kaniya akan segera menikah. Ada rasa kecewa yang hadir saat itu.
Jika boleh jujur, ada rasa berbeda yang menelusup ke relung hatinya saat pertama kali bertemu Kaniya.
Dia mengingat gambaran wanita yang seringkali diceritakan almh. istrinya sebelum maut memisahkan mereka. Dia sempat berpikir, Kaniya adalah wanita yang diceritakan istrinya.
Abidzar pun tambah ingin mengenal Kaniya, saat putrinya begitu dekatnya.
Namun, takdir berkata lain. Sepertinya, Syifa harus kehilangan sosok Kaniya, calon ibu yang diharapkannya.
"Yah...." Syifa mengguncang manja lengan ayahnya.
"Syifa sayang, ayah lagi sibuk. Sebentar sore harus ke kota S, buat lihat toko kita yang disana. Syifa ikut kan?"
"Ikut yah, tapi setelah dari sana kita ketemuan sama Tante Kaniya ya" Pinta Syifa dengan puppy eyes nya.
"Setelah dari sana, kita mau ke kota wisata M sama kakek dan nenek. Ayah baru buat Villa untuk Syifa disana. Jadi, saat akhir pekan kita bisa liburan keluarga"
"Benar yah?? Disana kan banyak kebun stroberi. Syifa mau punya kebun sendiri, yah. Boleh??"
"Boleh sayang, tapi apa Syifa akan tinggal disana untuk merawatnya??" Tanya Abidzar menggoda anaknya.
"Tentu saja tidak, aku akan minta om Bahar buat rawat stroberi ku"
"Trus, yang antar kamu ke sekolah siapa??"
"iya juga yah" Syifa mulai berpikir. Bahar adalah supir yang selalu mengantar Syifa ke sekolah bersama pengasuhnya, karena Abidzar yang tak bisa selalu ada untuk anaknya.
"Yah, gimana dong?? Aku mau punya kebun stroberi sendiri"
Abidzar perlahan menghela nafas lega. Syifa akhirnya bisa mengalihkan pikirannya dari keinginan bertemu Kaniya. Dia belum bisa berkata jujur pada Syifa. Syifa masih kecil, abidzar berharap seiring waktu, anaknya bisa melupakan Kaniya.
"ummm... nanti ayah minta pengurus villa buat urus kebun stroberi nya Syifa" ucap ayahnya sambil tersenyum.
"hore.. Syifa punya kebun stroberi" lalu Syifa berlari ke luar ruang kerja ayahnya.
Dia akan memamerkan pada kakek dan neneknya kalau dia punya villa dan kebun stroberi di kota wisata M.
Abidzar tersenyum melihat Syifa. Sementara ini, ia bisa tenang. Syifa akan membahas mengenai kebun stroberi nya untuk beberapa hari ke depan. Dan akan lupa tentang Kaniya.
***
Di rumah Kaniya
"kak, aku akan ke kota. Aku harus mengurus perceraianku dengan kak Dani"
"kamu ada akta nikahnya?" tanya Ranti
"ada kak, kebetulan waktu bertemu kak Dani, dia memberikannya"
"baiklah. kapan kamu berangkat. Sudah izin sama yang lain??"
"Baiklah, kalau begitu sebentar malam kamu bicarakan sama yang lain"
"Iya, kak. Kak...?" Kaniya terlihat ragu untuk berbicara.
"Ya?" Ranti menatap heran.
"Kemarin, temanku di kota wisata M menelpon. Dia baru saja membangun sebuah sekolah dan butuh tenaga untuk membantunya"
"lalu?"
"Umm.. Rencananya, aku akan ke sana dan menerima tawaran pekerjaan itu" jawab Kaniya sambil menunduk.
Ranti menatap Kaniya sejenak. Dia paham, adiknya ini mungkin membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sejenak.
"Kalau kakak sih tidak keberatan. Tapi, bagaimana kamu tinggal disana? kita tidak punya keluarga loh disana. Masa iya kamu mau nyewa rumah?"
"Aku ada rumah disana, kak"
Ranti cukup terkejut dengan ucapan Kaniya. Tapi mengingat Kaniya selama ini bekerja sambil kuliah, dia tidak akan ragu dengan kemampuan Kaniya membeli rumah.
Toko ATK nya di desa ini pun bisa dikatakan berkembang dengan baik. Nindya dan Ridho yang menjaganya, sekarang sudah harus menambah pekerja. Apalagi, setelah Kaniya menambah jenis usaha di toko, yaitu menjual buket untuk segala jenis acara.
"serius?? kapan kamu belinya?"
"beberapa tahun lalu, saat masih kuliah S2. kebetulan aja ada teman yang jual dengan harga 4 murah ke aku"
"OOO.. Syukurlah kalau begitu. Padahal, dua bulan lalu kita liburan disana. Coba tahu ada rumahmu, kita gak perlu nginap di villa temanmu"
"Itu dia, rumahku kak... Waktu itu, Aku gak tahu harus bagaimana bilangnya"
"apa??"
Ranti merasa kaget luar biasa. Masalahnya, villa itu cukup luas. Ada sekitar 10 kamar di dalamnya. Dan yang Ranti dengar, harga villa itu cukup bersahabat, hanya 250rb permalam untuk setiap kamar pada hari biasa dan 350 di akhir pekan, sehingga villa itu sangat jarang kosong.
"Iya kak, villa itu milikku. Pertama beli belum seperti itu, jadi harganya cukup murah. Waktu, aku bawa kalian kesana, vila nya baru saja direnovasi"
Ranti tidak bisa lagi berkata apa-apa. Akhirnya dia tahu, bagaimana Kaniya bisa membiayai kuliah keponakan-keponakannya meskipun selama beberapa tahun terakhir hanya mengurus toko ATK yang kecil.
"Villa nya disewakan bukan? lalu kamu nginap di salah satu kamar, gitu?"
"gak kok kak, aku punya rumah sendiri di belakang villa. Baru dibangun sih, belum selesai. Kira-kira minggu depan, pembangunannya sudah berakhir" Kaniya menjelaskan dengan santai.
Kakaknya hanya bisa mangguk-mangguk mendengarkan penuturan Kaniya. Memang, apalagi yang bisa dikatakannya. Kaniya selalu penuh dengan kejutan.
Selama ini Kaniya begitu sederhana menjalani hidup. Saat hampir semua tetangganya membeli mobil walau dengan berutang, Kaniya hanya membeli motor matic. Saat gadis-gadis dan ibu-ibu di desanya bersaing memamerkan emas yang dipakainya, Kaniya bahkan tidak menggunakan anting.
Siapa sangka, Kaniya memiliki aset yang lumayan untuk masa depannya meskipun hanya akan duduk santai di rumah.
"Baiklah kalau begitu, kakak hanya ingin kamu nyaman dan bahagia, dimana pun kamu tinggal. Jika memang dengan pergi ke kota wisata M akan membuatmu lebih baik, kakak akan mengikhlaskan"
"Makasih kak" Kaniya berdiri dari tempat duduknya, lalu menghambur ke dalam pelukan Ranti.
"Makasih karena kakak selalu ada untukku. Dan maaf, karena selama ini belum bisa jadi adik yang baik untuk kalian. Aku bahkan membuat malu keluarga kita dengan masa lalu ku"
"kakak yang harus berterima kasih. Andai bukan karena mu, anak-anak kakak tidak mungkin bisa sekolah sampai kuliah juga"
"Itu bukan karena aku kak, tapi karena mereka pintar"
"iya in aja deh. Kakak jawab lagi, pasti kamu bisa juga bantah lagi" Kaniya hanya tertawa kecil mendengar jawaban kakaknya.
Sekarang hatinya telah lega karena telah berbicara dengan kakaknya. Setelah semua permasalahan terkait pembatalan pesta pernikahannya selesai, dia akan mencari mengurus masalahnya dengan Dani.
Dia harus benar-benar bebas dari Dani, agar bisa memulai hidupnya lagi.
***