[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 8



Semua anggota The Lion berjejer rapi dengan pandangan tertunduk di apartement milik Alka. Alka berdiri di hadapan mereka dengan aura mencekam.


"Kenapa ini bisa terjadi?" Alka bertanya dengan suara rendah namun dapat membuat kaki anak The Lion bergetar takut akan kemarahan seorang Alka.


Semuanya diam, tak ada yang berani menjawab satu kata pun. Bahkan Bagus dan Devan ikut bungkam.


Brak!


Alka menendang meja tak berdosa yang ada di sana hingga membuat anggota The Lion tersentak kaget. Tatapan cowok itu begitu mematikan bagi siapa saja yang menatapnya.


"GUE NANYA!!" Alka berjalan mendekat ke arah mereka. "Apa pernah gue ajarin kalian buat serang mereka tanpa aba-aba dari gue?" serempak anggota The Lion menggeleng.


"TERUS KENAPA?!" amarah Alka benar-benar memuncak, tak ada lagi raut tenang khas miliknya. Rasanya ia seperti dikhianati saat anggotanya bergerak tanpa arahan darinya. Ketua mana yang tidak marah?


Devan maju selangkah kehadapan Alka.


"Gu-gue yang bakal jelasin," ucapnya gugup. Alka mengangguk.


"Tadi siang kita asik main game online bareng. Tapi tiba-tiba hp Adnan bunyi, dia minta izin buat angkat telfon kita ijinin, tapi Malik bilang kelakuan Adnan agak aneh, dia keliatan ketakutan pas angkat telfon. Awalnya gue bilang mungkin perasaan Malik aja, tapi Malik tetap yakin kalo ada yang gak beres sama Adnan. Akhirnya kita mutusin buat ikutin kemana Adnan angkat telfon dan dugaan Malik benar, ada yang gak beres dengan Adnan. Kita dengar dia laporin ke Petra tentang rencana pembalasan dendam kita gara-gara Petra yang buat Gilang koma." Devan menjeda ucapannya sejenak.


"Apa lagi yang Adnan bilang?" tanya Alka datar.


"Dia juga bilang kalo... Kalo ada cewek yang deket sama lo," Devan tampak ragu mengatakannya, namun bagaimana pun dia tidak ingin ada kebohongan lagi di antara mereka.


"Siapa?"


"Meira." Alka tersentak kaget sejenak tapi dengan cepat cowok itu kembali bersikap normal.


"Terus?"


"Gue denger Petra mau gunain Meira sebagai umpan kita. Da-"


"Kenapa harus Meira?!" sentak Alka.


Bagus ikut maju satu langkah kehadapan Alka.


"Tanpa sadar Meira udah masuk ke dalam dunia The Lion, bahkan jauh sebelum kita kenal Meira sudah masuk ke dunia kita." Alka memandang Bagus dengan alis mengernyit.


"Maksud lo?"


"Sejak pertama kali lo nolongin Meira dari anak Geng Srigala yang kroyokin lo waktu itu, lo tanpa sengaja udah seret Meira ke dunia kita."


Alka bungkam. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya karena tanpa sadar telah menyeret gadis polos itu masuk ke dunia gelapnya.


"Sekarang hal yang harus lo lakuin adalah..." Devan menggantungkan ucapannya lalu menepuk pundak Alka. "...lindungi Meira!"


***


Aroma obat-obatan memenuhi indra penciuman Alka ketika berada di dalam kamar rawat Mamanya. Cowok itu duduk di sofa dengan pandangan lurus seolah memikirkan sesuatu.


Kejadian pengkhianatan Adnan berhasil membuat pikirannya kacau, belum lagi kondisi Mamanya dan juga keselamatan Meira yang terancam akibat ulahnya yang sembarangan menolong orang. Tapi bagaimana jika saja Alka tidak menolong Meira waktu itu?


Helaan nafas kasar keluar dari mulutnya. Alka menidurkan kepalanya ke sandaran sofa. Satu hal lagi yang belum terselesaikan hingga saat ini.


Pembalasan akan Gilang yang koma akibat Petra! Gilang adalah sahabat baik Alka juga anak-anak The Lion. Dan jangan lupakan juga bahwa Gilang adalah penyelamat bagi Alka.


Flashback on:


"Aaarrgghh!" Alka kecil menutup rapat-rapat matanya dengan badan meringkuk takut saat harimau itu melompat ke arahnya.


1 detik...


2 detik...


3 detik...


Alka kecil tidak merasakan apapun. Perlahan mata hitam itu terbuka sedikit demi sedikit hingga akhirnya melebar saat melihat harimau itu terkapar tak berdaya di hadapannya dengan dua anak panah yang menancap di tubuh harimau itu.


"Kamu gak-papa?" Alka kecil menoleh ke arah suara. Di pintu gubuk terlihat anak laki-laki berusia 10 tahun yang berjalan kearahnya dengan tangan kanan memegang busur.


"Ka-kamu siapa?" tanya Alka kecil sedikit takut.


Anak laki-laki itu tersenyum lalu melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Alka. Setelah itu Alka bergerak menjauh, matanya menatap takut ke arah anak laki-laki itu.


"Kamu kenapa takut? Aku bukan orang jahat kok." perlahan raut wajah Alka kecil berubah menjadi sedikit tenang.


"Kamu siapa?" tanya Alka kecil.


Anak laki-laki itu berjalan mendekati Alka lalu mengulurkan tangannya sebagai tanpa perkenalan pada Alka.


"Aku Gilang Abraham, kamu bisa panggil aku Gilang." Ucapnya seraya tersenyum. Alka dengan ragu membalas uluran tangan anak laki-laki bernama Gilang itu.


"A-alka..."


"Senang bertemu kamu Alka, adik kecil!" Gilang tertawa lalu mengacak rambut Alka yang hitam.


"Kamu mau temenan sama aku?" Alka kecil mengangguk dengan polosnya.


"Kamu kenapa bisa diikat disini? Apa kamu di culik?" Alka kecil kembali mengangguk.


"Yasudah! Kamu ikut aku yuk? Kita kabur sekarang!"


Alka mengangguk lalu mengikuti Gilang yang telah berhasil menyelamatkannya dari serangan harimau dan kurungan iblis.


Flashback off


Alka menghela nafas kembali. Cowok itu berjalan ke arah brankar Mamanya. Di tatapnya wajah tirus yang tengah terlelap itu. Alka mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Mamanya cukup lama.


"Alka pamit."


***


"Kamu gak ke rumah sakit Mei?" Meira menoleh ke arah Mamanya yang baru saja duduk di sampingnya.


Meira menggeleng kecil lalu menunduk.


"Meira gak kuat Ma..." wanita paruh baya itu tersenyum lalu mengelus puncak kepala anaknya.


"Kenapa sayang?" Meira bergerak memeluk Mamanya.


"Setiap Meira jengukin dia hati Meira selalu sakit Ma. Meira yang udah buat dia seperti itu."


"Ssttt... Jangan ngomong gitu sayang. Ini bukan salah kamu, dia ngelakuin itu karna dia sayang sama kamu."


Tanpa terasa air mata Meira keluar dari sudut matanya.


"Tetap aja Ma, Meira gak kuat liat dia..." Hanin– Mama Meira, mengecup puncak kepala anaknya.


Meira mengangguk.


"Meira, kamu mau janjikan satu hal sama aku?" cowok remaja berusia sekitar 12 tahun itu menatap anak perempuan di hadapannya yang umurnya berkisar 6 tahun.


"Janji apa kak?" tanya anak perempuan itu.


"Kamu jangan pernah sedih yah? Kamu juga jangan pernah salahin diri kamu sendiri kalo ada masalah yang nimpa kamu! Oke?"


"Kenapa harus gitu?" anak cowok itu mengacak rambut Meira dengan gemas.


"Karna aku sayang sama Meira! Aku gak mau Meira aku sedih!" Meira tersenyum senang lalu memeluk anak cowok itu.


"Aku sayang sama kakak..."


"Aku juga sayang sama Meira..."


Meira melepaskan pelukan dari Mamanya lalu menyeka airmatanya.


"Entar malem aku jengukin dia. Mama mau nemenin aku?"


Hanin tersenyum lalu menggeleng.


"Mama harus ke pesta pernikahan temen Mama entar malem nak."


"Yaudah Meira pergi sendiri aja."


***


Seperti yang ia katakan tadi pada Mamanya, malam ini Meira akan pergi menjenguk seseorang di rumah sakit. Cewek itu sudah siap dengan dres putih selutut dan juga flat shoes serta make up tipisnya.


"Meira pamit yah Ma?" Meira mencium punggung tangan Hanin.


"Hati-hati sayang!" Meira mengangguk lalu keluar dari rumah.


Mobil hitam mewah yang di pakai olehnya malam ini melaju meninggalkan pekarangan rumahnya menuju rumah sakit CITRA MEDIKA.


Beberapa menit kemudian mobil itu telah sampai di parkiran rumah sakit. Tak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, kaki mungil putih itu mengayun memasuki rumah sakit.


Meira tampak sedikit berbincang dengan resepsionis rumah sakit lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar orang yang akan dia jenguk malam ini.


"Kamar nomor 102!" gumamnya saat dirinya sudah berada di depan pintu kamar yang resepsionis tadi beritahukan padanya.


Tangan mungil itu dengan hati-hati memutar knop pintu. Tiba-tiba saja jantungnya berdegub cepat saat pintu itu sedikit terbuka hingga menampakkan cowok berwajah tampan yang tengah terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan di hidung mancungnya.


Meira mengambil nafas sejenak lalu melangkah masuk. Aroma obat-obatan yang memuakkan tak terelakkan lagi di hidung Meira. Dengan senyum getir cewek itu melangkah mendekat ke brankar cowok itu.


"Ha-halo Kak... Apa kabar?" Meira duduk di kursi samping brankar cowok itu lalu menggenggam tangan cowok tersebut.


"Kakak denger Meira kan?" suara parau diikuti dengan airmata yang menetes, Meira mengelus punggung tangan cowok itu.


"Ma-maafin Mei Kak... Mei udah jadi penyebab Kakak seperti ini..." Meira terisak di punggung tangan cowok itu. Air matanya entah sudah beberapa tetes membasahi pipinya.


Hening beberapa saat sebelum Meira kembali berbicara.


"Bangun Kak... Meira sayang sama Kakak..." Meira menghapus jejak air matanya lalu tersenyum kecil menatap wajah tampan dan damai itu.


"Cepet bangun yah Kak? Meira nungguin Kakak di sini. Meira mau cerita banyak sama Kakak, apalagi setelah kepindahan aku ke Garuda. Aku pengen banget cerita semuanya ke Kakak, tapi Kakak belum bangun. Jadi, yaudah! Mei tunggu sampai Kakak bangun."


Meira berdiri dari duduknya lalu mengecup singkat pipi cowok itu.


"Baik-baik yah Kak, aku tau Kakak pasti denger suara aku yang merdu ini." Cewek itu terkekeh di akhir kalimatnya lalu mengelus rambut cowok itu yang sedikit lebat.


"Mei pamit yah? Di rumah cuma ada bi Lastri sama pak Anton nanti mereka ke asikan lagi berduaan kalo gak ada Mei."


Meira memperbaiki selimut cowok itu lalu keluar dari kamar rawatnya.


***


"Lo kenapa sih Al? Dari tadi kek orang emosi begini! Bahkan lo mukul samsak tanpa kain tinju!" Bagus mendesah frustasi saat Alka terus memukul samsak tanpa mendengar ucapannya.


"Kalo lo ada masalah cerita sama kita Al! Jangan malah kek gini, dan ini bukan lo banget tau? Alka yang kita kenal selalu bersikap tenang dan gak emosian kayak gini!" imbuh Devan sedikit kesal.


Alka berhenti meninju samsak lalu berbalik menatap Bagus dan Devan secara bergantian.


"Gue emang bukan Alka!"


Bagus dan Devan terkejut bersamaan saat suara berat itu berbeda dari suara berat milik Alka, walau hanya beda sedikit namun mereka masih bisa mengetahui suara Alka yang memiliki serak khas tersendiri.


Alka maju satu langkah ke hadapan Devan dan Bagus. Lagi-lagi kedua cowok itu terkejut saat menatap mata Alka yang sangat hitam berbeda dari biasanya. Dengan cepat Bagus melihat ke arah punggung tangan kiri Alka, dan di sana terdapat tatto kalajengking misterius itu.


"L-lo siapa sebenarnya?" Bagus dan Devan mundur saat Alka semakin dekat berjalan ke arah mereka dengan seringai yang mengerikan dari sebelum-sebelumnya.


"Keluar lo Jin! Lo jin yang masuk ke tubuh Alka kan?! Jawab?!" Diam-diam Bagus menepuk jidatnya saat dengan polosnya Devan mengira Jin-lah yang ada dalam tubuh Alka.


"Al? I-ini kita, sahabat lo! Gue Bagus dan ini Devan." Alka tidak mengubris perkataan Bagus, cowok itu melangkah semakin dekat.


Bugh!


Bugh!


Masing-masing dari Bagus dan Devan mendapat bogeman mentah dari Alka.


"ALKA SADAR!!" Devan berteriak. Rasa takut melingkupi keduanya saat Alka menyeringai tajam ke arah mereka.


Bugh!


Bagus tersungkur oleh tendangan Alka saat dia mencoba maju kehadapan Alka.


"Ini gak bisa dibiarin!" dengan keberanian yang tersisa Devan menyerang Alka juga. Bukannya ingin menyakiti Alka, namun dia sadar akan sesuatu yang tidak beres terhadap diri Alka belakangan ini.


Bagus bangkit lalu ikut menghajar Alka membantu Devan yang sudah kualahan karena serangan Alka yang membabi buta.


Bugh!


Alka tersungkur ke samping saat Bagus menendang lengannya. Dengan senyum miring yang mengerikan Alka bangkit lalu membalas Bagus.


Perkelahian ketiga cowok itu berlangsung cukup lama. Hingga saat Alka mengeluh sakit barulah mereka berhenti.


Alka tampak memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit. Kejadian kelam di masa lalu melintas dalam otaknya. Sangat terlihat jelas saat Megan menyiksanya di gubuk gelap itu dan di gudang rumahnya tanpa ampun.


"Lo oke Al?" tanya Bagus panik.


Detik berikutnya Alka ambruk ke lantai dengan mata terpejam.