[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 61



Jika Alka bisa dengan mudah menerima kejadian di mana Samuel dan Meira pulang bersama, maka beda lagi dengan Azka. Cowok berambut coklat dengan ciri khas tatto kalajengking di punggung tangan kiri itu tidak bisa menerima jika miliknya disentuh orang lain.


Alka dan Azka adalah satu untuk dua, dan dua untuk satu. Itu artinya, apa yang menjadi milik Alka adalah miliknya juga, termasuk Meira.


Tatapan Azka tajam di balik helm full face yang dia kenakan. Motor sport merah hitam milik Alka dia kendarai dengan tidak santai. Terdengar beberapa sumpah serapah dari pengendara lain namun Azka sama sekali tidak peduli. Dia hanya ingin cepat-cepat sampai di gudang senjata tempat perjanjiannya dengan Samuel untuk bertemu.


Tidak butuh waktu lama, motor Azka sampai pada tempat tujuan, segera dia membuka helm setelah men-standar motor lalu turun menuju gudang.


Rahangnya mengetat disertai tangannya yang mengepal. Baru saja dia masuk, bogeman dari tangan kanannya telah mendarat sempurna di pipi Samuel hingga cowok itu terjembab mendapatkan serangan tiba-tiba.


“Anj1ng!” umpat Samuel lalu menggeram saat sudut bibirnya berdarah. Samuel tidak tahu apa yang membuat Alka tiba-tiba menyerangnya tanpa alasan yang jelas. Samuel hendak bangkit namun tangan Azka lebih dulu menarik kerah seragam sekolahnya.


“Apa yang lo mau, hah?” Azka mendesis tajam. “Lo udah dapetin Bianca dan harta keluarga, sekarang lo juga mau rebut Meira dari gue?!” Azka menghempaskan kerah baju Samuel hingga cowok itu kembali tersungkur.


Mengerti apa yang membuat Azka—orang yang dia kira Alka—marah seperti ini, Samuel tersenyum miring kemudian bangkit lantas memperbaiki kerah bajunya. “Segitu takutnya gue rebut milik lo lagi?” seringai Samuel tercetak jelas.


“Gue gak pernah takut sama siapapun, terlebih lo!” Azka maju mempersempit jaraknya kemudian meninju perut Samuel.


Cowok yang tidak bisa membaca pergerakan Azka itu hanya bisa terbatuk. Dia meneliti tampilan Azka. Rambut coklat dan tatto kalajengking itu bukan khas Alka sekali. Samuel tahu, Alka tidak ingin memiliki tatto di tubuhnya sebab saudaranya itu selalu ingin mendonorkan darah untuk mendiang ibunya.


Berdecih, Samuel ikut melayangkan bogeman pada pipi Azka. Setelahnya, keduanya terlibat perkelahian yang sengit. Saling membalas seolah membiarkan setiap tinjuan yang berbicara mengenai dendam yang tertanam dalam hati masing-masing.


Wajah keduanya sudah babak belur. Sudut bibir Azka ikut mengeluarkan darah dan juga keningnya. Pipinya membiru. Begitupun dengan Samuel yang jauh lebih parah, mulut dan hidung cowok itu mengeluarkan darah segar serta lebam di beberapa permukaan wajahnya.


Melihat Samuel yang mulai melemah, Azka kembali menarik kerah baju cowok itu. “Gue peringatin sekali lagi sama lo. She is mine! Touch her, I will kill you!” Azka menghentakkan tangannya hingga Samuel tersungkur ke lantai kotor gudang tersebut.


Sebelum benar-benar pergi, Azka kembali melayangkan bogeman di rahang Samuel sebagai sentuhan akhir.


####


“Maaf, Mei, kalau gue lancang. Tapi gue benar-benar suka sama lo sejak pertama kita ketemu di bazar anak The Lion waktu itu.”


Meira hanya bisa menunduk menggigit bibir bawahnya saat mendengar penjelasan Bima. Suasana sepi di taman belakang perpustakaan membuatnya ingin segera pergi dari sini. Dia merasa tidak nyaman berdekatan dengan Bima setelah mendengar penjelasan cowok berseragam rapi itu.


“Maaf, Kak. Tapi Kakak tau, kan, kalau aku udah pacaran sama Kak Alka?” dia memberanikan diri membuka suara. Dia tidak boleh diam saja jika ingin Bima tidak berharap lebih padanya. Demi Spongebob yang warnanya kuning, Meira benar-benar hanya menganggap Bima sebagai teman sekaligus gurunya.


Mendengar helaan napas berat dari Bima, Meira mendongak menatap cowok itu. “Gue tau gue lambat karna sekarang udah ada yang milikin lo. Tapi salah kalau gue terus merjuangin lo, Mei?”


Meira terkejut. Dia tidak menyangka Bima akan berkata demikian. Dia kira, setelah Bima tahu dirinya telah menjadi pacar Alka, cowok itu akan menyerah dan melupakannya secara perlahan. Tapi, rupanya Meira salah.


Meira menggeleng. “Ini salah, Kak. Aku gak mau Kak Bima terus-terusan berharap sama aku yang mungkin gak akan bisa ngebalas perasaan, Kakak.”


Meira tahu ucapannya tadi melukai hati Bima, tapi dia juga tidak punya pilihan. Dia sudah dimiliki Alka, dan juga, Bella—sahabatnya yang masih menghindarinya—menyimpan rasa pada Bima.


Bima membuang pandangan dan napas beratnya sebelum kembali menatap Meira. “Apa yang Alka punya dan gue gak punya, Mei?” Bima memegang kedua bahu Meira dengan tatapannya yang menyorot tajam. “Gue anak kebanggaan guru-guru, bokap lo suka sama gue. Sedangkan Alka? Dia cuma bisa buat onar, Mei. Dia gak lebih dari sampah di sekolah ini!”


Meira kontan menghempaskan tangan Bima di bahunya dengan kasar. Alka memang selalu berbuat onar dengan teman-temannya, tapi Meira tidak bisa terima saat pacarnya dihina begitu saja. “Aku kira Kak Bima orang yang cerdas. Orang cerdas harusnya bisa ngejaga kalimat yang akan keluar dari mulutnya,” tukas Meira menahan emosi.


Dia tidak percaya pada Bima yang dia lihat sekarang ini. Bima yang selalu bersamanya adalah Bima yang selalu mengeluarkan kalimat berbobot. Bukan kalimat yang hanya berisikan cacian seperti sekarang ini.


Saat Meira hendak pergi meninggalkan taman perpustakaan, Bima lebih dulu mencekal lengannya hingga niatnya urung. “Kasih gue kesempatan, Mei. Gue jamin gue bisa bahagiain lo lebih dari Alka,” ujarnya masih berharap.


Menghela napas samar, Meira menurunkan tangan Bima dari lengannya dengan pelan. “Kak Bima, di luar sana banyak cewek yang pasti bisa suka sama, Kakak. Banyak cewek yang lebih baik dari aku. Dan mungkin tanpa Kakak sadari, ada salah satu dari mereka yang benar-benar tulus sama, Kakak.”


Bima mengerutkan alis kemudian menggeleng. Dia tidak ingin siapapun, dia hanya ingin Meira. Cewek yang telah berhasil mencuri perhatiannya sejak pertama kali bertemu. Saat Bima hendak membuka suara lagi, dorongan dari bahunya membuat dia terhuyung ke samping.


“Apa-apaan lo berduaan sama cewek bos gue?!”


Tian. Cowok dengan kaki baju yang dikeluarkan dan dasi yang melingkar di kepala itulah yang mendorong bahu Bima. Dia datang bersama Malik yang kini berkacak menatap Bima.


Meira juga sempat terkejut, namun beberapa detik kemudian dia menghela napas lega. Setidaknya dia punya alasan untuk tidak berlama-lama dengan Bima.


“Apaan, sih, lo!” Bima menepuk-nepuk bahunya yang tadi didorong oleh Tian. Bersikap selayaknya ada kuman yang menempel di sana. Melihat itu, Tian mendelik serta Malik yang berdecih.


Meira terkekeh dan Malik yang langsung mendaratkan jitakan di kepala Tian. “Alay, lo!” cibirnya.


Tian mendelik hendak kembali membalas Malik namun tangannya lebih dulu ditahan oleh Malik. “Sana lo, urus ketos lo yang maha benar itu. Gue mau nganterin Meira ke Azka.”


Mau tidak mau Tian mengalah saja. Dia membawa Bima pergi entah kemana dan entah untuk apa.


“Kak Azka bukan Kak Alka?” atensi Malik yang menatap kepergian Tian dan Bima teralih pada Meira. Dia kemudian mengangguk dan mulai berjalan menuju warung belakang sekolah.


####


“Kenapa bisa babak belur gini, sih? Yang lain mukanya aman-aman aja. Kok, Kakak kayak gini? Habis berantem lagi, kan?” Meira tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak mengoceh. Wajah babak belur Azka yang sekarang dia obati membuatnya ingin memarahi cowok itu habis-habisan.


Beberapa dari anak The Lion yang ada di warung belakang sekolah terkekeh geli melihat ketuanya hanya bisa diam menatap Meira yang sibuk mengomel. Setelahnya, mereka kembali ke kegiatan masing-masing agar tidak mengganggu keduanya.


“Nah, kan. Kalo dimarahin pasti diem aja. Kakak mau aku beliin huruf-huruf biar bisa belajar banyak kalimat, gak?” Meira menghentikan kegitannya sejenak untuk menatap Azka lalu kembali mengobati kening cowok itu.


Azka? Dia tidak tahu harus merespon bagaimana jika cewek sudah mengeluarkan jurus mengomelnya. Mau menyahut? Azka yakin, kalimat apapun yang keluar dari mulutnya akan bernilai salah. Karena di situasi seperti ini, cewek akan selalu benar.


Sekarang, Meira beralih membersihkan darah yang sudah mengering di sudut bibir Azka sedikit gugup. Walaupun saat ini dia tidak berhadapan dengan Alka, jantung Meira tetap saja berdetak abnormal. Bagaimana pun juga, Alka dan Azka adalah orang yang sama.


“Lain kali jangan berantem lagi. Mei khawatir tau liat Kakak babak belur kayak gini.” Setelah sudut bibir Alka bersih, dia beralih memberikan betadine pada kapas. “Emang karna apa, sih? Kok, cuma Kakak yang babak belur kayak gini?” imbuhnya.


“Karna lo,” jawab cowok yang duduk di hadapan Meira saat ini.


Tangan Meira berhenti di sudut bibir Azka, dia beralih menatap mata hitam pekat milik Azka. Mata yang jauh lebih hitam dari Alka. “A-aku?” Azka mengangguk lalu menurunkan tangan Meira.


Dia membereskan alat yang digunakan Meira untuk mengobatinya kemudian menggenggam tangan cewek itu.


“Maaf. Tapi gue bukan Alka yang bisa nahan diri buat gak ngasih pelajaran sama orang yang berani gangguin lo.”


“Maksud, Kakak?”


Azka menghela napas lalu menarik kursi yang duduki Meira agar cewek itu mendekat padanya. “Lo tau, kan, gue gimana? Gue sama Alka beda walau kami ada dalam satu raga. Bisa dibilang Alka versi tenangnya, dan gue versi bar-bar.” Azka terkekeh setelah mengatakan itu. “Gue habis berantem sama, Sam,” lanjutnya kemudian.


Meira membulatkan mata untuk beberapa detik sebelum mengeluarkan nafas lirih. Tangannya yang tidak digenggam oleh Azka bergerak mengelus rambut coklat cowok itu. “Kali ini aku maafin. Tapi lain kali jangan lagi, yah?” pintanya dengan sangat. Baik Alka ataupun Azka, Meira tidak ingin salah satunya kenapa-napa.


Tersenyum, Azka mengangguk lalu menyandarkan kepalanya pada pundak Meira. Tangannya yang besar bebas memainkan jari mungil Meira. “Aku ngerasa kayak lagi selingkuh di belakang kak Alka kalau gini,” celetuk Meira terkekeh.


Azka ikut terkekeh kamudian mendongak menatap wajah Meira dari samping. Kulit putih, bersih dan tanpa jerawat itu membuat Azka tanpa sadar mengecup rahang Meira hingga cewek itu melebarkan mata dengan mulut yang sedikit terbuka. Saat mata keduanya bertemu, Azka tertawa.


“Lo pacar gue juga. Lo milik gue dan si lempeng Alka. Hanya kami.”


Menghentikan keterkejutannya, Meira mengerjap lucu membuat Azka semakin gemas hingga kecupannya kembali mendarat di rahang Meira.


“Anjayy, si Azka nyosor!”


“Gimana, yah, jadinya kalau Alka berantem sama Azka. Masa iya Alka mukul dirinya sendiri.”


Seruan dari Tian membuat inti The Lion yang berkumpul di rumah-rumah warung tertawa membayangkannya. Azka hanya menoleh sekilas dengan cebikkan bibir sebelum kembali menatap Meira yang tertunduk malu.


“Gak usah malu. Biarin para jomblo berkembang.”


Mendongak, Meira menghadiahkan cubitan kecil di perut Azka hingga cowok itu sedikit mengadu. “Nyebelin!” Alka dan Azka sama saja, sama-sama selalu berhasil membuat jantung Meira berdetak cepat dengan pipinya yang memerah.


.


.


.