[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 7



Semilir angin sepoi-sepoi menerbangkan anak rambut Alka yang kini duduk di tepi rooftop sekolah dengan kaki menjuntai ke bawah. Netra hitam cowok itu memandang lurus ke depan seolah menerawang jauh.


"Ada apa sama gue?" gumamnya pelan. Ingatannya jatuh pada ucapan Bagus dan Devan semalam.


"Kenapa Devan babak belur?"


Mulut Bagus terbuka menatap Alka tak percaya.


"Lo ngelawak Al?" Alka menatap bingung ke Bagus.


"Gue gak ngerti." Ucapnya seraya menyentuh bekas luka sayat di lengan kanannya.


"Tadi lo tiba-tiba aja teriak ketakutan, pas kita bangunin lo, lo malah marah terus cekik gue abis itu lo hajar Devan tanpa ampun, dan sekarang lo bilang gak ngerti?" Bagus menatap tak percaya pada Alka lalu duduk di dekat Devan yang sudah mengobati lukanya.


"Lo beneran gak ingat Al?" celetuk Devan bertanya.


Alka menggeleng.


"Lo gak ingat pas cekik gue?" tanya Bagus lagi yang dibalas gelengan oleh Alka.


"Gak ingat pas pukul Devan?" Alka kembali menggeleng.


Bagus menghela nafas. Matanya tertuju pada punggung tangan kiri Alka.


"Mana tatto kalajengking yang ada di punggung tangan kiri lo?" tanyanya saat tatto itu tidak ada lagi di tangan Alka.


"Tatto?" beo Alka.


"Iya, tadi gue liat tatto kalajengking pas lo hajar Devan."


Alis Alka berkerut, matanya memandang punggung tangan kirinya. Kosong! Tidak ada apa-apa disana.


"Mata lo juga tambah hitam tadi," celetuk Devan.


"Mata gue?" tanya Alka, Devan mengangguk.


"Rambut lo juga berubah coklat!" timpal Bagus.


Alka semakin dibuat bingung. Cowok itu berdiri dari kasurnya menuju cermin besar di kamarnya. Matanya menatap seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah.


Rambutnya tetap hitam legam, matanya memang hitam namun tidak pekat, dan tidak ada tatto kalajengking di punggung tangan kirinya. Yang ada hanyalah bekas luka sayatan lama pada lengan kanannya.


"Lo berdua pasti ngibul!" Bagus dan Devan serempak berdiri saat Alka berbalik menatap mereka lalu menuduhnya.


"Ngibul lo bilang?"


Bagus dan Devan berjalan mendekati Alka.


"Nih! Lo gak liat leher gue masih merah bekas tangan lo?" Alka menatap leher Bagus. Dan benar, lehernya terlihat merah.


"Dan lo gak liat muka gue yang babak belur?" Alka beralih menatap wajah Devan yang penuh dengan lebam.


"Gue yang lakuin ini?" Bagus dan Devan mengangguk bersama.


Alka memijit pelipisnya. Benarkah dia?


"Gue gak ingat," gumamnya yang masih bisa didengar oleh Bagus dan Devan.


"Apa aja yang lo ingat?" tanya Devan.


"Yang gue ingat, gue tidur abis itu mimpi buruk. Itu aja!" Bagus dan Devan saling menatap mendengar jawaban Alka.


"Kayaknya ada yang salah sama lo deh Al!" Devan mengangguk setuju dengan Bagus.


Alka mengacak rambutnya frustasi. Sejak tadi dia berusaha mengingat semuanya, namun nihil. Dia tidak ingat apapun selain tidur dan mimpi buruknya.


Alka bangkit dari duduknya, namun langkahnya terhenti saat mendengar keributan di ujung jalanan sepi dari sekolahnya. Cowok itu menatap ke arah suara, detik berikutnya tangannya mengepal diikuti rahangnya yang mengeras.


"Sial!" umpatnya lalu berlari menuruni rooftop.


"Mau kemana Alka?"


"Double shit!" umpatan kembali terdengar saat suara datar seseorang masuk ke telinganya.


Alka membalikkan badannya lalu menatap guru wanita paruh baya yang sedang bersedekap dada menatapnya.


"Mau kemana Alka?" ulangnya.


"Keluar," singkat Alka terdengar datar.


"Mau ngapain kamu keluar? Ini belum waktunya pulang!"


Alka memutar bola matanya malas.


"Ada urusan."


"Urusan apa yang lebih penting daripada kehadiran kamu?"


"Bukan urusan ibu!" setelah mengatakan itu Alka berbalik meninggalkan guru wanita itu yang berteriak.


"ALKAVERO JANGAN PERGI KAMU!" Alka tidak mengubris, bahkan berbalik pun ia enggan.


"ALKA?!"


####


"Woah... Sang Singa muncul?" Petra mengulas senyum miring saat Alka berjalan ke arah mereka.


"Apa yang kalian lakuin?!" desis Alka, dingin. Matanya menatap satu persatu anggota The Lion.


Bagus berjalan mendekat ke arah Alka lalu berbisik. Tangan Alka mengepal menahan amarah, namun ia masih berekspresi tenang setelah mendengar Bagus.


"Mana Adnan?!" suara itu begitu rendah namun sangat mencekam.


"Tuh!" Alka mengikuti arah pandang Bagus.


Kaki panjang itu mengayun dengan tenang ke arah Adnan yang menunduk saat mata tajam Alka serasa menembus tubuhnya.


"Kenapa?" tanya Alka setelah berada di hadapan Adnan.


"Maaf...." Alka tersenyum sinis memandang Adnan. Sedetik kemudian tinjuan melayang mendarat di pipi Adnan dari Alka.


"KENAPA LO BERKHIANAT?!" Adnan tersungkur ke samping saat satu bogeman mentah Alka menghantam pipinya.


Alka kembali melayangkan tendangan pada perut Adnan hingga cowok itu tersungkur. Rupanya, Alka benar-benar marah kali ini. Orang yang telah dia percaya malah mengkhiantinya.


Semua anggota The Lion hanya diam menunduk tanpa berniat menolong Adnan dari keganasan Alka. Orang yang mereka percayai ternyata tidak lebih dari seorang pengkhianat yang menyamar menjadi sahabat.


Sedangkan Petra dan ke sepuluh temannya tersenyum penuh kemenangan melihat bagaimana Alka menyiksa Adnan.


"Berapa bayaran lo jadi penguntit suruhan Petra?" Adnan meneguk kasar salivanya saat Alka berdesis tajam di telinganya.


"Maafin gue Al---"


Merasa muak dengan semua kata maaf yang terlontar dan terdengar kosong, Alka kembali menyerang Adnan.


"GUE MINTA PENJELASAN!!" Darah keluar dari mulut Adnan saat lutut Alka dua kali menghantam ulu hatinya.


"Gue gak butuh maaf lo!" Alka menghela nafas lalu menghampiri Devan dan Bagus.


"Urus dia!" Bagus dan Devan mengangguk lalu mengambil alih Adnan.


Alka berjalan mendekati Petra hingga jarak mereka tinggal 5 meter.


"Apa yang lo mau?" Petra tersenyum miring.


"Ini yang gue mau...." Petra terlihat sengaja menggantungkan ucapannya, kakinya mendekat ke arah Alka. "Kehancuran The Lion!" Petra tertawa penuh kemenangan begitupun teman-temannya.


Tangan Alka kembali mengepal, bahkan buku-buku tangannya memutih. Cowok itu terlihat memejamkan matanya, tiba-tiba saja dia merasa pusing. Tidak berselang lama Alka kembali normal, namun emosi dalam dirinya tak bisa ia tahan.


Mata hitam itu berubah menjadi lebih hitam, rambutnya perlahan berubah warna juga menjadi coklat.


Satu bogeman tidak terbaca mendarat dengan indah di rahang Petra.


Petra berdecih sinis lalu membalas Alka. Perkelahian kembali terjadi antara Geng Srigala dan The Lion.


Alka menghajar Petra seperti orang kesetanan, yang ada dalam dirinya saat ini hanyalah membalas rasa sakit dan emosinya yang memberontak.


Alka gelap mata. Dia ingin membuat Petra jera dengan menyerang cowok itu berkali-kali di tempat yang berbeda.


Petra terkapar saat dua bogeman mendarat di pipi dan hidungnya serta satu tendangan di dadanya. Cowok itu meludah saat mulutnya mengeluarkan cairan merah kental. Petra bangkit berniat menghajar Alka, namun Alka kembali menendang wajahnya hingga ia kembali terkapar.


Dada Alka naik turun. Emosinya tidak bisa di kendalikan lagi. Anggota yang dibawah Petra juga sudah kalah oleh anak buah Alka.


Devan dan Bagus menatap Alka yang menyerang Petra tanpa ampun walalupun Petra sudah lemah.


"Van, itu Alka, kan?" Devan menggeleng tidak tahu dengan mata lurus menatap Alka.


"Ini bukan Alka biasanya. Alka gak bakalan serang musuh lagi kalo musuh udah lemah mau seemosi apapun Alka." Bagus mengangguk setuju dengan Devan.


"Lo benar." Mata kedua cowok itu tetap fokus pada Alka dan Petra.


"Van Liat! Itu tatto kalajengking yang waktu itu gue bilang!" Devan sontak mengikuti arah telunjuk Bagus.


Mata Devan membola terkejut lalu memandang Bagus yang juga menatapanya.


####


"Kak Alka, lukanya aku obatin, yah?" Alka menatap datar Meira yang duduk di hadapannya sekilas.


Mereka berada di kantin belakang sekolah saat pertarungan antara Geng Srigala dan The Lion selesai dengan kemenangan yang di dapatkan lagi oleh The Lion.


"Pergi lo!" Meira mengerucutkan bibirnya memandang Alka yang malah sibuk dengan game di ponselnya tanpa menghiraukan lebam-lebam dan darah yang kering di wajahnya.


"Tapi Kak Alka, itu lukanya bahaya tau! Kalo infeksi gimana? Kalo darahnya keluar lagi gimana? Emang Kak Alka mau?"


Alka berdecak kesal lalu menaruh dengan kasar ponselnya di atas meja. Tangannya bergerak mengambil kotak P3K yang ada di atas meja.


"Eitss!!" Meira merebut kotak obat itu hingga Alka gagal mengambilnya.


"Biar aku yang obatin luka Kak Alka! Kak Alka masih luka, tangan Kak Alka juga pasti sakit gara-gara berantem, kan?" Alka memutar bola matanya malas lalu berniat mengambil kotak obat di tangan Meira, namun cewek itu malah menjauhkannya kembali.


"Kak Alka bandel, yah?" Meira memukul pelan tangan Alka yang ingin mengambil kotak itu.


Devan dan Bagus serta beberapa anggota The Lion yang melihatnya terkikik geli.


"Gus, tatto itu udah gak ada di tangan Alka." Bagus menatap punggung tangan kiri Alka, dan benar saja tatto kalajengking itu sudah hilang. Bahkan rambut Alka kembali berwarna hitam.


"Apa iya waktu itu bukan Alka?" tanya Bagus yang membuat Devan menatapnya bingung.


"Terus kalo bukan Alka siapa?" Bagus mengangkat bahunya acuh.


"Jin mungkin?"


Devan mendelik pada Bagus.


"Jin aja takut sama Alka!" Bagus terkekeh lalu kembali menatap Alka dan Meira. Cewek itu tampak sangat berkonsentrasi mengobati luka Alka yang diam tak berkutik.


"Mereka serasi, yah?" Devan mengikuti arah pandang Bagus lalu mengangguk setuju.


"Yang satunya gak bisa diem, yang satunya lagi diem terus." Bagus terkekeh bersama Devan.


Kembali ke Meira dan Alka. Alka tampak tenang di obati oleh Meira, tapi berbeda dengan cewek itu. Batinnya tidak berhenti menjerit saat melihat wajah Alka yang begitu dekat dengannya.


"Ya Allah... Kak Alka ganteng banget diliat sedekat ini! Meira gak kuat Ya Allah!" batinnya menjerit.


"Astaga, Meira butuh oksigen lebih!" Meira tiba-tiba menjauhkan dirinya dari Alka saat dirasa pasokan oksigennya mengurang. Bagaimana tidak? Sekarang tinggal satu yang belum Meira obati, yaitu sudut bibir Alka. Dan Meira tidak mau pingsan mendadak saat mengobati bagian itu, apalagi jantungnya yang menggila hanya menatap Alka.


"Kenapa lo?" tanya Alka saat melihat tingkah Meira yang gugup.


"Ah? Eh... I-itu Me---"


"Kenapa gugup?" Meira membuang nafas kasar lalu memberikan kotak P3K itu dengan kasar pada Alka hingga sang empu mengernyit bingung.


"Kakak obatin aja sendiri lukanya! Jantung aku mau jatuh tau kalo liat muka Kak Alka deket gitu!" ucapnya tanpa sadar.


Detik berikutnya, Meira membulatkan matanya saat menyadari apa yang baru saja ia katakan. Tangannya bergerak menutup mulutnya yang menganga. Cewek itu menoleh menatap Alka yang memandangnya dengan alis terangkat satu dan senyum yang dikulum.


Meira semakin tidak berkutik.


"Ya Allah kapan sih Kak Alka jelek? Lebam-lebam gitu aja masih ganteng!" batinnya kembali menjerit gila.


"Kak Alka jangan liat aku kayak gitu! Aku deg-degan tau!" tanpa diperintah bibir Alka membentuk lengkungan tipis saat melihat kepolosan cewek itu.