![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Alka mengusap wajahnya dengan gusar. Cowok yang baru saja sampai di apartemennya dengan seragam yang masih melekat itu menghempaskan diri ke sofa. Dia baru sampai ke apartemen pada jam tujuh malam saat ini dikarenakan menghibur diri di basecamp.
Bayangan di mana Meira menampar pipinya setelah tindakannya yang mencium cewek itu membuat Alka benar-benar gelisah.
Tidak sekalipun Meira pernah seperti ini padanya. Bahkan saat ditatap tajam saja cewek itu sudah menunduk. Namun, Meira yang tadi menamparnya bersamaan dengan kata ‘berengsek’ yang keluar dari bibir bergetar cewek itu membuat Alka sadar bahwa kesalahannya benar-benar fatal.
Tapi ayolah, ini hanya sebuah kesalahpahaman saja. Alka sama sekali tidak berniat menyakiti Meira dengan adanya Bianca. Dia juga tidak pernah menjadikan Meira sebagai palampiasan. Alka murni mencintai adik dari sahabatnya itu.
Deringan dari ponselnya membuat Alka membuang napas kasar. Gilang. Sebuah nama yang tertera di layar ponselnya.
“Halo?” sapa Alka. suaranya terdengar berat menyapa Gilang.
“Lo apain adik gue b4ngsat? Datang-datang sambil nangis, malah basah lagi seragamnya!” walaupun nada Gilang terdengar santai di seberang sana Alka tahu, Gilang pasti tengah marah padanya. Hanya saja cowok itu tidak menunjukkannya terang-terangan pada Alka.
“Maaf,” lirih Alka. Dia tertunduk menatap ujung kakinya yang masih terlapisi kaos kaki abu-abu gelap.
“Gue gak terima maaf, yah, kalo cuma lewat telfon. Sini lo minta maaf sama adik gue. Kalau enggak apartemen lo gue gusur terus jadiin panti jompo.”
Tersenyum tipis, Alka kemudian menghela napas lirih. Dia tahu Gilang tidak ingin menposisikan dirinya di tempat yang salah. “Gue takut adik lo gak akan maafin gue.”
“Yah, Markonah! Lo sejak kapan sih cemen gini, hah? Sini cepetan lo! Atau mau gue jemput pake pesawat dulu terus ngasih lo karpet merah?”
“Gue serius, Bang.”
“Jangan serius ke gue, seriusin adik gue aja. Dia nangis-nangis noh di kamarnya. Heran gue cowok kekurangan kata kayak lo ditangisin.”
Berdecak, Alka berdiri lalu masuk ke dalam kamarnya. “Lima belas menit sampai.” Dia kemudian memutuskan sambungan sepihak lalu menanggalkan seragam sekolahnya hingga, tubuh bagian atasnya yang atletis terpampang sempurna.
####
Seperti yang dikatakan Gilang, Meira benar-benar menangis. Rasa sedih, sesak, sakit dan bersalah menggerogoti hatinya. Dia sedih, sesak dan sakit di waktu yang bersamaan ketika melihat Alka dan Bianca, serta mendengar ucapan cowok itu pada Bianca. Dia juga merasa bersalah karena dengan lancangnya menampar Alka lalu pergi begitu saja.
Hanin yang baru saja masuk ke dalam kamar langsung duduk di tepi kasur cewek berpiyama kuning dengan motif minions itu.
Dengan senyum hangatnya, Hanin membawa Meira ke pelukan. Semua yang terjadi pada anak gadisnya ini telah dia ketahui dari putra sulungnya. Seorang Gilang Abraham.
“Kak Alka jahat, Ma … Dia khianatin, Mei …,” gumam Meira seraya mengeratkan pelukannya pada Hanin.
“Sssttt ….” Hanin mengelus rambut hitam anaknya yang tergerai. “Setiap hubungan pasti ada aja cobaannya, Nak. Pertengkaran kecil, kesalahpahaman, cekcokan dan masih banyak lagi itu semua adalah bumbu sebuah hubungan.” Kecupannya mendarat di puncak kepala Meira setelahnya.
“Coba deh kamu bayangin, kamu makan sayur terus gak dikasih garam dan bumbu-bumbu lain. Hambar, kan?” Meira mengangguk lemah seraya menghapus asal jejak airmata di pipinya.
“Nah, gitu juga sama hubungan kamu dengan Alka. Kalau gak ada pertengkaran kayak gini, maunya mulus-mulus mulu, itu pasti bakal hambar.” Hanin melerai pelukannya lalu menangkup wajah Meira. “Ini tantangan buat kamu, sayang. Tantangan yang menguji kamu bisa atau tidak kamu melewati ini,” imbuhnya.
Bibir Meira melengkung ke bawah masih dengan mata yang berkaca-kaca. “Tapi i-ini kelewatan, Ma. K-kak Alka pelukan sama ce-cewek lain, abis itu dia bilang sa-sayang dan gak bakal ninggalin cewek itu.”
Hanin terkekeh lalu mengelus pipi Meira. Membersihkan jejak airmata di pipi putri bungsunya. “Kamu udah tanya sama Alka kenapa dia ngomong gitu?” tanyanya yang membuat Meira bungkam.
Melihat kebungkaman anaknya Hanin tersenyum. “Turun gih, Alka ada di bawah nyariin kamu. Dia gak bisa masuk karna di sidang sama kakak kamu.”
Mendengar itu Meira tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Be-beneran?” tanyanya disambut anggukan oleh Hanin.
“Selesaiin masalah kamu sama dia. Mama tau kok kalau Alka itu anak baik-baik.”
Meira mendesah pelan. “Bilang aja Mei udah tidur, Ma. Mei gak mau ketemu sama dia dulu.” Meira bergerak ingin berbaring namun Hanin lebih dulu mencegahnya.
“Meira, masalah itu harus dihadapi, bukan malah lari dari kenyataan, sayang. Hayuk, Mama anter kamu ke depan.” Hanin berdiri seraya menarik tangan Meira agar cewek itu turun dari kasur.
“Gak mau, Mama. Mei belum mau ketemu sama kak Alka.” Mei takut luluh, sambungnya dalam hati.
Hanin menggeleng tegas. “Sebelum papa kamu pulang dan usir Alka, ayo kita ke bawah.”
Mau tidak mau akhirnya Meira menurut saja pada mamanya. Helaan napas gugup berkali-kali terdengar dari cewek itu ketika menuruni tangga. Hingga akhirnya mereka sampai di pintu utama, di sana ada Gilang yang berdiri seraya bersedekap di ambang pintu dengan Alka di hadapannya.
Meira membuang pandangan saat matanya tidak sengaja bersitubruk dengan mata hitam Alka yang senduh. “Ayo Meira, jangan luluh!” ujarnya membatin.
“Mama ke dalam dulu, yah. Gilang ayo ikut Mama,” ajak Hanin namun Gilang dengan tegas menggeleng.
“Gilang di sini aja, Ma. Entar mereka macam-macam lagi.” Cowok dengan kaos hitam bertuliskan Guess itu menatap Alka sekilas.
Hanin berdecak lalu tanpa banyak kata kembali ke dalam. Menyisakan Gilang, Alka dan Meira yang saling diam. Gilang menatap mereka bergantian dengan wajah datar. “An, sana sama Alka,” ujarnya yang mendapat gelengan dari Meira.
Gilang menghela napas pelan lalu merangkul bahu Meira. “Selesaiin masalah kamu, yah? Kakak awasin kamu dari sini, kok.”
“Gak mau Kak Gilang!” suara Meira sedikit meninggi hingga membuat Alka dan Gilang terkejut.
Dari raut wajahnya kentara sekali bahwa cowok itu benar-benar merasa bersalah.
Gilang mendorong pelan bahu Meira hingga adiknya itu berdiri di depan Alka. Saat Meira melempar tatapan tajam padanya, Gilang hanya terkekeh.
“Jelasin, Al. Cepet, dah malam.”
Tatapan Alka beralih pada Gilang. “Lo bisa masuk aja, gak? Gue butuh privasi,” ucapnya.
Gilang menggeleng. “Entar lo nyium adik gue lagi kayak tadi.”
Wajah Meira memerah sementara Alka memasang wajah datar.
“Ceritain cepet. Gue tunggu di dalam.” Gilang berbalik tanpa memperdulikan panggilan Meira.
Kini, tersisa Meira dan Alka yang masih diam di posisi masing-masing. Suasananya berubah canggung setelah Gilang kembali ke dalam.
“Lima menit.”
Mendengar suara serak dari Meira membuat Alka memusatkan perhatian pada cewek itu. Ada rasa sakit di hatinya ketika mendengar suara serak dan melihat mata memerah Meira. Cewek ini terlalu baik untuk menangisi laki-laki berengsek seperti Alka.
“Gue minta maaf.” Alka menunduk. Pertama kalinya, dia selemah ini di depan perempuan selain mamanya. Meira sudah terlalu jauh menyelam di hatinya hingga Alka benar-benar kelimpungan saat cewek itu marah padanya.
“Gue salah karna peluk Bi---”
“Lima menit buat jelasin semuanya. Bukan buat minta maaf,” sela Meira dengan nada datar. Walau dia ingin sekali memeluk Alka, cewek itu tetap mempertahankan raut datar wajahnya dan nada suaranya.
Alka menghela napas berat kemudian menatap dalam pada mata Meira. “Lo percaya sama gue?” tanyanya.
Meira mengalihkan pandangan. “Tergantung.”
Tersenyum tipis, Alka mulai menjelaskan. “Waktu gue dapat chat, itu bukan dari Bianca. Tapi salah satu anggota gue yang dikroyok sama geng Serigala. Gue mau ngasih tau yang lain tapi ada lo di sana, gue gak mau lo khawatir kalau tau sebenarnya gue mau kemana.”
Saat dilihat wajah Meira mulai melunak, Alka maju selangkah lebih dekat pada pacarnya itu. “Gue sengaja nyuruh Bagus buat anterin lo pulang karna gue gak tau bisa balik dalam keadaan baik-baik aja atau malah terluka karna jumlah anggota Serigala yang puluhan.”
“Untungnya, ada anggota gue sekitaran enam orang dari sekolah lain yang bantuin gue. Sampai akhirnya gue selamat. Gu---”
“Kenapa gak langsung pulang aja ke sekolah kalau gitu?” selaan Meira membuat Alka tersenyum tipis lalu mengusap kepala Meira walaupun penolakan yang dia dapat.
“Gue ditelfon papa ke kantor buat tanda tangan ahli waris keluarga Mahardika sama Sam. Gue di sana hampir sampai pulang sekolah. Tapi pas gue ingat lo, gue langsung balik. Tapi bukannya ketemu sama lo, gue malah ketemu sama Bianca yang nangis di koridor.”
“Terus Kakak samperin dan peluk gitu? Iya?” cerca Meira mulai terbawa emosi. Setiap mengingat Bianca dan adegan itu rasa kesalnya kembali hadir.
Alka terkekeh. “Lo kalo cemburu lucu juga, yah,” kekehnya mencubit pipi Meira.
Meira mendesis kesal lalu menampik tangan Alka dari pipinya.
“Gak langsung dipeluk, sayang. Gue nanya dia kenapa, kok bisa nangis gini. Dan dia bilang kalau orang tuanya nyalahin dia gara-gara pertunangannya sama Sam batal. Dia diancam gak bakal dapat warisan dari keluarganya karna udah sia-siain kesempatan emas itu.”
Terkejut. Itu yang Meira rasakan saat mengetahui Samuel dan Bianca ternyata pernah bertunangan. Meira menggeleng miris, dunia ternyata memang sesempit ini. Habis ke kakaknya, sekarang cewek itu ke adiknya lagi. Wow!
“Dia takut, terus gak tau kenapa tiba-tiba nangis kenceng dan meluk gue.”
Meira memicingkan mata menatap Alka. Berusaha mencari kebohongan di mata hitam cowok itu. “Yang bilang sayang juga dan gak bakal ninggalin itu, apa?” tanyanya.
Mengangkat alis, Alka kemudian tertawa kecil. “Jadi lo gak denger apa yang gue bilang ke Bianca sebelum gue ngeliat lo ada di sana?”
“E-emang Kakak ada ngomong setelah itu?”
“Ada, Mei. Lo-nya aja yang gak denger gara-gara kaget banget mungkin.” Alka mengambil tangan kanan Meira lalu mengelusnya. “Gue bilang ke Bianca kalau gue sayang sama dia cuma sebatas teman, dan gak bakal ninggalin dia kalau lagi ada masalah. Udah itu aja.”
Bersamaan dengan penjelasannya yang selesai, Alka mendaratkan kecupan pada punggung tangan Meira.
Gugup diperlakukan seperti itu, Meira dengan cepat menarik tangannya. “Jangan cium-cium!” ketusnya dengan menggosok punggung tangan bekas kecupan Alka ke piyama yang dia gunakan.
Alka kontan tertawa lalu dengan gemas mengacak rambut Meira. “Jadi … Gue udah dimaafin, kan?” alis Alka terangkat menunggu jawaban ‘Iya’ dari bibir Meira.
Meira melirik sinis pada Alka. “In your dream!”
.
.
.