[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 67



Bagi Meira, mengenal seorang Alkavero Mahardika itu sebuah anugrah yang sangat dia syukuri. Cowok ganteng, cerdas namun bersifat dingin. Cowok yang berhasil menarik perhatian Meira sejak pertemuan pertama. Meira memang ramah pada semua orang termasuk lawan jenisnya hanya saja, rasa yang dia rasakan berbeda pada Alka dan pada yang lainnya.


Mengenal teman-teman Alka dengan berbagai macam kepribadian jugalah suatu hal yang sangat disyukuri Meira. Dari mereka, Meira tahu betapa berartinya kebersamaan dan kesolidan yang terjalin. Mereka rela melakukan apa saja untuk membantu satu sama lain. Mereka tidak akan tinggal diam jika salah satu diantara mereka kenapa-napa.


Devan yang humble, Bagus yang emosional, Arnold yang bermulut pedas, Tian, Malik dan Adnan yang jahil, Dimas yang lucu dan Ezra yang lemot. Benar-benar perpaduan yang sempurna untuk sebuah perkumpulan persahabatan.


Selain mereka, Meira juga bersyukur mengenal Bella dan Dita. Dua orang yang ingin berteman dengan Meira di hari pertama dia pindah ke Jakarta. Bella yang cerewet dan feminim, serta Dita yang tomboy. Meira suka mereka berdua.


Hari ini, tepat lima bulan kepergian Alka ke Amerika untuk menjemput cita-citanya. Dari lima bulan itu, hanya terhitung enam kali Alka memberi kabar pada Meira dan yang lain. Meira tidak menyalahkan Alka, karena dia paham. Cowok itu pasti sibuk dengan tugas kuliahnya, apalagi mengingat perbedaan waktu yang cukup jauh antara Indonesia dan Amerika.


Walau kadang pikiran negatif sering kali datang, Meira tidak pernah pesimis. Dia hanya bertekadkan bahwa, mau sejauh apapun Alka melangkah, jika Tuhan maunya mereka bersama, Alka tidak akan bisa ke mana-mana, tetap Meira-lah tempatnya pulang.


“Selamat ulang tahun, Dek.”


Meira memeluk Gilang yang baru saja memberikannya ucapan. Yah, benar tepat hari ini Meira merayakan pesta ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun. Halamana depan rumahnya telah dihias sedemikian rupa cantik siang tadi oleh kedua sahabatnya, mamanya, dan Gilang yang rela pulang dari Jogja.


“Makasih, Kak Gilang.” Cewek dengan dress soft pink selutut dipadu bandana putih itu menitikkan airmata. Sangat menyayangkan orang yang dia cintai tidak hadir di hari spesialnya. Jangankan hadir, menelfon atau menge-chat saja Alka tidak melakukan itu. Mungkin dia benar-benar sibuk di sana. Meira hanya berharap lelakinya itu selalu baik-baik saja.


Mengurai pelukannya, Gilang kemudian menghapus airmata adiknya yang lancang mengalir. “Ini hari bahagia kamu, jangan nangis dong,” ucapnya.


Mengangguk, Meira kemudian tersenyum. “Mei nangisnya karna bahagia, kok. Bukan sedih.”


“Bahagia atau kangen sama doi, hm?” terkekeh, Meira memukul pelan lengan cowok berkemeja putih di depannya ini.


“Dua-duanya,” balas Meira disambut tawa oleh Gilang.


“Gak usah nangis. Alka pasti lagi berusaha cepat pulang makanya sibuk.” Gilang mengelus rambut adiknya yang terurai. Berusaha memberikan pengertian pada hati Meira yang mungkin sudah sering berburuk sangka.


“Tapi setidaknya nelfon kek, apa kek!”


Gilang hanya tertawa lalu merangkul pundak Meira menuju keramaian. Di sana, ada Hanin dan Arya, Dita dan Bella serta Dimas dan beberapa anak The Lion seangkatan Dimas. Mereka menyambut kedatangan Meira heboh dengan berbagai macam ucapan dan doa.


Oh iya, dengar-dengar tentang inti The Lion yang baru saja lulus lima bulan lalu. Kali ini mereka sudah mendapatkan jalan masing-masing.


Devan yang belajar berbisnis dibawah naungan keluarganya, Bagus yang melanjutkan study kedokteran ke Korea Selatan, Arnold yang masuk sekolah penerbangan di Australia, Tian yang mencoba menjadi musisi, Adnan yang masuk akademi militer, Ezra yang mengambil jurusan arsitektur di UI, dan Malik yang membuka distro dengan merk-merk ternama.


Gilang sendiri kembali ke Jogja melanjutkan study-nya di Universitas Gajah Mada. Sedangkan Dimas, cowok kelahiran Bandung itu sudah menduduki kelas 11. Itu artinya, dia yang bisa memantau Meira selama di sekolah.


Di tengah-tengah keramaian, tiba-tiba ponsel Meira bergetar. Sontak, cewek itu meminta izin sebentar lalu mencari tempat yang lumayan sepi dikarenakan sekitarannya yang cukup bising.


Ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, mata cewek itu kontan memanas. Seorang Alkavero Mahardika saat ini menghubunginya menggunakan panggilan video Skype.


“Selamat ulang tahun. Gue berharap semua yang baik-baik datang ke elo."


Sama sekali tidak romantis, namun bagi Meira itu lebih dari cukup.


Sedetik setelah kalimat itu terucap dari cowok berkaos hitam di layar ponselnya, pertahanan seorang Meira Annastasia runtuh. Dia menangis. Antara haru, sedih dan rindu. Semuanya bercampur menjadi satu hingga menciptakan sesak di dada Meira. Keinginan memeluk cowok di seberang sana sangatlah kuat.


“Ini yang buat gue takut nelfon lo, Mei. Gue gak mau liat lo nangis cuma karna gue.”


Buru-buru Meira menyeka airmatanya lalu tersenyum. Tapi sayang, airmatanya tidak mau diajak kompromi hingga buliran air itu kembali menetes. Kali ini disertai isakan.


“Kangen …,” ucapnya di sela-sela tangis yang berusaha dia tahan.


Di sana, Alka tersenyum tipis. Netra hitam pekat itu menyorot sendu pada Meira. Dia juga merasakan yang sama. Dia rindu gadisnya yang polos. Memeluk Meira, menghirup aroma rambut cewek itu, melihat senyumnya, mendengar tawanya. Alka juga rindu semua itu namun, sebisa mungkin dia tahan.


“Iya tau. Gue juga gitu.”


“Kenapa baru ngasih kabar lagi? Kemarin-kemarin kemana aja? Sibuk liatin bule seksi, yah?” Meira sudah tidak lagi menangis. Kini, mata cewek itu memicing ke layar ponsel.


“Iya.”


“Tenang aja. Gak ada yang bisa gantiin lo, kok.”


Mengulum senyum, Meira sekilas memalingkan wajah saat dirasa wajahnya memanas. Alka ini, jauh saja masih bisa membuat Meira salah tingkah. Apalagi kalau dekat?


“Kado buat Mei mana? Tinggal Kakak doang tau yang belum ngasih kado,” ucapnya mengalihkan pembicaraan. Alka menampilakan raut wajah berpikir lalu kemudian mencebik.


“Harus banget ada kado, yah?” tanyanya mengangkat alis.


Meira mengangguk mantap. “Gak lengkap kalau ultah terus gak ada kado. Ucapan doang, mah, gak cukup.”


“Maruk lo, yah.”


“Biarin!” Meira menjulurkan lidah pada layar ponsel kemudian terkekeh.


Alka ikut terkekeh. “Kadonya ada di Gilang. Jadi minta ke dia aja.”


“Kok di kak Gilang?”


“Gue ngirim paket. Gilang udah ambil katanya.”


“Kakak ngirimnya lewat apa? Kantor pos?” tanya Meira dengan polosnya hingga Alka mendengus.


“Papa dua hari lalu pulang dari Amerika setelah jenguk gue, sayang. Gue titip.”


Meira ber-oh ria. “Isi paketnya apa?”


“Liat aja sendiri. Udah, yah. Gue ada kelas siang ini.”


“Eh, tap --- yah dimatiin.” Bahu Meira merosot. Dia menghela napas. Di Amerika mungkin sedang siang hingga Alka memiliki kelas hari ini. Tidak apa, setidaknya dia sudah mendengar suara cowok itu.


Memaksakan senyum, Meira kembali menghampiri Gilang yang sibuk bercanda ria bersama Dimas dan anak The Lion lainnya. Melihat itu, Meira tiba-tiba saja merindukan mereka.


Devan, Bagus, Arnold, Ezra, Tian, Malik, dan Adnan. Andai saja mereka ada di sini, mungkin suasana ulang tahunnya akan lebih meriah dikarenakan kehebohan mereka. Walau demikian, Meira tetap bersyukur. Setidaknya ada Gilang, mama dan papanya, kedua sahabatnya serta Dimas dan yang lain. Itu saja Meira sudah cukup.


“Kak Gilang!” yang dipanggil kontan mendongak dengan alis terangkat. “Hadiah dari kak Alka mana? Katanya ada sama Kakak,” imbuhnya.


Gilang ber-A ria lalu dengan cepat merogoh saku jeans-nya. Detik berikutnya, mata Meira menangkap sebuah benda dengan lapisan kain bludru berbentuk kotak yang tidak terlalu tinggi.


“Ini. Katanya buat cewek cantik yang lagi ulang tahun.”


Terkekeh kecil, Meira mengambil kotak itu. Membukanya dan langsung dibuat terpaku. Sebuah cincin emas putih dengan permata kristal.


Meira membekap mulutnya yang tidak bisa menahan haru. Tangan mungilnya kemudian bergerak mengambil sebuah sticky note berwarna merah di bawah kalung itu.


Happy born day My Pretty Girl. I love u to the moon and never back.


Your love, Alka & Azka.


Meira tersenyum setelah membaca surat itu. “I love you too, Kak.”


.


.


.