[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 26



"APA?!"


Pekikan Bagus, Ezra, Tian, Arnold, Malik dan Adnan menggema di dalam ruang inap Soraya.


"Gak usah teriak kampret!" cetus Devan. Cowok itu cengengesan pada Alka yang menatap tajam seolah berkata bahwa mereka mengganggu Mamanya.


Meira yang duduk di dekat brankar Soraya pun menoleh pada beberapa anak cowok yang duduk di sofa itu.


"Kalian kenapa?" tanya Meira. Mereka serempak menggeleng.


"Cil, sini deh!" itu Bagus yang memanggil Meira.


Meira mengangkat alis lalu menoleh pada Soraya. "Mei ke sana dulu yah, Tan?"


Soraya mengangguk dengan senyum simpul.


"Kenapa, Kak?" Meira duduk di antara Bagus dan Devan. Menatap mereka satu persatu dengan wajah bertanya.


Alka? Dia bangkit menuju brankar Mamanya. Lalu duduk di kursi yang tadi Meira tempati.


"Lo beneran Anna, kan?" celetuk Ezra. Wajah cowok itu tampak sangat tidak percaya.


"Lo gak lagi ngibulin kita, Kan?" timpal Malik. Dia sama seperti Ezra. Sangat tidak percaya.


Kening Meira berkerut. "Kenapa aku harus bohong? Aku emang adiknya Kak Gilang."


"Lo punya bukti?" tantang Arnold. Dia sedikit tidak suka akan fakta bahwa Meira adalah adik Gilang. Mungkin menurutnya akan merepotkan.


"Kak Arnold juga gak percaya sama aku?" Meira beralih menatap Arnold yang bersedekap dengan punggung menyandar di sofa.


"Kenapa gue harus percaya sama lo?" balas Arnold. Nadanya cukup sarkas di telinga Meira.


Meira menatap heran pada Arnold. Sejak kapan cowok itu sarkas padanya? Bukannya selama ini Arnold sering diam dan bersikap seolah tidak peduli.


Meira menghela nafas. Menatap mereka satu persatu dengan bingung. "Apa cuma aku disini yang gak tau apa inti dari pembicaraan ini?" tanya Meira.


"Kita cuma butuh bukti, Mei. Siapa lo sebenarnya, dan bener atau gak lo adalah adik Gilang. Karna ini benar-benar informasi yang lumayan penting buat kita," celetuk Tian yang sejak tadi diam meneliti wajah Meira. Mirip Gilang atau tidak.


"Kan, tadi aku udah bilang. Aku ini adiknya Kak Gilang. Gimana, sih?!" rupanya Meira sudah mulai emosi. Dari tadi tidak ada satupun yang percaya mengenai pengakuannya bahwa dia adalah adik Gilang Abraham.


"Bukti apa yang lo punya?" celetuk Arnold lagi. Ekspresinya datar.


"Kalian semua mau bukti?"


Semua anak cowok yang ada di ruangan itu mengangguk. Kecuali Alka tentunya.


Meira dengan cepat mengambil ponselnya dari dalam tas sekolahnya lalu membuka menu galeri. Galeri yang menyimpan gambar-gambarnya dengan Gilang dari kecil hingga besar.


"Nih!" Meira menyodorkan ponselnya. Tepat di depan wajah Arnold yang benar-benar membuat Meira kebingungan dengan sikapnya.


Setelah ke Arnold yang saat ini sudah terpaku. Meira mulai memperlihatkan ponselnya lagi ke Malik yang ada di samping Arnold. Lalu Tian, Ezra, Adnan, Bagus dan terakhir Devan.


Semua menatap Meira dengan tatapan sulit diartikan setelah melihat foto Meira kecil dan Gilang kecil yang tengah saling merangkul dan menunjukkan senyum lebar di foto itu.


"Puas?!" sentak Meira. Cewek itu menatap sinis pada Arnold.


"Kak Arnold puas, kan? Masih mau nuduh kalau aku boong lagi?" kelakarnya pada Arnold.


Arnold. Cowok itu mendengus lalu memutar bola mata malas. Kenapa harus Meira si pengganggu ketenangan The Lion? Pikirnya.


"Dunia benar-benar sempit," gumam Devan. Cowok itu menyandarkan punggungnya di sofa.


"Gue gak nyangka, sih," timpal Bagus. Dia mengikuti posisi Devan.


"Mati lah, si Alka." Ezra berceletuk. Meraup wajahnya seperti orang frustasi.


"Nasib, nasib." itu suara Malik. Cowok itu menghela nafas berat.


"Siapin headset tiap hari ini, mah." Itu Tian. Dia menggaruk telinganya yang tiba-tiba gatal.


"Semoga aja Alka kuat." Adnan ikut bersuara. Cowok itu ikut bersandar pada sandaran sofa.


"Ck. Ngerepotin!" cetus Arnold. Nadanya yang paling berbeda. Tampak sekali dia tidak suka akan fakta ini.


Meira menatap mereka semua dengan bingung. Demi apapun Meira sangat tidak mengerti dengan ucapan mereka semua. Mata Meira beralih pada Alka di sana. Cowok itu tenang-tenang saja dengan tangan yang setia mengelus kepala Mamanya yang sudah terlelap.


"Emang kenapa sih, kalau aku adiknya Kak Gilang? Kenapa semua jadi lebay gini?" tanya Meira. Bingung.


Devan menegakkan badan lalu menatap dalam pada Meira.


"Gilang pernah pesan ke kita sebelum dia koma. Dia nyuruh Alka buat jagain adiknya yang bernama Anna." Devan sedikit memberi jeda sebelum dia kembali melanjutkan kalimatnya. "Dan demi apapun kita semua gak pernah nyangka kalau Anna itu adalah, lo. Meira si pengganggu."


Mata Meira sukses membulat dengan mulut sedikit terbuka. Dia tidak salah dengar bukan?


Haruskah dia berteriak senang saat ini?


Oh Tuhan! Terima kasih pada Gilang yang sudah berpesan seperti itu.


***


"Dari mana saja kamu?"


Meira yang baru saja menutup pintu tersentak kaget saat mendengar suara berat itu. Dia perlahan berbalik lalu menunjukkan deretan gigi putihnya pada pria yang tengah bersedekap dada di hadapannya.


Arya—Papa Meira—menatap tegas pada anak perempuannya itu sebelum jari telunjuknya menunjuk benda hitam kecil yang melingkar di pergelangan kiri Meira.


"Kamu tau fungsi benda itu?" tanya Arya dengan datar. Melihat tatapan Arya, Meira pun mengikuti arah pandang Papanya. Cengirannya semakin lebar saat itu juga.


Cewek itu kemudian melangkah mendekati Arya. "Papa udah makan?" sekedar pengalihan dari pertanyaan Arya. Dia kemudian beralih mengamit lengan Arya.


"Pertanyaan pertama Papa belum kamu jawab."


Meira menghela nafas setelah mendengar nada tegas itu. Rupanya Papanya sedang dalam mode serius saat ini.


"Meira abis jengukin Kak Gilang," ucapnya. Bukan sepenuhnya berbohong.


Arya melepas tangan Meira dari tangannya lalu duduk di sofa ruang tengah. Di depan televisi.


"Papa gak pernah ajarin kamu untuk berbohong." Arya mengganti channel televisi ke stasiun berita. Memusatkan pandangannya ke layar persegi itu.


Meira mendesah pelan lalu duduk di samping Papanya. Menyimpan tas sekolahnya di atas meja yang cukup panjang itu.


"Beneran, Pa. Meira gak bohong, Mei habis jengukin Kak Gilang tadi," pelasnya. Ditatapnya wajah Arya yang masih sangat tampan di usia kepala empat.


"Ngapain aja sampai pulang jam segini?" sahut Arya. Matanya lurus memandang layar televisi yang menayangkan berita.


Meira diam sejenak sebelum akhirnya menjawab dalam tunduk. "Abis itu Mei jengukin Mamanya Kak Al---"


"Berapa kali sih, Mei, Papa bilang? Jangan dekat-dekat dengan Alka." Meira yang tadinya menunduk memainkan jarinya kini mendongak menatap Arya yang juga sedang menatapnya.


Alis Meira bertaut. "Papa kenapa sih, benci banget sama Kak Alka? Sejak pertemuan pertama Papa udah keliatan gak suka sama Kak Alka. Emang Kak Alka punya salah sama Papa?" cerca Meira.


"Ketidaksukaan Papa bukan tanpa alasan Meira. Papa gak suka sama Alka karna di---"


"Karna dia brandal? Ketua geng motor? Suka tawuran? Iya? Terus apa bedanya Kak Alka sama Kak Gilang? Kak Gilang juga dulu gitu!" sela Meira. Dia menatap Arya tak habis pikir.


Mendengar suara anaknya yang sudah meningkat, Arya menghela napas lalu mengelus rambut Meira yang sedikit kusam akibat debu jalanan.


"Justru itu, Mei. Kamu tau, kan, Kakak kamu punya banyak musuh di luar sana. Begitupun dengan Alka. Apa ada yang bisa jamin kalau kamu bakal aman dekat-dekat dengan dia? Apa ada yang bisa jamin kalau musuh-musuhnya Alka gak akan ngelukain kamu?" tutur Arya. Raut wajah pria itu benar-benar khawatir. Dia tidak ingin kejadian itu kembali terulang lagi.


Meira menurunkan tangan Arya yang mengelus rambutnya lalu bangkit. Menyampirkan tas sekolahnya dibahu kanan.


"Ada. Kak Alka bisa jamin semuanya. Bahkan Kak Gilang sebelum dinyatakan koma dia berpesan ke Kak Alka untuk jagain, Mei. Jadi Papa gak akan bisa larang Mei buat deket-deket dengan Kak Alka lagi." Meira hendak melangkah. Tapi suara Arya lebih dulu terdengar.


"Kamu lupa janji kamu sama Papa sebelum kamu pindah ke Jakarta?" Arya berdiri. Tatapannya tegas pada putrinya.


Meira terpaku. Ingatannya jatuh pada beberapa bulan lalu sebelum dia pindah ke Jakarta.


"Meira janji sama, Papa. Meira bakal rajin belajar dan menjadi juara umum di sekolah. Meira gak akan lagi deket-deket sama cowok kayak dia."


Bahu Meira merosot mengingat itu. Dengan helaan nafas berat cewek itu menatap Arya.


"Apa yang kamu tau tentang Alka sejauh ini? Kamu cuma tau kalau dia adalah ketua geng motor dan anak brandal. Kamu gak tau siapa Alka sebenarnya."


"Meira tau!" sergah Meira, dia menatap tegas pada Arya. "Mei tau gimana Kak Alka, bahkan tentang keluarganya. Mei tau kalau Kak Alka it---"


"Anak haram?" sela Arya. Pria itu tersenyum kecil lalu mendekat pada Meira. Memegang kedua bahu Meira lalu membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan putrinya.


"Bahkan Papa jauh lebih tau daripada kamu Meira. Kenyataan bahwa Alka adalah anak haram itu cuma secuil informasi." Arya menepuk puncak kepala Meira sekali, lalu menegakkan badan. "Tidur, gih. Mulai besok kamu harus ada di rumah sebelum Papa pulang. Kalau gak, kamu tau sendiri konsekuensinya."


Arya kemudian berbalik menuju tangga. Tepat saat anak tangga kedua, kakinya berhenti menapak. Pria itu menoleh kebelakang pada Meira yang masih berdiri kebingungan. Bingung akan apa saja yang Papanya tahu tentang seorang Alkavero Mahardika.


"Mulai besok Papa akan sewain kamu guru privat."


Pria itu kemudian melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Meira dengan decakan frustasinya.


***


Di kamar serba hitam dan abu-abu itu Alka berbaring dengan kedua tangan yang dijadikan bantal. Kepalanya menengadah menatap langit-langit kamar apartemennya yang berwarna abu-abu.


Hitam dan abu-abu. Itulah warna favorit Alka. Warna yang mewakili bagaimana hidupnya selama ini. Penuh kelam dan tidak jelas. Hidupnya selalu dipenuhi dengan masalah yang silih berganti, serta status sosialnya yang tidak jelas.


Seorang anak haram yang lahir dari wanita penderita kanker rahim. Seorang anak haram yang mengharapkan sebuah keluarga yang jelas dan utuh. Bukan keluarga yang tidak di akui keberadaannya.


Alka menghela nafas berat. Mengingat bagaimana dia dan Mamanya selama ini ternyata menyisakan sebuah sayatan panjang yang pedih di dadanya.


Hidup dengan tidak normal karena pribadi lain yang ada di dalam dirinya begitu menyiksa. Dia harus siaga kapan dan dimana pun agar Azka tidak keluar dan akhirnya hilang kendali dengan jiwa psycopath yang tak memilih mangsa.


Dentingan notifikasi pada ponselnya membuat cowok itu menoleh pada nakas yang ada di dekat ranjang. Tangan kanannya terulur mengambil ponsel hitam berlogo apel gigit itu.


MeiraAnnastasia


Selamat malam Kak Alka


Itulah pesan yang terlihat di lookscreen ponsel Alka. Cowok itu kemudian berdecak lalu menyimpan ponselnya di tepi kasur.


Meira Annastasia. Dialah masalah besar yang saat ini Alka hadapi. Cewek yang selama ini dia hindari ternyata cewek yang selama ini juga dia cari.


Semesta lucu bukan?


Dia mencoba menghindari orang yang dia cari.


Dia berusaha tidak peduli pada orang yang seharusnya dia jaga karena amanah dari sahabatnya yang tak lain adalah kakak kandung dari orang itu.


Kenapa semesta seolah mempermainkan Alka? Semakin Alka menghindar dari masalah, semakin banyak pula masalah yang mendatanginya.


Dentingan diponselnya kembali bersuara. Alka menoleh sekilas pada layar ponselnya yang menyalah lalu kembali acuh.


Seratus persen dia yakin bahwa notifikasi itu adalah dari orang yang sama.


Semakin dibiarkan semakin menjadi-jadi suara notifikasi pada ponselnya. Alka berdecak keras lalu meraih ponsel hitam itu. Menggeser layar ke samping lalu mulai membaca isi pesan yang tidak berfaedah dari Meira.


MeiraAnnastasia


Kok gak dibales?:(


MeiraAnnastasia


Kak Alka udah tidur, yah?


MeiraAnnastasia


Jangan tidur dulu, dong. Mei mau curhat ini.


MeiraAnnastasia


Tadi pas pulang Papa marahin Mei. Katanya gak boleh deket-deket sama Kak Alka lagi.


MeiraAnnastasia


Mei sedih, loh, Kak. Masa Mei dilarang deket sama Kak Alka, sih, padahalkan Kak Alka gak ada virusnya.


MeiraAnnastasia


Ada sih, virusnya.


MeiraAnnastasia


Virus ganteng, tapi, hehe.


MeiraAnnastasia


Kakak gak sedih kalau Papa ngelarang Mei deketin Kak Alka?


MeiraAnnastasia


Yah, kacang:(


Udah tidur, yah?


Kok gak di read?


MeiraAnnastasia


Yaudah, deh. Kak Alka pasti capek, kan?


MeiraAnnastasia


Good night, Senior. Have a nice dream❤


Alka menatap layar ponselnya dengan datar. Tak ada senyum tipis atau kekehan dari bibir cowok itu. Dia hanya mendengus pelan setelah membaca pesan-pesan Meira yang sangat tidak berguna.


Baru saja dia ingin menyimpan ponselnya. Alka kembali di hentikan dengan suara notifikasi.  Saat melihat nama yang tertera, dia mendesis malas. Namun jari jempolnya tetap mengetuk room chat itu.


MeiraAnnastasia


DEMI APA CHAT AKU DI BACA?!


HUAAAAAA SENENG BANGET, YAH, ALLAH!


GAK PAPA, DEH, GAK DIBALES. PENTING KAK ALKA BACA HEHE.


Alis Alka terangkat setelah membaca spam chat dari Meira. Apa sebahagia itu chatnya di baca oleh Alka? Lalu apa yang akan terjadi jika chatnya dibalas?


Alka terdiam sejenak. Dia jadi teringat dengan pesan Gilang. Cowok itu menghela nafas pelan. Mulai besok dia harus menjaga Meira. Mau tidak mau harus mau.


Alka kemudian tersenyum miring. Mengetikkan beberapa huruf di room chatnya lalu menekan menu send.


Dia bisa tebak apa yang akan terjadi pada cewek itu sekarang.


***


"KYAAAAAA!!"


Meira yang tadinya tengkurap dengan mulut yang sibuk menggigit kukunya kini berjingkrak senang diatas tempat tidur.


Membuka matanya lebar-lebar untuk memperjelas kalimat yang tertera di roomchatnya. Merasa kurang puas, dia kemudian menambah kecerahan ponselnya hingga benar-benar cerah.


Mengucek matanya berulang kali untuk memastikan kembali apakah benar-benar dia tidak salah lihat.


Merasa kalimat itu tetap sama. Meira kemudian merosotkan badannya pada kasur. Menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak berteriak untuk kedua kalinya.


Bisa-bisa Arya akan menyita ponselnya jika tahu.


Meira menarik nafas dalam-dalam. Menetralkan degupan jantungnya yang menggila hanya karna empat kata yang dikirim oleh Alka.


Dia menatap layar ponselnya dengan senyum mengembang.


Alkavero.M


Tidur. Besok gue jemput.