[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 41



Dengan pelan, Bianca membuka matanya untuk menyesuaikan cahaya yang menyapa retinanya. Cewek itu memicingkan mata seraya memijit pelipis.


"Kakak udah bangun?"


Mendengar pertanyaan itu, Bianca mendudukkan badan dibantu dengan cewek berkacamata dengan rambut terkuncir yang bertanya tadi.


"Kenapa saya bisa ada disini?" tanya Bianca. Dia menyandarkan punggung pada kepala brankar UKS.


"Kakak tadi pingsan. Terus digendong ke sini sama Kak Alka." Adik kelas itu—terlihat dari lambang kelas—memberikan minyak angin pada Bianca.


Dengan perasaan yang terkejut bercampur senang mendengar jawaban adik kelas tadi, Bianca menerima minyak angin itu. Memberikan sedikit pada telunjuknya lalu dioleskan ke pelipis.


"Kamu serius? Terus sekarang Kak Alka kemana?" Hati Bianca bersorak bukan main.


Adik kelas itu mengangguk. "Iya, Kak. Tadi dia sendiri yang gendong Kakak ke sini. Tapi langsung pergi setelah itu."


"Dia ada ngomong sesuatu?" alis Bianca terangkat. Menunggu jawaban dari adik kelas tersebut.


Adik kelas tadi menggeleng hingga membuat satu garis tipis terulas di wajah Bianca. Tapi, walaupun seperti itu, Bianca tetap senang mendengar fakta tersebut.


Bianca beralih menatap pintu UKS dengan senyuman. Senyum yang perlahan berubah menjadi seringai hingga membuat adik kelas tadi mengernyit melihatnya.


"Kamu gak bisa bohong sama perasaan kamu, Al," batin Bianca.


####


"Hari ini bakal belajar apa, Mei?"


"Terserah Kakak aja."


Merasa aneh dengan suara Meira yang tidak bersemangat, Bima menoleh menatap cewek beransel pink baby itu. Wajahnya lesuh, pandangannya ke bawah menatap ujung sepatu. Tidak ada raut ceria seperti biasa pada cewek itu hingga memaksa Bima untuk mengetahui apa penyebabnya.


"Lo ada masalah, Mei? Cerita aja gue siap denger, kok." Bima menepuk singkat kepala Meira lalu meluruskan pandangan. Mereka turun menapaki tangga lantai dua menuju parkiran sekolah.


Meira tersenyum tipis lalu menggeleng. Saat ini, entah kenapa rasanya sangat malas untuk berbicara panjang lebar ataupun tertawa.


Kejadian di lapangan saat istirahat tadi benar-benar masih membekas di benak Meira. Menyuruh otaknya untuk terus berpikir tentang hubungan Alka dan Bianca. Meira cukup tahu sifat Alka yang dingin dan tidak pedulian, jadi sudah pasti mereka mempunyai hubungan hingga dengan cepatnya Alka menolong Bianca.


Tapi apa? Pikir Meira.


Tidak ada lagi pertanyaan dari Bima, dia hanya menyamakan langkahnya dengan Meira hingga mencapai parkiran. Berdiri di dekat mobil marcedes benz hitam milik Bima.


"Kita belajarnya di rumah lo?" tanya Bima, seiring dengan tangannya membuka pintu mobil untuk Meira.


Meira hanya mengangguk saja, hendak masuk namun Bima lebih dulu mencekal tangannya. Meira menatap cowok itu dengan dahi berkerut, terlebih saat Bima mendekat lalu mempersempit jarak dengannya.


Meira gugup. Bukan karena dia salah tingkah dengan Bima, melainkan semua tatapan murid yang masih berada di parkiran, terjurus menatap tajam pada Meira.


Terlebih saat mata Meira menangkap sekumpulan anak cowok yang masih duduk di atas motor masing-masing. Tepat di samping mobil Bima, walau terhalang tiga motor matic.


Meira meneguk ludah gugup. Sekumpulan cowok berjumlah puluhan itu tidak lain adalah inti dan anggota The Lion. Terbukti dari jaket denim kebanggan mereka, Meira juga tahu bahwa tempat itu adalah parkiran yang telah di-booking sejak awal terbentuknya The Lion.


Meira menatap mereka semua dengan lirikan mata. Sialnya, semua mata anak cowok itu juga menatapnya dengan tatapan tidak terbaca. Dan lebih sialnya lagi, mata Meira bertubrukan dengan netra hitam pekat milik seseorang.


Seseorang yang tanpa sadar membuat semangat Meira lenyap hari ini.


"Ada daun di rambut lo." Bima menunjukkan sebuah daun kering yang katanya hinggap di rambut Meira.


Meira tersenyum seraya berterima kasih, matanya tidak pernah bisa berhenti untuk mencuri-curi pandang pada Alka.  Sekadar ingin tahu, apakah cowok itu masih menatapnya atau tidak.


Dan ternyata, cowok itu masih setia dengan tatapannya yang membuat Meira seolah tertusuk dari samping akibat tatapan itu.


Bima membalas senyum lalu menggerakkan tangan, menyuruh Meira masuk ke pintu mobil yang sudah dia buka. Lagi, niat Meira gagal, saat suara berat yang sangat dia kenali terdengar. Bersamaan dengan aroma musk yang benar-benar membuat Meira ingin berhambur kepelukan sang empu.


"Kenapa pulang bareng dia?"


Meira berbalik, menatap Alka yang sudah berdiri di depannya dengan kedua tangan tenggelam dalam saku, ditambah dengan kaos abu-abu dan seragam putih bertengger di bahunya.


Meira menarik nafas, berusaha menghilangkan rasa gugup yang datang tiba-tiba serta menetralkan degupan jantungnya yang menggila.


"Apa urusannya sama lo?" Bima berceletuk. Melayangkan tatapan datar pada Alka dengan tubuh yang bersandar pada kap mobil.


Alka tidak menyahut. Menatap pada Bima saja dia enggan. Tatapannya sudah terkunci pada Meira yang tertunduk gugup.


"Kalau ditanya, tuh, jawab. Lo punya mulut, kan?" cerca Alka, semakin membuat Meira gugup.


"A-aku... I-itu... Ma-mau belajar ba-bareng Kak Bima." dengan susah payah kalimat itu terlontar dari bibir Meira. Kedua tangannya saling bertaut di depan rok abu-abunya.


Alka diam selama beberapa detik sebelum helaan nafas pelan darinya terdengar.


"Yaudah," ujarnya.


Mendengar itu, Meira kontan mendongak. Membalas tatapan mata hitam Alka yang tajam dengan tatapan sendunya.


Hanya itu?


Meira tersenyum simpul. Memang apa lagi yang dia harapkan? Alka pastinya senang jika tidak direpotkan lagi olehnya. Haruskah Meira menyerah sekarang? Haruskah dia mengaku kalah lalu menjauh dari Alka?


Menarik nafas sesak, Meira memilih masuk ke mobil Bima lalu menutupnya. Dia tidak mau berlama-lama menatap mata hitam yang selalu berhasil meluluhkan hatinya.


Alka menahan bahu Bima yang hendak berbalik memutari mobil menuju pintu kemudi.


"Mau apa lo?" sarkas Bima, melirik sekilas pada tangan Alka lalu menatap sang empu.


"Sei vorsichtig, sonst wirst du sterben, wenn sie nur ein wenig verletzt wird."


Alka meremas pelan bahu Bima dan berlalu begitu saja setelah berujar dengan bahasa asing.


Bima berdecih sinis. Bahasa Jerman yang baru saja Alka lontarkan padanya tentu bukan hal yang sulit diartikan bagi Bima yang notabene anak emas SMA Garuda.


.


.


.


JANGAN DITERJEMAHIN, ENTAR BAPER:v