![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Meira mengobati wajah Alka dalam diam. Tidak peduli pada mata hitam yang sejak tadi menatapnya dengan alis berkerut samar. Meira menuangkan sedikit betadine pada kapas lalu ditempel-tempelkan pada sudut bibir Alka yang memar.
Suasana hening di dalam UKS melingkupi keduanya tanpa ada yang berniat lebih dulu membuka suara. Alka tetap diam menatap Meira dalam hening begitupun sebaliknya. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Meira memasukkan kembali sisa kapas dan obat ke dalam kotak P3K. Saat Meira hendak berdiri untuk mencapai lemari menyimpan kotak obat, Alka lebih dulu menarik tangannya hingga dia kembali duduk di sisi cowok berkaos hitam dengan seragam putih yang tersampir di sandaran kursi.
“Kenapa?” tanya Alka. Dia sedikit memiringkan kepala untuk melihat Meira yang dengan sengaja membuang muka. Dahi Alka semakin berkerut saat mendengar helaan nafas dari pacarnya.
“Lo marah sama gue?” tanya Alka lagi. “Gara-gara ini?” tambahnya dengan menunjuk wajahnya yang babak belur.
Meira hanya melirik sekilas lalu kembali berdiri hingga mencapai lemari. Dia membuka lemari putih itu lalu menyimpan kotak P3K di rak tengah. Tepat setelah Meira menyimpan kotak obat, dua lengan kekar tiba-tiba menyusup dari arah belakang hingga melilit pinggangnya. Deru nafas pelan bisa Meira rasakan di leher akibat rambutnya yang disibak ke samping oleh seseorang.
“Maaf.”
Meira menggigit bibir bawahnya mendengar lirihan Alka di ceruk lehernya. Kedua tangannya terkepal di masing-masing sisi paha. Meira bukannya marah pada Alka, dia hanya takut saat cowok itu kembali berkelahi dengan Geng musuhnya.
####
Sorak sorai penonton di tepi lapangan terdengar riuh saat Alka berhasil mencetak gol ke lawan gawang. Jam pelajaran olahraga dengan materi praktikum futsal membuat semua anak cewek—entah itu teman kelas Alka atau bukan—berkumpul di tepi lapangan.
Kelas sepuluh, sebelas dan dua belas yang kebetulan free tidak kalah ketinggalan. Kapan lagi bisa melihat delapan cowok ganteng bermain-main di bawah terik matahari?
Ketujuh inti The Lion—minus Dimas—yang kebetulan satu regu dengan Alka, datang merangkul cowok berbaju khas olahraga kelas dua belas itu.
Setelah guru olahraga meniup peluit, permainan berakhir dan dilanjutkan dengan regu berikutnya.
Alka dan sahabatnya menetepi ke pinggir lapangan lalu menselonjorkan kaki di sana seraya melihat pertandingan yang berlangsung sekarang.
Beberapa detik dipenuhi dengan ketegangan oleh penonton sebab pertandingan, pecah digantikan bisikan saat seorang cewek bersepatu hitam menghampiri Alka.
Sebuah botol berisikan air minum dengan sapu tangan yang tidak asing tersodor di hadapan Alka. Cowok yang lumayan berkeringat itu mendongak lalu tersenyum bersamaan dengan tangan yang mengambil dua barang yang dibawa oleh pacarnya.
“Makasih,” ucap Alka. Dia menepuk ruang kosong di sisinya untuk menyuruh Meira duduk di sana.
“Lo gak belajar?” tanya Alka mengalihkan atensi Meira.
Meira menggelang seraya memainkan jarinya yang berada di atas pangkuan. Kegugupan Meira ternyata bukan cuma karena teman-teman Alka, melainkan semua tatapan anak cewek yang menonton di tepi lapangan terhunus padanya.
Terlebih pada Naila dan dua antek-anteknya yang bersedekap memandang tajam pada Meira di sudut lapangan.
Mengetahui kegugupan Meira, Alka mengedarkan pandangan. Berikutnya, dia menghela nafas lalu mengacak pelan rambut Meira. “Selama ada gue, lo gak perlu gugup di depan orang-orang.”
Walau dengan nada lempeng Alka melontarkan kalimat itu, hati Meira tetap merasa tenang. Ini sebabnya dia suka berada di dekat Alka. Dia selalu merasa terlindungi jika berada di dekat Alka. Meira selalu merasa aman jika Alka berada di dekatnya.
Menghela nafas samar, Meira berusaha mengalihkan atensinya dengan menatap mata Alka yang juga menatapnya teduh. “Hari ini aku pulang bareng Kak Bima, yah? Ada materi tambahan buat dipelajari, boleh, yah?” pintanya. Kedua alisnya terangkat menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Alka.
“Harus banget sama Bima?” ekspresi Alka berubah menjadi datar. Dia bukannya marah, hanya saja Alka tidak suka jika Meira bersama laki-laki lain. Apalagi laki-laki itu adalah Bima. Cowok yang sangat jelas Alka tahu bahwa dia menyimpan rasa pada Meira.
Meira mengangguk pelan. Air mukanya berubah was-was saat Alka membuang pandangan. Meira tahu, pacarnya itu pasti tidak akan memberinya izin jika harus pulang bersama laki-laki lain. Apalagi Bima.
“Kak … Boleh, yah?”
Alka mengangguk setelah sempat diam beberapa detik. Dia tidak boleh egois. Dunia Meira bukan hanya berputar tentang dirinya saja. Meira juga memiliki kesibukan lain yang Alka tidak berhak melarangnya. Walau tidak sepenuhnya ihklas, Alka akan tetap membiarkan pacarnya pulang bersama Bima.
Senyum Meira semringah. Dia kira Alka akan menolak, ternyata tidak. Dia memang suka Alka yang posesif padanya, tapi Meira juga tidak bisa pulang tanpa Bima hari ini. Sebab, papanya akan turun langsung melihat kegiatannya bersama Bima.
"Yaudah, hati-hati."
.
.
.