[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 15



Pintu ruang inap Devan terbuka. Menampilkan Alka dengan seragam putih abu-abu dengan kaki baju yang dikeluarkan serta satu kancing teratas terbuka. Cowok itu mendekat ke tepi brankar Devan dimana ada Bagus danĀ Ezra di sana.


"Gimana Devan?" tanyanya.


"Tangan kanan dia patah. Dan dia belum sadar sejak tadi malam," jawab Ezra.


Devan, cowok itu terbaring lemah di atas brankar dengan kain kasa yang melilit kepalanya. Dan tak lupa pula gips yang membungkus tangan kanannya.


"Gue bakal cari tau siapa yang buat Devan kecelakaan!" Bagus mendesis tajam. Rahang cowok berambut gondrong itu mengeras pertanda ia sedang marah.


Alka menepuk pundak Bagus sekali. "Kita cari sama-sama."


"Lo gak ke sekolah Gus?" tanya Malik saat melihat hanya Bagus yang tak memakai seragam.


Bagus mengecek arloji yang ada pada pergelangan kirinya. "Entar aja, jam sembilan."


Malik mengangguk. Terlambat bukan hal yang harus ditakuti untuk The Lion.


"Gue duluan," pamit Alka yang diangguki Bagus.


"Gue juga duluan yeh." Ezra dan Malik keluar bersama dari ruang inap.


Tinggal Bagus yang ada dalam ruangan itu. Bagus menatap datar pada Devan. Namun siapa sangka, bahwa dibalik wajah datar itu tersimpan banyak emosi yang memberontak.


"Dulu Gilang, sekarang elo," Bagus tersenyum tipis lalu menepuk tangan Devan yang terbungkus gips dengan pelan. "Cepat sadar bro!"


Bagus ikut keluar dari ruang inap Devan. Namun sebelum itu, ia menelfon bodyguardnya untuk menjaga Devan.


***


Meira, cewek itu berjalan di koridor dengan pandangan yang fokus pada buku tebalnya. Beberapa kali alis cewek itu terlihat mengernyit bingung. Beberapa menit lagi bell masuk akan berbunyi. Dia harus buru-buru menghafal beberapa rumus fisika sebab setelah istirahat kelasnya akan melaksanakan ulangan harian.


"Aduuh, ini caranya gimana yah? Kok banyak banget sih rumusnya? Kan Mei jadi bingung!" cewek itu sibuk menggerutu sendiri dengan kepala yang agak dimiringkan seperti berfikir.


"Tanya siapa yah? Dita? Aish, diakan pasti sibuk belajar. Bella? Ck, Bella kan jagonya bahasa Inggris. Terus Meira harus tanya siapa ya Allah..." Meira menggaruk kasar kepalanya. Dia paling benci dengan yang namanya fisika, kimia, dan matematika. Namun entah kenapa ia memilih jurusan IPA.


"Kenapa sih di dunia ini harus ada fisika? Kimia? Matematika? Faedahnya apa coba buat masa depan?!"


"Lo kenapa?"


"Astagfirullah!" cowok itu terkekeh saat menangkap raut wajah terkejut dari Meira.


"Kak Bima?!" Bima menaikkan satu alisnya.


"Lo kenapa kok kayak orang frustasi gitu?" Meira mengerucutkan bibirnya sedikit kesal.


"Aku tuh bingung tau Kak. Ini kenapa rumusnya banyak banget? Soalnya juga beda sama contoh yang udah di kasi sama Bu Siska, contoh soal yang kemarin pendek banget, lah ini? Allahuakbar! Panjangnya nauzubillah!" cercah Meira panjang lebar dengan wajah dramatis.


Bima tertawa lalu mengacak rambut cewek itu hingga bibirnya semakin maju.


"Kak Bima, Mei itu lagi kesel! Jangan ketawa apalagi acakin rambut Mei!"


Bima menetralkan tawanya, setelah itu ia mengambil alih buku tebal bertuliskan angka-angka dan rumus-rumus tersebut.


"Mau gue bantu gak?" tawar Bima.


Maira menatap Bima sejenak. Setelah itu ia mengangguk antusias.


Meira dan Bima pun berjalan menuju perpustakaan untuk memanfaatkan waktu yang tersisa agar dapat memahami rumus-rumus fisika itu.


Tanpa mereka sadari, cowok berpenampilan yang jauh dari ketentuan sekolah melihat itu semua. Alka, cowok itu hanya menatap datar pada sepasang cucu Adam yang berjalan menuju perpustakaan dengan sedikit canda tawa.


"Lo suka sama Mei juga Al?" suara Ezra membuat Alka terkesiap.


Alka menatap datar pada Ezra lalu beranjak menuju kelas tanpa sepata kata.


***


"Mama kok gak bilang dari tadi pagi sih kalo mau jemput Papa di bandara? Kan Meira bisa bawa mobil sendiri."


"Ini juga mendadak sayang. Papa kamu tiba-tiba aja telfon terus minta di jemput, Mama mana tau kalau dia pulang hari ini."


Meira mencebikkan bibirnya. Terlihat raut kesal dari wajah cewek itu.


"Terus Mei pulangnya naik apa? Mama tau kan kalau Mei gak suka desak-desakan di bus?"


"Iya Mama tau. Tapi mau gimana lagi? Atau kamu pesal ojol aja gimana?"


Meira tampak berfikir. Berikutnya cewek itu mengangguk malas walaupun Mamanya tidak melihat.


"Iya udah, Mei naik ojol pulangnya."


Meira menekan ikon merah pada layar ponselnya, lalu memasukkan benda pipih itu ke sakunya. Raut wajah cemberut tercetak jelas di wajah imut itu.


"Kak Alka!" wajah cemberutnya terganti dengan binar bahagia saat melihat Alka berjalan menuju motor sport berwarna merah hitam.


Meira berlari lalu mencekal lengan Alka namun langsung ditepis kasar oleh cowok itu hingga Meira meringis sakit.


"Ish! Kak Alka kasar banget sih sama cewek. Kalo tangan aku patah gimana?"


Alka memutar bola matanya malas. "Lebay."


Meira menghentakkan kakinya kesal lalu mengikuti Alka.


"Kak Alka, Mei bole---"


"Enggak."


"Ish! Belum selesai ngomong juga!" Meira mencebikkan bibirnya kesal lalu berlari mendahului Alka menuju motor sport merah hitam yang ada di depannya.


"Ngapain lo?"


Meira menunjukkan cengiran khasnya. "Meira boleh num---"


"Enggak." Meira memukul pelan lengan Alka. Tak peduli dengan pelototan tajam cowok itu.


"Kak Alka kok jahat sih? Kakak tega liat aku desak-desakan dia atas bus? Kakak teg---"


"Bodo."


Meira mengusap kasar wajahnya lalu berdiri di depan Alka dengan jarak tiga meter. Cewek itu mendongak menatap wajah Alka sebab tingginya hanya sebatas dada Alka.


"Anterin Mei pulang yah Kak?" Meira menatap Alka dengan senyum termanis yang ia punya serta mata yang dikedip-kedipkan lucu.


Alka menoyor kepala Meira ke belakang. "Gak usah ngerayu!"


Meira mendesah frustasi. "Kak Alka beneran gak mau anterin Mei pulang?" Alka mengangguk tanpa beban.


"Kak, Kakak bisa gak satu hari aja jangan jutek sama Mei? Sakit tau hati Mei di jutekin terus sama Kak Alka!"


Alka menatap Meira dengan alis terangkat satu.


"Lo ngedongeng?"


Meira membulatkan matanya kesal. "Gak! Meira gak ngedongeng, TAPI CURHAT!!" beberapa pasang mata yang ada di parkiran menatap aneh dan takjub pada Meira yang berteriak pada Alka.


Alka menggeram pelan. "Turunin suara lo!"


Meira menunduk takut. "Maaf. Abis Kak Alka bikin Mei kesel."


Alka menggeleng tak percaya pada cewek di depannya ini. "Minggir. Gue mau pulang!" ujarnya dengan menggeser tubuh kecil Meira ke samping.


Dengan cepat Meira kembali ke posisinya. "Kakak gak kasian sama aku? Supir aku gak jemput hari ini karna anterin Mama jemput Papa di bandara. Terus Mei gak suka desak-desakan di bus, gerah. Numpang yah kak? Yah,yah,yah?"


Alka memutar matanya jengah. "Enggak." keukeuhnya.


"Ck, Kak Alka keras kepala banget sih. Yaudah aku naik oj-- Kak Bima!" Alka mengikuti arah pandang Meira. Dari arah belakang ada Bima yang barjalan menuju mobilnya.


"Kenapa Mei?" tanya Bima ramah.


"Kakak pulang sendiri? Aku bole---"


"Ayo!"


"Eh, eh!" Meira memekik kaget saat Alka tiba-tiba menarik tangannya. Pekikannya semakin melengking saat Alka mengangkat pinggangnya lalu mendudukkannya di jok belakang.


Setelah itu, Alka menaiki motornya lalu menstater motor sport merah hitam tersebut.


"Pegangan!" Meira terkesiap. Buru-buru cewek itu melingkarkan tangannya di perut Alka.


Alka berdecak kesal. Cowok itu melepas lingkaran tangan Meira dari perutnya.


"Katanya pegangan?" Meira menatap Alka bingung dari samping.


"Pegang tas gue." dengan sedikit tidak ikhlas pun Meira memegang tas Alka.


"Kak Bima, maaf yah gak jadi. Aku dul-- eh, eh!" Meira kembali terkejut saat Alka melajukan motornya dengan tiba-tiba. Hampir saja ia terjungkal kebelakang jika tidak buru-buru memeluk tas Alka yang sangat tipis.


"Kak Alka kenapa? Kok kayak gak suka gitu sama Kak Bima? Kakak cemburu?" tanya Meira sedikit berteriak.


Alka hanya diam. Mata tajam yang ada dibalik helm fullface itu menatap lurus ke depan.


"Kak Alka kok diem aja?"


"..."


"Kakak laper gak? Kita sing--"


"Diam atau turun?!"


Akhirnya Meira pun memilih diam dengan bibir mengerucut kesal.


***


"Ih Mama, katanya mau jemput Papa kok masih ada di rumah?" Hanin menunjukkan cengirannya pada Meira. Mata wanita itu jatuh pada Alka yang membuka kaca helmnya.


"Itu siapa?" bisiknya pada Meira.


"Itu Kak Alka." balas Meira ikut berbisik.


Hanin tersenyum lebar pada Meira lalu beralih pada Alka.


"Kamu Alka?"


Alka, cowok itu melepas helmnya lalu turun dari motor. Tangannya terangkat menyalimi tangan Hanin.


"Iya tante."


Hanin tersenyum lagi. "Ternyata benar yah yang di bilang Meira kalau kamu itu ganteng banget!" Alka menatap bingung pada Hanin, sedangkan Meira menatap horor pada Mamanya.


Meira berjalan mengambil posisi di tengah-tengah antara Hanin dan Alka.


"Ma, jangan bikin Mei malu dong." bisiknya namun masih bisa di dengar Alka.


Hanin cengengesan. "Nak Alka mau mampir dulu? Nanti Mei masakin makan siang, soalnya tante mau ke bandara ini."


Alka tersenyum tipis. "Gak tante, makasih. Saya harus ke rumah sakit dulu." Jawab Alka sopan.


"Loh, siapa yang sakit?" tanya Hanin.


"Teman saya tant---"


"Teman Kakak? Siapa?!" Meira menyelah ucapan Alka dengan suara terkejut.


Alka mendengus pelan. "Devan."


Mata Meira membulat. "Kak Devan?! Kok bisa sih? Kemarin kan Kak Devan masih sehat, kenapa sekarang masuk rumah sakit?"


Hanin ikut mendengus malas. "Gak usah lebay deh Mei."


Meira mencebikkan bibirnya pada Mamanya. "Kak, aku boleh ikut jenguk Kak Devan gak?"


Alka menggeleng tanpa berfikir hingga membuat Meira mendelik.


"Kakak bisa gak sih kalo Mei minta langsung ngangguk aja?"


"Enggak."


"Ish, sebel! Pokoknya Mei mau ikut. Kakak jangan pergi, Mei mau ganti baju dulu. Ma, tahan Kak Alka yah, jangan sampe pergi!"


Meira dengan cepat berlari memasuki rumahnya. Hanin terkekeh lalu menatap Alka.


"Kamu yang sabar yah hadapin Mei, kita emang butuh kesabaran lebih buat hadapin bocah itu."


Alka terkekeh pelan.


***


"Ya ampun Kak Devan, kok Kakak bisa kayak gini sih?!" Devan memutar bola matanya malas. Cowok itu sudah sadar beberapa jam yang lalu.


"Gak usah berisik Mei, sakit nih telinga gue elah!"


Meira memukul pelan gips yang ada pada tangan Devan.


"Ini aku khawatir loh sama Kakak!"


"Gak usah di pukul juga kali. Ya Allah, Al lo kenapa bawa dia kesini sih?"


Alka mengangkat bahunya acuh.


"Jadi Kak Devan gak mau aku ada di sini? Aish, padahal aku bawa makanan enak loh. Tapi karna Kak Devan gak mau yaudah, aku balik aja." Ujar Meira sok merajuk.


Mata Devan membulat. "Eh, eh! Gue cuma bercanda kali. Mana sini makanan lo, gue udah laper dari tadi."


Meira mendesis kesal pada Devan. "Giliran makanan aja!" cibirnya. Meira mulai membuka rantang yang berisi makanan.


"Suapin gue yah Mei?" Devan memberi kode pada Meira saat cewek itu hendak menolak.


Meira menaikkan alisnya tanda tak paham pada kode Devan.


Devan memutar bola matanya malas lalu melirik Alka dengan ujung matanya. Mata Meira ikut melihat objek lirikan Devan.


"Maksudnya apa sih Kak?" bisik Meira mendekat pada Devan.


"Gue mau tes Alka suka sama lo atau enggak." Jawab Devan ikut berbisik.


"Caranya?"


"Lo cukup suapin gue dengan romantis. Kalo Alka cemburu berarti dia suka sama lo."


"Kalo enggak?"


Mata Devan berputar mencari jawaban. "Berarti dia belum suka sama lo. Buruan elah laper nih gue."


Meira terkekeh lalu mulai menyuapi Devan.


"Kak Devan, bilang 'aaaaa'."


Devan tersenyum geli. "Aaaaa..." satu suap masuk dalam mulut Devan.


"Kak Devan kalo makan yang bener dong. Ini makanannya belepotan tau." tangan Meira bergerak membersihkan sudut bibir Devan.


Kegiatan keduanya tak luput dari tatapan Alka, Bagus, Malik, Ezra, Tian, dan Arnold. Mereka hanya tersenyum geli. Terkecuali Alka tentunya, cowok itu hanya menatap datar mereka. Tidak ada yang bisa menebak isi hati seorang Alkavero.


"Kak Devan cepat sembuh yah? Biar Mei ada teman ributnya lagi. Kalo ngajak ribut Kak Alka gak seru, orangnya datar. Mei jadinya ngerasa ngomong sama tembok."


Alka melototkan matanya merasa tak terima dengan perkataan Meira. Sedangkan teman-temannya hanya terkekeh geli.


Devan mengelus rambut Meira dengan lembut, lalu memegang tangannya. Meira dan Devan berusaha mati-matian agar tidak tertawa.


"Makasih yah Mei, lo udah perhatian sama gue. Lo udah bawain gue makanan, suapin gue segala lagi. Pokoknya lo emang the best!"


Meira terkekeh lalu mengelus tangan Devan yang menggenggam tangannya.


"Meira tau itu kok." Devan ikut terkekeh. Cowok itu membawa tangan Meira mendekat pada bibirnya. Semua tampak mewanti-wanti kejadian selanjutnya. Mata Alka tetap fokus pada keduanya tanpa ekspresi.


Tangan Meira semakin dekat hingga hampir menyentuh bibir Devan sebelum akhirnya suara seseorang menyelah.


"Devan!"


Semua mata tertuju pada Alka.