[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 31



"Kak Bima?!" pekiknya tertahan.


Cowok berseragam sama dengannya yang duduk di sofa itu mengulas senyum ramah lalu melambai. "Hai," sapanya.


Meira mengerjab dua kali lalu berjalan mendekat. Duduk pada sofa di hadapan Bima dengan ransel yang ada di pangkuannya.


"Kakak ngapain di sini? Ah, maksud aku, Kak Bima kenapa bis---"


"Dia guru privat yang Papa maksud, Mei. Mulai sekarang Bima yang akan ngajarin kamu." seraya membalas tatapan anaknya, Arya berjalan lalu duduk di samping Meira yang menatapnya bingung.


"Maksudnya apa sih, Kak?" Meira menatap Bima yang terkekeh di hadapannya.


"Jadi gini, tadi waktu gue berkunjung ke perusahaan Papa gue. Ada Om Arya disana, gue denger dia mau nyari guru privat buat anaknya yang namanya Meira. Gue kira itu bukan lo, tapi pas nanya ternyata emang benar lo. Jadi gue nawarin diri aja," tukas Bima panjang lebar.


Meira menatap cowok itu. "Jadi kalo misalnya itu bukan Meira, Kak Bima gak bakal mau?" entah kenapa pertanyaan itu yang keluar dari mulut Meira. Dia sendiri merutuki mulutnya.


Tampak Bima diam beberapa detik sebelum menjawab. "Mungkin, iya. Gue juga mau karna mikir kita satu skolah. Jadi gak masalah, kan?"


Meira mengangguk dengan bibir sedikit dimiringkan. Dia kemudian berdiri. "Kak Bima jangan pulang dulu, yah. Makan malam disini aja, biar entar malem kita belajar bareng." entah apa dipikiran Meira hingga dia mengatakan itu.


Bima sempat tersentak lalu kemudian mengangguk. Tak bisa di bohongi ada sebagian dalam dirinya yang bersorak senang.


"Tapi belajarnya di kafe aja, yah, Kak. Mei suntuk di rumah." cewek itu kemudian menatap Arya yang hanya menyimak. "Boleh kan, Pa?" tanyanya.


Arya mengangguk. "Boleh, Kok."


Meira tersenyum girang lalu pamit menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


***


Cowok bercelana jeans hitam selutut serta kaos oblong tanpa lengan itu duduk dengan asap mengepul di udara balkon kamar apartemennya. Di jari telunjuk serta jari tengah tangan kanannya terselip benda berbentuk silinder yang menyala.


Alka menatap kosong ke depan dengan ribuan pertanyaan di kepalanya. Tentang Mamanya, pribadi ganda yang dia derita, Gilang, Meira, serta Bianca.


Kepulan asap tebal itu kembali mengudara dari mulut dan lubang hidungnya. Dia kembali menyesap benda itu lalu menginjaknya hingga padam.


Alka mengela nafas lalu menengadahkan  kepalanya pada langit yang menyebar bintang. Dia rindu Mamanya, rindu akan pelukan lengan kurus Soraya. Rindu akan suara lembut Soraya yang selalu bisa melunakkan sisi ganasnya.


"Apa kabar, Ma?" lirihnya bergumam. Lututnya di tekuk dengan kedua lengannya sebagai penyangga. Dia lalu tersenyum tipis. Seminggu kepergian Soraya, Alka benar-benar kesepian. Dia hanya punya The Lion. Sekumpulan sosok yang selalu ada untuk Alka.


Asik dengan pikirannya, tiba-tiba ponsel yang ada di dekatnya berbunyi. Menampilkan sebuah nama yang Alka benci.


Samuel.


Alka memilih abai, hingga deringan ketiga panggilan itu membuat dia berdecak lalu dengan berat hati menggeser ikon hijau dan menempelkan benda itu ke telinga kanan.


"To the point," ucap Alka. Datar.


Alka dapat mendengar kekehan dari seberang. "Gue mau ketemu," balas Samuel.


Alka sempat mengernyit lalu kembali bersuara. "Gue sib---"


"Sekarang."


Tut!


Alka menghembuskan nafas malas lalu masuk ke dalam kamarnya. Entah masalah apa lagi sekarang, pikirnya.


***


"Lo mau pesan apa?"


Meira membolak balikkan buku menu sebelum dia menatap Bima. "Strawberry milkshake aja, deh, Kak. Aku masih kenyang abis makan."


Bima mengangguk. "Strawberry milkshake satu, Cappucino satu," serunya pada waitress di sampingnya.


"Pesanan akan datang beberapa menit lagi."


Bima mengangguk paham sebelum waitress itu pergi. Sudah lima menit yang lalu mereka sampai di sebuah Cafe yang cukup ramai ini. Cafe yang terletak tak jauh dari sebuah club malam ternama.


"Kita mau pelajarin apa kali ini?" tanya Bima, memecah keheningan.


Meira yang sejak tadi sibuk dengan bukunya, menggeser buku itu kehadapan Bima. "Ini, Mei gak ngerti sama cara perhitungannya." Meira menunjuk sebuah rumus Transformasi Geometri.


Bima terkekeh.


***


"Sepuluh menit. Gue sibuk."


Samuel hanya menatap datar pada Alka yang duduk santai di hadapannya. Kedua cowok seumur itu duduk di sebuah warkop yang sering di tongkrongi para pemuda.


Alka sempat tersentak sebelum menyeringai kecil. "Gue punya urusan yang lebih penting dari sekedar pertemuan keluarga." Alka terkekeh. "Ah, keluarga. Rasanya agak aneh gue nyebut kata itu." wajah Alka kembali dingin.


Samuel tersenyum miring. "Kenapa? Gak pernah ngerasain keluarga, yah?"


Alka tanpa beban mengangguk. "Lo tau alasannya," ujarnya, ringan.


Samuel manggut-manggut. Dia kemudian menatap Alka yang juga menatapnya datar.


"Mau lo anak haram atau anak pungut sekalipun, lo harus tetap dateng. Anggap aja, ini permintaan dari saudara lo." Samuel menyeringai kecil setelah menekankan kata 'Saudara'.


"Apa yang bakal gue dapetin di sana?" Alka menaikkan satu alisnya. "Penghinaan? Lagi?" Alka berdecih kemudian terkekeh.


Samuel mengangkat bahu. "Gue gak tau lo bakal dapat penghinaan atau apa. Yang jelas, lo akan sadar dimana posisi anak haram yang sebenarnya." Samuel menghunus mata tajam Alka dengan tatapan yang sama tajamnya lalu berdiri.


"Gue cabut. Gue gak mau orang berpikiran kita teman baik yang lagi ngobrol sambil minum kopi."


Samuel kemudian pergi setelah menyimpan uang merah di atas meja. Meninggalkan Alka dengan tangan yang terkepal di atas meja.


***


"Makasih yah, Kak. Aku gak nyangka bisa segampang itu ngerti sama penjelasan Kak Bima. Padahal kalau dengerin penjelasan guru harus mutar otak dulu keliling dunia."


Bima yang sedang menyetir menoleh sejenak pada Meira lalu terkekeh. "Itu lo aja yang malas, Mei," kekehnya.


Bibir Meira mengerucut beberapa centi. "Gimana gak malas, Kak. Penjelasannya tuh, berbelit-belit. Gak kayak Kak Bima langsung inti."


Tangan kiri Bima terangkat mengacak rambut Meira lalu terkekeh sebelum kembali memokuskan tatapannya pada jalanan yang cukup gelap.


"Berenti!" pekik Meira tiba-tiba.


CIIITT!!


Lengan kiri Bima refleks menahan kepala Meira kala mobil mereka berhenti mendadak. Bima menoleh pada Meira yang terbelalak ke depan. Dia kemudian mengikuti arah pandang cewek itu.


Di depan sana, Lima pria berbadan besar tengah mengkroyok seorang cowok yang Bima yakini seumuran dengan dirinya. Dia menajamkan mata kemudian terbelalak.


"Alka," gumamnya hingga mengundang tatapan Meira.


"Alka?" beo Meira. Dia kembali menatap cowok yang di kroyok itu. Dia hendak turun dari mobil namun Bima lebih dulu mencekal lengannya.


"Lo disini, aja. Bahaya. Biar gue yang turun."


Meira hendak protes namun Bima lebih dulu menyela. "Percaya sama gue."


Meira akhirnya hanya pasrah. Dia menatap Bima yang turun membantu Alka. Meira menggigit kukunya, dia takut melihat Alka di kroyok. Terlebih, Meira bisa melihat jika Alka dalam keadaan mabuk kali ini.


Cukup lama hingga akhirnya kelima orang itu pergi setelah kalah dari Bima, Meira turun dengan tergesa-gesa lalu jongkok di aspal, tepat di samping Alka.


"K-kak, Kakak kenapa?" Meira tidak bisa menyembunyikan getar suaranya. Wajah babak belur Alka terasa menyayat relung hatinya.


Alka menatap cukup lama pada Meira sebelum akhirnya menarik cewek itu untuk di peluk. Alka butuh sandaran, dia lelah dengan semua ini.


Bima yang berdiri di dekat mereka tidak lagi Alka pedulikan.


Meira tersentak untuk beberapa detik sebelum dia mendengar lirihan Alka yang membuatnya ingin meneteskan air mata. Terdengar seperti orang frustasi.


"To-tolong...."


Lirihan pilu itu menusuk hati Meira. Perlahan dia membalas pelukan Alka.


"Mei disini, Kak... Azka."


Yah, Meira tahu ini Azka dan bukan Alka. Meira sempat melihat tatto kalajengking milik Azka sebelum lengan kokoh itu memeluknya.


Azka mengeratkan pelukannya lalu membenamkan wajahnya di rambut Meira. Cherry Blossom. Dan Azka suka aroma itu.


"Gu-gue capek." Meira hanya mengelus punggung kekar itu sebelum akhirnya pundaknya terasa berat. Dia menoleh ke samping dan mendapati Azka sudah terlelap di pundaknya. Bahkan bau alkohol dari cowok itu tidak membuat Meira untuk menjauh. Dalam hati dia ingin bertanya, ada apa dengan Alka hingga kacau seperti ini?


Meira mendongak menatap Bima yang sejak tadi diam. "Kak Bima bisa bantu aku bawa Kak Alka ke apartemennya? Nanti Mei kasi tau alamatnya."


Tanpa ragu Bima mengangguk lalu membantu Meira memapah Alka menuju mobil.


🦁


🦁


🦁