[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 38



Setelah menjadi cleaning service dadakan selama tiga puluh menit, akhirnya suara bel istirahat terdengar. Alka dan sahabatnya bernafas lega lalu membuang asal alat kebersihan yang mereka pegang ke lapangan.


"Kalian bisa istirahat. Setelah itu simpan alat-alat kebersihan itu di tempatnya!"


Dengan suara malas The Lion berseru dengan kata 'Iya'. Mereka lalu duduk di tepi lapangan.


Devan, Tian dan Ezra yang kebetulan sejak tadi membungkuk, sibuk mereganggkan otot-ototnya. Selain mereka, anggota The Lion lainnya menselonjorkan kaki di tepi lapangan dengan helaan nafas lega dan suara keluhan kelelahan yang terdengar.


Sepersekian detiknya, entah dari mana, Meira tiba-tiba saja muncul dengan sebotol air mineral dan tissue. Dia berdiri di depan Alka.


"Mau ngasih gue minum, kan, Cil? Sini deh, gue haus ba---"


"Ih, Kak Bagus apaan, deh. Air ini buat Kak Alka, enak aja mau Kak Bagus ambil," ucap Meira memotong ucapan Bagus.


Cewek bersepatu kets hitam semata kaki itu berjongkok di hadapan Alka.


Semua mata anak cewek yang kebetulan lewat tidak pernah lepas dari tingkah Meira. Bahkan sekarang sudah terdengar cibiran, tapi Meira sama sekali tidak peduli.


"Gak asik lo, Mei. Masa bawa airnya buat Alka, doang," celetuk Devan yang sudah duduk begitupun dengan Ezra dan Tian.


"Kak Devan, kan, kaya. Masih punya kaki lengkap juga, jadi yah beli sendiri aja."


Mendengus, Devan memilih mengipas wajahnya dengan tangan.


Anggota The Lion yang lain juga melakukan hal yang sama. Ingin ke kantin namun mereka masih lelah untuk berjalan beberapa puluh meter.


Meira membuka tutup botol air mineralnya lalu menyerahkan ke Alka. Cowok dengan rambut yang sudah acak namun tetap ganteng itu menerima tanpa sepatah kata pun. Jujur, dia sangat haus sekarang ini. Setelah meminum beberapa teguk, Alka memberi ke Bagus yang kebetulan di sampingnya.


Bagus bersorak senang. Hingga akhirnya anggota The Lion berebut untuk minum.


####


Meira menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan kedua tangan terentang. Di tangan kanannya terdapat handphone dan di tangan kirinya terdapat coklat yang dua hari lalu Alka berikan.


Meira mengangkat coklat itu ke udara. Sudut bibirnya perlahan terangkat dengan mata yang sibuk meneliti coklat tersebut.


"Pengen makan tapi sayang," gumamnya. Meira memang sangat tergiur untuk memakan coklat itu sudah beberapa hari yang lalu. Tapi, mengingat itu adalah benda pertama yang diberi Alka dengan manis, maka dia akan me-museumkan coklat itu.


"Kak Alka itu kayak eskrim. Dingin, tapi manis." Meira tertawa sendiri mendengar kalimatnya yang aneh.


Dia menyimpan coklat itu di sisi kirinya lalu beralih pada handphone. Membuka aplikasi whatsapp lalu mengirim pesan pada cowok yang sudah berhasil membuat hati Meira jungkir balik. Alkavero Mahardika.


Meira Annastasia :


Malam, kak


Lagi apa?


(Read)


Meira berdecak. Selalu saja seperti ini jika dia mengirim pesan pada Alka. Deretan spam chat-nya tidak pernah dibalas oleh Alka. Semuanya hanya dibaca. Tapi itu sudah cukup untuk membuat hati Meira senang. Setidaknya Alka membaca pesan-pesan darinya.


Meira Annastasia :


Udah makan gak?


Makan yang banyak yah biar makin ganteng


Cewek yang memakai hotpants setengah paha dengan baju kekecilan itu mengubah posisinya menjadi tengkurap dengan bantal kepala yang menyanggah dada.


Meira Annastasia :


Btw, coklat yang Kakak kasi masih utuh, loh


Mei belum makan, hehe


Sayang, aja. Sayang sama coklatnya dan orang yang ngasih, wkwk.


(Read)


Meira tidak menyerah. Dia terus mengirim deretan kalimat-kalimat unfaedah pada Alka yang entah sedang apa di sana.


Meira Annastasia :


Karena sudah di ujung tanduk, cewek yang mencepol asal rambutnya itu terbirit memasuki kamar mandi.


Lima menit kemudian, dia sudah keluar dari sana. Hendak kembali pada kasur tapi matanya menangkap siluet tubuh orang melalui jendela kamarnya yang kebetulan belum tertutupi tirai.


Meira mendekat pada jendela lalu mengamati jalan di depan gerbang rumahnya. Benar, ada tiga cowok berperawakan tinggi yang memakai topi dan pakaian serba hitam.


Rasa takut mulai merasuki Meira. Dia tahu betul, itu bukan anak The Lion.


Meira meraih handphone di atas kasur. Dia benar-benar takut, apalagi mengingat mama dan papanya yang pergi ke Singapore untuk pertemuan bisnis. Tersisa dia serta ART-nya dan pak Satpam.


Meira Annastasia :


Kak Alka tolongin Mei. Datang ke rumah cepet!


Ada orang yang mata-matain rumah , Mei


Tolong, Kak!


Meira tidak memilih menelfon Alka karena dia yakin, cowok itu pasti tidak akan mengangkat telfonnya.


Meira menunggu lima detik hingga  pesan itu terbaca. Meira harap-harap cemas. Semoga saja Alka tidak hanya membaca pesannya. Tapi, kekecewaan merasuk pada hati Meira saat pesan itu hanya tercentang dua dengan warna biru. Tanda terbaca.


Di tempat berbeda namun dengan waktu yang sama, Alka menautkan alis membaca pesan Meira. Alka tahu, cewek itu tidak mungkin berbohong untuk kali ini.


Tanpa membalas pesan tersebut, cowok bercelana hitam pendek itu menyambar hoodie putih di lemarinya lalu keluar dari kamar apartemen. Berikutnya, dia terlihat mencari kontak seseorang di handphone.


"Halo, Al?" sapa Devan di seberang sana.


"Lo dimana sekarang?" tanya Alka, langsung. Dia berlari kecil menuju lift.


"Ini di base----"


"Ke rumah Mei, now!"


"Emang ken----"


"Gercep!"


Alka memutuskan panggilan secara sepihak. Dia kemudian memasuki lift untuk menuju lantai satu.


####


Setelah sepuluh menit yang diperintahkan Alka, anggota inti The Lion sudah berada di teras rumah Meira. Begitupun dengan Alka.


Devan mengetok pintu berkali-kali hingga wanita peruh baya dengan daster rumahan membuka pintu.


"Meira ada, Bi?"


Gugup melihat banyak anak cowok yang datang, Bibi hanya mengangguk lalu mempersilahkan semuanya masuk. Bibi berlalu menapaki tangga memanggil Meira di kamarnya.


The Lion duduk di sofa ruang tengah tanpa di suruh. Melempar pandangan butuh penjelasan pada Alka. Tapi tampaknya cowok dengan kepekaan rendah itu tidak menyadari hingga Devan angkat suara.


"Ada apa sih sebenarnya, Al?" tanya Devan.


"Ada yang mata-matain rumah Meira di luar."


Dengan Alis bertaut Devan kembali bertanya. "Tapi siapa? Gue gak liat ada orang di luar."


"Tadi gue ngeliat motor sport yang jaraknya 20 meter dari rumah Meira," celetuk Arnold yang kontan membuat anak The Lion menatapnya.


🦁


🦁


🦁