[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 62



Alka dan Meira menampakkan raut wajah berbeda saat memasuki apartemen. Meira yang meringis miris dan Alka yang berwajah datar dengan batin yang mengumpat. Melihat kondisi acak-acakan apartemen akibat kedatangan teman-temannya membuatnya menyesal karena telah memberitahu mereka kata sandi apartemen.


Gilang berbaring di sofa panjang ruang depan televisi tanpa melepaskan sepatunya. Tian dan Adnan yang bermain stik dengan sesekali memakan kuaci dengan kulit yang tersebar kemana-mana.


Arnold tertidur di karpet berbulu dengan bekas kaleng soda di dekat wajahnya. Dimas, Bagus, Ezra dan Malik asik bermain aplikasi joget.


Bagus, Ezra dan Malik membentuk posisi berbaris dengan di depan mereka ada Dimas yang memegang ponsel dengan kamera yang tertuju pada mereka bertiga. Saat DJ dari aplikasi itu terdengar, mereka sedikit merendahkan badan lalu berjalan selayaknya bebek dengan Dimas yang merekam mereka dari depan dengan gaya yang sama.


Alka hanya mendengus melihatnya, sedangkan Meira tertawa saat melihat bokong mereka bergoyang ke kanan dan ke kiri ditambah tangan yang dikepakkan seperti sayap. Tidak memperdulikan mereka lagi, Alka duduk setelah menendang kaki Arnold dan menarik rambut Gilang.


“4su!” umpat Gilang dan Arnold bersamaan yang kontan terduduk. Mereka menatap tajam pada Alka namun hanya dibalas angkatan alis oleh sang empu.


“Ganti baju di kamar gue. Pake baju Almarhum nyokap gue aja.” Merasa perintah itu untuknya, Meira mengangguk lalu memasuki kamar Alka untuk mengganti seragamnya.


Alasannya karena cowok itu tidak ingin seragam Meira bau asam jika dipakai berlama-lama. Hal itu membuat Meira dengan berani menjitak kepala Alka.


“Keren Anjirrr!” Alka menoleh pada Ezra yang berteriak seraya mereka menatap ponsel Dimas.


GIlang? Cowok berkaos putih tanpa lengan itu kembali menidurkan tubuhnya pada sofa seraya bermain game. Arnold? .


Alka memilih abai dengan mengunyah kacang telur yang ada di atas meja sembari menunggu Meira selesai.


“Eh, Lik. Lo, kan, jago bahasa Inggris. Artinya secret apaan?” Ezra berkacak pinggang lalu ikut duduk ke lantai saat Bagus, Dimas, dan Malik duduk bersila seraya menonton beberapa video joget yang akan mereka tiru.


“Masa gitu aja lo gak tau. Rahasia, lah.” Malik menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel Dimas.


Mengerutkan alis, Ezra kemudian mendengus. “Yah, gue tau lo jago bahasa Inggris. Tapi gak pake rahasia-rahasiaan juga dong!”


Malik, Bagus, dan Dimas kontan menolehkan kepala pada Ezra dengan wajah datar. Yang ditatap hanya memasang tampang tidak berdosa. “Kenapa lo semua natap gue kayak gitu? Biasa aja kali kalo liat orang ganteng.”


Mereka bertiga saling pandang lalu memperagakan gerakan ingin muntah. Mengacuhkan Ezra, mereka kembali fokus pada video.


“Oi! Kasih tau dong! Artinya secret apaan?” Ezra melempar bekas kuaci Tian dan Adnan pada Malik.


“Udah dibilang artinya rahasia!”


“Lo, kok, sombong banget sih main rahasia-rahasiaan! Timbang kasih tau doang artinya apa!” Ezra memberengut.


Bagus menguyar rambut gondrongnya dengan kasar. Dimas melototkan mata pada ponsel lalu kembali normal setelah membuang nafas. Malik memberikan senyum termanisnya lalu mendekat pada Ezra. Cowok berkaos lengan panjang maroon itu duduk di samping Ezra.


“Emak lo ngidam apa, sih, pas ngandung lo, Ja? Beg0 lo murni banget sumpah!” elusan di rambutnya membuat Ezra menyentak tangan Malik dengan tidak santai.


“Lah, emak lo yang ngidam apaan pas ngandung lo? Timbang ngasih tau doang artinya secret apaan, pelit amat!” sumpah, Ezra bukannya pura-pura tidak tahu, cowok ber-hoodie putih itu memang tidak tahu arti ‘Secret’ apa. Dia paling lemah bahasa Inggris.


“RAHASIA OON!!” kesabaran Malik sudah habis menghadapi Ezra. Gilang dan Arnold sempat menoleh lalu kembali acuh. Tian dan Adnan juga sempat memperhatikan lalu kembali bermain. Menurut mereka, Ezra dan Malik sama oonnya. Ada yang tidak tahu arti sebenarnya, dan ada yang tetap meladeni.


Alka? Cowok itu sudah berlalu ke dapur bersama Meira entah sedang apa.


“LO BERDUA SAMA-SAMA OON!!” teriakan Dimas dan Bagus menyusul.


####


Memotong-motong wortel yang telah dibeli Alka kemarin adalah peralihan dari Meira untuk mengusir rasa kesalnya pada cowok jangkung yang berdiri disampingnya. Cowok yang tidak ada hentinya mengganggu Meira.


Entah itu memainkan ujung rambut Meira, mencolek lengan Meira atau menusuk-nusuk pipi Meira. Saat cowok itu mendekat lalu meniup telinganya, Meira tidak bisa lagi sabar. Dia memutar tubuh lalu berkacak.


“Kakak bisa diam, gak?! Aku dari tadi gak selesai-selesai motong wortel gara-gara Kakak yang terus ngerecokin! Duduk aja sana!” Meira bersungut garang.


Matanya melotot dan pipi menggembung. Bukannya mengikuti arahan pacarnya, Alka malah mencolek dagu cewek itu.


“Lo cantik kalo lagi marah.”


Jika saja Meira sedang tidak kesal, mungkin dia akan kegirangan saat ini. Hanya saja dia benar-benar kesal pada Alka yang terus saja mengganggunya.


Cewek berdaster hijau army selutut itu paling tidak suka saat kegiatan memasaknya diganggu. Dia mendelik. “Apasih! Gak cocok ngomong gitu, sana duduk di kursi aja!” Meira kembali pada kegiatannya.


Terkekeh, Alka memasukkan kedua tangannya pada saku celana abu-abu sekolah yang belum dia ganti. Cowok itu kemudian merendahkan tubuhnya menatap wajah cemberut Meira dari samping. Bibir merah muda cewek itu maju beberapa senti.


“Lo ngode?”


Meira menoleh kemudian mengangkat alis.


Alka menggerakkan dagunya ke arah bibir Meira yang masih maju, yang mana membuat cewek itu membulatkan mata lalu memukul pelan dada Alka. “Apa, sih, rese!”


Alka tidak bisa menahan tawa kecilnya untuk keluar. “Cantik banget, sih.” Dia menoel telinga Meira dengan iseng. Entah sejak kapan cowok itu memiliki hobby menggoda pacarnya.


“Kok, nanya gitu?”


“Gakpapa, mau tau aja.”


“Bianca.”


Jawaban tanpa dipikir itu membuat Meira mendelikkan bibir. “Oh … Gitu.  Yaudah.” Wortel yang telah dia potong dadu, dimasukkan ke mangkuk kecil kemudian dicuci.


“Gak usah marah. Fakta, kok.”


Melihat Meira yang mengabaikannya Alka tersenyum kecil. “Tapi lo kayak 1,3,4,5,6,7,8,9,10.”


“Apasih! Ngitung gak bener, gak ada duanya.” Meira beralih memotong-motong kentang untuk bahan soup-nya.


“Kan lo emang gak ada duanya.”


Mendengar itu, Meira menahan senyum. Dia kembali menghentikan kegiatannya lalu mendekat pada Alka. Matanya memicing menatap cowok jangkung ini. “Kakak sebenarnya, Kak Alka atau Kak Azka, sih? Pinter banget gombalnya.” Meira terkekeh.


Mendengus, Alka mengangkat tangan kirinya ke hadapan Meira. Sekedar ingin menunjukkan bahwa tidak ada tatto kalajengking di sana. “I am Alka!” sahutnya. “Gue denger itu pas Devan nelfon Kak Aluna,” imbuhnya membuat Meira mencebik.


“Oh, iya. Baru nyadar kak Devan gak ada. Dia kemana?”


“Nyusul kak Aluna ke London. Lusa dia wisuda.”


Meira mengangguk dengan ber-oh ria. Bibirnya mengulas senyum kecil, beruntung sekali Aluna mendapatkan pacar seperti Devan. Sudah tampan, kaya, humble, pacarable pula. Bahkan London pun cowok itu tempuh untuk menghadiri acara wisuda Aluna di Oxford.


“Jangan bilang lo kagum sama Devan?”


Meira terkekeh, lalu mengangguk. Dia memang sejak dulu kagum pada Devan, cowok itu sudah Meira anggap seperti kakak sendiri.


Saat Alka hendak membuka suara lagi, suara seseorang dalam dirinya lebih dulu terdengar. “Gantian, anjerr! Sekarang gue yang ambil alih!” itu suara Azka. Suara yang membuat Alka mendengus saat ini.


“Gak ada!” sahutnya ketus mengundang kernyitan alis dari Meira.


“Ngomong sama siapa?”


“Azka.”


Mata Meira membulat, mulutnya sedikit terbuka. Dia merasa seperti ada di dalam dunia fantasi. “Beneran bisa ngomong sama kak Azka walaupun dalam satu tubuh?” tanya Meira, takjub.


Alka bergumam malas melihat ke antusiasan Meira. Saat cewek itu mendekatkan telinga ke dadanya, gentian Alka yang mengernyit melihat tingkah aneh Meira. “Ngapain?” tanyanya.


“Mau denger suaranya kak Azka dari dalam sana.” Dia semakin menempelkan telinganya pada dada Alka. Hingga Meira dengan jelas bisa mendengar detakan jantung yang menggila dari cowok itu. Meira mengulus senyum merasakannya.


“Hallo, Kak Azka! Meira in here. Can you---“


“Azka jin Indonesia. Gak usah pake bahasa Inggris.”


Memukul pelan dada cowoknya, Meira berkata, “dia bukan jin!” Meira mendongak kemudian terkekeh. Setelahnya dia menarik kepalanya menjauh dari dada Alka. “Aku denger sesuatu yang lebih keren dari suara Kak Azka, loh!”


Alka menarik Meira lalu memeluk cewek itu dari belakang. Percayalah, saat Meira mendekatkan diri, Alka mati-matian menahan diri untuk tidak memeluk cewek itu. “Apa?” bisiknya. Rambut panjang Meira dia sampirkan ke bahu kiri agar wajahnya bisa bertumpuh sempurna di bahu kanan pacarnya.


Meira terkekeh terlebih dahulu lalu melanjutkan memotong kentangnya. “Jantung Kakak dangdutan. Lebih meriah dari konsernya Ayu Ting Ting!” ujar Meira tertawa.


“Tau apa akibatnya?” suara Alka masih berbisik hingga menimbulkan rasa geli pada Meira.


“Gak tau. Emang apa?”


Alka mengeratkan pelukannya.


“Karna lo.” Setelah itu dia memberikan kecupan singkat di pipi Meira, yang mana membuat sang empu membulatkan mata dengan kegiatannya yang sudah berhenti.


“KALO PELUK-PELUKAN TERUS, YANG ADA KAMI MATI KELAPARAN!!”


Itu teriakan Gilang.


.


.


.