[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 49



Meira terus berlari kecil untuk menggapai tangan Bella yang berjalan cepat di depannya. Cewek dengan rambut tergerai itu menyeka air matanya dengan isakan kecil yang terdengar. Beberapa menit yang lalu, Bella membentaknya dengan keras hingga hati Meira benar-benar teriris.


“Gue gak nyangka lo semunafik ini, Mei. Lo tau gue suka sama Kak Bima, tapi lo malah enak-enakan berduaan bareng dia di perpustakaan!”


Saat itu, Meira benar-benar terkejut. Dia kira, tidak ada yang melihatnya di perpustakaan dua hari yang lalu. Sekarang Meira tahu, kenapa akhir-akhir ini Bella seperti menjauh darinya. Setiap Meira menyapanya, Bella selalu buang muka. Setiap Meira ingin mengobrol dengannya, Bella malah membuat alasan agar sebisa mungkin tidak berkomunikasi dengan Meira.


Meira tentu sakit hati. Apalagi saat Bella mengatakan hal yang paling menyakitkan bagi Meira.


“JANGAN PERNAH GANGGU GUE LAGI! LO BUKAN SAHABAT GUE!!”


Saat bentakan itu terdengar hingga menyita perhatian seluruh kantin—termasuk anggota The Lion yang ada di meja sudut—airmata Meira meluncur disusul dengan Dita yang memeluknya.


Tarikan pada tangannya membuat Meira kembali ke dunia nyata. Meira mencoba memberontak untuk kembali mengejar Bella yang sudah berbelok entah kemana, tapi, seseorang yang menariknya memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat hingga Meira hanya bisa pasrah.


“Gak usah dikejar. Entar juga baik sendiri.”


Meira menghempaskan tangan Alka hingga cowok dengan seragam yang menyalahi aturan itu terkejut. Meira masih sama sejak dua hari yang lalu. Alka merasa, Meira sedikit berubah. Cewek itu tidak lagi gencar mendekatinya akhir-akhir ini, bahkan dasi yang sempat Alka pinjamkan padanya, Dita yang mengembalikannya pada Alka.


“Lo kenapa?” tanya Alka menaikkan alis. Dia kembali menarik Meira ke koridor yang lebih sepi. Jangan berpikir macam-macam, Alka hanya tidak suka menjadi pusat perhatian.


Meira kembali menghempaskan tangan Alka lalu membuang muka setelah menyeka air matanya.


“Lo kenapa, sih?” tanya Alka mulai kesal. Alis tebal cowok itu bertaut tidak suka.


Meira melirik sekilas. Hendak berbalik namun Alka kembali menarik tangannya. Hampir saja Meira menubruk dada bidang cowok itu jika Meira tidak cepat menarik diri.


“Gak-papa,” lirihnya.


Alka berdecak. “Jangan bilang gak-papa kalau lo ternyata kenapa-napa. Gue bukan Bundanya Bagus yang bisa nebak ekspresi.”


Jika kalian berpikir bahwa Alka mengatakan itu dengan nada lembut, maka kalian salah. Karena nyatanya nada cowok itu tidak mengandung kelembutan walau hanya 0,001% sekalipun. Hanya datar.


Meira menghela nafas lalu berkacak dan memberanikan diri menatap Alka. “Harusnya aku yang nanya. Kakak kenapa?”


Alis kanan Alka terangkat. “Gue kenapa?” beonya.


“Yah, mana Mei tau! Aku aja bingung sama Kakak yang tiba-tiba berubah.” Oke, mungkin untuk saat ini Meira akan melupakan Bella sejenak. Bukan karena dia tidak peduli, melainkan ada hal yang harus Meira selesaikan terlebih dahulu. Tentang semua pertanyaan yang bersarang di otaknya dan semua keraguan yang menggelayuti hatinya.


“Berubah gimana?” Alka mengubah posisinya menjadi bersandar pada tembok dengan bersedekap. Cukup keren, hingga diam-diam Meira meneguk ludah.


“Yah, berubah aja. Kayak bukan Kak Alka yang dulu.” Meira ikut bersandar di samping Alka. Dengan pandangan keduanya fokus ke depan.


“Jangan!” Meira refleks menutup mulutnya saat dia memotong ucapan Alka dengan cepat. Dalam hati, Meira menggerutui dirinya sendiri yang terlalu gampang luluh dengan Alka. Dan itu membuat Meira sadar, kalau Alka telah benar-benar menguasai hatinya tanpa celah sedikit pun.


Lihat, bahkan saat cowok itu terkekeh di depannya pun Meira tidak bisa berbuat apa-apa selain menikmati kekehan Alka yang ternyata menimbulkan lesung pipi di pipi sebelah kiri cowok itu.


“Terus kenapa lo nanya kalau gak mau?” suara Alka membawa Meira kembali dari kekagumannya. Meira berdehem singkat lalu menghadap Alka walau tubuhnya tetap bersandar pada tembok.


“Basa-basi aja,” jawabnya.


Alka berdecak lalu ikut menyampingkan tubuhnya hingga kini mereka berhadapan dengan tubuh yang tetap bersandar pada tembok.


“Jangan deket-deket Bima lagi.”


Pembawaannya tenang namun mampu membuat Meira terkejut bukan main. Meira mengerjap tidak percaya lalu memicing menatap mata hitam Alka.


“Cemburu, yah?” tuding Meira dengan mendekatkan wajahnya pada Alka, tidak lupa dengan jari telunjuknya yang teracung menunjuk wajah cowok itu.


Alka mendorong pelan wajah Meira dengan telunjuknya. “Gak usah geer. Gue Cuma kasian sama temen lo.”


Meira berdecih. “Sejak kapan, Kak Alka punya rasa kasihan?” ejeknya.


Alka menyeringai kecil lalu menyentil jidat Meira. Entah kenapa dengan Alka, yang jelas dia hanya ingin melakukan itu sekarang.


Meira mengusap jidatnya dengan bibir mengerucut. Demi apapun sentilan itu terasa cukup sakit di jidatnya. Meira tidak heran, sih. Alka memang tidak punya rasa kasihan.


“Oh, iya. Mei mau nanya dong, Kak?”


Alka menaikkan alis menunggu pertanyaan Meira. Tangannya terangkat mengusir sesuatu yang hendak hinggap di atas kepala Meira.


“Kakak sama Bianca punya hubungan apa?”


.


.


.


BIASAKAN LIKE SEBELUM BACA PART BERIKUTNYA!1!1!