![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
"Alka sama yang lain ngejagain tuh rumah, Tra."
Kalimat yang baru saja terlontar itu membuat Petra berdecak keras di sebuah kelab ternama bersama Samuel.
"Kenapa bisa ketahuan si Alka, sih?!" sentak Petra dari telfon. Cowok itu meneguk sekali wine di gelas bar lalu menghentakkan meja. Sedangkan Samuel sudah asik dengan beberapa wanita malam di sudut kelab.
Orang yang memberi informasi itu gugup. Takut akan kemarahan Petra. "Kami juga gak tau. Tiba-tiba aja The Lion datang, sekarang mereka lagi ngumpul di gazebo cewek itu."
Petra sekali lagi berdecak. "Kalau gitu pantau terus sampe si Alka dan cecunguknya pergi. Setelah itu lo culik tuh, cewek!"
"Siap, bos!"
Seruan terakhir itu menjadi penutup telfon mereka.
"Kita tunggu sampai The Lion pergi, baru beraksi." cowok dengan topi hitam itu berseru kepada temannya yang duduk di atas motor tidak jauh dari rumah Meira.
Dua cowok berpenampilan sama yang duduk di atas motor tersebut mengangguk.
####
Sementara itu, di gazebo depan rumah Meira, anak-anak The Lion sudah berkumpul dengan sebuah gitar di pangkuan Tian. Kata Meira, gitar itu milik Gilang yang dia ambil di kamar Gilang.
Meira? Dia duduk di sebelah kiri Alka dengan wajah masam. Berkali-kali cewek itu ingin menjatuhkan kepalanya di pundak Alka, namun sang empu terus saja mendorong kepalanya menjauh.
Di tambah lagi, pakaian ternyaman Meira jika malam hari sudah terganti dengan sebuah celana tidur panjang dan hoodie pink miliknya.
Meira kembali menjatuhkan kepalanya di bahu Alka. Meski sempat terkejut, Alka kembali biasa-biasa saja dengan mata yang tertuju pada layar handphone.
Dia tidak lagi melarang Meira. Sebab, Alka tahu, betapa keras kepalanya cewek ini.
"Kak, kira-kira yang mata-matain rumah aku itu siapa, yah?" tanya Meira. Cewek itu menekuk lutut dengan kedua lengan sebagai penyanggah, sementara kepalanya tetap di bahu Alka.
"Orang."
Berdecak, Meira mendongak sejenak lalu kembali pada posisi awal. "Maksudnya orang itu siapa, Kak?" Meira gemas. Cowok minim ekspresi pemilik bahu ini memang kadang membuat Meira gemas sendiri.
"Mana gue tau," sahut Alka, acuh.
Meira menghembus nafas pelan. Dia memilih mengalihkan pembicaraan yang mungkin cukup untuk menutupi kesunyiannya dengan Alka walau suara The Lion masih terdengar.
"Berhenti ngebayangin."
Merasa kesal dengan jawaban Alka, Meira menarik kepalanya dari bahu Alka lalu mencubit pinggang cowok itu hingga terdengar rintihan kecil.
"Gila, lo!" pekik Alka tertahan.
Memutar mata malas, Meira merebut ponsel Alka hingga dipelototi cowok itu. "Bisa gak kalau ditanyain, tuh, jawab yang bener?" Meira menatap tajam pada Alka.
Menghela nafas jengah, Alka menjulurkan tangan untuk merebut ponselnya namun Meira lebih dulu menjauhkan benda itu.
"Balikin hp gue!" ujar Alka, dingin. Matanya menajam.
Terkekeh, Meira malah memutar-mutar ponsel Alka di tangannya. Keberadaan teman-teman Alka yang masih sibuk dengan konsernya ternyata tidak menghalangi Meira untuk berbuat jahil.
Kapan lagi coba bisa menjahili ketua geng terkenal seantero Garuda? Bahkan sekolah lain.
"Balikin, Meira!"
Meira tertawa saat melihat wajah kesal Alka. Cewek itu menjulurkan lidahnya.
"Balikin gak?!"
Mencebikkan bibir, Meira lalu mengembalikan ponsel Alka sedikit tidak rela. "Ih, nih ambil!!"
"Lama-lama gue lempar lo ke kutub!"
"Mau dong dilempar sama cogan." Meira mengatakan itu dengan nada merengek, ditambah dengan matanya yang berkedip lucu pada Alka.
Berdengik ngeri, Alka memilih menjauh dari Meira dan duduk di sebelah Tian yang kebetulan kosong.
Sedangkan Meira sudah tertawa melihat tingkah Alka, hingga akhirnya Devan memasukkan kue kering—jamuan Bibi—ke mulut Meira, baru cewek itu berhenti tertawa.
🦁
🦁
🦁