[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 14



Meira baru saja keluar dari sebuah ruang inap seseorang. Cewek manis dengan dres babypink selututnya itu mengayunkan kakinya di lorong rumah sakit. Wajah itu menunduk fokus pada ponsel di tangannya. Terlihat kedua tangan itu bergerak lincah di atas layar yang menyala.


Bruk!


"Astaga!" Meira memekik kaget. Ponselnya hampir saja terjatuh. Cewek itu mendongak menatap siapa yang menabraknya.


"Kak Devan?!"


Devan, cowok itu mengambil beberapa buah yang jatuh dilantai rumah sakit.


"Kak Devan ngapain di sini?" tanya Meira. Cewek itu membantu Devan memungut beberapa jenis buah yang jatuh.


Devan berdiri setelah acara memungut buah selesai diikuti oleh Meira. "Justru gue yang nanya. Ngapain lo di sini?" tanya Devan balik. Kepala cowok itu juga celingukan kebelakang Meira, mencari siapa yang menemani Meira kemari.


"Aku jengukin Kakak aku Kak,"


"Lo punya kakak?" alis Devan bertaut bingung.


Meira menggangguk. "Iya,"


Devan bergumam dengan mulut berbentuk huruf 'O'. "Nama kakak lo siapa?"


"Namany---"


"Oit! Ngapain lo di sin-- eh Bocil?"


Ucapan Meira terpotong begitu saja saat tiba-tiba Bagus datang.


"Hai Kak Bagus!" sapa Meira dengan senyum khasnya.


"Lo ngapain di sini?" tanya Bagus. Mengabaikan sapaan Meira.


"Katanya dia jengukin kakaknya," celetuk Devan.


Bagus memandang Meira. "Benar?" Meira mengangguk.


"Gue kira lo gak punya kakak," Meira terkekeh.


"Kak Bagus sama Kak Devan sendiri ngapain di sini?"


"Jengukin nyokabnya Alka," jawab Bagus yang mengundang pelototan mata dari Devan.


"Dia udah tau," tukas Bagus seolah tahu maksud tatapan Devan.


"Aku boleh ikut jengukin Mamanya Kak Alka?" Meira memandang kedua cowok itu satu persatu.


"Boleh," jawab Bagus.


***


"Kenapa dia disini?" Alka memandang Meira yang datang bersama Bagus dan Devan.


Bagus berjalan ke sofa yang ada dalam ruangan ini. "Mau ikut jenguk nyokab lo katanya," jawab Bagus santai.


Alka memandang tak suka pada Bagus. "Lo tau kan gu--"


"Iya iya gue tau. Tapi gak-papa kali dia kesini, niat dia kan baik."


Alka hanya menghela nafas lalu mengambil buah yang ada pada Devan. Setelah itu ia mengupasnya.


Devan sendiri ikut menyusul Bagus di sofa.


Meira? Cewek itu berjalan mendekati Alka yang duduk di tepi brankar Mamanya.


"Kak Alka mau Mei bantuin buat kupas buahnya?" Alka menatap Meira sekilas.


"Gak usah." ketusnya.


"Al..." suara lirih itu membuat kegiatan Alka terhenti.


Alka dan Meira sontak menatap wanita paruh baya yang juga menatap mereka dengan tatapan lemah.


"Mama butuh sesuatu? Haus?" cercah Alka panik. Meira sedikit terkejut melihat ekspresi itu, selama ini Alka hanya selalu berekspresi datar dalam keadaan apapun.


Soraya terkekeh. Wanita itu memandang Meira yang berdiri di dekat Alka.


"Kamu siapa nak?" tanyanya.


Meira tersenyum manis lalu mencium tangan Soraya yang ditempeli infus.


"Caper!" cibir Alka pelan namun masih bisa di dengar Meira dan Soraya.


Meira menatap Alka dengan wajah cemberut sedangkan Soraya hanya tersenyum tipis.


"Meira tante," jawab Meira.


Soraya mengangguk lemah.


"Al?"


"Iya Mah?"


"Kamu kenapa ketus-ketus gitu sama dia?" Alka menatap Meira dengan tatapan datar.


"Mama mau makan gak?" tanya Alka mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Alka!"


Alka menghela nafas. Tangan kekar itu bergerak mengelus pipi tirus Mamanya.


"Mama istirahat aja yah?" Soraya menatap malas pada anaknya.


"Kamu benar gak mau jawab pertanyaan Mama?" Alka menyimpan buah dan pisau di atas nakas. Buah dan pisau itu langsung diambil alih Meira namun Alka tidak peduli akan hal itu.


"Dia teman Bagus sama Devan." Jawab Alka. Meira menghentikan kegiatan mengupas buahnya lalu menatap Alka.


"Jadi aku bukan teman Kak Alka?" tanyanya sedikit tak percaya.


Alka menatap malas pada Meira. "Emang sejak kapan kita temenan?"


Meira memberenggut kesal lalu melanjutkan kegiatannya.


Soraya, wanita itu tersenyum geli melihat wajah cemberut Meira dan wajah datar Alka.


"Meira, kamu yang sabar yah hadapin Alka. Dia emang gitu orangnya, sarkas dan datar kayak tembok."


Meira mengulum bibirnya agar tak tertawa. Sedangkan Alka berdecak tak suka.


"Tante mau makan buah?" Soraya mengangguk pelan.


Meira pun mulai menyuapi Soraya dengan lembut. Sesekali kedua perempuan beda usia itu saling melempar candaan dan tawa.


Semua itu tak luput dari penglihatan Alka. Lengkungan tipis terbentuk dibibir ranumnya saat melihat wajah Mamanya kembali menyungginggkan tawa. Dan itu dilakukan oleh Meira. Cewek polos yang selalu membuat Alka ingin hilang dari bumi.


Alka beranjak menghampiri Bagus dan Devan yang sudah tertidur dengan gaya tidak elit di sofa. Membiarkan Mamanya berdua dengan Meira. Alka tahu, Mamanya tampak senang dengan Meira, jadi dia tidak akan melarang cewek itu jika hal tersebut dapat membuat wanita yang sangat ia cintai bahagia.


***


"Halo? Siap-siap sekarang, target sudah keluar!"


"Oke!"


Sambungan telpon itu terputus. Cowok berperawakan tinggi serta pakaian serba hitam itu menyunggingkan seringai tajam saat melihat mangsanya baru saja keluar dari rumah sakit.


Motor sport putih itu keluar melewati gerbang rumah sakit. Buru-buru cowok itu mengirim pesan pada temannya bahwa mangsa mereka telah pergi dari rumah sakit.


Seringai tersebut samakin lebar saat mendapat balasan dari temannya.


"Sebentar lagi lo bakal balik ke rumah sakit ini," cowok itu memasukkan ponselnya ke saku celana. "Tapi dalam ke adaan berbeda... Devan Ardeon!"


***


Motor sport putih yang di kendarai Devan melaju santai dijalanan yang lumayan cukup sepi sore hari ini. Cowok itu melirik ke kaca spionnya saat merasa ia sedang diikuti.


"Ada yang gak beres nih!" Batin Devan. Cowok itu menambah laju motornya dengan tujuan orang yang mengikutinya akan kehilangan jejaknya.


Perasaan Devan semakin tidak enak saat melihat sebuah mobil berwarna hitam melaju kencang di belakangnya. Mata Devan sesekali melirik kaca spion dan keadaan di depannya. Jarum spidometer yang ada pada motor sportnya menunjukkan angka 100 lebih. Devan semakin menambah kecepatannya saat mobil itu juga tak kalah cepatnya.


"Siapa sih tuh orang?!" batinnya kesal. Matanya sibuk melihat kaca spion yang menunjukkan mobil hitam itu tanpa sadar adanya sebuah motor sport hitam yang melaju kencang dihadapannya.


Devan terpental jauh dari motornya. Badan cowok itu menggelinding hingga membentur trotoar. Motornya pun sudah tak terbentuk akibat mobil hitam itu yang sengaja menabrak motornya.


Devan mengambil nafas dalam-dalam. Cowok itu memejamkan matanya sejenak saat merasakan adanya cairan kental berbau amis yang mengalir di sekitaran matanya.


Seorang lekaki dengan pakaian hitam dan jaket kulit datang ke hadapannya. Cowok itu menyeringai puas melihat keadaan Devan.


"Gimana? Masih bisa nafas lo?" sinisnya.


Dengan tenaga yang tersisa, Devan berusaha untuk melihat siapa cowok itu.


"S-sam?" gumamnya lemah.


Samuel, cowok itu tersenyum miring lalu berjongkok di samping Devan.


"Akkhhh!!" Devan mengerang kesakitan saat Samuel melintir tangannya.


Krek!


Suara tulang yang patah itu membuat Devan semakin menjerit kesakitan. Belum lagi dengan badannya yang terasa remuk.


Setelah puas dengan kegiatannya, Samuel kembali berdiri tegak dengan wajah menyorot dingin.


Kaki beralas sepatu putih converse itu  bergerak menginjak dada Devan tanpa rasa iba.


Uhhuk! Uhhuk!


Darah! Cairan amis berwarna merah itu keluar dari mulut Devan.


"Gue tunggu pembalasan The Lion!"


Setelahnya, Samuel pergi. Devan menatap punggung itu dengan penuh kebencian. Andai saja ia masih punya kekuatan, maka ia jamin cowok sombong itu akan ia habisi!


Tak ada lagi yang bisa Devan lakukan, karena selanjutnya hanya kegelapan yang ada.


***


Tawa kemenangan menggema di apartemen yang penuh dengan puntung rokok dan beberapa botol bir. Kedua cowok itu melakukan cheers dengan cangkir kecil berisikan minuman haram tersebut.


"Gue gak nyangka rencana kita bakal semulus ini." Tutur Petra dengan wajah yang berbinar bahagia. Penderitaan The Lion adalah kebahagian terbesar Geng Srigala.


"Kita tunggu aja, gimana reaksi Alka nanti." Balas Samuel menyeringai.


"Huh! Palingan dia biasa-biasa aja."


Samuel meneguk sedikit birnya lalu terkekeh sinis.


"Alka itu cuma bersikap sok tenang. Dia gak mau terlihat emosional di depan lawannya. Padahal apa? Jauh dalam sana dia punya emosi yang meluap-luap!" Samuel dan Petra kembali tertawa.


"Gue gak sabar mau liat wajah sok tenang itu marah!"


***


Alka berkali-kali mengecek jam yang bertengger di pergelangan kirinya. Sedikit raut cemas terpampang diwajah dingin itu.


"Lo kenapa Al? Kok kayak cemas gitu?" tanya Bagus yang sibuk mencomot es krim Mochi yang dia beli bersama Meira tadi.


Kedua cowok itu berada di apartemen Alka setelah pulang dari rumah sakit.


"Lo ngerasa aneh gak?" tanya Alka.


Bagus menghabiskan eskrimnya lalu menatap bingung pada Alka.


"Aneh gimana?"


"Tadi Devan bilang jam setengah delapan dia mau kesini. Sekarang udah jam setengah sembilan."


Bagus tampak berfikir. Ia juga merasa sedikit aneh, tidak biasanya Devan seperti ini.


"Mungkin dia kejebak macet kali," seru Bagus berusaha berfikir positif.


"Gue tau gimana Devan. Macet bukan hal yang sulit buat dia atasi."


Bagus meringis. Benar yang dikatakan Alka.


"Kita telfon aja gimana?" Alka mengangguk.


Dengan cepat Bagus menelfon kontak Devan. Namun bukannya suara Devan, malah hanya suara panggilan yang belum terjawab yang ada.


"Gimana?" Bagus menggeleng. Sekali lagi ia mencoba menghubungi Devan namun hasilnya nihil. Devan tidak menjawab panggilannya.


Berkali-kali Bagus kembali mengulang namun tetap sama. Bagus menghela nafas menatap Alka. Raut tenang sudah hilang di wajah itu. Alka memang seperti ini, mungkin untuk lawannya ia bisa mengontrol emosi. Namun tidak untuk orang yang penting dalam hidupnya.


"Telfon Ezra!" Bagus mengangguk dengan cepat. Dia juga kalang kabut saat Devan tidak ada kabar.


"Halo Gus?"


"Ezra lo dimana sekarang?" Tanya Bagus cepat.


"Gue dijalan ini sama Malik mau ke apart Alka. Emang kenapa?"


"Lo tolong datang ke rumah Devan dulu. Cek dia ada atau enggak disana, kalo lo dapat informasi telfon gue lagi!"


"Emang ada apasih sama Devan, Gus?"


Bagus berdecak kesal. "Ikutin aja dulu. Entar gue kasi tau!"


"Oke."


Bagus melempar asal ponselnya ke sofa. Cowok itu mengacak rambutnya frustasi.


"Al, apa iya Devan di cegat sama Geng Srigala?"


Alka menatap Bagus dengan tatapan tak terartikan.


"Bisa jadi."


Bagus mengusap kasar wajahnya. Dia benar-benar khawatir dengan Devan. Bagaimana pun juga, Devan sudah seperti saudaranya. Dia, Devan dan Alka sudah sahabatan sejak taman kanak-kanak.


Tak berselang lama ponsel Bagus kembali berdering. Disana tertera nama Ezra.


"Halo? Gimana? Devan ada di rumahnya?" cercah Bagus cepat.


"Gak ada Gus. Kata si Mbok Devan belum pulang dari rumah sakit Mamanya Alka di rawat."


"Apa?!" Bagus menatap Alka yang juga menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan.


"Kabarin semua anak-anak buat cari Devan. SEKARANG!"


Bagus mematikan panggilan secara sepihak.


"Apa kata Ezra?"


Bagus menatap Alka.


"Kata Ezra Devan belum pulang dari rumah sakit."


"Apa?!" Alka ikut terkejut.


"Bukannya dia pulang duluan dari kita?" Bagus mengangguk pelan.


"Itu yang gue bingungin, Devan pulang duluan dari kita dan si Mbok bilang Devan belum pulang. Dia juga gak bisa dihubungin!"


Alka menghela nafas berat. Cowok itu merogoh sakunya, mengambil benda pipih bersegi panjang lalu tangannya bergerak lincah di atas layar itu.


"Lo ngapain?" Tanya Bagus.


"Gue ada kenalan. Dia pelacak handal," Bagus mengangguk paham.


Ponsel Bagus kembali berdering. Cowok itu dengan cepat meggeser ikon hijau saat melihat nama Tian tertera di ponselnya.


"Halo Gus, lo dimana sekarang?" suara Tian terdengar panik di seberang sana.


"Gue di apart Alka. Nungguin Devan, tapi kata Ez---"


"Ke jalan Anggrek Blok A sekarang! Devan kecelakaan!"


"APA?!"