[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 22



"Mei, lo udah ngerjain tugas kimia yang dikasi sama bu Anggi, gak?" Dita duduk di samping Meira dengan sebuah buku tulis dan pulpen.


Meira mengangguk. "Iya, aku udah selesaiin." jawabnya.


Dita berseru semangat. "Tumben, lo cepet. Gue pinjam, yah, hehe." Dita menunjukkan cengirannya pada akhir kalimat.


Meira mulai membuka tasnya lalu mengambil buku kimia yang ia sampul berwarna biru. Ia menyodorkan buku itu pada Dita. "Nih, Dita liat aja. Itu aku di bantuin sama Kak Bima."


Dita mengambil buku itu dengan sedikit kerutan di dahinya. "Jadi benar lo dekat sama Kak Bima?" tanya Dita. Mulai menyalin huruf-huruf yang ada di buku Meira ke bukunya.


Meira mengangkat bahu tak tahu. "Aku gak tau dekat atau enggak. Soalnya baru beberapa hari ini kenal sama Kak Bima. Dia juga orangnya baik, ramah, jadi gampang akrab," jelas Meira dan dibalas anggukan kepala oleh Dita.


"Emang, sih. Kak Bima orangnya ramah, bijaksana juga. Cocok banget sama posisinya yang jadi ketos di sini."


Meira berdehem. "Hm, tap---"


"Huaaa... Pagi Ditaa, Pagi Meiii," itu suara Bella yang baru saja memasuki kelas dengan wajah senang.


Dita mendongak sekilas. "Kenapa lo? Teriak-teriak kayak tarzan." Dita kembali fokus pada catatannya.


"Bella kenapa?" timpal Meira bertanya.


Bella tersenyum lebar lalu duduk di kursi depan. Tepat di hadapan Dita dan Meira. "Kalian berdua tau, gak?"


Meira dan Dita serempak menggelengkan kepala. "Gak," jawab mereka bersamaan.


"Gue di tebengin sama Kak Bima. Gila, tau gak?!" Bella berseru riang. Membayangkan wajah Bima dan dirinya yang ada dalam satu mobil.


Dita dan Meira saling melempar pandangan lalu kembali menatap Bella yang terlihat sangat bahagia.


"Sejak kapan lo se-alay ini cuma karna di anterin sama Kak Bima?" tanya Dita. Memicingkan matanya menatap Bella. Kegiatan menyalinnya sudah selesai beberapa detik yang lalu.


"Bella suka sama Kak Bima, yah?" Meira menunjuk wajah Bella dengan ekspresi menggoda.


Bella gelagapan. "Ah, eh, i-itu, gue cum-cuma, kagum aja sama di---"


"Lo gak bisa boong sama gue Bel, lo suka kan, sama Kak Bima?" Dita berceletuk.


Bella menghela nafas pelan. Mengangguk dengan ragu di hadapan Meira dan Dita yang menunjukkan ekspresi sedikit terkejut.


"Secepat itu?" tanya Meira.


"Hm, kayaknya gue suka sama Kak Bima pada pandangan pertama, deh."


Tak!


Itu jitakan Dita di kepala Bella. "Sinting, lo. Itu bukan cinta pandangan pertama. Lo udah berkali-kali liat Kak Bima, dodol," kelakar Dita, tak santai.


"Santai aja kali, lo." Bella mencebikkan bibirnya. "Gue gak peduli itu cinta pandangan keberapa, yang jelas gue udah suka sama Kak Bima sejak hari ini!" tegas Bella.


Dita memutar matanya malas. Meira sendiri ia masih sibuk dengan fikirannya.


"Mei," tegur Bella.


Meira terkesiap. "Hm, kenapa Bel?"


"Lo kok, diam, aja? Lo gak suka sama Kak Bima, kan?" Mata Bella memicing curiga.


Meira terkekeh. "Bella apaan, sih. Kan, Bella tau kalau aku sukanya sama Kak Alka. Masa iya, aku suka Kak Bima juga."


"Tapi kata Kak Naila lo sering sama Kak Bima."


"Oh itu, waktu itu aku gak tau soal kimia sama fisika yang di kasi guru. Terus ada Kak Bima yang nawarin bantuan. Yah, namanya rejeki gak boleh di tolak, kan?" Meira terkekeh di akhir kalimatnya. Begitupun dengan Bella.


"Terus waktu, lo berangkat bareng?" tanya Bella lagi.


"Waktu itu aku nunggu taksi tapi gak ada. Kuota aku juga abis buat pesan online. Terus gak sengaja ada Kak Bima lewat karna kebetulan rumah kami satu kompleks."


Bella memgangguk mengerti. "Mei?"


"Iya?"


"Lo mau gak, bantuin gue deket sama Kak Bima?"


***


"Lo sendiri gimana sama Kak Bagus, Dit?" tanya Bella. Menyeruput sedikit bubble tea miliknya.


Ketiga cewek itu—Dita, Bella dan Meira—sedang berada di kantin. Suasana kantin kali ini cukup ramai, tapi sepi bagi Meira. Alka tidak ada di sini, mungkin itu sebabnya ia merasa sepi.


"Biasa aja," balas Dita cuek. Menggigit cireng yang ia beli bersama Meira tadi.


Alis Bella berkerut. "Kok, gitu? Bukannya lo sering jalan sama Kak Bagus, yah?"


Dita mengangkat bahu acuh. "Sering, sih. Tapi gak tau gimana, gak ada kepastian."


Mulut Bella membulat dengan ekspresi menggoda. "Jadi lo butuh kepastian, nih? Hm?" Bella menaik turunkan kedua alisnya menggoda Dita.


Dita sedikit gelagap, sedangkan Meira hanya terkekeh geli. "A-apaan, sih. Enggak, yah!"


"Tapi kenap---"


"WOY!! SEKOLAH KITA DI SERANG! AMANIN DIRI KALIAN!"


Teriakan seorang laki-laki dari arah pintu kantin membuat isi kantin seketika ricuh. Begitupun dengan Dita dan Bella, keduanya terkejut. Sedangkan Meira ia sibuk dengan pikirannya.


Semua orang sudah berlarian keluar kantin. Tak peduli apa dan siapa yang mereka tabrak.


"Mei, ayo! Kita ke aulah sekarang. Sekolah kita di serang!" Bella memekik dibantu Dita menarik tangan Meira.


Meira menghempaskan tangan keduanya. "Gak! Aku mau cari Kak Alka. Dia dalam bahaya."


Dita dan Bella menatap tak percaya pada Meira. "Lo gila?! Ini bahaya Mei!" pekik Dita, membentak.


"Itu sebabnya aku mau cari Kak Alka!" balas Meira.


"Alka aman, Mei. Ini bukan pertama kalinya terjadi, gue jamin Alka pasti ba-- Mei, Mei lo mau kemana, hah?!" Teriakan Bella menggelegar saat Meira berlari keluar kantin begitu saja.


Meira, cewek itu terus berlari menyusuri koridor, tak peduli pada siswa ataupun guru yang ia tabrak. Saat ini pikirannya di penuhi nama Alka.


Suara kaca jendela yang pecah begitu memekakkan telinga, suara deruman motor dan suara perkelahian semakin nyaring di telinga Meira.


Bagus, Devan dan anggota The Lion lainnya juga terlihat sibuk dengan lawan masing-masing. Nafas Meira tercekat, ia mengangkat tangannya untuk menutup mulutnya sendiri saat balok salah satu cowok itu berhasil menghantam punggung kekar Alka.


Beberapa seruan dan teriakan siswa serta guru yang memanggil  namanya tak lagi Meira pedulikan. Cewek itu berlari mendekat pada gerbang. Membukanya lalu masuk menerobos sekelompok orang yang tawuran itu. Beberapa tinjuan dan serangan senjata hampir saja mengenai dirinya jika Meira tidak berusaha menghindar.


"MEIRA?!" teriakan itu sukses membuat beberapa anggota The Lion sadar, termasuk Alka. Mereka memandang pada satu objek.


Alka menggeram penuh amarah dari kejauhan. Ia mengepalkan tangannya lalu segera menghabisi dua cowok yang tersisa. Setelah berhasil, ia berlari menghampiri Meira. Menarik dengan kasar pergelangan cewek itu menuju taman belakang.


***


"LO NYARI MATI, HAH?!" Alka membentak penuh emosi pada Meira yang tertunduk.


"Ngapain lo terobos tawuran itu? Lo udah bosan hidup? Kalau lo udah bosan hidup, sana gantung diri! Atau enggak terjun dari tebing!" cerca Alka emosi. Nafas Alka memburu, menyorot tajam pada Meira.


Hiks!


Isakan dari cewek itu membuat Alka berdecih. Jari telunjuknya mengangkat dagu Meira. Tampaklah mata bulat yang selalu ceria itu kini memerah dengan genangan air di pelupuknya.


"Gak usah nangis! Gak ada gunanya juga lo nangis!" Alka menyentakkan wajah Meira.


Meira mengusap kasar air matanya lalu memberanikan diri menatap mata Alka yang menyorot tajam padanya.


"Aku cuma khawatir sama Kakak! Aku gak mau Kak Alka kenapa-napa, apa aku sala---"


"Gue gak perlu di khawatirin sama, lo!" Alka kembali membentak Meira. "Kekhawatiran lo gak ada artinya bagi gue. Lo cuma cewek sok jagoan yang selalu ikut campur urusan gue dan teman-teman gue!"


Meira menatap tak percaya pada Alka. Air matanya yang entah sudah berapa tetes tak lagi ia pedulikan. "Jadi selama ini aku gak ada artinya bagi Kakak?"


"Yah! Lo cuma benalu yang selalu nempel kemana-mana." Alka menunjuk tepat pada mata Meira. "Sejak awal lo datang gue diam, bukan karna gue nerima keberadaan, lo. Tapi gue cuma ngehargain perasaan lo sebagai cewek."


Alka memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Tapi kali ini gue gak bisa diam, aja. Lo terlalu nekat, lo gak tau siapa gue, siapa Bagus, siapa Devan dan siapa The Lion! Tapi sikap lo seolah-olah lo tau kita. Lo di diemin makin ngelunjak tau gak?!"


Alka menyorot tajam pada Meira lalu berbalik meninggalkan cewek itu.


"Aku tau. Kak Alka ngomong kayak gini karna Kakak khawatir, kan sama aku? Kakak takut, kan, kalo misalnya aku kenapa-napa tadi?"


Alka membalikkan badannya. Memandang remeh pada cewek itu. "Segitu putus asanya lo sama gue, sampai-sampai lo berani nyimpulin, itu?" Alka terkekeh sumbang. "Gue, khawatir sama lo?"


Alka mendekatkan dirinya pada Meira. Membungkukkan diri agar wajahnya sejajar dengan wajah cewek itu. Ia kemudian menjentikkan jarinya di depan wajah Meira. "Gausah kepedean, lo gak se-spesial itu."


***


"Lo semua gak ada kapok-kapoknya, yah?!"


The Lion, sekumpulan badboy itu tengah berdiri berjejer di tengah lapangan dengan Bima yang bersedekap dada di hadapannya.


"Sudah terhitung berapa kali sekolah kita di serang. Ada yang bisa hitung?" tanya Bima. Menatap mereka satu persatu.


Bagus yang berdiri di samping Alka, ia berdecak. "Lo mau ngajarin kita ngitung atau apa, sih? Hah?" kelakar Bagus.


"Lo diem!" sentak Bima, sedikit berteriak.


Alka maju satu langkah ke hadapan Bima. "Turunin suara lo di depan teman-teman, gue!" desis Alka dengan nada tajam.


Bima terkekeh sinis, di seperkian detiknya wajah cowok itu berubah datar. "Emang lo siapa? Lo, lo, lo, dan lo." Bima menunjuk mereka satu persatu. "Cuma sampah yang bisanya kotorin sekolah!"


Bugh!


Satu bogeman Bima dapatkan dari Alka. Cowok itu hampir tersungkur ke samping, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.


Alka menggeram lalu menarik kerah baju cowok itu. "Punya hak apa lo ngehina gue dan teman-teman gue, hah?!" desisnya tepat di hadapan Bima.


Bima menyeka sudut bibirnya lalu menyentak tangan Alka yang  mencengkeram kerah bajunya. "Gue ketua osis di sini. Kalau lo semua lupa!" ucap Bima.


"Orang yang suka ngehina murid lain, menjatuhkan harga diri murid lain? Itu yang lo maksud dengan ketua osis?" celetuk Devan dari belakang.


"Itu doang yang lo dapat setelah lama menjabat sebagai ketos?" Ezra berdecih sinis. "Menjijikan tau gak?!"


Bima menunjuk pada Ezra. "Jaga ucapan, lo!"


"Apa lo?!" Ezra ingin maju namun di tahan oleh Malik.


"Apa?!"


Alka mendorong bahu Bima yang hendak maju pada Ezra. "Setitik aja lo nyentuh teman gue dengan tangan sok suci, lo itu. Gue bisa jamin, besok ada gips yang nempel di tangan lo itu!" mata Alka menunjuk pada tangan kanan Bima.


Bima tersenyum miring. "Lo kira gue takut sama, lo?" Bima maju satu langkah mendekat pada Alka. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Gak ada yang perlu ditakutin buat sampah semacam, lo!"


Bugh!


"ALKA?!"


Bima tersenyum miring saat mendengar suara Pak Handoko. Ia menyentuh rahangnya yang baru saja di hantam Alka. Ia bangkit lalu menatap remeh pada Alka yang menatapnya penuh permusuhan.


Pak Handoko berdiri di depan Alka. Menyorot tajam pada cowok yang tidak menunjukkan ekspresi takut sama sekali.


"Kamu benar-benar kelewatan! Kamu udah buat sekolah kita di serang dengan musuh geng motor kamu. Sekarang kamu mukulin Bima juga? Apa isi otak kamu Alka?!" kelakar Pak Handoko seraya berkacak pinggang.


"Dia duluan, Pak!" Celetuk Arnold dari belakang.


"Saya gak nanya sama kamu Arnold!" sentak Pak Handoko.


"Alka teman kami, Pak. Bapak marah sama dia, itu artinya Bapak juga marah sama kami. Bapak mancing emosi dia, itu artinya Bapak juga mancing emosi kami!" timpal Malik.


Pak Handoko mendelik tajam. "Jadi kalian juga mau saya hukum?"


Mereka serempak mengangguk. "Hukuman gak ada apa-apanya di banding solidaritas kami, Pak!"


Pak Handoko terkekeh mengejek. "Kalau begitu kalian ikut saya ke ruang Bk!"


Mereka berjalan dengan patuh mengekori Pak Handoko ke ruang Bk. Alka berada di tengah-tengah. Bima sendiri sudah pergi entah kemana.


Di tengah perjalanan menuju ruang Bk. Rio—wakil ketua osis—menghadang mereka dengan wajah panik.


Pak Handoko dan yang lainnya berhenti. "Ada apa, Rio? Kenapa panik gitu?" tanya Pak Handoko.


"I-itu Pak. Di luar ada polisi. Dia nyari orang yang bersangkutan atas kasus penyerangan sekolah ini."