
Waktu berganti, pernikahan Kaniya dan Dani telah berjalan selama empat tahun. Mereka hidup bahagia, Dani sangat perhatian pada istrinya itu. Semua kebutuhan Kaniya tercukupi tanpa perlu menggunakan kiriman dari orang tuanya.
Pasangan suami istri itu sekarang tinggal di perumahan dekat orang tua Dani. Karena pernikahan mereka belum terdaftar, jadi belum bebas mencari rumah untuk bisa tinggal bersama. Setidaknya, di kompleks ini warga tahu bahwa mereka telah menikah karena sebagian sempat hadir saat akad nikah di rumah Dani.
"Masak apa yah hari ini?" Kaniya berpikir.
Kaniya telah menyelesaikan kuliahnya dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Sabtu pagi ini, Kaniya ingin memasak menu spesial untuk suaminya, tapi dia bingung karena dia tidak pintar memasak.
Selama ini, Kaniya hanya bisa memasak nasi dengan bantuan rice cooker. Sedangkan untuk lauk, akan mereka pesan dari luar. Kaniya bukannya tidak mau belajar memasak, apalagi dia telah lama tinggal di rumah kos. Tapi, setiap mengerjakan sesuatu di dapur ada saja bagian tubuhnya yang terluka. Mulai dari jari yang teriris pisau, tangan yang terkena panci panas, sampai muka kecipratan minyak saat menggoreng. Jadilah Dani tidak mengizinkannya lagi memasak kecuali nasi. Mereka pun lebih sering makan di luar, atau makan di rumah orang tua Dani. Untungnya lagi, mertua Kaniya bukan tipe nyinyir yang akan berceramah panjang lebar karena menantunya tidak bisa memasak.
Mereka biasanya akan janjian saat makan siang, atau Dani menjemput di kantornya untuk makan malam. Tapi, beberapa hari ini, Dani sangat sibuk, seringkali pulang larut, bahkan hari Sabtu dan Ahad pun masih harus ke kantor. Dani berkata, ada masalah dalam divisinya sehingga mereka harus bekerja ekstra.
Merasa kasihan pada suaminya, dan rindu makan bersama yang satu bulan ini sudah terlewati begitu saja. Kaniya pun memutuskan untuk membawakan makanan ke kantor.
Kaniya lalu membuka-buka you**be untuk melihat beberapa menu untuk makan siang dan cara membuatnya. Tapi.. begitu melihat, dia malah bingung sendiri cara membuatnya.
Setelah lama berpikir, Kaniya akhirnya memutuskan hanya akan memasak nasi dan lauknya akan dia pesan saja di luar. Kaniya merasa dia perlu kursus memasak dan akan mencari tempat kursus menyesuaikan dengan waktunya bekerja.
***
Kaniya melajukan motornya ke perusahaan tempat Dani bekerja. Saat masuk ke dalam gerbang yang tampak sepi, Kaniya menuju pos satpam dan bertanya. Tapi pak satpam bilang, hari Sabtu ini tidak ada pegawai yang masuk kerja.
Kaniya yang kebingungan akhirnya mengambil hp dan menelpon suaminya. Saat deringan pertama, panggilan Kaniya langsung diangkat.
'Assalamu Alaikum, sayang'
'Waalaikum salam, Kak.. kakak masih di kantor?'
'Iya yang, ini kerjaannya masih banyak banget, belum bisa ditinggal. Bahkan, hari ini mungkin kakak gak pulang karena ada kerjaan di luar kota'
'oo.. tapi, sekarang kakak masih di kantor yah. mau aku bawakan makanan tidak?' pancing Kaniya.
'eh.. gak usah Yang, makanan sudah disediakan kok. kamu istirahat saja yah di rumah' Suara Dani terdengar gugup. Kaniya merasa ada yang disembunyikan suaminya. Apalagi, saat ini Kaniya berada di depan kantor suaminya yang ternyata kosong. Tidak ada pegawai yang masuk berkerja.
'kemana kak Dani. Apakah selama ini kak Dani sering berbohong padaku?' batin Kaniya.
'Yang.. kamu masih disana kan??'
'iya kak, sudah dulu yah, Kaniya mau tidur siang'
'ok yang. selamat beristirahat'
Kaniya lalu mematikan sambungan telponnya.
Kaniya pulang dengan pikiran berkecamuk. Dani membohonginya. Dani tidak di kantor. Bahkan satu bulan ini, Dani selalu lembur. Mereka tak pernah lagi walau sekedar makan siang atau makan malam bersama.
Pikiran buruk terus berputar dalam pikirannya. Tapi pikiran buruk itu segera dihalaunya dengan mengingat segala kebaikan Dani selama ini.
"gak mungkin, gak mungkin kak Dani melakukan sesuatu yang mengecewakanku. Apalagi sampai mengkhianati pernikahan kami. Kak Dani selama ini sangat baik padaku. Dia bahkan rela membiayai kuliahku. Kak Dani bisa menerima apa adanya diriku, bahkan saat aku tidak bisa memasak. Mungkin kak Dani memiliki alasan sehingga berbohong" ucap nya berusaha menguatkan hatinya.
Pernikahan mereka telah memasuki usia 4 tahun. Artinya, Dani telah bekerja selama 4 tahun lebih 10 bulan. Dua bulan ke depan, mereka bisa mendaftarkan pernikahan mereka dan melakukan pesta pernikahan, karena selama ini mereka hanya menikah siri. Selama menikah, tak pernah sekali pun Dani membuatnya kecewa atau sakit hati. Dia selalu berlaku manis dan lembut, tidak pernah kasar. Keluarga Dani pun sangat baik padanya. Hal ini yang membuatnya bisa sedikit mengobati rindu pada keluarganya di desa, karena belum bisa bertemu sesuai perintah ayah. Kaniya hanya bisa bertukar pesan kepada kakak-kakaknya dan berkata sibuk bekerja di kota lain sehingga belum bisa pulang.
Selama perjalanan, Kaniya terus memotivasi dirinya agar terus berpikiran positif. Menghilangkan pikiran negatif yang kini menghantuinya.
Merasa butuh menenangkan diri, Kaniya memutuskan untuk singgah di sebuah taman. Kaniya memarkirkan motornya dan melangkah menuju bangku taman untuk duduk.
***
"Ok.. Agak dekat sedikit... tahan yah.. 1...2 .. " suara seorang fotografer menarik perhatian Kaniya.
Kaniya menatap ke arah sepasang kekasih yang sedang melakukan foto prewedding. Mereka terlihat sangat mesra, tapi Kaniya dapat melihat bahwa perut wanita tersebut agak membuncit, sepertinya sedang hamil.
'Mungkin mereka pasangan yang sudah menikah, tapi baru akan melakukan pesta sehingga membuat foto seperti itu' ucap Kaniya dalam hati.
Dia terus menatap kepada pasangan tersebut. Sang wanita tampak sangat cantik, sayangnya dia tidak bisa melihat wajah pasangannya karena membelakangi tempat Kaniya duduk.
Punggung itu nampak tak asing baginya. Yah.. Sekilas, punggungnya sangat mirip dengan suaminya.
'hehhe... saking rindunya, aku malah berpikir suami orang mirip suamiku. Mungkin karena dari tadi terus memikirkannya' batin Kaniya memukul dahi.
Melihat sore beranjak, Kaniya pun memutuskan untuk pulang. Namun sebelumnya, dia pergi ke toilet umum lebih dulu.
Kaniya melangkah dengan ringan menuju toilet. Sesekali dia membaca pesan di hp nya. Saat sampai di depan toilet, dia melihat perempuan yang tadi dilihatnya melakukan sesi foto tapi sudah berganti pakaian.
'Sangat cantik' ucapnya dalam hati.
Wanita itu tersenyum saat akan melewatinya. Kaniya akan masuk ke toilet, saat suara familiar menyapa telinganya.
"Sayang..." Kaniya seperti bermimpi mendengar suara suaminya. Saat hendak berbalik, suara seorang perempuan menghentikannya.
"Kenapa menyusul?"
"khawatir, kamu terlalu lama di toilet" jawab si pria.
Perasaan Kaniya tidak menentu, kenapa suara itu sangat mirip suaminya. Dia segera berbalik dan memandang ke arah suara-suara tersebut.
Tapi saat berbalik, pasangan itu pun telah berjalan meninggalkan toilet.
"huftt.... Dua kali untuk hari ini aku menyamakan seseorang dengan kak Dani"
gumam Kaniya.
Kaniya kembali ke dalam toilet menuntaskan hajatnya. Setelah itu, dia melangkah keluar menuju parkiran motor.
Diperjalanan, Kaniya melihat pasangan itu duduk di kursi taman, membelakanginya.
"Gimana, dah senang kan, ngidamnya terpenuhi"
"Senang mas, makasih yah. Sebulan ini, mas selalu ada buat aku" si perempuan menyandarkan kepala di bahu sang pria.
Kaniya jadi baper melihat kemesraan mereka. Dia jadi ingin menghubungi Dani, dan menumpahkan kerinduannya.
Kaniya segera merogoh tas dan mengambil HP, berhenti sejenak untuk melakukan panggilan. Dia menatap iri pada pasangan di depannya. Mereka terlihat sangat bahagia, apalagi perempuan itu sedang hamil. Andai pernikahannya dengan Dani sudah terdaftar, Kaniya pun ingin segera hamil dan punya anak.
'Trimakasih... kau tlah..'
"eh.." Kaniya menoleh ke sekitar mencari suara HP yang nada deringnya mirip punya suaminya saat dia menelpon.
Dilihatnya laki-laki yang sedang duduk bersama pasangannya berdiri lalu berjalan sambil mengangkat panggilan, setelah terlebih dulu pamit. Semua tak luput dari tatapan Kaniya.
'Halo...'
'Kak...' Kaniya seakan tak mampu berkata..Air matanya jatuh tanpa diminta.
***