[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 24



Di ruangan serba putih itu Meira duduk di kursi dekat brankar Soraya. Tangannya setia menyuapi wanita yang tengah berbaring dengan tatapan sendu itu.


"Satu suap lagi, Tante."


Wanita itu membuka mulutnya menyambut suapan Meira.


Meira tersenyum saat bubur itu sudah habis. Dia lalu menyimpan mangkuk bubur itu di atas nakas lalu mengambil airminum yang memiliki sedotan. Menyodorkannya pelan pada bibir Soraya.


Soraya sedikit mengangkat kepalanya. Mulai menyeruput air putih itu.


Wanita itu kembali merebahkan kepalanya. Dia tersenyum tipis menatap Meira yang merapikan bekas makannya.


"Makasih, nak. Kamu sudah mau jagain Tante," ucap Soraya.


Meira tersenyum. "Sama-sama, Tante. Lagian Mei juga bosan kalau di rumah, aja."


"Mama dan Papa kamu?"


Meira mengambil tangan kanan Soraya yang tertempeli infus. Entah untuk apa, Meira hanya ingin menggenggam tangan dingin wanita itu.


"Mama Mei ngurus butik, Tan. Kalau Papa lagi di kantor, malam baru pulang."


Soraya mengangguk paham. Dia kemudian beralih memandang langit-langit rumah sakit. Pandangannya berubah menjadi sedih.


Alis Meira terangkat. "Tante kenapa?" tanyanya.


Helaan nafas kecil keluar dari mulut Soraya. "Alka baik-baik aja kan, Mei?" gumamnya pada Meira.


Meira tersenyum tipis. Cewek itu beralih mengusap rambut Soraya yang sudah tipis. "Kak Alka baik-baik aja, Tante. Mei sempat jenguk dia sebelum ke sini."


"Dia sudah makan?"


Meira mengangguk saat Soraya menatapnya. "Iya, Tante."


Soraya menghela nafas lega.


Saat terjadi keheningan diantara mereka. Tiba-tiba pintu masuk terbuka.


Masuklah Devan dengan sebuah kantung kresek di tangan kanannya. Cowok itu menghampiri Meira.


"Nih, Mei. Gue bawain makanan buat lo."


Meira menerimanya dengan senang. "Makasih, Kak Devan." cewek itu tersenyum lebar.


Devan mengangguk. Dia beralih pada Soraya. "Tante udah baik, kan?"


Soraya mengangguk dengan senyumnya.


Devan ikut tersenyum. "Syukurlah." ucapnya. Lega.


"Oh iya, Mei. Lo jagain Tante Raya dulu, yah. Gue ada urusan."


Meira mengangguk.


"Devan pamit, Tan," pamit cowok itu pada Soraya.


Soraya mengangguk. "Hati-hati, Van."


Devan menyalimi tangan Soraya. "Iya, Tante."


***


Gudang kumuh di dekat sekolah SMA Garuda menjadi saksi penderitaan Arkan saat ini. Cowok dengan penampilan yang sudah kacau itu terikat di sebuah tiang besar.


Bagus dan Devan yang ada di depannya menyeringai kejam saat mata Arkan perlahan terbuka.


Arkan. Cowok itu sedikit membulatkan matanya saat melihat Bagus dan Devan. Dia meneguk kasar salivanya.


Bagus. Cowok gondrong itu berdiri seraya bersedekap. Bukan, bukan itu yang membuat Arkan terkejut. Melainkan busur yang ada di tangan kanan cowok itu dan beberapa anak panah di belakangnya.


Devan. Cowok itu berdiri seraya memutar-mutar pisau lipat di kedua tangannya. Dia menyeringai melihat ekspresi Arkan.


"Gimana? Mimpi indah gak lo?" seru Bagus.


"Jelas mimpi indah, lah. Orang udah berhasil masukin Alka ke penjara," Devan berceletuk sarkas.


Arkan berdecih. Berusaha melepaskan ikatan di tangannya namun gagal. Tali yang cukup besar itu sepertinya diikat mati.


Bagus terkekeh mengejek. "Jangan buru-buru mau bebas lah, Kan. Main-main dulu dong sama kita. Yah, gak, Van?"


Devan tertawa. Tawa yang terdengar seperti tawa psychopath di telinga Arkan. "Yoi. Kita belum main bareng, loh."


Arkan menatap mereka tajam. Namun yang di tatap hanya menyeringai mengejek.


Bagus maju satu langkah. Mengambil anak panah dari punggungnya lalu di pasangkan pada busur. Dia mengangkat busur itu tinggi-tinggi. Menyipitkan matanya seolah mencari sasaran yang tepat untuk pendaratan anak panahnya.


Kaki Arkan bergetar. Dia hampir ambruk jika tidak ada tali yang mengikat tangan dan pinggangnya.


"Apa yang bakal lo lakuin sialan?!" Arkan berteriak takut.


Bagus tertawa sejenak. "Menurut lo?" balasnya dengan alis terangkat satu.


Set!


Anak panah itu lepas dan patah saat mengenai tembok. Arkan terkekeh sinis.


Ternyata anak panah palsu!


"Lo kurang bahagia waktu kecil? Main kok, sama anak panah palsu!" Arkan tertawa mengejek.


Bagus hanya mengangkat bahu acuh. Di belakangnya Devan tersenyum miring.


Bagus kembali mengambil anak panah dari balik punggungnya. Menariknya lalu membidik pada lengan Arkan.


Lagi. Anak panah itu jatuh ke lantai saat mengenai lengan Arkan.


Arkan kembali tertawa. "Lo mau ngajak gue main panahan atau apa, sih?"


Bagus menyeringai. Ia kembali mengambil anak panahnya yang tersisa satu. "Jadi lo udah gak sabaran buat main sama gue?" Bagus mengangguk mengerti. Mulai memasang anak panah pada busurnya.


Set!


Anak panah itu melenceng namun sempat menggores lengan Arkan.


Arkan meringis. Darah segar keluar dari balik kaos oblong hitamnya. Bekas goresan panah di lengannya menganga dengan darah yang tak hentinya keluar.


Bagus dan Devan tertawa.


"Sekarang giliran gue." Devan maju ke depan. Memainkan kedua pisau lipatnya dengan random.


"Gue masih mau berbaik hati sama lo. Gue ada dua pilihan, lo datang ke Alka dan minta maaf, atau salah satu pisau lipat gue ini nusuk tubuh lo. Lo bebas mau milih yang mana." Devan mengangkat bahu acuh.


Di belakangnya ada Bagus yang terlihat menelfon seseorang.


Arkan berdecih. "Lebih baik gue mati dari pada harus minta maaf sama si sialan itu!"


Devan mengangguk dengan senyum mengejek. "Itu artinya lo milih opsi kedua. Right?" Devan tersenyum miring.


Cowok itu mengelus pinggiran pisaunya. "Lo pernah dengar, gak? Alka matahin lengan saudaranya sendiri karna balas dendam atas perlakuan saudaranya sama gue?"


Devan menyeringai kecil. "Gak ada belas kasihan dalam hati Alka buat orang-orang yang sudah berani menyentuh temannya. Begitupun The Lion, gak punya hati!"


Devan kembali memutar pisau lipat di tangan kanannya dengan dua jari. "Dan gue mau balas kebaikan Alka. Lo harus dapat ganjaran yang lebih!"


Arkan hanya diam. Dalam hati dia sungguh ketakutan. The Lion memang terkenal dengan ke bringasan dan tak berhati pada orang yang berani menganggangu ketenangan mereka.


Dan sekarang Arkan sudah gila karena menggali kuburannya sendiri.


"Tapi gue bingung mau nusuk tubuh lo bagian mana." Devan sok menampilkan wajah bingung.


Cowok itu meneliti tubuh Arkan dari atas sampai bawah lalu ke atas lagi.


"Jantung? Perut? Kaki? Paha? Atau kepala?!" Devan bertanya antusias.


"Jantungnya aja biar mati sekalian!" celetuk Bagus dari belakang. Kedua tangan cowok itu tenggelam di saku jeansnya. Busurnya sudah hilang entah kemana.


Bagus mengangkat bahu.


Devan beralih pada Arkan. Dia tersenyum miring.


Arkan sendiri mulai melemah. Darah yang keluar dari lengannya sangatlah banyak.


Set!


Lemparan pisau lipat pertama melenceng. Tampaknya Devan ingin melihat tatapan takut Arkan.


"Lo masih punya kesempatan. Mau opsi pertama atau kedua?" tanya Devan. Sekali lagi.


Arkan tersenyum miring walaupun sedikit lemah. "Gue.lebih.baik.mati!" jawab Arkan. Menekan setiap katanya.


"Tapi gue gak akan buat lo mati segampang itu. Lo harus menderita terlebih dahulu!"


Devan melempar pisau lipat kedua dan menancap di betis kanan Arkan.


"Aaakkkhhhh...." Arkan mengerang kesakitan sementara Bagus dan Devan tertawa. Bahkan kedua cowok itu bertos ria.


Benar-benar seperti psychopath!


Arkan sudah sangat lemah. Cowok itu kembali berteriak kesakitan saat Devan mencabut pisau lipat itu dari betisnya.


"Good. Gue suka lo kesakitan kayak gini!" Devan tersenyum miring lalu membuang asal pisau lipat itu.


Dia berbalik pada Bagus dan Ezra yang baru saja datang.


Ezra melempar sebuah kotak perban pada Devan dan di tangkap baik oleh cowok itu.


"Kita gak sejahat yang lo pikirin," ucap Devan pada Arkan. Mulai mengambil perban untuk melilit lengan dan betis Arkan.


Arkan lagi-lagi berteriak kesakitan saat Devan melilit perban itu secara asal-asalan pada lengan dan betisnya.


"Ezra, bantuin gue bawah dia ke kantor polisi."


***


"Terima kasih atas kerja samanya, nak Devan, Bagus dan Ezra." Pak Adrian menjabat tangan ketiganya bergantian.


"Sama-sama, Pak," balas Bagus, mewakili.


Pak Adrian melepaskan jabatan tangannya. "Tapi kok, Arkan ada luka di lengan dan betisnya, yah?"


Ketiga cowok itu saling pandang dengan tatapan tak terartikan. "Arkan mencoba kabur, Pak. Dia juga hendak menyerang kami. Makanya kami terpaksa berbuat kasar padanya."


Bagus dan Ezra hampir saja tertawa mendengar kebohongan Devan. Kedua cowok itu memalingkan wajah dengan senyum yang di kulum.


Pak Adrian mengangguk paham. Tak lama kemudian Alka datang dengan seorang polisi di sampingnya. Baju cowok itu masih seperti kemarin. Seragam SMA.


Bagus, Devan dan Ezra tersenyum senang lalu menghampiri Alka. Memeluk ala pria pada cowok itu.


"Lo bebas, Man!" pekik Bagus.


Alka terkekeh pelan. "Thanks. Gue suka kerja lo bertiga."


Devan tersenyum seraya menepuk bangga dadanya. "Devan Ardeon, ini!"


Ezra dan Bagus memutar bola mata malas.


"Selamat Alka. Kamu sudah bebas sekarang," itu Pak Adrian. Pria itu menjabat tangan Alka.


Alka hanya mengangguk menanggapi ucapan selamat Pak Adrian. Polisi itu kemudian pergi dari sana.


"Lo gak mau nengok Arkan dulu?" celetuk Ezra.


Alka menggeleng. "Gak guna."


***


Salah satu ruangan di kediaman Mahardika terpenuhi oleh beberapa botol Wine dan rokok. Serta beberapa anak cowok yang bermesraan dengan wanita bayaran.


Suasana di ruangan itu sudah seperti kelab malam.


Samuel. Cowok itu hanya duduk di sofa seraya menghembuskan asap rokoknya dari mulut dan hidung bergantian.


Suara musik yang cukup keras tidak mengganggu aktifitasnya. Disampingnya ada wanita dengan pakaian seksi yang sibuk bergelayut menggoda di lengannya, tetapi tidak juga dia pedulikan.


Brak!


Pintu di buka dengan keras hingga kegiatan mereka terhenti. Musik yang cukup keras itu juga ikut berhenti.


Samuel menatap pada pintu. Di sana, Papa Samuel—Hadi Mahardika—berdiri dengan tatapan tajam yang siap menghunus siapa saja di ruangan itu.


"Apa yang kalian lakukan di rumah saya, hah?!" bentak pria itu. Marah.


Samuel menghela nafas lalu membuang puntung rokoknya ke asbak yang ada di atas meja.


Semua teman-temannya diam tak berkutik saat melihat wajah Hadi yang memerah karena amarah.


Hadi melangkah masuk. Berdiri di tengah-tengah remaja yang gila kebebasan itu.


"Kalian pikir rumah saya ini kelab malam, hah?! Di mana sopan santun kalian?!"


Hadi menghela nafas pelan. "Keluar. Keluar dari rumah saya sekarang juga!!" pria itu kembali membentak.


Teman laki-laki Samuel keluar dari ruangan itu. Beberapa wanita bayaran tampak memperbaiki pakaiannya yang sedikit kusut entah karena apa. Ada juga yang mengambil tasnya di atas meja lalu langsung pergi. Tak berani menatap Hadi.


Semua itu tak luput dari pandangan Hadi. Dalam hati dia berdecak miris. Remaja seperti inilah yang dapat menghancurkan nama bangsa.


Hadi beralih menatap Samuel yang berdiri dengan kedua tangan tenggelam di saku celana jeansnya. Tatapan datar cowok itu bertemu dengan tatapan amarah Hadi.


"Ini yang kamu dapat di Amerika?" Hadi menyeringai miris. "Ternyata Papa salah ngirim kamu ke Amerika."


Samuel tersenyum miring. "Sekarang Papa baru nyesel?"


Hadi mengangkat bahu acuh. "Papa bukannya menyesal. Papa hanya miris melihat anak Papa yang salah pergaulan."


Samuel tertawa. Tawa yang menyiratkan kesedihan. "Sekarang kata 'anak' itu baru terucap dari mulut Papa?"


Hadi diam.


"Kemana Papa tiga tahun yang lalu?! Papa cuma mentingin anak haram itu tanpa tau kalau Papa masih punya anak yang lebih berhak atas kasih sayang, Papa!" Samuel berteriak marah.


"Papa kira selama ini aku gak tau? Papa pura-pura mengasingkan Alka dari rumah ini, padahal Papa diam-diam selalu nemuin dia. Sedangkan aku? AKU YANG BENAR-BENAR DIASINGKAN DI SINI!!"


"Papa ngirim aku ke Amerika karna Papa kira aku yang buat hidup Alka menderita. Papa kira aku yang buat Alka trauma sampai dia punya jiwa psychopath!"


Samuel mengusap kasar sudut matanya yang sempat berair. Dia menatap Hadi yang diam tak berkutik.


"Papa kira enak jadi aku?" Samuel menatap nyalang pada Hadi.


"Papa kira enak jadi anak sah yang tidak di perlakukan adil sementara anak haram itu mendapat perlakuan yang lebih?!"


Samuel terkekeh. "Aku cukup sadar diri, Pa. Aku memang anak sah, tapi Papa gak pernah harapin kehadiran aku, kan?"


"Sam, jaga bicara kamu! Kamu itu anak Papa. Papa gak pernah membeda-bedakan kamu dengan Alka!"


"Alah! Papa kira Sam gak tau kalau selama ini Papa gak pernah cinta sama Mami?" Samuel menyeringai kecil.


"Aku adalah anak sah yang lahir dari rahim wanita yang Papa benci kehadirannya. Dan Alka adalah anak haram yang lahir dari wanita yang sangat Papa cintai."


"Sesederhana itu definisi kami bagi Papa!"


Samuel pergi meninggalkan ruangan setelah mengucapkan kalimat itu. Meninggalkan Hadi yang diam dengan tatapan kosong.


Dia sudah salah besar. Selama ini dia tidak memperlakukan Samuel sebagaimana seharusnya karena Megan. Hadi terlalu takut menyayangi Samuel. Dia tidak ingin kehilangan Alka jika menyayangi Samuel terlalu dalam.


Dan sekarang, dia kehilangan Samuel karena rasa sayangnya pada Alka.


Lalu harus bagaimana Hadi bersikap?