![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Tangan rapuh yang sudah sedikit berkeriput itu terangkat mengelus surai hitam lebat milik Alka. Senyum kecilnya mengembang dengan lemah. Matanya menatap anak laki-laki yang tengah tertidur di tepi brankarnya.
"Al, bangun. Kamu harus skolah, nak." Dia berganti mengelus lengan Alka yang sudah terbalut jaket kulit hitam.
Alka sedikit terusik. Cowok itu perlahan menegakkan badannya lalu sedikit menguap.
Dia tersentak saat melihat Mamanya sudah bangun.
"Sejak kapan bangun?" tanya Alka. Dia menggenggam tangan rapuh itu.
"Baru aja," jawab Soraya. "Kamu gak ke skolah?" lanjutnya bertanya.
Alka menggeleng pelan. "Jagain Mama aja," katanya.
"Mama udah baikan, Al. Kamu ke skolah, gih."
"Tap---"
"Al...."
Alka menghela nafas lalu mengangguk. "Oke. Alka skolah." dia kemudian berdiri mencium kening Mamanya dengan sedikit membungkuk.
"Alka pamit," ucapnya.
Soraya tersenyum lalu menahan tangan Alka yang hendak pergi.
Alka yang sudah hampir berbalik pun menoleh. Menatap dengan tatapan bertanya pada Mamanya.
"Kenapa, Ma?" tanya Alka.
"Kamu bisa kan, bawa Meira ke sini pulang skolah?" tanya Soraya. Hati-hati.
Alka diam. Menatap mata Mamanya yang juga menyorot padanya dengan tatapan penuh harap.
Tangan Alka yang bebas terangkat mengelus tangan Mamanya.
"Dia sibuk, Ma. Nanti aj---"
"Plis..., Al. Mama mau ketemu Meira sebelum Mama operasi pengangkatan rahim."
Melihat raut wajah berharap itu Alka jadi tidak tega. Cowok itu kemudian menghela nafas pelan lalu tersenyum tipis dan mengangguk.
"Alka bakal bawa dia buat Mama."
Soraya tersenyum.
***
Lagi-lagi semua siswi SMA Garuda dibuat heboh dengan kedatangan cowok berparas diatas rata-rata itu. Seragam putih yang di keluarkan dan dua kancing teratas terbuka memperlihatkan kaos hitamnya. Cowok berwajah datar itu berjalan di koridor sekolah tanpa memperdulikan jeritan-jeritan para alayers.
Alka. Cowok itu merogoh saku celananya lalu mengeluarkan ponselnya. Mengetikkan jarinya diatas layar benda pipih itu lalu menempelkannya ke telinga kanan.
"Lo dimana?" tanyanya pada seseorang di seberang sana.
"Biasa. Belakang sekolah." Dia Ezra. Cowok yang menjadi lawan bicara Alka di telpon.
"Bagus? Devan?"
"Mereka juga ada di sini."
"Semuanya ada?"
"Iya. Eh, btw lo dimana? Kok, belum dateng juga? Bolos ya---"
Tut!
Alka memutuskan panggilan telpon lalu belok menuju kantin belakang sekolah. Tempat berkumpulnya anak-anak brandal. Itu pendapat orang-orang.
***
"Nih, kopi susu spesial buat orang spe---"
"Yah, elah, Al. Belum juga selesai udah nyerobot aja, lu." Itu Devan yang mengomel.
Tadinya cowok itu ingin memberikan sedikit quotes untuk kopi susu yang dia buat khusus untuk Alka. Namun semuanya gagal saat Alka lebih dulu menyesap kopi susu itu sebelum quotesnya selesai.
"Gak penting," seru Alka. Dia duduk dengan kaki kanan yang berada diatas paha kiri. Tangan kanannya terangkat mendekatkan gelas kopi susu tadi ke bibirnya.
Devan mendengus lalu duduk di depan Alka.
Bagus? Cowok itu tengah tertidur pulas di salah satu kursi panjang.
Ezra dan yang lainnya pun sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Lo kenapa telat?" tanya Devan. Mencomot bakwan yang ada di atas meja.
"Jagain nyokab." jawab Alka sekenanya.
Devan mengangguk. Dia menatap Alka sejenak lalu mengeluarkan ponselnya. Menyodorkannya pada Alka setelah membuka room chat seseorang di whatsapp.
"Dimas?" tanya Alka. Menatap Devan yang mengagguk.
"Dimas nyerah katanya. Dia gak bisa nemuin cewek itu." Devan menarik kembali ponselnya dan meletakkan di atas meja.
"Sampai mana pencarian Dimas?" tanya Alka. Dia menyimpan gelasnya.
"Dia bilang udah nyari ke seluruh kota Bandung. Bahkan setiap Kepala Desa, Rt, Rw. Semua udah dia tanyain tapi gak ada satupun yang tau siapa cewek itu."
Alka diam. Dia tampak berfikir, saking seriusnya kening cowok itu sedikit mengerut.
"Petunjuk apa aja yang Dimas punya?" tanya Alka lagi.
Devan kembali mencomot bakwan di hadapannya sedikit demi sedikit. "Dimas punya foto cewek itu, cuma foto waktu SD. Itupun fotonya gak jelas."
"Selain itu?"
Devan mengangkat bahu tak tahu.
Alka menghembuskan nafas pelan lalu mencoba mengingat sesuatu. Di seperkian detiknya dia menatap Devan yang juga menatapnya dengan alis terangkat.
"Lo ingat kan, siapa nama yang disebut Gilang sebelum dia pingsan?" tanya Alka setelah lama mengingat.
Alis Devan beralih menjadi kerutan. Cowok itu memutar keras otaknya pada beberapa tahun silam sebelum Gilang pingsan dan dinyatakan koma.
"Na-namanya A-anna. Tolong, ja-jagain adek gu-gue."
"Anna?!" Suara Devan hampir memekik.
"Yah, bener! Nama cewek itu Anna. Gue ingat banget sama nama yang disebut Gilang waktu itu." suara Devan menggebu semangat.
"Anna?" beo Alka. Cowok itu mengetuk-etukkan jarinya diatas meja dengan raut tenang.
"Anna siapa, sih?" itu celetukan Bagus yang baru saja datang dengan muka bantalnya. Bahkan mata cowok itu masih sedikit menyipit. Dia duduk di samping Devan.
Tak!
Satu jitakan mendarat di kepala Bagus. Dan itu dari Devan tentunya.
"Lo clubbing lagi yah, semalem makanya ngantukan gini?!" pekik Devan. Bertanya.
Bagus sontak menunjukkan cengirannya dengan tangan yang sibuk merapikan rambut gondrongnya.
Devan mendengus. "Bener-bener gak bisa tobat lo, yah. Ingat bro, jahannam waiting you!" cetus Devan.
Bagus mendelik. "Sok suci lo, kambing."
"Anna siapa sih, Al?" Bagus beralih pada Alka yang sejak tadi menatap mereka dengan malas.
"Kepo banget lo kayak Dora," cetus Devan lagi dengan mulut yang sibuk mengunyah.
Bagus menendang kaki Devan yang ada di bawah meja sedikit keras. "Sensi banget sih, lo dari tadi sama gue. Pms lo?" cerca Bagus.
"Menurut lo?" Devan bersahut lumayan sewot.
Bagus mendesis. "Gak jelas, lo." dengusnya.
"Anna itu adik Gilang."
Bagus beralih pada Alka yang mulai membuka suara. Mengabaikan Devan yang sibuk dengan bakwan.
"Anna?" beo Bagus. "Adik Gilang?" lanjutnya lagi.
Alka mengangguk. "Lo inget pesan Gilang sebelum pingsan?"
Bagus memutar otaknya pada kejadian beberapa tahun itu. Detik berikutnya dia mengangguk.
"Terus? Dimas yang ditugasin buat nyari dia di Bandung udah ketemu sama tuh, cewek?" tanya Bagus lagi. Melipat tangannya diatas meja lalu menatap Alka dengan serius.
Alka menggeleng. Cowok itu kemudian mengambil ponselnya dari dalam saku lalu mulai menelfon seseorang.
"Serius, Bang?" terdengar nada antusias dari seberang sana.
Alka berdehem lalu memutuskan panggilan. Dia kembali menyimpan ponselnya dalam saku celana.
"Apa yang bakal lo lakuin selanjutnya?" itu Devan yang bertanya meskipun masih sibuk dengan bakwan yang entah sudah habis berapa.
Alka mengangkat bahu acuh. Baru saja ingin bicara, dia di kagetkan dengan suara teriakan seseorang dari arah belakang Devan yang kebetulan membelakangi pintu masuk.
"HOLAAA ORANG TAMPAAN!!"
Siapa lagi cewek yang berani berteriak di depan anak-anak The Lion selain Meira?
"BUJUBUNENG!" Devan yang kebetulan sedang minum pun terpelonjak. Cipratan air dari mulut cowok itu dengan indah mengenai wajah Bagus yang kini sudah memejam dengan ekspresi jijik.
Cewek yang menjadi biang kerok itu hanya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tampak sekali dari wajahnya cewek itu sedang menahan tawa. Di sampingnya juga ada Dita yang memalingkan wajah dengan tawa yang dikulum.
Bella? Dia sibuk dengan kegiatan Osis yang baru saja dia tekuni.
Alka? Dia hanya duduk dengan tangan bersedekap seraya memasang wajah datar. Meskipun tadi sempat terkejut juga.
Devan perlahan berbalik dan menatap berang pada cewek yang tengah cengengesan dengan jari berbentuk 'V'.
Devan dengan gemas menghamburkan rambut yang kebetulan tergerai itu.
"Dasar lo kuntilanak! Jailangkung! Datang gak di jemput pulang gak di antar!" omel Devan di sela-sela kegiatannya menghamburkan rambut Meira.
Meira dengan semua tenaganya berusaha menyingkirkan tangan kekar milik Devan. Namun belum juga tangan Devan tersingkirkan, Bagus kian ikut menambahi setelah membersihkan wajahnya. Dia membantu Devan menghamburkan rambut Meira.
Merasa puas. Kedua cowok itu pun mengakhiri kegiatannya dengan tawa jahat penuh kemenangan. Keduanya tertawa lebar saat melihat rambut Meira yang sudah seperti sangkar burung.
Meira. Cewek itu mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Merapikan rambutnya dengan sebal lalu berjalan mendekat ke arah Alka. Duduk di samping cowok itu dengan tangan yang masih sibuk dengan rambutnya.
"Lo lebih cantik kayak gitu, Cil," seru Bagus dengan tawanya.
"Alka klepek-klepek dah, tuh, sekarang." Devan ikut menimpali.
"Bodo! Kak Devan sama Kak Bagus jahat!"
Bagus dan Devan kembali tertawa.
"Ulululu... Mei-Mei malaahh...." Devan tertawa begitupun Bagus.
"Dita! Belain Mei, dong!" cewek itu meminta pembelaan pada Dita yang sejak tadi hanya terkikik.
Dita mengangkat tangan tanda tidak ingin ikut campur. Meira kembali sebal dibuatnya. Bibir cewek itu sudah maju beberapa centi.
Dengan brutal Meira merapikan rambutnya lalu beralih menatap Alka yang tampak menahan senyum.
"Kak Alka kalau mau ketawa, yah, ketawa aja! Ngapain pake ditahan-tahan!"
Detik itu juga Alka terkekeh. Namun hanya kekehan pelan.
"Toilet ada di sana," ujar Alka kemudian dengan jari yang menunjuk sebuah bilik tak jauh dari mereka.
Meira mengikuti arah telunjuk itu lalu kembali menatap Alka.
"Kakak gak mau bantuin ngerapiin?" tanyanya dengan wajah polos.
Devan, Bagus dan Dita sudah duduk di dekat mereka. Sesekali menyaksikan dua orang yang memiliki sifat berbanding terbalik itu.
Alka mengangkat bahu. "Gue alergi orang gila."
Tawa Bagus dan Devan kembali pecah. Ucapan Alka yang berhasil membuat Meira melongo sungguh jadi hiburan tersendiri untuk mereka.
Dengan perasaan dongkol Meira berdiri. Dia menghentakkan kaki lalu berbalik menuju bilik itu.
Saat kaki Meira terhitung sudah melangkah dua kali. Kaki itu berhenti setelah mendengar suara Alka.
"Balik bareng gue. Nyokap gue mau ketemu."
Kalimat itu berhasil menyingkirkan kekesalan Meira. Dia perlahan berbalik, tapi sayangnya Alka sudah pergi. Menghilang perlahan di balik pintu kantin.
Meira yakin, itu kalimat yang ditujukan untuknya. Apalagi saat melihat ekspresi melongo dari Devan, Bagus dan Dita padanya.
***
Kedua insan manusia itu tengah berjalan di koridor rumah sakit yang cukup ramai. Cewek berseragam putih abu-abu itu berjalan dibelakang cowok yang berseragam sama dengannya.
Meira tersenyum menatap punggung kokoh yang penuh beban itu. Dia kemudian menyamakan langkahnya dengan Alka. Mendongak menatap cowok yang menjulang tinggi tengah jalan bersisiran dengannya.
"Kak,"
Alka menunduk sekilas menatap Meira, lalu kembali menatap kedepan. Berjalan dengan wajah datar seperti biasa serta kedua tangan yang tenggelam pada saku celananya.
"Kakak duluan aja, yah. Mei ada urusan bentar," seru Meira. Berharap Alka akan berhenti melangkah lalu bertanya padanya.
Namun, Meira harus menelan kekecewaan saat Alka hanya mengangguk kecil dan tetap berjalan. Benar-benar tidak ingin ambil pusing dengan urusan Meira.
Meira mencebikkan bibir lalu kembali menyusul Alka.
"Kak Alka gak mau nanya gitu aku mau kemana?"
Kaki Alka berhenti. Cowok itu memutar badannya menghadap Meira yang berdiri di sampingnya.
"Buat apa?" tanyanya. Benar-benar datar.
Meira menunjukkan senyum lebarnya. "Buat petunjuk, gitu."
Alis kanan Alka terangkat. Sebagai pertanda bahwa dia ingin jawaban lebih tanpa harus bersusah payah mengeluarkan kata-kata.
"Petunjuk kalau Kak Alka rindu. Siapa tau aja kan, Mei perginya lama terus Kak Alka rindu sama Mei. Nah, kalau Kak Alka tau Mei kemana kan, Kakak bisa nyamperin, Mei." cewek itu berseru riang.
Alka memutar bola matanya malas lalu kembali melangkah. Mulai berbelok di koridor menuju ruang rawat Mamanya.
Meira sendiri masih asik cekikikan setelah melihat raut malas Alka. Entah apa yang ada dipikiran cewek itu. Dia sangat menyukai saat Alka kesal atau memutar mata malas daripada berwajah datar atau dingin.
Cewek itu ikut berbelok namun masuk keruangan yang berada dalam jarak dua kamar antara ruang inap Mama Alka.
***
Devan. Cowok itu berjalan dengan senandung pelan di koridor rumah sakit. Jari telunjuk kanannya sibuk memutar-mutar kunci motornya sedangkan tangan kirinya menenteng kantung kresek.
Bagus? Entah kemana cowok itu sekarang. Mungkin sibuk dengan pdkt-nya dengan Dita.
Kembali ke Devan. Cowok itu berbelok ke koridor yang menuju kamar rawat Mama Alka.
Saat hendak memegang knop pintu. Matanya menangkap tubuh seseorang yang sangat dikenalinya. Mata tajam cowok itu memicing untuk menajamkan penglihatannya.
"Meira?" gumamnya setelah orang itu berbalik.
Tangan Devan yang hendak memegang knop pintu kini terangkat menunjuk rendah pada Meira bergantian dengan ruangan yang baru saja cewek itu kunjungi.
Dahi Devan berkerut keras saat mengetahui siapa pemilik ruangan itu.
"Kok, Meira keluar dari sana?" batinnya bertanya.
Tiba-tiba ingatan Devan terulang pada saat dia melihat Meira di rumah sakit ini beberapa bulan lalu yang mengatakan bahwa cewek itu sedang menjenguk kakaknya.
Sibuk berkelana dengan pikirannya. Tanpa Devan sadari Meira sudah berdiri di hadapannya dengan tangan melambai.
"Kak Devan."
"Kak!"
Devan tersentak. "Eh, ke-kenapa?"
Alis Meira sedikit bertaut. "Kak Devan ngapain ngelamun di koridor? Gak takut kesambet suster ngesot?" Meira sedikit bercanda.
Devan mendesis lalu menyentil pelan jidat cewek itu.
"Lo doain gue kesambet, yah?" cerca Devan.
Meira terkekeh lalu menggeleng. "Becanda kali. Dasar Kak Devan, baperan!"
Devan mendelikkan bibirnya. Di detik berikutnya ekspresi cowok itu berubah menjadi serius. Dia menatap Meira dan ruangan yang dia sangat kenali itu bergantian.
"Lo ngapain di kamar itu?" tanya Devan. Menujuk ruangan tersebut dengan dagunya.
"Dari jengukin Kakak aku," jawab Meira. "Emang kenapa, Kak? Kok, Kak Devan kaget gitu?" Meira bertanya heran. Bingung dengan ekspresi Devan yang terkejut.
"Siapa nama kakak lo?" tanya Devan lagi. Sekarang ekspresi cowok itu benar-benar serius.
"Kak Gilang. Gilang Abraham."
Mata Devan sukses membulat. Dia berkedip dua kali setelah menyerap jawaban Meira. Telunjuk kanannya perlahan menunjuk Meira dengan tatapan tak percaya.
"Jadi lo adalah Anna?"