![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Senyum lebar tak henti-hentinya merekah di bibir merah muda Meira. Gadis dengan rambut tergerai dan dress babyblue itu tampak sangat cantik. Di sampingnya—cowok dengan kaos putih dan celana jeans hitam yang robek pada lututnya—berjalan dengan tangan kanan tenggelam dalam saku celana.
Alka, cowok itu menatap Meira yang terus saja tersenyum lebar setelah mereka sampai ke Dufan. Dia sempat berfikir, apakah gigi Meira tidak kering karena terus saja senyum? Alka menggeleng, melihat tingkah aneh cewek itu.
Mata cewek itu tampak berbinar saat melihat beberapa wahana yang seperti berteriak untuk dinaiki. Kora-kora, kicir-kicir, halilintar, tornado, dan hysteria terlihat begitu menantang.
"Kak, kita naik kicir-kicir, yuk!" ajak Meira pada Alka. Binar semangat masih terpatri di mata bulat cewek itu.
Alka hanya mengangguk pelan. Mengikuti semua keinginan Meira hari ini. Ingat! Cuma hari ini. Karena besok-besok Alka tidak ingin berurusan lagi dengan cewek remaja yang menjelma menjadi bocah, seperti Meira contohnya.
Setelah membayar tiket. Keduanya segera menaiki salah satu keranjang kicir-kicir tersebut. Meira bersorak senang saat kicir-kicir itu mulai berputar.
"Cantik banget! Ternyata pemandangan kalo diliat dari atas lebih cantik, yah," gumamnya kagum. Matanya menyapu ke seluruh sudut pemandangan yang bisa matanya lihat.
Tidak beda jauh dengan Meira. Alka juga menyapukan pandangannya pada pemandangan yang dapat dia lihat dari atas. Semuanya tampak begitu kecil. Walaupun dia takjub, namun ia tak selebay Meira yang kini mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen tersebut.
Setelah menikmati kicir-kicir, kora-kora, dan halilintar, kini masih ada satu wahana yang belum mereka coba. Hysteria! Nama wahana yang membuat Meira seketika pucat.
Berbeda dengan Alka, cowok itu malah tersenyum miring. Muncul ide jahil di otaknya.
"Gak mau coba hysteria?" tanya Alka pada Meira.
Cewek itu memakan kembang gula yang ia beli lalu menggeleng menatap Alka.
"Gak mau. Aku gak suka wahana itu, serem!"
Alka semakin gencar. Ia ingin membuat Meira menyesal karena telah mengajaknya untuk jalan bersama.
"Ikut gue." Alka menarik pergelangan Meira ke wahana tersebut. Seringai tercetak di bibir ranum cowok itu.
Meira memberontak, berusaha melepaskan tangannya dari tangan besar Alka. Untuk pertama kalinya, Meira tidak suka saat Alka memegang tangannya.
"Kak Alka, aku gak mau, ih. Serem tau!" Alka menulikan telinganya. Cowok itu beralih mengambil karcis lalu mulai menaiki wahana tersebut.
Ia mendudukkan Meira lalu memasang sabuk pengaman pada cewek itu. Tidak peduli dengan mata Meira yang sudah memerah sebab menahan tangis.
"Kak...." lirihnya. Matanya menatap Alka yang berdiri didepannya sambil memasang sabuk pengaman pada dirinya.
Alka tidak merespon. Ia beralih duduk di samping Meira lalu memakai sabuk pengaman untuk dirinya sendiri. Dalam hitungan ketiga, wahana itu berputar. Bersamaan dengan pekikan Meira yang menggelegar.
"Aaaaaaaa... Mamaaaa... Mei takuuutt...."
Wahana hysteria tetap berputar dengan kencang. Menjungkir balikkan tubuh Meira yang sudah bergetar ketakutan.
Alka menoleh ke samping. Menatap Meira yang menjerit ketakutan. Alka mengulas senyum geli melihat ekspresi cewek itu.
"Mamaaa... Mei gak mau mati sekaraaaaang... Mei belum nikah sama Kak Alka.... Mamaaaa tolong Meira... Huaaaaa..." jeritan cewek itu semakin menjadi-jadi seiring kencangnya putaran wahana tersebut.
Tanpa sadar, Alka terkekeh. Mendengar jeritan cewek itu yang terkesan konyol. Dalam masa tegang seperti ini pun, dia masih memikirkan untuk menikah dengan Alka.
Andai saja situasinya tidak semenakutkan ini untuk Meira. Bisa di jamin seratus persen, ia akan memekik kegirangan saat tahu bahwa Alka tertawa. Tertawa untuk pertama kalinya. Dan itu disebabkan oleh dia sendiri. Namun sayang, situasi tidak mendukung Meira.
Beberapa menit kemudian mereka turun. Nafas Meira tersenggal-senggal, penglihatannya masih terputar-putar akibat wahana hysteria tadi.
"Lo, oke?" tanya Alka. Sejak tadi ia memperhatikan gerak-gerik Meira yang seperti orang pusing.
Meira menggeleng lalu berlari menjauh dari Alka.
Hueekk!
Cewek itu memuntahkan isi perutnya di dekat tong sampah. Perutnya serasa teraduk-aduk setelah menaiki wahana terkutuk itu.
Hueekk!
Berikutnya, Meira merasa ada seseorang yang memijit tengkuknya. Ia kemudian membersihkan bibirnya dengan tissue yang ada di tas selempangnya. Nafasnya belum teratur, ia menegakkan badan lalu menatap orang yang memijit tengkuknya tadi.
Alka, dia menatap datar pada Meira. Namun siapa sangka, di balik wajah datar itu tersirat rasa bersalah. Rasa bersalah karena kejahilannya berakhir naas pada cewek ini.
"Sorry, gue ga---"
"Udah, Kak Alka gak salah, kok. Akunya aja yang lebay naik hysteria." Meira memberikan senyum terbaiknya pada Alka.
Bukannya merasa lega, Alka semakin merasa bersalah. Seharusnya Meira memaki dirinya lalu pergi dan tidak mengganggunya lagi. Tapi, entah cewek itu terlalu baik atau terlalu cinta sama Alka, hingga ia tidak memarahi Alka.
"Lo gak marah?" tanya Alka. Berjalan di samping Meira menuju ke parkiran.
Meira menatap Alka sekilas. "Kenapa aku harus marah?" tanyanya, balik.
"Karna tadi?"
Meira terkekeh lalu mengamit lengan Alka. "Aku gak bisa marah sama Kakak. Entah aku bodoh atau apa, aku gak peduli."
Alka tidak menyahut lagi. Meira yang memeluk lengannya pun ia biarkan. Terlalu kasihan jika harus menambah siksaan cewek itu dengan memarahinya. Ingat! Alka cuma kasihan, bukan bermaksud lain.
***
"Kita nontonnya yang horor, yah, Kak?"
Setelah dari Dufan. Meira memutuskan untuk nonton bioskop. Sekarang sudah pukul tujuh malam, namun cewek itu belum juga ingin pulang.
Alka mengangguk saja. "Asal lo gak modus," sahutnya.
Meira terkekeh geli lalu beranjak memesan tiket dan beberapa popcorn serta kentang goreng dan minuman soda. Setelah itu ia kembali kepada Alka yang sibuk dengan ponselnya.
"Nih, Kakak pegang popcorn sama minumnya."
Alka menurut. Biar saja cewek ini puas bersamanya sekarang. Besok-besok dia tidak mau lagi.
Keduanya berjalan memasuki bioskop. Mengambil kursi yang berada pada barisan kelima dari depan. Lampu ruangan mulai di matikan, diikuti layar lebar yang menyala.
Baru pembukaan film horor itu, Meira sudah beringsut mendekat pada Alka. Memakan kentang gorengnya dengan pelan, di sertai mata yang menatap lurus ke layar lebar tersebut.
Alka menatap Meira sekilas, setelah itu kembali menonton sesekali memasukkan popcorn ke dalam mulutnya. Keduanya larut dalam kesunyian di bioskop, sesekali Meira berguman tidak jelas dan mendesis takut.
Tepat saat wajah hantu yang penuh darah dengan wajah tak terbentuk tertampil di layar, Meira refleks memeluk Alka dari samping. Menyembunyikan wajahnya di lengan cowok itu.
Alka memutar matanya malas lalu melepas pelukan Meira.
"Jangan sok berani makanya," cibir Alka, datar.
Bibir Meira mengerucut, cewek itu kembali menonton film dengan khidmat.
***
Motor sport merah hitam itu sampai depan rumah Meira yang menjulang tinggi. Cewek yang duduk di jok belakang turun lalu melepas jaket Alka yang melingkar di pinggangnya.
Alka mengangguk sekilas lalu membuka kaca helmnya tanpa turun dari motor. Tangan cowok itu terangkat mengambil jaket yang disodorkan Meira.
"Gue pulang," pamitnya yang dibalas anggukan dan senyum lebar oleh Meira.
Baru saja Alka akan melajukan motornya. Suara dari pintu membuat ia urung. Dimatikannya mesin motor lalu melepas helm yang sejak tadi bertengger di kepalanya.
"Nak Alka, kok gak masuk?" Hanin menghampiri Alka yang turun dari motor.
Tangan wanita itu terulur saat Alka hendak menyalimi tangannya.
"Kamu mampir dulu, yuk. Tante kebetulan udah masak makan malam," tawar Hanin.
Meira menatap Alka penuh harap. Sementara yang di tatap hanya diam seolah berfikir.
"Maaf, tante. Tap---"
"Udah ayo masuk. Tante tau kamu pasti belum makan, kan?" potong Hanin.
Wanita itu kemudian menarik tangan Alka masuk ke rumahnya. Diikuti Meira yang cekikikan sendiri di belakang mereka.
"Papa!!" Meira dengan semangat menghampiri Papanya yang baru turun dari tangga. Memeluk pria itu erat.
"Papa tumben cepat pulang. Pasti kangen banget, kan sama Mei?" cercanya senang.
Arya—Papa Meira—terkekeh lalu melepas pelukan Meira dengan pelan. Tangan kekarnya terangkat mengacak rambut Meira.
"Iya, nih. Papa udah kangen banget sama princess Papa."
Meira tertawa lalu memeluk lengan papanya sambil berjalan ke meja makan.
Langkah Arya terhenti saat matanya menangkap sesosok cowok yang duduk di meja makan. Istrinya tampak akrab dengan cowok itu.
"Dia siapa, Mah?" tanya Arya membuka suara.
Hanin menengok ke arah suaminya lalu tersenyum. "Dia Alka, Pah. Temannya Meira."
Arya menoleh kepada Meira seolah bertanya benar atau tidak. Meira mengangguk lalu berbisik.
"Calon pacar juga, Pah."
Arya hanya tersenyum tipis lalu duduk dikursi paling ujung. Diikuti Meira yang duduk di hadapan Alka. Mata Arya terus saja menatap Alka.
"Papa gak makan?" tanya Hanin membuyarkan lamunan Arya.
Arya mulai memakan makanan yang telah di sediakan Hanin. Tapi, matanya terus saja menatap Alka dengan tatapan tak terartikan.
Merasa ditatap, lama-kelamaan Alka juga risih. Sebenarnya ia tahu bahwa sejak pertama kali Papa Meira datang, pria itu terus saja menatapnya. Alka tidak tahu kenapa. Ia juga merasa familiar dengan wajah Papa Meira. Tapi Alka lupa siapa.
"Nama kamu Alka?" tanya Arya, sesekali memakan makanannya.
"Iya, Om." Alka sedikit tersenyum tipis.
Arya mengangguk sekilas, mencampurkan sayur kedalam nasinya. "Dari mana sampai jam segini baru bawa anak saya pulang?" nada bicara Arya terdengar datar. Entah apa maksud dari nada datar itu.
"Pah," tegur Meira. Ia merasa tak enak pada Alka.
Arya menatap sekilas pada Meira lalu kembali fokus pada Alka yang tampak biasa saja.
"Maaf, Om. Tapi tadi saya sudah izin sama tante Hanin, kok." Alka membersihkan bibirnya setelah minum.
Arya meneguk air putihnya lalu membersihkan bibirnya dengan tissue yang tersedia di atas meja makan.
"Yah, Kan gak sampai jam sembilan malam juga pulangnya."
Melihat kondisi yang tak bersahabat dari suaminya, Hanin angkat bicara. "Pah, Papa kok, nyalahin Alka? Dia itu baik, loh. Bisa jagain Meira juga," seru Hanin. Mencoba menenangkan suaminya yang selalu over protektif jika bersangkutan dengan Meira.
"Papa kan, gak bilang Alka itu jahat. Papa cuma gak mau, apa yang di alami sama Kakak Meira terulang."
Diam-diam Alka menautkan alis. Kakak Meira? Meira punya kakak?
"Sekali lagi maaf, Om. Saya gak akan ngajak Meira pergi lagi," sahut Alka.
Meira melotot tak terima. "Kok, Kak Alka ngomong gitu, sih? Papa itu cuma khawatir sama Meira makanya ngomong gitu," tukas Meira. Nadanya terdengat merengek.
Arya menatap Meira yang bersedekap dada dengan wajah cemberut.
"Mei, kamu gak bisa sembarang percaya sama orang. Di luar sana banyak orang jahat yang incar kamu. Apalagi kamu tau sendirikan, siapa kakak kamu dulu?" Arya berusaha mengingatkan Meira dengan lembut.
Hanin beralih membersihkan meja makan. Sedangkan Alka hanya diam menatap Ayah dan anak itu. Dengan otak yang sibuk mencari jawaban, siapa kakak Meira? Apa yang terjadi papa Kakaknya?
"Tapi kan, Kak Alka jago bela diri. Dia pasti bisa lindungin Meira, Papa."
Alka menatap datar pada Meira. Sekarang dia juga dibawah-bawah ke dalam drama Ayah dan anak itu.
Arya berdiri dari kursinya. Meninggalkan mereka tanpa sepatah kata.
***
Suara deruman knalpot motor dan suara sorakan beradu menjadi satu. Tribun sircuit sudah di penuhi oleh beberapa penonton di pukul 11 malam ini. Di tribun sebelah kanan, terdapat Bagus, Devan dan dengan anggota The Lion lain, serta beberapa penonton lain yang bergabung dengan mereka.
Di sisi kiri tribun, ada Samuel dengan Geng Srigala lainnya. Ada juga beberapa geng motor lain yang duduk disana.
Devan, meskipun dengan keadaan lengan tergips dia tetap datang menyemangati Alka. Bahkan suaranya-lah yang paling besar. Di seberang sana, Samuel tidak jauh beda dengan keadaan Devan. Lengan tergips dan wajahnya yang masih di penuhi plaster obat. Devan tersenyum miring melihat karya tangan Alka di wajah Samuel.
Beberapa motor sport bermerk telah berdiri kokoh di garis start sircuit. Motor sport merah hitam milik Alka berdiri berdekatan dengan motor sport merah hitam milik Petra.
Dengan pakaian khas pembalap, Alka menaiki kuda besinya. Memasang helm fullfacenya dengan baik lalu mengeratkan kaos tangan hitamnya. Mata tajam itu melirik sekilas pada Petra yang berada tepat di sampingnya.
"Selamat berjuang, temen lo butuh duit buat bebas dari lingkungan Geng Srigala." Petra menyeringai tajam di balik helmnya.
Alka hanya menatap datar lalu memandang kedepan. Seorang cewek cantik dengan pakaian kurang bahan berjalan mengambil posisi di tengah-tengah mereka. Bendera bermotif dadu dengan warna hitam putih di angkat tinggi-tinggi oleh cewek itu.
Hitangan pertama, suara deruman knalpot semakin menggelegar.
Hitungan kedua, semuanya mengambil posisi siap untuk melaju.
Hingga hitungan ketiga, beberapa motor sport itu melaju kencang menelusuri sircuit.
Sorakan penonton semakin memekakkan telinga saat melihat motor-motor sport itu saling beradu kecepatan.
Tak sampai beberapa menit, sekawanan motor yang beradu itu mulai menampakkan dirinya. Dipimpin dengan motor sport merah hitam yang entah siapa pemiliknya. Di karenakan, ada empat pemilik motor sport dengan warna yang serupa.
Sorakan tegang pada penonton semakin riuh. Apalagi ketika melihat dua motor sport berwarna merah hitam memimpin. Terlihat keduanya saling mengunci satu sama lain. Hingga akhirnya salah satu dari mereka mencapai garis finish lebih dulu, dan yang satunya lagi terjatuh ke pinggir sircuit.