![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
“S-Sam?”
Alka menatap Samuel dan Meira secara bergantian. Merasa aneh dengan Meira yang tampak ketakutan, bahkan saat ini cewek itu memegang erat kaos yang Alka kenakan.
Sedangkan Samuel, cowok itu masih berada dalam ruang lingkup keterkejutannya. Memang, tujuannya datang ke Garuda untuk bertemu dengan Meira. Namun Samuel tidak pernah berpikir dirinya akan seterkejut ini. Jantungnya berdegup di luar kendali hingga tanpa sadar Meira kembali berlari ke dalam area sekolah.
Suara motor Petra yang baru saja datang membuat Samuel dengan cepat mengembalikan kesadarannya dan mengejar Meira.
Alka menahan lengan Samuel. “Ada urusan apa lo sama dia?” tanya Alka. Nadanya berubah mengintimidasi saat menyadari ada satu hal yang terjadi antara Samuel dan Meira.
Samuel menurunkan tangan Alka dari lengannya dengan tatapan tajam yang menghunus.
“Urusan gue sama dia. Gak ada hubungannya sama lo,” desis Samuel. Cowok itu kemudian berlalu ke dalam sekolah mengejar Meira.
Alka menatap punggung Samuel dengan datar. Banyak pertanyaan yang kini bercabang di otak Alka namun dia masih berusaha untuk tidak peduli.
“Kaget gak lo?”
Alka menjatuhkan tatapan pada Petra yang bersedekap di kap motor cowok itu.
Alka tidak menjawab. Dia hanya menatap sekilas pada Petra lalu berbalik hendak mengejar dua orang tadi. Tapi, entah sejak kapan adanya Bianca di belakang Alka, cewek itu menahan lengannya. Alka menghela nafas.
“Lepasin tangan lo!” kata Alka, suaranya rendah namun terdengar tajam.
Bianca menggeleng. “Biarin mereka selesain masalahnya, Al. kamu gak usah ikut campur.”
Ucapan Bianca semakin membuat kebingungan Alka menjadi-jadi. Otaknya terus bertanya-tanya ada apa dengan Samuel dan Meira hingga bahkan Bianca mengetahuinya. Apa cuma Alka yang tidak tahu apa-apa di sini?
Alka menurunkan tangan Bianca dari lengannya. “Selagi dia masih dalam perlindungan gue, apapun yang buat dia takut akan jadi urusan gue!”
Bianca terpaku. Hingga beberapa detik kemudian cewek beransel putih itu tersenyum simpul. “Jangan bodoh, Al. Jangan karna amanah dari Kakak Meira, kamu mau libatin diri lebih jauh.”
Alka mengerutkan alis. “Tau dari mana lo?” tanya Alka disambut kekehan dari Bianca.
“Aku masih temannya Meira kalau kamu lupa, Al. Dia udah pernah cerita kalau kamu lindungin dia hanya karna amanah Kakaknya.”
Bianca tertawa untuk beberapa detik sampai akhirnya, kalimat yang dilontarkan Alka membuatnya bungkam.
“Kenapa? Kamu udah suka sama dia?”
Alka menunjukkan smirk tanpa Bianca tahu. “Bukan urusan lo!” Alka berlalu ke dalam sekolah.
####
“Maafin aku, Ra. Aku bener-bener nyesel.”
Alka menghentikan langkah di dekat tangga menuju lantai dua. Cowok dengan kedua tangan tenggelam dalam saku dan seragam yang tersampir di bahu itu menatap tangga. Alka yakin, di samping tangga itu pasti ada Samuel dan Meira.
“Pergi! Aku gak mau liat kamu!”
Meira menutup wajahnya. Bahu cewek itu bergetar seiring dengan isakannya yang terdengar.
Samuel berdiri di hadapan Meira dengan tatapan sendu. Jujur, hati Samuel berdenyut perih kala mata cewek itu mengeluarkan airnya. Samuel ingin maju untuk merengkuh tubuh mungil itu, namun, Samuel cukup tahu diri untuk tidak melakukannya. Bahkan untuk melihatnya saja, Meira enggan.
Samuel menunduk menatap ujung sepatu Nike-nya. “Maaf, Ra. Waktu itu aku emosi pas ngeliat di tempat janjian kita kamu berduaan sama cowok lain.” Samuel semakin menunduk. “Aku sayang sama kamu. Bahkan sam---“
“Bohong! Aku gak percaya lagi sama kamu. Pergi dari sini!” teriak Meira. Cewek itu masih menutup wajahnya dengan sedikit memundurkan kakinya saat Samuel maju selangkah.
Hati Samuel kembali teriris. Teriakan ketakutan dan kepercayaan yang telah sirna dari cewek itu tidak lagi mampu membuat Samuel untuk berkata-kata.
Saat Samuel hendak memeluk Meira, cowok itu lebih dulu tertarik ke kebelakang dan berakhir mendarat di lantai.
Alka sudah tidak tahan. Hatinya terasa panas saat melihat Meira ketakutan dan Samuel yang hendak memeluk cewek yang kini tengah terkejut itu.
“Anj1ng!” Samuel mengumpat dengan gumaman.
Melihat Samuel yang akan bangun, Alka beralih mencengkeram kerah seragam Samuel. “Touch her, you die!” desis Alka penuh penekanan di setiap katanya.
.
.
.