[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 9



"Hallo Kak Alka! Gimana hari ini? Udah suka sama Meira belum? Kalo belum suka nanti Meira tunggu sampe sore, kalo belum suka juga nanti Meira tanya lagi besok!" Alka memutar bola matanya malas saat dengan tak tahu malunya cewek polos bernama Meira itu duduk dihadapannya.


Seperti biasa, The Lion berkumpul di kantin belakang sekolah dengan berbagai macam kegiatan yang melanggar aturan sekolah. Merokok dan bertemu kangen dengan kekasih mereka misalnya.


Dua orang cewek berjalan ke arah Meira dengan ekspresi kikuk, apalagi saat tatapan anak The Lion seolah menguliti mereka.


"Wih ada cewek cantik tuh!"


"Itu siapa woy cantik bener?!"


"Itu temennya si Mei bukan?"


Masih banyak lagi kalimat-kalimat pengganggu telinga yang terlintas di pendengaran mereka.


Dita, cewek berambut pendek itu menepuk pelan bahu Meira.


"Mei, balik yuk! Gak enak gue di sini," Meira berbalik menatap Dita dan Bella lalu tersenyum lebar.


"Santai aja kali Dita, Bella. Meira juga waktu pertama kesini agak takut juga, tapi lama-kelamaan gak lagi kok. Percaya sama Mei, mereka itu baik gak makan orang." Dita dan Bella mendengus pasrah.


Kedua cewek itu memilih duduk di kursi kosong yang tidak terlalu ramai. Tak berselang lama keduanya di kagetkan dengan kedatangan Bagus dan Ezra yang langsung duduk di hadapan mereka.


"Hai, nama lo siapa?" Sapa Ezra kepada Bella.


Bella tersenyum kikuk lalu menjawab.


"Hai juga, gu-gue Bella temen Meira." Ezra mengangguk mengerti.


"Di sebelah lo?" celetuk Bagus sambil menatap Dita yang menyibukkan diri dengan ponselnya.


Bella menatap ke arah Dita yang kini mendongak menatap dirinya dan Bagus bergantian.


"Dia Dita, temen gue sama Meira." Bagus mengangguk paham.


"Kalian kelas berapa kok kita gak pernah liat?" tambah Bagus.


"Kita kelas XI IPA 2," jawab Bella.


"Oh lo junior kita dong?" Bella mengangguk mengiyakan.


"Lo kenapa diem aja dari tadi?" celetuk Ezra bertanya pada Dita yang sejak tadi hanya diam menyibukkan diri dengan ponsel.


"Gu-gue?" Dita bertanya dengan mata membulat dan sedikit kikuk. Bagus tersenyum geli melihat ekspresi itu.


"Emang siapa lagi kalo bukan lo?" imbuh Bagus.


Dita tersenyum kikuk.


"Maaf, gu-gue gak ta-"


"Boleh minta nomor whatsapp lo?" ucapan Dita terpotong begitu saja saat Bagus bersuara.


Dita tampak tekejut. Seorang Bagus meminta nomor whatsappnya? Dita tidak mimpi kan?


"Bu-buat apa kak?"


"Gue mau neror lo!"


"Hah?"


Bagus terkekeh lalu mengacak rambut Dita dengan gemas. Cewek itu selalu menunjukkan ekspresi yang membuat Bagus selalu ingin tersenyum geli.


"Udah sini aja, gue becanda kok tadi."


Dita dengan pelan memberikan ponselnya kepada Bagus. Setelahnya, cowok itu tampak mengetikkan sesuatu di ponselnya sembari menatap ponsel Dita dan miliknya bergantian seolah menyalin sesuatu.


Ezra yang merasa jadi kambing conge pun menarik tangan Bella ke meja yang kosong tanpa sepengetahuan Bagus dan Dita.


***


"Kak Alka anterin Mei pulang yah?" Alka menghela nafas kasar lalu mempercepat langkahnya, sejak tadi cewek ini mengikutinya dan merengek untuk di antar pulang. Memangnya dia siapa?


"Kak Alka ishh! Jangan cepet-cepet jalannya!" Meira sedikit berlari untuk menyamakan langkahnya dengan langkah lebar Alka.


"Aw!" cewek itu memekik sakit saat tanpa sengaja kakinya saling bertautan dan akhirnya ia jatuh ke lantai kasar parkiran sekolah.


Alka yang mendengar pekikan itu sontak menghentikan langkahnya. Perlahan badan tegap itu berbalik menatap Meira yang terduduk di lantai dengan meniup-niup lukanya.


Alka kembali menghela nafas kasar. Cewek ini selalu saja merepotkan!


Meira meringis sakit saat darah keluar dari lututnya akibat pergesekan yang terjadi antara kulit lututnya dengan lantai kasar parkiran sekolah itu.


"Sakit..." gumamnya dengan suara bergetar.


Meira perlahan mendongak saat sepasang sepatu berwarna merah gelap berada di depannya. Lengkungan manis dibibir cewek itu terukir saat melihat bahwa pemilik sepatu itu adalah Alka.


"Sakit Kak..." rengeknya seperti anak kecil hingga membuat Alka memutar matanya jengah.


"Manja!" bibir Meira melengkung kebawah saat cibiran itu keluar dari mulut Alka tanpa permisi.


"Kakak kok jahat sih?! Bukannya di bantuin malah di cibir!" gerutunya manja.


"Bangun! Jangan manja!" Bibir Meira maju beberapa centi.


"Gendong...." rengeknya manja dengan merentangkan tangannya pada Alka yang hanya berdiri menatapnya ke bawah.


Alka menatap ke sekitar sekolah, sudah sepi. Hanya tersisa anak ekskul saja.


Cowok itu berjongkok di depan Meira hingga cewek itu tersenyum lebar.


Mata Alka memicing meneliti luka di lutut Meira, tidak terlalu parah namun cukup perih untuk cewek manja seperti Meira.


"Malik!" cowok yang baru saja lewat menoleh lalu berjalan ke arah Alka saat dirinya dipanggil.


"Kenapa Al?" tanyanya lalu menatap Alka dan Meira bergantian.


Alka berdiri dari hadapan Meira.


"Bawa dia pulang!" singkat Alka lalu pergi dari sana tanpa memperdulikan mulut Meira yang menganga lebar tak percaya.


***


"Nyokap gue katanya bisa diajak ketemu malam ini," Devan mengangguki ucapan Bagus lalu memanggil Alka.


"Al! Cepetan kali udah karatan nih gue!" teriaknya dari luar kamar Alka.


10 menit kemudian Alka keluar dengan celana jins hitam dan kaos oblong berwarna senada, tak lupa pula dengan sniker putih dan jaket denim kebanggan The Lion.


"Kemana sih?!" tanya Alka kesal.


"Udah ikut aja gak usah bacot!" Bagus menarik tangan Alka keluar dari apartement tersebut.


Mobil mewah berkelas atas milik Bagus melaju kencang membelah Kota Jakarta di malam yang pekat ini.


"Kita mau kemana sih?!"


"Psikiater!" Alka melototkan matanya pada Bagus yang terlihat fokus menyetir.


"Lo emang gak gila, tapi lo aneh!" celetuk Devan dari belakang.


Alka memutar bola matanya malas.


Tak berselang lama mobil berwarna putih bersih itu telah sampai di depan sebuah rumah sakit Harapan.


Ketiga pemuda tampan itu keluar dari mobil lalu segera masuk ke dalam rumah sakit itu.


"Saya mau ketemu dengan dokter ahli syaraf sekaligus psikiater di rumah sakit ini, Dr. Hana Andriyani Baskara." ucap Bagus setelah sampai di depan resepsionis.


"Kebetulan Dr. Hana sedang beristirahat di ruangannya, kalian tinggal lurus, belok kanan lalu sedikit berjalan hingga menem--"


"Saya tau kok Sus." Suster itu mengernyit bingung.


"Terus kenapa bertanya Dek?"


Bagus terkekeh.


"Iseng doang kok, saya cuma mau denger suara suster aja." tanpa dosanya cowok itu berjalan diikuti Devan dan Alka yang menatapnya malas. Jangan lupakan pula tatapan cengo dari suster itu.


Tok! Tok!


"Masuk!"


Bagus, Devan dan Alka masuk ke ruangan itu.


Tampak seorang wanita paruh baya tengah membaca sesuatu di kursi kebesarannya. Bagus berjalan mendekat lalu memeluk wanita itu dari belakang.


Wanita itu tersentak kaget sebelum akhirnya terkekeh saat mengetahui bahwa anaknyalah yang memeluknya.


"Devan, Alka, duduk nak." Devan dan Alka mengangguk lalu duduk di sofa dalam ruangan itu.


"Bunda gak kecapean?" tanya Bagus setelah melepaskan pelukannya.


"Gak, Bunda udah biasa seperti ini." Bagus mengangguk lalu mengecup pipi kiri Bundanya sebelum duduk bersama Alka dan Devan.


"Apa kabar Alka?" tanya Dr. Hana berbasa-basi.


"Baik tan," jawab Alka.


"Alka aja nih tan yang ditanya? Devan enggak?" Dr. Hana terkekeh sedangkan Bagus memutar bola matanya malas.


"Apa kabar Devan?"


Devan tersenyum lebar lalu menjawab.


"Baik tan, apalagi pas lihat senyumnya tante wih... Devan jad--"


"Gue sunat ulang lo kalo godain nyokab gue lagi!" Devan menunjukkan cengirannya kepada Bagus sedangkan Dr. Hana hanya tersenyum kecil.


"Boleh langsung aja? Nyokab gak ada yang jaga." seolah mengerti dengan keadaan Alka, Dr. Hana mengangguk lalu mempersilahkan Alka duduk di hadapannya.


"Tante udah sering dengar keanehan yang kamu alami dari Bagus, tapi tante mau sedikit bertanya sama kamu. Kamu sering sakit kepala sebelum mengalami keanehan itu?" Alka mengangguk sebagai jawaban.


"Sering, tapi cuma sebentar." Dr. Hana mengangguk lalu tampak mencatat sesuatu di map berwarna hitam.


"Pernah merasa depresi atau mengalami hal yang pahit sampai kamu gak bisa lupain sampai sekarang?" Alka kembali mengangguk.


"Pernah."


"Apalagi hal aneh yang biasa kamu rasakan?"


Alka tampak berfikir sebelum akhirnya menjawab.


"Sering lupa dengan beberapa kejadian, badan aku juga sering sakit sebelum keanehan itu terjadi. Dan gampang marah tanpa alasan yang jelas."


Dr. Hana mengangguk mengerti lalu menutup catatannya.


"Jadi gimana Bun?" tanya Bagus penasaran.


"Apa mungkin Alka itu sering kerasukan jin tante?"


Dr. Hana menggeleng lalu terkekeh.


"Alka tidak kerasukan jin atau apapun, dia baik-baik saja. Cuma ada satu hal yang bisa di simpulkan dari semua gejala-gejala yang Alka ucapkan."


"Apa Bun?"


"Apa tan?"


Tanya Devan dan Bagus bersamaan.


"Tapi sebelum itu kita tanya dulu sama Alka untuk memperkuat kesimpulan itu. Coba kamu kasi tau ke kita hal yang paling aneh menurut kamu Al."


Alka mengangguk lalu menghela nafas pelan.


"Malam itu Alka baru pulang dari rumah sakit jagain Mama, pas pulang di cegat sama Geng Srigala. Alka cepet-cepet pulang waktu itu karna memang Alka males buat berantem. Sampai di apart Alka tidur, tapi kejadian aneh terjadi waktu Alka bangun paginya."


"Apa itu?" selah Dr. Hana


"Wajah Alka ada lebam di sekitaran tulang pipi dan bawah mata, padahal Alka gak berantem satu harian itu."


Dr. Hana tersenyum tipis setelah mendengar penjelasan Alka yang cukup memuaskan baginya.


"Mungkin ini sedikit tidak masuk akal buat kamu Al, tapi mau bagaimanpun kamu harus menerima ini."


"Alka punya penyakit serius tan?" tanya Alka was-was.


"Bukan," mereka bertiga menghela nafas lega bersamaan tanpa sadar.


"Alka mengidap syndrom Dissociative Identity Disorder atau gangguan identitas disosiatif yang biasa disebut dengan kepribadian ganda."


"APA?!" Devan dan Bagus berteriak bersamaan sedangkan Alka sedikit terkejut terbukti dari matanya yang sedikit membulat.


"Kepribadian ganda Bun?" tanya Bagus, Dr. Hana mengangguk.


"Ini beneran tan? Gimana ceritanya sih?" tanya Devan bingung.


"Penyebab munculnya kepribadian ganda dalam diri Alka bisa disebabkan oleh trauma masa lalu yang membuat Alka tertekan dan tanpa sadar menyimpan dendam. Kerpibadian lain dalam diri Alka akan mengambil alih tubuh Alka di saat tertentu, misalnya saat Alka sedang sangat emosi atau ada sikap Alka yang dia tidak suka."


Alka hanya diam, mulutnya tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar penjelasan dari Bunda Bagus.


"Ini gak bisa sembuh tan?" tanya Devan.


"Sebagimana penyakit atau masalah kesehatan lainnya pasti bisa di sembuhkan. Alka hanya perlu melakukan beberapa terapi khusus untuk menghilangkan kepribadian lain dalam dirinya. Itupun jika Alka berkenan,"


"Gimana Al, lo mau?" tanya Devan yang dibalas gelengan oleh Alka.


"Loh kenapa?"


"Biarin aja semuanya mengalir, gue udah capek."


Devan tampak menghela nafas, bagaimana pun dia tidak bisa memaksakan kehendak Alka.