38 +

38 +
Kesedihan Afdhal (1)



"Calon suami?. Apa aku salah dengar? Kenapa kamu begitu mudah menerima orang lain tapi sulit menerimaku Put?" Afdhal bertanya dengan nada meninggi. Dia bahkan tidak memperhatikan orang-orang di sekelilingnya.


Abidzar menatap dengan heran lelaki yang berdiri di depannya kini. Dia mengenali lelaki ini yang pernah menatap ke arah Kaniya dari jauh. Dia pernah memergokinya saat Abidzar menemui Kaniya di kota wisata, tepatnya di sekolahnya. Tapi, Abidzar pikir dia hanya orang yang kagum melihat Kaniya.


"Dinda, masuk dulu" Tiba tiba suara kak Ranti menginterupsi dari dalam rumah. Sepertinya, dia mulai penasaran dengan suara percakapan di luar rumah.


Kaniya sontak menoleh ke dalam.


"Iya, kak. Tunggu sebentar" Jawab Kaniya. Lalu dia menatap ibu Endang dengan cukup berusaha menahan sabar. Bu Endang salah satu teman kakaknya. Mereka terbiasa saling membantu di dapur saat ada acara di rumah penduduk kampung ini.


"Bu, maaf yah saya harus ke dalam. Tapi sebelumnya, saya akan menjawab rasa penasaran ibu. Pertama, selama saya kuliah, ayah memang selalu mengirim uang untuk saya, beliau bilang itu sudah kewajibannya pada anaknya. Kedua, saya menikah saat masih kuliah, jadi sejak saat itu uang kuliah saya ditanggung oleh suami. Meskipun demikian, ayah tetap memberikan uang karena beliau menganggap dirinya mampu untuk memberikan saya uang dan saya tidak mau mengecewakannya. Ketiga, saya kuliah S2 mengandalkan uang pribadi saya, karena sebelumnya saya telah bekerja. Keempat, Pria ini memang calon suami saya. Dia mencintai saya, keluarganya menerima saya sepaket dengan masa lalu saya, masa iya saya tolak. Saya berpikir realistis, dia gagah, kaya, agamanya bagus, bisa jadi imam yang baik buat saya yang banyak kekurangan. Dan bersamanya, tidak akan ada yang menghina hanya karena saya seorang janda" Kaniya berbicara dengan nada percaya diri. Mungkin terkesan sombong atau menyombongkan calon pasangannya. Tapi, dia harap dengan begini ibu-ibu didepannya tak akan lagi penasaran dan merasa harus ikut campur dengan kehidupannya.


Dia lupa bahwa ada Afdhal didekatnya, yang menahan kesedihan karena penuturan dirinya dengan segala kelebihan calon suaminya. Saat berbalik, dia seakan baru ingat akan kehadiran Afdhal di dekatnya. Rasa bersalah perlahan hadir dalam hatinya. Merutuki kebodohannya yang terpancing emosi dan berkata panjang lebar di depan ibu-ibu tetangganya tanpa memperhatikan perasaan Afdhal.


"Dhal, maaf" cicitnya tak terdengar tapi terlihat jelas dari gerakan bibir dan tatatapnnya yang penuh permohonan maaf. Sementara Abidzar senyum senyum sendiri mendengar pujian Kaniya tanpa menghiraukan orang sekitarnya. Dia memang sudah separah ini menginginkan Kaniya hanya jadi miliknya dan ingin segera mengumumkannya. Andai saja bisa dipercepat, dia ingin menikahi Kaniya sekarang juga. Apalagi saat dia menatap Afdhal yang dia baru sadari bahwa bisa menjadi ancaman untuknya.


"Dhal, ayo kita ke dalam" Kaniya mengajak Afdhal. Lalu dia menatap abidzar seolah meminta pengertian. Sementara Bu Endang masih tercengang dengan penuturan Kaniya.


Dia memang sadar bahwa ayah Kaniya lebih mampu dari keluarga mereka. Apalagi, anaknya Amel pun sangat boros dalam berbelanja. Dia bahkan sulit melewatkan setiap pesta pernikahan di kampung beserta pakaian seragam yang harus dibelinya. Berbeda dengan Kaniya yang bahkan jarang pulang, jika bukan keluarga terdekatnya yang melakukan pesta. Lebih sering, ayah dan ibunya yang menjenguk.


Tetangga yang lain sudah membubarkan diri sejak Kaniya berbalik. Bagi mereka tak penting lagi mencari tahu tentang pria yang bersama Kaniya karena mereka sudah memberikan pengumuman. Meskipun ada rasa penasaran akan kehadiran Afdhal. Tapi, mereka yakin tak akan ada yang keluar untuk melayani pertanyaan mereka.


"Bi, ayo kita masuk" Ajak Kaniya pada Abidzar yang masih tak melepaskan senyum manisnya.


Afdhal yang mendengar panggilan Kaniya untuk Abidzar semakin meradang. Selama bersama Kaniya, bahkan saat mereka sudah hampir menikah, Kaniya tidak pernah memanggilnya dengan semanis itu.


Abidzar melangkah masuk ke rumah Kaniya. Ini pertama kalinya, dia bertamu ke rumah Kaniya di desa ini. Dilihatnya Afdhal yang melangkah di belakangnya dengan wajah patah hati. Salahkah Abidzar saat bahagia di atas penderitaan orang lain? Abidzar tentu saja tak peduli, karena untuk kali ini dia harus egois, Kaniya berada dalam pinangannya saat ini. Orang lain tak boleh masuk diantara mereka.


Dia bahkan hanya sesekali pulang ke desa ini semenjak putus hubungan dengan Kaniya. Dia lebih memilih, saat mengambil cuti atau di hari liburnya untuk melihat Kaniya dari jauh, di kota wisata. Dia sengaja memesan vila dekat rumah Kaniya saat berkunjung kesana.


Afdhal bahkan pernah ke sekolah Kaniya. Dia melihat interaksi Kaniya dan siswanya yang begitu akrab. Dia pun ingat, bahwa lelaki ini adalah pria yang menemui Kaniya bersama anaknya. Dia hanya tak menyangka bahwa hubungan mereka akan seserius ini. Padahal Kaniya yang dikenalnya tidak akan begitu mudah menerima seorang pria dalam hidupnya.


"Silahkan duduk, aku akan ke dapur untuk membuatkan minuman" Tanpa mendengar jawaban dari kedua pria itu, Kaniya menuju dapur.


"Biar kakak saja, Din" kak Ranti mencoba membantu, tapi ditolak oleh Kaniya.


Kaniya butuh waktu untuk bernafas. Dia merasa bersalah melihat Afdhal. Tapi, dia juga tak mungkin menyembunyikan rencana pernikahannya dari orang-orang hanya demi menjaga perasaan Afdhal.


Lagipula, dia sudah pernah memberikan kesempatan pada Afdhal. Hanya saja, orang tua Afdhal tidak bisa menerima Kaniya. Beberapa menit kemudian, Kaniya keluar dengan dua gelas minuman untuk tamunya. sementara untuknya sendiri, air putih hangat.


"Putri, bisa kamu jelaskan maksudnya ini? kenapa kamu mudah menerimanya sementara sangat sulit melanjutkan pernikahan kita?" Abidzar hanya diam mendengarkan. Bahkan kak Ranti, yang dari tadi duduk bersama mereka hanya diam.


Dia tahu saat ini Afdhal sedang menyuarakan kesedihannya. Dia menunggu Kaniya begitu lama, hampir menikah tapi malah harus batal karena Kaniya yang ternyata berstatus istri orang lain. Disaat dia meneguhkan hati untuk tetap menerima Kaniya apa adanya, keluarganya malah membatalkan pernikahan mereka dan Kaniya menyetujuinya.


"Kamu nggak mungkin lupa kan, Dhal, bukan aku yang memutuskan hubungan kita. Tapi orang tuamu" Jawab Kaniya membela diri. Dia tak ingin terlalu dipojokkan. Padahal dulu, dia sudah berusaha untuk mau belajar mencintai Afdhal.


"Aku ingat, malah sangat ingat, sehingga aku sulit tidur karenanya. Tapi, seharusnya kamu berjuang agar kita kembali bisa bersama, Putri. Aku sudah mencintaimu dari dulu, selalu menunggu kamu menoleh padaku, menerima cintaku. Tapi hanya karena penolakan orang tuaku, kamu malah dengan mudah melepaskan ku seolah aku tak pernah berarti untukmu" Jawab Afdhal dengan nada cukup tinggi. Wajahnya sudah memerah menahan tangis dan gurat kemarahan diantara rasa putus asa yang menderanya.


Kaniya menatap Afdhal tak percaya. Kenapa seakan dia lupa dengan penolakan orang tuanya. Bukankah, keluarganya sendiri yang datang untuk membatalkan pernikahan.


Kaniya menarik nafas, berusaha bersikap tenang.


***