[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 34



"Alka?" gumamnya rendah.


Bianca mengerjabkan matanya menatap Alka yang berdiri tanpa ekspresi dengan kedua tangan tenggelam dalam saku. Tak lupa pula seragam putihnya yang tidak terkancing.


"Kenapa diam? Pergi sana!" usir Alka pada ketiga cowok di belakang Bianca.


Ketiga cowok itu bertingkah gugup lalu menunduk meminta maaf. Saling mendorong lalu pergi dengan terburu-buru. Terlalu takut melihat mata tajam Alka yang bisa menghunus siapa saja.


Setelah ketiga cowok itu pergi, Alka pun berbalik untuk meninggalkan Bianca.


"Al...." lirih Bianca namun bisa menghentikan kaki Alka melangkah.


"Makasih, udah nolongin aku," ucapnya.


Alka membalikkan badannya, menatap Bianca dengan datar.


"Siapa yang nolongin lo?" tanya Alka.


Alis Bianca bertaut. Matanya bergerak gugup. "Tapi, tad---"


"Gak usah kegeeran. Gue cuma gak suka cowok macam mereka," ucap Alka lalu pergi dari sana. Meninggalkan Bianca yang menatap nanar punggungnya.


"Kamu berubah, Al," batin Bianca, sendu.


***


"Mei cepetan, elah. Entar macet, nih, ke mall-nya." Bella berdecak menatap Meira yang sibuk menggonta-ganti bandonya sejak lima menit yang lalu.


Dita yang ada di sebelah Bella pun ikut-ikutan berdecak seraya menatap arloji di pergelangan tangan kirinya.


"Pake yang hitam aja, Mei. Entar mall-nya rame kita desak-desakan. Males gue," timpal Dita. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang Meira dengan tatapan terarah pada Meira yang masih sibuk di depan cermin.


"Bentar, Mei bingung mau pake yang mana," sahut Meira, masih sibuk dengan kegiatan mengganti bando satu dengan yang lainnya.


Bella turun dari kasur lalu menghampiri Meira, mengambil bando hitam lalu di pasang pada kepala Meira. "Ini aja, lo udah cantik, kok," ucap Bella. Dia merapikan sisi kanan dan sisi kiri rambut Meira.


Meira menunjukkan cengirannya pada Bella. "Maaf, yah, Mei emang susah milih bando, hehe."


"Gakpapa. Nih, tas lo." Bella menyerahkan sling bag putih pada Meira yang di terima baik oleh cewek itu.


"Gue sama Dita tunggu di bawah." Bella mengambil sling bag-nya di kasur Meira lalu turun ke lantai satu bersama Dita yang menguncir rambut sebahunya.


"Iya," sahut Meira. Dia beralih memakai snikers putih lalu mengambil ponsel di nakas dan turun menyusul Bella dan Dita.


Ketiga cewek itu berencana akan mengunjungi mall malam ini untuk sekedar refreshing dari tugas sekolah yang minta di banting.


***


Alka menyambar jaket hitamnya yang tergantung di belakang pintu. Memakainya seraya berjalan keluar dari kamar, lalu mengambil kunci motor yang tergeletak di samping televisi.


Cowok itu berjalan ke pintu apartemennya lantas memakai snikers merah maroon. Saat hendak membuka pintu, suara Azka dalam dirinya lebih dulu terdengar.


"Lo mau ngapain ke sana?" tanya Azka.


Alka berdecak malas. "Ini urusan gue," sahutnya. Tangannya kembali membuka pintu apartemen.


"Lo pengen di permalukan lagi sama Sam?"


Alka menutup pintu lalu berjalan menuju lift untuk ke lantai dasar. "Gue lebih malu kalau gak datang. Gue bukan pengecut."


"Tapi gue gak suka lo dipermaluin kambing! Lo mau gue ngamuk dan ancurin tubuh lo lagi?"


Ting!


Alka masuk ke lift yang sudah terbuka lalu menekan tombol menuju lantai satu. "Gue bisa jamin lo gak bakal marah kali ini," ucap Alka. Sedikit merasa lega karena hanya dia seorang yang berada dalam lift. Jika saja terdapat orang lain, mungkin Alka akan di cap sebagai orang gila karena berbicara sendiri.


Alka menggelengkan kepalanya.


Terdengar decakan dari Azka. "Liat! Tangan lo aja masih luka, gue takut lo bakal adu jotos sama Sam!"


Alka menatap sekilas pada punggung tangan kanannya yang sudah tidak terbalut kain kasa lagi. Hanya tinggal sebuah plaster obat persegi panjang berwarna senada dengan kulit yang tertempel di sana.


"Gue bukan cowok letoy!" sergah Alka.


"Terserah lo!"


Kekehan ringan dari Alka menjadi akhir perbincangan dari dua pribadi berbeda itu.


***


"Mei, ini bagus gak buat gue?" tanya Bella. Memperlihatkan sebuah dress hitam selutut tanpa lengan pada Meira.


Meira yang sibuk memilih baju pun menoleh pada Bella yang ada di sampingnya. Meira mengangguk antusias. "Cocok banget! Anggun kayak Bella," serunya.


"Serius?"


Meira mengangguk yakin. "Iya, Bella. Warnanya juga cocok sama kulit Bella yang putih."


Mata Bella berbinar. "Yaudah, gue ambil ini. Lo sendiri udah dapet belum, Mei?"


Meira menggeleng. "Mei bingung mau ambil yang mana. Semua warnanya udah hampir Mei punya." cewek itu cemberut.


Bella terkekeh lalu mendekat pada Meira setelah mengambil dress yang dia tunjukan tadi. Bella mengamati setiap dress yang ada di jejeran hanger dan patung-patung. Cukup lama cewek itu memilih hingga akhirnya, matanya jatuh pada dress biru navy selutut dengan lengan panjang pada jejeran patung paling ujung.


Bella menarik Meira ke patung itu. "Nah, ini cocok banget buat lo yang imut-imut, Mei," heboh Bella.


Senyum tercetak di bibir Meira. "Iya, bagus. Kalo gitu aku ambil ini aja, deh," girangnya.


Bella mengacungkan jempolnya lalu memanggil pegawai yang berjaga. Meminta untuk di berikan dress tersebut.


"Lo semua udah dapet?"


Bella dan Meira berbalik menatap Dita yang berjalan ke arah mereka seraya menenteng dua buah kaos oblong kebesaran dengan warna berbeda di kedua tangannya.


"Menurut kalian bagusan mana?" tanya Dita. Mengangkat satu persatu kaos oblongnya.


Bella memutar mata malas sedangkan Meira terkekeh.


"Plis deh, Ta. Bisa gak, sih, lo jangan pake kaos mulu? Lo, tuh, cewek bukan laki!" cerca Bella.


Dita berdecak kesal. "Suka-suka gue, dong. Orang gue nyamannya kayak beginian," sergah Dita.


Meira menggeleng kepala lalu menghampiri Dita. Bisa-bisa akan panjang cerita jika Bella dan Dita terus berdebat.


"Dua-duanya bagus kok buat Dita. Tapi ini juga bagus buat Dita." Meira mengambil dress putih simple dan menyerahkan pada Dita.


Dita melotot tak terima. "Apa sih, Mei. Gue gak mau yang beginian, entar ribet lagi, ah."


"Enggak, Dita. Ini cantik banget kok buat Dita," keukeuh Meira meyakinkan.


Dita mendengus pasrah lalu mengambil dress itu.


Ketiga cewek tersebut masih setia mengelilingi Mall untuk membeli segala keperluannya setelah Bella mengambil dress yang pegawai tadi berikan. Dari sepatu, baju, tas sampai aksesoris, hingga di tengah-tengah kegiatan mereka tiba-tiba ponsel Bella berdering.


Bella merogoh sling bag-nya. Menggeser ikon hijau pada layar ponsel lalu menempelkan benda tersebut di telinga kanan.


"...."


"Ini Bella lagi di mall, belanja sama Dita dan Meira."


"...."


"Iya, Bella bakal pulang sekarang, kok."


"...."


"Iya, Mi."


Bella menghela nafas setelah telfon dari Maminya terputus. Dia menatap Meira dan Dita bergantian.


"Mei, kata Mami, gue harus pulang sekarang. Papi gue baru pulang dari Singapore beberapa menit lalu."


Meira tersenyum maklum. "Bella pulang aja. Mei gakpapa kok."


Bella menatap tak enak pada Meira. "Tapi Mei---"


"Udah, Bell. Aku bisa pulang naik taksi, kok."


"Gimana kalo kita anterin lo pulang dulu aja?" celetuk Dita yang di angguki Bella.


Meira menggeleng cepat. "Gak usah. Arah rumah kita beda, mana jauh lagi rumah Bella dari rumah Mei. Dita sama Bella pulang duluan aja. Lagian Mei juga masih mau nyari gaun buat Mama."


Bella dan Dita saling memandang untuk beberapa detik sebelum mengangguk.


"Yaudah, deh. Kita duluan yah, Mei." Bella memeluk Meira diikuti oleh Dita.


***


"Kenapa kamu terlambat? Kamu tidak menghargai pertemuan ini?"


Alka berdiri seraya sedikit menunduk di depan Opa yang duduk di sofa besar pada ruang tengah. Di sofa panjang ada Oma, Megan dan Samuel yang menatap Alka dengan tatapan berbeda.


Oma dengan tatapan datarnya. Megan dengan ekspresi malas dan Samuel dengan seringai memuakkannya.


"Maaf, Opa." tidak ada kosa kata lain selain dua kata itu yang bisa Alka ucapkan. Bukan takut dengan tatapan Opa, melainkan Alka merasa tak harus menjawab pertanyaan itu.


Opa terkekeh hambar. "Bagus, wanita itu mendidik kamu sangat baik hingga menjawab dengan jawaban yang tidak sesuai pertanyaan."


Alka hanya menundukkan kepalanya lebih dalam. Menyembunyikan rahangnya yang mengeras karena ucapan Opa.


"Memangnya apa yang Papa harapkan dari anak hasil didikan wanita sakit-sakitan?" celetuk Megan—Mama tiri Alka—yang kini tersenyum miring menatap tangan terkepal Alka.


"Setidaknya saya tahu meminta maaf atas kesalahan saya. Bukan hanya bisa berpura-pura bahwa saya tidak bersalah." Alka menatap dingin pada Megan yang sudah menggertakkan giginya.


"Cukup Alka! Kamu tidak berhak berbicara seperti itu di keluarga ini. Apa yang dikatakan Megan memanglah benar, Soraya tidak bisa mendidik kamu seperti Megan mendidik Samuel karna kondisinya yang sakit-sakitan!" sela Oma. Wanita paruh baya berpenampilan modis itu menyilang kaki dengan angkuh.


Alka menarik nafas pelan. Berusaha mengontrol emosinya yang gampang tersulut jika menyangkut Mamanya.


Detik berikutnya, sudut bibir Alka terangkat membentuk seringai kecil. "Seperti Samuel? Memang sebaik apa didikan Nyonya Megan pada anak tersayangnya?" sarkas Alka. Dia menatap Samuel sekilas lalu menatap Oma.


Dug!


Tendangan tiba-tiba di tulang kering Alka hampir membuat cowok itu hilang keseimbangan jika saja penguasaan dirinya tidak baik.


Alka menyeringai sinis. Iris hitamnya menatap Opa yang berdiri dengan wajah penuh amarah di hadapannya.


"Kamu tau apa yang kamu katakan tadi?! Kamu tau apa posisi kamu di sini?!" bentak Opa.


Alka mengangguk. "Saya tau betul apa yang saya katakan dan siapa saya."


"Sebuah kesalahan yang lahir di tengah-tengah keluarga Mahardika karna tekanan Opa pada Papa saya." Alka mengulas senyum miring kecil, melangkah mendekati Opa. "Benar kan, Opa?" lanjutnya.


Rahang Opa terlihat mengeras. "Tutup mulut kamu! Saya gak mau lagi mendengar ucapan kamu! Keluar dari rumah saya!" bentak Opa dengan jari telunjuk yang mengarah pada pintu.


Alka terkekeh sinis. "Ah..., jadi gini rasanya pertemuan keluarga." cowok itu manggut-manggut dengan tampang datar. "Gak nyangka akan semenyenangkan ini, di usir dari rumah Papa sendiri," sambung Alka dengan kekehan hambar.


"PERGI SEKARANG!!"


Alka mengangguk singkat, sedikit membungkukkan badan pada Opa sebagai tanda hormat. "Permisi, undangan keduanya saya tunggu," ucap Alka lalu berbalik.


Namun, terhitung dua langkah Alka melangkah, suara Samuel terdengar.


"Lo gak mau tau apa inti dari pertemuan menyenangkan ini?" seru Samuel dari belakang.


Alka membalikkan badan. "Bukannya ini yang lo mau? Nunjukin dimana posisi gue?" tanya Alka dengan nada dingin khasnya.


Samuel terkekeh. Cowok itu kemudian mengendikkan dagu ke arah belakang Alka.


Sontak Alka mengikuti arah kendikan dagu Samuel.


Alka terpaku. Sepasang suami istri dengan seorang gadis datang dengan senyum merekah. Mereka melewati Alka begitu saja lalu saling menyapa dengan Opa, Oma, Megan dan Samuel.


Keluarga kecil yang baru saja datang itu duduk setelah di persilahkan oleh Oma. Mulai saling melempar obrolan dan candaan tanpa memperdulikan Alka yang masih terpaku menatap mereka.


Terutama pada cewek berambut coklat dengan iris biru laut.


Bianca.


Samuel menyeringai lalu mendekat pada Alka. "Terkejut, Kakak?" tanya Samuel dengan menekan kata 'Kakak', tak lupa pula seringai mengejeknya.


Alka dengan cepat menyadarkan diri. "Apa lagi yang lo mau? Belum puas dengan yang tadi?"


Samuel terkekeh lalu menepuk sekali pundak Alka. "Yah, enggak, lah. Gue punya berita baik buat lo. Dengerin aja pembicaraan mereka."


Alka mendengus malas lalu hendak pergi. Tapi kalimat dari Opa refleks membuatnya berhenti.


"Jadi kapan pertunangan Bianca dan Samuel akan di laksanakan?"


Alka tersentak. Dia menatap Samuel dengan tatapan tak terartikan.


"Gimana? Bagus gak berita yang lo dapat hari ini?"


Alka sempat diam beberapa detik dengan ekspresi tak terbaca sebelum sudut bibir ranum miliknya terangkat membentuk senyum miring.  "Kalau menurut lo mengadakan pertunangan dengan Bianca bisa buat gue hancur, lo salah. Karna sekarang, Bianca udah gak ada artinya buat gue."


Samuel menganggukkan kepala dua kali dengan bibir melengkung ke bawah. "Mungkin pertunangan ini gak ada artinya buat lo." lalu Samuel mendekat pada Alka. Membisikkan kalimat yang membuat Alka bingung.


"Tapi gimana sama cewek yang saat ini mungkin di gangguin sama temen-temen gue di area sekitaran mall?" bisik Samuel, diakhiri dengan senyum miring.


Alis Alka bertaut. "Maksud lo apa?" tanyanya dengan tatapan tajam.


Samuel tertawa renyah kemudian mengangkat bahu lalu bergabung dalam obrolan dua keluarga itu.


🦁


🦁


🦁