![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Alka menghela nafas berkali-kali. Dia tidak tahu harus berbuat apa pada Meira yang terus menangis walau saat ini mereka telah berada di apartemen Alka. Yah, Alka memang membawa Meira ke apartemennya karena cewek itu tidak berhenti menangis. Bukan tanpa alasan, Alka hanya tidak ingin Hanin dan Arya berfikiran yang tidak-tidak padanya.
Alka yang duduk di sofa beringsut mendekat pada Meira yang menunduk dengan kedua tangan saling bertaut di atas pangkuan. Bahu cewek itu bergetar dengan airmata yang beberapa kali jatuh ke tangannya.
“Mau gue peluk atau lo yang peluk?” tanya Alka.
Mendengar itu, Meira semakin terisak. Bukan karena terharu pada Alka, melainkan merasa kasihan pada dirinya sendiri yang entah kenapa bisa jatuh cinta dengan cowok setidak peka Alka. Alka ini kenapa menurut Meira? Harusnya cowok itu langsung saja memeluknya tanpa harus bertanya lebih dulu.
“Gue cuma gak mau dianggap gak sopan meluk orang tanpa izin.” Seolah tahu dengan pikiran cewek itu, Alka berucap demikian. “Mau gak, nih?” tanya Alka lagi.
Meira mendongak lantas menoleh. Cewek itu mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca.
Alka terkekeh lalu menarik Meira kepelukannya. Membiarkan cewek itu menangis dalam rengkuhannya. Alka tidak tahu, perasaan apa yang bersinggah di hatinya saat memeluk Meira. Yang jelas, Alka merasa nyaman.
“Kakak gak mau nanya aku kenapa, gitu?” tanya Meira tiba-tiba. Cewek itu menarik sedikit kaos Alka lalu mengusap hidungnya yang berair di sana.
Melihat itu, Alka hanya mendesis lirih. Merasa kasihan pada kaosnya yang menjadi sapu tangan dadakan Meira. “Gak. Bukan urusan gue.” Alka lalu melepas pelukannya dan berdiri dari sofa. Membiarkan Meira mendongak menatapnya.
“Kakak mau kemana?” tanya Meira. Mengusap asal jejak airmata di pipinya.
Alka tidak menjawab. Cowok itu hilang di balik pintu kamar lalu kembali setelah beberapa menit. Di tangannya ada sebuah kain berwarna abu-abu.
“Nih.” Meira menatap kain yang berupa kaos tangan itu. Dia lantas mengernyit lalu menatap Alka.
“Buat apa?” tanyanya.
Alka mendengus samar lalu kembali duduk di dekat Meira. Menarik cewek itu mendekat padanya lalu mulai menghapus jejak airmata Meira.
Meira terpaku. Meneguk susah payah ludahnya saat wajahnya dengan Alka berada dalam jarak yang sangat dekat. Bahkan Meira bisa merasakan aroma mint dari nafas cowok itu.
“Cuci, yah!”
Meira tersentak. Cewek itu memajukan bibirnya saat sapu tangan tadi mendarat tepat di wajahnya karena Alka yang melempar sapu tangan tersebut. Tidak bisakah cowok itu bersikap lembut walau hanya semenit? Pikir Meira.
“Mahardika.” alis Meira mengernyit melihat tulisan di sudut bawah sebuah bingkai foto dengan TV. Dia lantas tersenyum lirih. Kenapa Meira bisa sebodoh ini hingga tidak menyadari bahwa nama belakang Alka dan Samuel sama.
“Kenapa?” tanya Alka. Dia mendengar samar saat Meira menyebut nama belakangnya.
Meira menggeleng lantas memasukkan sapu tangan itu ke dalam tas ranselnya.
“Jadi Kakak beneran saudara sama, Sam? Samuel Arion Mahardika. Fam kalian sama,” ujar Meira tanpa menatap Alka. Setelah menaruh sapu tangan ke dalam tas, Meira menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Alka sempat terdiam beberapa detik sebelum berdehem. Dia menyampingkan tubuhnya lalu bertopang kepala pada sandaran sofa. Menatap Meira-yang memejamkan mata-dari samping.
Meira menghela nafas lirih lalu ikut menyampingkan tubuhnya menghadap Alka, membiarkan mata mereka beradu dalam keheningan. Meira suka mata hitam itu, mata yang biasa menatap datar dan tajam namun menyimpan banyak beban.
Tanpa sadar, tangan Meira terangkat mengelus rambut hitam Alka. Merasa terkejut, Alka berdehem cukup keras untuk menyadarkan tindakan cewek itu.
Meira manarik tangannya lantas terkekeh.
“Refleks,” ujarnya.
Alka memutar mata malas lalu mengubah posisi tubuhnya hingga menatap langit-langit ruangan. Meira tetap pada posisinya, dia ingin menatap Alka dari samping.
Menurut Meira, Alka itu jauh lebih tampan jika dilihat dari samping. Hidungnya mancung, bulu matanya lentik, dan alisnya terlihat lebih tebal. Meira sempat terbuai dalam ke kagumannya sebelum sesuatu menyadarkan dirinya.
Dia menegakkan tubuh lalu menatapa Alka yang kini menoleh padanya dengan alis kanan terangkat.
“Kak, Al.”
“Apa?”
“Apa kita masih bisa kayak gini setelah Kak Gilang sadar?”
.
.
.