38 +

38 +
Pertemuan Ketiga=Jodoh?



Kaniya dan keluarga melangkah menuju mobil. Mereka akan berangkat sekarang dan mengusahakan sampai sebelum Ashar.


"Eh.. Bu Ranti dan keluarga mau kemana?" Bu Lilis salah satu tetangga Kaniya bertanya dari luar pagar.


Dia memang dari tadi sudah memperhatikan dari rumahnya. Karena penasarannya sudah di ubun-ubun, ditambah mobil baru yang akan mengantar Kaniya, dia pun memutuskan untuk bertanya.


"eh Bu Lilis, kami mau antar Kaniya ke kota wisata M, Bu". Jawab Ranti sekenanya.


"Oo.. mau rekreasi yah"


"enggak Bu, Kaniya mau tinggal disana" Kali ini, Tiara yang menjawab.


"Oww.. Kaniya mau tinggal sama suaminya yah disana, saya lihat waktu suaminya datang, gagah yah Bu, terlihat kaya. Ini pasti mobil suaminya kaniya. Mereka sedang bertengkar yah hingga Kaniya kabur ke desa. Tapi kok baru muncul dan kita semua gak ada yang tahu kalau Kaniya sudah menikah?" Bu Lilis berceloteh panjang lebar


Kaniya sendiri, memilih masuk mobil. Ranti hanya menghela nafas mendengar Bu Lilis yang sok tahu.


"Itu mantan suaminya Kaniya, Bu Lilis. Kaniya mau bekerja di kota wisata M, jadi tinggal disana" Selesai bicara, Ranti sudah hendak masuk mobil.


"Ohh.. Sudah cerai toh. Tapi kok pernikahannya dengan Afdhal dibatalkan yah?. Keluarganya mereka bilang, karena Kaniya sudah menikah" Ranti merasa jengah dengan pertanyaan Bu Lilis.


"Maaf yah, Bu kami harus berangkat. Kaniya dan Afdhal batal menikah, artinya mereka tidak jodoh. Assalamu Alaikum" Ranti segera menyusul yang lain masuk mobil.


"Waalaikum salam" Jawab Bu Lilis. agak tak rela karena rasa penasarannya masih sangat tinggi.


Setelah semua duduk manis di dalam mobil, Ridho segera melajukan mobilnya.


Perjalanan mereka diiringi lagu-lagu pop tempo dulu kesukaan Sulaiman dan Ranti. Nindya harus mengalah karena tidak bisa mendengarkan lagu korea kesukaannya.


Sementara Kaniya memilih tidur selama perjalanan. Namun saat memasuki kawasan kota wisata M, Kaniya harus terbangun karena antusias dari keluarganya melihat pemandangan indah sepanjang perjalanan.


"Dho, bunga itu bisa diambil gak sih? petik dong buat aku" Rengek Nindya yang duduk di belakang Ridho.


"Boleh, tapi minta dulu sama pemiliknya" Ridho berkata sambil menaik turunkan alisnya.


"Memang ada pemiliknya, disitu kan gak ada rumah. Itu kan cuma bunga liar" Kaniya tak mau kalah.


"Justru itu, kamu harus izin dulu pada pemiliknya"


"pemiliknya mana, kamu kenal?"


"Gak kenal sih, tapi lumayan tahulah kalau pemilik bunga di tempat-tempat seperti itu"


Nindya begitu penasaran dengan pemilik bunga warna merah yang tampak indah itu. Tumbuh di sepanjang jalan yang dilewati. Diantara semak belukar yang Kaniya lihat juga indah.


"Memangnya siapa?" Tanya nindya lagi.


"kasih tahu nggak yah??" Ridho terus menggoda nindya.


"Kasih tahu dong..." Kaniya sudah seperti anak kecil yang meminta permen. ibunya hanya geleng-geleng kepala.


"pemiliknya yah penunggu tempat itu" Jawab ridho


"Kok aku nggak lihat sih?" Mata Nindya mengerjab tak mengerti.


"Karena dia hanya bisa dilihat oleh yang sejenis dengannya" jawab Ridho lagi


"Dia laki-laki, Dho?"


"Mungkin"


"ihhh.. nyebelin, cepat bilang"


Ridho melirik ke arah Kaniya namun matanya tetap fokus pada jalanan.


"Pemiliknya itu, yah penunggu tempat itu Nin. entah itu Kunti, pocong atau yang lainnya. Kamu kalau mau bunga itu, bisa minta sama dia saja, aku juga belum pernah ketemu kok"


Kaniya terdiam mencoba mencerna ucapan Ridho. Lalu...


"Ridho... "


buk buk


"kamu ngerjain aku?" sengit Nindya sambil memukul Ridho dengan dengan boneka bantal Doraemon yang dibawanya.


Ridho yang melihat kemarahan Nindya hanya tertawa terbahak. sementara orang-orang dewasa hanya mampu tersenyum melihat tingkah mereka.


Selang beberapa waktu, mereka sampai di villa. Keluarga Kaniya menatap takjub pada pemandangan di sekitar villa. Bunga-bunga indah tertata rapi di sepanjang jalan masuk.


"Tan, Nindya boleh ikutan tinggal disini??"


"hehhe... trus yang urus toko siapa?" tanya Kaniya.


Mereka lalu menuju ke rumah Kaniya di belakang villa. Mereka akan menginap di rumah Kaniya. Supaya besok bisa jalan-jalan ke beberapa destinasi wisata yang ada.


***


*Villa keluarga Abidzar*


"Nek.., mau kemana?" Syifa berlari keluar melihat neneknya yang akan masuk ke mobil. Abidzar terlihat telah duduk di kursi kemudi.


"Syifa boleh ikut?"


"ummm... tapi di pasar banyak orang, berdesak desakan, kamu masih mau?"


"Becek nggak, Nek?"


"mmm.. nggak sih, kayaknya. Nenek juga kan baru mau kesana" jawab nenek ragu.


"Syifa ikut aja deh, Nek. Nggak pa apa banyak orang"


Mereka lalu naik di kursi belakang. Abidzar yang melihat anaknya ikut, jadi heran. Pasalnya tadi, Syifa sedang asyik bermain di taman dan enggan diganggu. Apalagi disini ada anak penjaga villa yang menemaninya.


"Kok ikut, tadi katanya gak mau kemana mana, mau di rumah aja, main di taman sama Anti" Tanya Abidzar.


"Syifa bosan ayah, Anti mau pulang sama ibunya. Syifa mau ikut nenek aja ke pasar" Tadi, ibunya Anti mengajak anak itu pulang karena ada keluarga mereka yang datang.


"Ok deh. kalau gitu, kita berangkat"


Abidzar lalu melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Pasar tidak terlalu jauh dari villa Abidzar. Mereka sampai dalam waktu 5 menit.


Abidzar memarkirkan mobil lalu ibu dan Syifa turun lebih dulu. Saat akan turun dari mobil, abidzar mengangkat telpon.


"Ayah, cepat. kalau nggak kami tinggal loh"


mendengar suara anaknya memanggil, Abidzar buru-buru membuka pintu mobil.


"Auch...." suara pekikan dari seorang wanita membuat abidzar mengalihkan perhatian dari telpon yang diterimanya.


Dia memeriksa keadaan di luar dan melihat seorang perempuan memegang tangannya dan seperti baru saja terjatuh di dekat mobilnya.


Barulah Abidzar sadar bahwa kegiatannya membuka mobil tanpa memperhatikan sekitar telah mencelakai orang lain.


Abidzar lalu keluar dari mobil.


"Maaf.., apa anda terluka" wanita di depan abidzar langsung mendongak menatapnya.


"Kaniya....?" Abidzar begitu kaget melihat Kaniya. Yang juga terlihat kaget melihatnya.


'ini pertemuan ketiga kami yang tak disengaja. harusnya sih jodoh. Sayang banget dia dah jadi jodoh orang lain' batin Abidzar.


"Pak Abi? kok ada disini??" setidaknya hanya itu yang bisa keluar dari bibir Kaniya.


Dia tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Abidzar.


Dia ke pasar untuk membeli kebutuhan keluarganya selama di rumahnya. Dia memutuskan pergi sendirian dengan menggunakan motor yang telah disediakan oleh temannya, sebagai alat transportasi selama tinggal di kota ini.


"Saya menemani ibu. Kamu nggak apa-apa? Kita ke puskesmas terdekat yah buat periksa kamu" Abidzar tampak meneliti keadaan Kaniya.


"Nggak apa-apa kok pak. Nggak usah. Cuma agak sakit sedikit, ntar juga hilang" Jawab Kaniya berusaha menahan sakit di tangannya.


Abidzar menatap tak percaya, tapi tidak mungkin juga dia memaksa Kaniya untuk memeriksanya.


"Yah... kok lama sih??" Syifa yang tak sabar menunggu ayahnya langsung menyusul.


"Tante Kaniya??" Syifa yang melihat Kaniya langsung berlari dan memeluk Kaniya, hingga Kaniya sedikit terhuyung ke belakang, ditambah tangannya yang terasa sakit.


"Syifa.., hati-hati sayang. Tante Kaniya nya lagi sakit itu, abis jatuh tadi" jelas Abidzar merasa khawatir melihat Kaniya yang terlihat meringis karena perbuatan anaknya.


"Benar... apanya Tan yang sakit? sini Syifa lihat. Kita ke dokter yah, Tan" Syifa berbicara dengan cepat dan nada khawatir membuat Kaniya tersenyum.


Rindu sekali dia dengan celotehan anak ini. Syifa selalu bisa menghiburnya saat mereka bertemu. Bahkan ditengah kesedihannya, Syifa hadir dalam mimpi untuk menghiburnya


Kaniya jadi teringat mimpinya saat itu. Syifa menemuinya di taman, menghiburnya yang sedang bersedih. Lalu dia menatap abidzar dan semburat merah tiba-tiba muncul dari pipinya.


Pasalnya, dalam mimpi itu Abidzar bersikap sangat romantis menurut Kaniya. Abidzar mendorong ayunannya bersama Syifa. Dan entah bagaimana, Syifa tiba-tiba pergi karena panggilan ibunya dan mereka tinggal berdua.


Abidzar lalu beralih kedepannya, dengan seikat bunga, dia berlutut dan mengatakan sesuatu. Sayangnya, Kaniya tidak mendengar suara Abidzar karena suara Nindya yang membangunkannya lebih terdengar jelas.


"Kamu kenapa?" Abidzar yang melihat wajah Kaniya memerah, menjadi khawatir. Dia takut, Kaniya sedang menahan sakit.


"nngg..gak kok. aku tidak apa-apa" Kaniya menunduk menyembunyikan rasa gugupnya. lalu iya membelai rambut Syifa dan menenangkannya. "Tante nggak apa-apa, sayang" Syifa merasa lega dengan penuturan Kaniya. Dia lalu beralih ke ayahnya.


Abidzar masih menatap Kaniya yang terlihat gugup, merasa gemes sekali. Ingin cubit pipinya Kaniya, tapi bukan mahram.


'ingat... dia istrinya orang" kata Abidzar dalam hati.


"Yah.. sumpek disini, banyak mobil. Kita kesana yuk" Syifa menunjuk kearah neneknya yang sedang duduk di kursi bawah pohon Ketapang.


"Ayo Tante" Syifa turut mengajak Kaniya.


Kaniya hanya mengangguk lalu meminta Syifa jalan duluan, karena ia harus mengambil kunci motor yang tadi lupa diambil.


Syifa segera berlari ke arah neneknya. Sedangkan Abidzar menunggu Kaniya.


"Kaniya, selamat yah atas pernikahanmu" Kaniya yang mendengar suara Abidzar langsung berhenti.


***