![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Motor sport merah hitam itu melaju tidak santai di jalan raya Kota Jakarta. Dibalik helm fullface yang cowok itu kenakan, terdapat tatapan tajam yang siap menghunus siapa saja.
Alka, cowok itu mengeratkan tangannya pada stir motor dan menambah laju kecepatan besi berjalan itu. Ingatannya kembali pada ucapan Devan tadi.
"Devan!"
Semua mata tertuju pada Alka.
Devan menurunkan tangan Meira yang hampir saja ia cium. "Kenapa?" tanya Devan.
"Gue mau ngomong sama lo,"
"Yaud---"
"Berdua!"
Devan memandang Meira sejenak. Cewek itu ikut memandang bingung pada Alka. Merasa mengerti, Bagus dan yang lain pun keluar, tak lupa membawa Meira.
"Lo kenapa? Cemburu gue sama Mei?" tanya Devan mengejek.
Alka berdecak malas. "Bukan,"
"Terus?"
"Siapa pelakunya?"
"Hah? Pelaku apa maksud lo?"
Alka menghela nafas malas. Cowok itu berjalan dengan tenang ke arah Devan.
"Kecelakaan!" Devan mengangguk mengerti. Tapi ada keraguan di wajah cowok itu. Ia bisa menjamin apa yang akan terjadi setelah menjawab pertanyaan Alka mengenai pelaku kecelakaannya.
"Kenapa lo diam?"
Devan tersentak kaget. "Eh? Kenapa?"
Mata Alka memicing curiga pada Devan. "Kasi tau gue. Atau tangan kiri lo ikut patah?" ancam Alka dengan nada mengintimidasi.
Devan meneguk kasar salivanya. "Sam."
Cukup satu nama singkat itu Alka menyambar jaket hitam dan kunci motornya yang ada di sofa. Rahang cowok itu terlihat mengeras.
"Lo mau kemana Al?!" tanya Devan panik saat melihat Alka bergegas pergi.
"Al! ALKA!!" teriakan Devan di abaikan oleh Alka. Cowok itu sudah hilang di balik pintu.
"Lo mau kemana Al? Kenapa buru-buru gitu?" tanya Bagus sedikit panik saat Alka keluar dari ruang inap Devan dengan terburu-buru.
"Ada urusan." singkatnya lalu pergi meninggalkan teman-temannya dan Meira yang menatapnya bingung.
"Sam." desis Alka dibalik helmnya.
Motor sport itu telah sampai di sebuah rumah kecil yang jauh dari keramaian kota. Di gerbang rumah itu terpampang jelas logo Geng Srigala yang menandakan bahwa rumah kecil ini adalah tempat mereka. Alias basecamp
Alka turun dari motor lalu berlari memasuki rumah itu tanpa satu senjata pun di tangannya. Resikonya semua telah ia pikirkan.
Cowok itu masuk dengan menendang pintu rumah itu, hingga pintu tersebut rusak.
"Lo gak punya sopan santun, yah?" celetuk seseorang dari dalam yang tak lain adalah Samuel. Hanya ada cowok itu sendiri. Entah kemana Petra dan kawanannya Alka tak peduli.
Alka tidak peduli cibiran itu. Netranya lurus memandang Samuel penuh kebencian.
Samuel tekekeh mengejek. "Nyokap lo, kan sakit parah. Jadi mana mungkin bisa ngajarin lo sopan santun."
Bugh!
Satu tendangan mendarat di ulu hati Samuel. Cowok itu terlempar dan mendarat di sofa. Alka masuk lalu menarik leher kaos yang di kenakan oleh Samuel. Tidak ada lagi raut tenang. Yang ada hanya wajah merah penuh amarah yang memberontak.
"Jangan pernah bawa-bawa nyokap gue!" Alka memandang berang pada Samuel yang tertawa mengejek.
"Kenapa? Karna bentar lagi dia mati?"
Bugh!
Satu tinju mendarat di dagu Samuel. Cowok itu berdecih sinis.
Bugh!
Satu tinjuan ikut Alka dapatkan di pipinya.
Alka tersenyum miring lalu mengusap pipinya.
"Ngapain aja lo di Amerika? Mukul lawan aja gak becus!"
Samuel geram. Cowok itu maju untuk melayangkan tinjunya pada Alka. Namun sayang, Alka lebih dulu menggenggam tinju itu.
Dipelintirnya kepalan itu hingga terdengar suara tulang yang retak.
"Lo buat Devan patah di tangannya. Dan gue bakal lakuin itu juga buat lo!" Alka menyeringai kejam. Tak ada belas kasihan dari cowok bernetra hitam itu.
Alka memutar lengan Samuel hingga cowok itu berteriak kesakitan. Alka kembali menyeringai.
"Teriak lebih keras. Gue suka suara kesakitan dari musuh gue!"
Samuel memandang penuh benci pada Alka. Cowok itu berniat mengembalikan posisi tangannya, namun sayang, Alka dapat membaca pergerakannya hingga tangan Samuel semakin di putar kebelakang oleh Alka.
Akkhhh!
Alka tertawa senang. Cowok itu terlihat seperti iblis yang tertawa melihat orang tersiksa.
Alka menendang punggung Samuel hingga cowok itu kembali mendarat di sofa. Alka kembali maju lalu mendaratkan bogemannya di setiap inci wajah Samuel.
BUGH!
Satu bogeman mendarat di pipi kanan Samuel. Darah telah mengalir di sudut bibirnya.
"Itu buat lo yang pengecut!"
BUGH!
Sekarang pipi kiri Samuel yang menjadi persinggahan kepalan tangan Alka.
"Itu buat lo yang berani ganggu teman gue!"
Alka menaring Samuel untuk berdiri.
BUGH!
BUGH!
Dua kepalan tangan Alka mendarat di ulu hati Samuel. Cowok itu terbatuk hingga mengeluarkan darah. Rasanya ingin membalas Alka, namun tenanganya sudah habis. Serangan Alka memang sulit dibaca oleh lawan.
BUGH!
Sekali lagi Alka menendang perut Samuel hingga cowok itu terkapar di lantai.
"Itu buat lo yang beraninya hina nyokap gue!!"
Setelah itu, Alka pergi meninggalkan Samuel yang mengerang kesakitan. Wajahnya penuh darah, sedangkan lengan kanannya patah. Persis seperti Devan.
"Psychopat!" gumam Samuel menatap kepergian Alka.
***
"Gus! Telpon Alka cepetan nyet. Samuel bisa mati kalo Alka udah emosi gitu!" seru Devan khawatir.
"Sabar nyet, ini lo kira gue ngapain? Nge-game?" Bagus menatap malas pada Devan.
Meira sendiri sudah pulang di antar oleh Ezra atas perintah Bagus tadi. Mereka tidak ingin ada orang lain yang mengetahui masalah mereka sekalipun itu Meira. Cewek yang sudah berani masuk ke ruang lingkup The Lion.
"Gak di angkat." Devan berdecak malas.
"Andai aja gue bisa bawa motor!"
"Lo mau apa?" celetuk Malik.
"Yah, nyamperin Alka lah. Kalo si Samuel mati, lo mau Alka masuk penjara? Gue sih, gak masalah kalo Sam mati. Tapi kalo Alka yang masuk penjara ogah gue!"
"Apalagi kalau sampai si Azka yang ambil alih tubuhnya. Benar-benar mati dah, si Sam." lanjut Devan.
Ezra, Malik, Tian, dan Arnold mengernyit bingung mendengar Devan. "Azka?" beo mereka.
Bagus menatap temannya satu persatu. "Alka punya kepribadian ganda, namanya Azka."
"Maksudnya?" tanya Ezra bingung.
"Gue gak ngerti. Coba lo jelasin," timpal Malik.
"Alka punya trauma masa lalu yang buat dia tertekan terus depresi. Sampai-sampai psikisnya terganggu dan divonis punya kepribadian ganda. Alis ada sosok lain dalam diri Alka."
"APA?!" Pekikan Ezra, Malik, Tian dan Arnold menyambut penjelasan Bagus.
"Kepribadian ganda?" beo Tian tak percaya. "Emang ada yah?" lanjutnya.
Bagus mengangkat bahunya acuh. "Nyokap gue yang bilang gitu."
"Gue gak per---"
Brak!
Semuanya menoleh pada pintu yang di buka kasar. Di sana ada Alka, cowok itu berjalan lalu menghempaskan dirinya di dekat Bagus.
"Gue harap lo gak bunuh Sam," celetuk Bagus.
Alka mendengus malas. "Tenang aja, gue masih kasi kalian kesempatan buat hajar dia." Bagus tersenyum miring lalu menepuk bahu Alka dua kali.
"Lo apain aja anak orang?" celetuk Devan dari brankar.
"Gak gue apa-apain." balas Alka singkat.
"Boong lo!"
"Cuma matahin tangannya, ditambah sedikit lukisan di mukanya biar tambah laki!" Bagus dan yang lainnya terkekeh. Itu adalah jawaban paling ngaco yang pernah keluar dari mulut Alka.
Devan ikut terkekeh. Berikutnya cowok itu kembali diam. Matanya bergerak menatap Alka yang tanpa beban bersandar pada sofa dengan mata terpejam.
"Al?" seru Devan.
"Hm?"
"Nanti yang bakal ikut balapan siapa?"
Alka membuka matanya. Menatap lurus pada langit-langit rumah sakit yang putih.
"Gue,"
Bagus refleks menoleh ke Alka begitupun teman yang lainnya.
"Lo serius Al?" Alka mengangguki Arnold.
"Bukannya lo gak suka balapan yang gak resmi?" Alka menatap Arnold.
"Semuanya demi Adnan." balas Alka lalu kembali memejamkan mata.
"Dimana Adnan sekarang yah?" celetuk Tian. Terdengar nada sedih dari cowok itu. Bagaimana pun juga Adnan adalah rekan mereka serta sahabat yang baik. Yah, baik sebelum adanya pengkhianatan.
"Gue dengar dari tetangganya, dia ke Singapore buat berobat adiknya. Itupun masih dalam pengawasan keluarga Sam." jawab Malik.
Tangan Alka mengepal. Entah kenapa mendengar nama Samuel selalu membuat emosinya memberontak.
***
Tok! Tok!
Meira mengetuk pintu kelas yang bertuliskan XII IPS 4. Tak lama kemudian pintu terbuka, menampilkan seorang cewek cantik dengan baju seragam sekolah yang ketat dan kecil. Lipstiknya pun sedikit mencolok dengan warna pink.
Meira menatap cewek itu. Dia ingat, cewek itu adalah Naila. Cewek yang katanya suka sama Alka sejak kelas 10.
"Lo siapa?" suara itu membuat Meira tersentak. Dia kemudian gelagapan. Meira menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga.
"A-aku Meira. Kelas XI IPA 2." Jawab Meira gugup. Tatapan Naila seolah menilai penampilannya dari atas ke bawah.
"Lo murid baru yang viral itu karna di hari pertama lo masuk, lo di boncengin Alka. Bener kan?"
Mata Meira sukses membulat. Dari mana Naila tahu? Apa mungkin Naila melihatnya hari itu dengan Alka? Terus, ini lagi apa maksudnya dia viral?
"A-aku, viral ?" Naila mengangguk malas. Dagu cewek itu terangkat angkuh.
"Lo ada urusan apa sama Alka? Ngapain cari dia kesini?"
Meira memberanikan diri menatap Naila. Rasanya ia lebih takut kepada Naila daripada Alka.
"A-ku ada urusan sama K-kak Alka."
Naila menaikkan satu alisnya. Matanya jatuh pada bekal yang ada di tangan Meira.
Tanpa aba-aba Naila mengambil bekal itu lalu melemparnya ke tempat sampah.
Meira terkejut. Ia memandang Naila dan bekalnya yang ada pada tempat sampah secara bergantian.
"Kenapa Kakak buang? Itu bekal buat Kak Alka." mata Meira memanas. Dengan cepat ia mendekat ke tempat sampah lalu mengambil bekal yang ingin ia berikan pada Alka.
Naila berjalan mendekat pada Meira. Cewek itu kembali merebut bekal yang ada pada tangan Meira, lalu membuka dan membuang isinya ke tempat sampah.
Sandwitch yang Meira buat khusus untuk Alka mendarat sempurna pada tempat sampah. Meira menatap nanar sandwitch itu, lalu beralih menatap Naila dengan mata memerah menahan tangis.
"Kakak apa-apaansih?! Kenapa sandwitchnya di buang?!"
Anak XII IPS 4 yang mendengar keributan di luar kelasnya pun mengintip dibalik jendela. Bahkan ada yang keluar untuk melihat keributan itu.
Naila tersenyum sinis. "Gak usah lebay kali. Timbang ambil doang terus lo makan sendiri. Gue jamin Alka gak mau makan makanan dari tempat sampah!"
"Kakak jahat tau gak?! Itu sandwitch aku bikin khusus buat Kak Alka!"
"Gak ada yang nyuruh lo buat bikinin Alka sandwitch, kenapa lo repot-repot?" Naila memandang sinis pada Meira. "Lo gak usah sengaja bikinin Alka bekal buat deketin dia. Alka udah punya pacar!"
Meira membelalakkan matanya tak percaya. "Pa-pacar? Siapa?"
Naila mengangguk angkuh. "Gue!" jawabnya percaya diri.
Selanjutnya Meira yang tersenyum sinis. "Kakak gak usah mimpi terlalu tinggi deh. Kasian entar jatuh gak ada yang nolongin!" setelah mengatakan itu Meira pergi meninggalkan Naila yang melongo. Cewek itu berdecih sinis. Rupanya Meira ingin bermain dengannya.
***
Huuuhhh...
Meira mengelus dadanya di ujung tangga menuju kelas XII.
"Gila. Aku deg-degan banget. Ngomong gitu sama Kak Naila." gadis itu mengambil nafas dalam-dalam. Ternyata bersikap berani pada Naila tidak semudah itu.
"Lo kenapa Mei?" tanya Ezra yang kebetulan akan menaiki tangga.
Meira tersentak kaget. "Eh? Kak Ezra?"
"Lo ngapain kayak orang ketakutan gitu?" ulang Ezra.
Meira menunjukkan cengirannya. "Mei abis aja lawan macan tadi."
Ezra mengernyit bingung. "Macan? Emang di sekolah kita ada macan?"
Meira menggeleng. "Bukan itu Kak Ezra,"
"Lah terus?"
"Ini macan yang berwujud manusia, lebih tepatnya manusia harimau."
Ezra semakin bingung. "Manusia harimau? Siapa?"
Meira memberi kode pada Ezra untuk mendekat. Setelahnya, Meira berbisik pada Ezra hingga cowok itu tertawa.
"Dia Kak Naila, kelas XII IPS 4."