![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Meira turun dari tangga dengan wajah tidak bersemangat menuju meja makan. Dia sudah lengkap dengan seragam rapi dan rambut polos tanpa jepitan kecil ataupun bando. Tas ransel berwarna merah muda lucu tersampir di pundak kanannya.
"Kenapa sih lemes amat kayak gak makan seharian," celetuk Hanin. Wanita itu menyajikan beberapa makanan di atas meja.
Meira mendengus pelan. Kejadian tadi malam di mana Alka kembali memarahinya ternyata berdampak pada semangat hidupnya. Ada rasa kecewa sekaligus malu hingga rasanya semangat Meira lenyap begitu saja.
Meira kecewa karena ternyata Alka tidak pernah sedikit pun mengkhawatirkannya atas diri cowok itu sendiri. Dan Meira malu dengan dirinya yang terlalu berharap lebih pada Alka.
Tapi mau di apa? Alka adalah sesosok yang mudah meruntuhkan pertahanan Meira untuk mundur.
"Nah, kan, bengong."
Suara Hanin membuyarkan lamunan Meira. Tidak lama kemudian Arya ikut bergabung dengan mereka, duduk di kursi paling ujung disusul Hanin yang menyiapkan makanan untuknya, lalu duduk di samping Arya. Arya memberikan senyum manis pada Hanin.
Meira menghela nafas pelan lalu tersenyum melihat keharmonisan Mama dan Papanya. Sejenak Meira berfikir, akankah nanti keluarga kecilnya bisa sebahagia Mama dan Papanya?
Meira menggelengkan kepalanya. Oke, ini pemikiran yang terlalu jauh untuk anak kelas dua SMA labil seperti Meira.
"Semangat dong, sayang. Kamu kenapa, sih?" tanya Hanin, lagi.
Meira menggeleng pelan dengan menyuapkan nasi goreng buatan Hanin ke mulutnya. Sebuah elusan di kepala Meira memaksanya mendongak menatap sang empu.
Arya. Pria itu memberikan senyum hangat pada Meira. "Apa yang buat putri Papa ini gak ceria lagi, hm?" tanya Arya.
Meira menurunkan tangan Arya dari kepalanya lalu memerasnya lembut. "Mei, gakpapa kok, Pa. Cuma sedikit pusing aja," ucapnya. Dengan harapan Arya akan mempercayainya.
Arya mengangguk. "Yaudah, kalau gitu kamu sarapan yang banyak. Entar di antar sama Pak Hendra." Arya kembali fokus pada makanannya. Berbeda dengan Hanin yang sesekali mencuri pandang pada Meira.
Wanita itu tampak tidak percaya. Naluri seorang ibunya mengatakan bahwa anaknya itu sedang 'kenapa-napa'.
Meira mengangguki perkataan Arya. Dia memang dari awal ingin berangkat dengan Pak Hendra lebih awal. Sekedar menghindari Alka yang mungkin akan menjemputnya jam 06:15 nanti.
Tentu, sebagai amanah dari Gilang.
Memang apa lagi?
***
Setelah berpamitan dengan Arya dan Hanin. Meira melangkahkan kaki mendekat pada Pak Hendra yang mengelap mobil di dekat pos. Meira menilik arloji putih kecil di pergelangan kirinya. 06:05.
Meira menghela nafas kecil. Demi menghindari Alka dia rela bangun pagi dan berangkat lebih awal. Bukan karena Meira menyerah pada perasaannya, dia hanya butuh waktu untuk menata hatinya yang kembali di lukai oleh perkataan Alka.
"Masih lama, yah, Pak?" tanya Meira pada Pak Hendra.
"Bentar lagi, Non. Lima menit."
Meira hanya mengangguk saja. "Saya tunggu di luar gerbang aja , yah, Pak." Meira kemudian melongos begitu saja setelah mendapat persetujuan dari Pak Hendra.
Belum sempat kaki Meira sepenuhnya keluar dari gerbang, sebuah motor sport yang sangat dikenalinya lebih dulu terparkir di sana. Jangan lupakan pula cowok bercelana abu-abu SMA dengan boomber hijau Army serta helm fullface hitam di motor itu.
Meira meneguk ludahnya susah payah. Rencananya untuk menghindari Alka ternyata gagal.
"Gue tau lo bakal menghindar," ucap Alka, setelah membuka helmnya yang kemudian diletakkan di atas tangkih.
Meira memalingkan wajah, menggenggam erat-erat tali tasnya. Dia tidak boleh luluh dengan cowok terlewat dingin itu!
"Buruan naik," seru Alka.
"Gak usah. Mei bareng Pak Hendra aja. Aku gak mau repotin Kak Alka lagi," sahut Meira, tanpa menatap Alka. Matanya bergerak bebas mencari objek yang tepat untuk menghindari tatapan Alka.
Meira menjatuhkan pandangannya pada Alka dengan wajah yang sedikit terlihat kesal. "Lagian siapa yang nyuruh Kak Alka buat bangun pagi? Gak ada, kan? Yah, udah sana pergi aja. Mei ada Pak Hendra, kok!" Meira ketus. Nada yang baru terdengar di telinga Alka. Cowok itu sedikit tertegun mendengarnya.
Alka menghela nafasnya. Dia tetap menatap Meira yang kembali memalingkan wajah.
"Jangan buat gue ngerasa bersalah lagi. Gue gak mau Gil---"
"Gak mau Kak Gilang anggap Kak Alka gagal jagain Mei? Tenang aja, nanti biar Mei yang ngasih tau Kak Gilang. Lagian Kak Gilang juga masih koma, gak bakalan tau kalau gak di kasi tau. Kakak duluan aja, jangan buat mood Mei makin berantakan!"
Alka kembali terpaku. Cewek itu kembali menyentaknya dengan nada kesal. Tapi entah kenapa terdengar menggelikan di telinga Alka, ditambah dengan wajah memerah menahan kesal dan bibir yang sedikit maju.
Alka mengulas senyum tipis lalu turun dari motornya. Berdiri tepat di hadapan Meira yang hanya sebatas dadanya.
"Mau apa lagi, sih? Sana pergi!" usir Meira, tanpa menatap Alka.
Alka diam beberapa detik lalu merogoh sesuatu di tas tipis hitamnya. Sesuatu berbentuk balok dengan bungkusan berwarna coklat dan gambar kacang almond di pembungkusnya.
Cowok itu menyodorkannya di depan Meira. "Gue gak tau kenapa mau aja beli ini buat lo. Gue juga gak tau kenapa harus banget bujuk lo pake coklat ini. Tapi yang gue tau, sesuatu yang manis-manis biasanya bisa buat mood cewek naik."
Catat, itu pertama kalinya Alka berbicara panjang lebar di depan Meira, tanpa nada datar pula. Dan jika saja cewek itu sedang tidak dalam mode merajuk, mungkin dia akan histeris kegirangan.
Meira menatap coklat batang yang di sodorkan Alka dengan perasaan campur aduk. Antara senang dan kesal.
Senang karena Alka memberikan coklat yang Meira yakin Alka tidak akan pernah mau membeli benda itu untuk cewek. Dan kesal karena sikap Alka yang tiba-tiba manis.
Bukannya cowok itu menyuruh Meira untuk menyerah tadi malam? Lalu kenapa pagi ini, dia datang dengan sikap manis yang dalam hitungan detik mampu membuat harapan Meira membumbung tinggi lagi?
Meira kembali memalingkan wajahnya sekilas sebelum mendongak menatap Alka.
"Kakak ngapain ngasih aku coklat? Kenapa tiba-tiba bersikap manis? Kenapa mau aja bujukin aku? Kenapa juga pusingin kalau aku mungkin marah? Bukannya tadi malam Kakak nyuruh aku buat nyerah? Terus kenapa sekarang Kakak malah datang dengan sikap yang malah semakin membuat harapan aku melambung tinggi?"
Alka bergeming mendengar berbagai macam pertanyaan itu. Jujur, pertanyaan-pertanyaan yang Meira ajukan juga adalah semua pertanyaan yang sejak kemarin menganggunya, hingga meminta saran dari Ezra.
Dan inilah saran yang sahabatnya itu berikan. Membujuk dengan sebuah coklat.
"Kakak mau permainin hati aku? Habis dijatuhkan diterbangkan lagi, habis itu kembali di jatuhkan!"
Alka tersentak dari lamunannya. Dia diam beberapa detik lalu memutar tubuh Meira dan membuka resleting tas cewek itu.
"Kak Alka ngapain, sih?!" protes Meira, namun Alka menghiraukannya.
Alka memasukkan coklat tadi ke dalam tas Meira lalu menutupnya kembali dan memutar tubuh cewek itu menghadapnya.
"Gak usah ngoceh. Udah telat." Alka menarik tangan Meira ke motornya. Memaksa cewek itu untuk duduk di jok belakang.
Meira hanya mendengus lalu menurut. Perasaannya bercampur aduk hingga tidak bisa lagi menolak Alka.
Alka memakai helm lalu menyalakan mesin. Dia sempat menoleh kepada Meira sekilas.
"Btw, coklat itu Ezra yang saranin buat beli."
Meira memukul kesal lengan Alka. Benar kan? Setelah Alka menerbangkannya dengan sikap manis cowok itu, Meira kembali dijatuhkan dengan fakta yang sebenarnya.
🦁
🦁
🦁