![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Bagus, cowok itu mengacak rambut gondrongnya setelah melepas helm yang ia kenakan lalu turun dari motor harley miliknya. Kaki cowok itu mengayun memasuki sebuah toko kue bernama Asya Cake's.
Bagus mengetuk-etukkan jari telunjuknya seraya memilih kue yang akan ia beli untuk bundanya.
"Ini aja kali yah?" gumamnya saat melihat kue Red Velved yang terlihat sangat nikmat.
"Oke ini aja!" finalnya.
"Mbak, saya pesan kue red velvednya satu yah?" Ucapnya pada karyawati di toko kue itu.
"Makasih mbak," ucapnya setelah mengambil kue yang dia pesan.
Bagus berjalan ke arah kasir setelah mendapat balasan terima kasih dari karyawati tersebut. Cowok itu mengeluarkan beberapa lembar uang lalu di serahkan ke kasir lalu keluar dari toko setelah mendapatkan kembalian uangnya.
Saat akan menaiki motornya kembali, mata Bagus melihat seseorang yang baru saja keluar dari toko tersebut dengan menenteng kantung kresek berlogo Asya Cake's
"Itu temennya si Bocil kan kalo gak salah?" batinnya bertanya saat melihat cewek berambut pendek dengan penampilan sedikit tomboy.
Bagus menghampiri cewek itu saat melihatnya seperti tengah menunggu sesuatu.
"Lo Dita kan?"
"Eh?!" cewek itu tersentak kaget lalu menoleh ke pelaku.
"Kak Bagus?" gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Bagus.
Bagus mengangguk. "Iya gue Bagus. Eh btw lo nungguin siapa?" tanya Bagus berusaha agar tidak tercipta suasana canggung.
"Emm... Itu Kak, nungguin taksi." Jawab Dita sedikit gugup.
Bagus mengangguk dengan mulut berbentuk huruf O. "Lo suka beli kue juga di sini?"
Dita mengangguk dengan sedikit senyum kikuk. "Iya Kak, toko kue ini langganan Mama aku."
"Sama dong, Bunda gue juga langganan sama toko kue ini."
Dita menatap Bagus dengan sedikit ekspresi kaget, bukan karena Mama mereka yang sama langganan toko kue. Melainkan panggilan Bagus yang terdengar lucu.
"Dia manggil nyokapnya Bunda? Gila! Gak nyangka brandal gini tapi manggilnya Bunda, kan kebanyakan biasanya Mama aja." batin Dita sedikit terkikik geli.
Bagus memicingkan matanya menatap Dita yang tersenyum sendiri. "Lo kenapa senyum-senyum gitu?"
"Eh?! Ke-kenapa Kak?" Bagus tertawa lalu mengacak rambut Dita.
"Kak Bagus ngacak rambut gue?! Demi apa?!" batin Dita histeris.
"Oh iya, lo mau gue anterin pulang?" tawar Bagus namun Dita hanya diam menatap Bagus dengan ekspresi senyum tertahan.
"Gue mimpi apa sih semalem?!" Dita kembali membatin.
"Mau gak nih?" ulang Bagus.
"Eh? Emm... Emang gak ngerepotin Kak?" Bagus terkekeh sebentar lalu menggeleng.
"Gak kok," jawabnya.
"Yaudah deh kalo gitu,"
Bagus tersenyum lalu berjalan menghampiri motornya bersama Dita. Baru saja akan menyalakan mesin motornya, deringan di ponselnya membuat cowok itu mengurungkan niatnya dan memilih mengangkat telfon.
"Devan?" batinnya saat melihat nama Devan yang tertera pada layar ponselnya.
"Halo?"
"Heh! Lo dimana bangsat?!" Bagus mengernyit saat Devan langsung menyambarnya dengan nada kesal.
"Gue di toko kue langganan Bunda. Emang kenapa?"
"Lo mau anterin kue itu ke rs dulu?"
"Iyee, emang napa sih lu?"
"Udah cepet anterin aja tuh kue terus ke basecamp! Kita mau bahas sesuatu."
"Bahas apaan?"
"Hadeh! Udah gercep Bagus Baskara, gak usah lama-lama! Nih Alka udah dateng tinggal lo aja tau gak?!"
"Tapi gu--"
Tut... Tut...
"Yeuh dugong malah dimatiin!" gerutu Bagus saat Devan mematikan panggilan sepihak.
Bagus kembali mengantongi ponselnya lalu beralih menatap Dita yang sejak tadi menatapnya. Cowok itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal hingga mengundang kernyitan alis dari Dita.
"Kak Bagus kenapa?" tanya Dita.
"Emm... Sorry yah Dit, gue gak bisa anterin lo pulang soalnya tadi Devan nelfon gue katanya gue harus ke basecamp geng gue. Penting katanya," tukas Bagus dengan sedikit tidak enak hati.
"Sialan si Devan mah!" batin Bagus mengumpat.
Dita menggangguk mengerti walaupun sedikit kecewa. "Oh... Yaudah, Kakak kesana aja aku gak-papa kok." balas Dita sedikit senyum.
"Yakin?" Dita menggangguk cepat.
"Gue pesenin taksi online aja yah?"
"Eh gak us--"
"Udah gue pesenin!" Dita mendengus pasrah pada akhirnya.
"Gue duluan yah?" pamit Bagus yang di angguki Dita.
"Makasih Kak Bagus!"
"Yo."
***
"Kita mau bahas apaan sih ini? Sampe nyuruh gue buru-buru kesini, bahkan anak orang gue tinggalin di toko kue." Devan menatap Bagus dengan alis mengernyit.
"Anak orang? Siapa?" tanya Devan penasaran.
Bagus tersenyum miring. "Nanti lo juga tau," Devan mendelik sebal.
"Sok misterius lo monyet!"
Bagus mengangkat bahunya acuh lalu beralih menatap Alka. Di basecamp tempat perkumpulan geng The Lion ini semuanya berkumpul dengan jumlah sekitaran 15 orang.
"Kita mau bahas apa Al?" tanya Bagus pada Alka.
Alka mengangkat bahunya acuh. "Tanya Tian," balasnya singkat.
Bagus beralih menatap Tian dengan sedikit bingung. " Ada apa Yan?" tanyanya.
Tian duduk di dekat Bagus lalu memandang temannya satu persatu yang juga sedang memandangnya penasaran.
"Gue udah tau kenapa Adnan khianatin kita." semuanya tampak kaget lalu mulai melempar pertanyaan pada Tian sedangkan Alka hanya diam mendengarkan.
"Kenapa Yan?" tanya Devan penasaran.
"Lo tau dari mana?" tambah Bagus bertanya.
"Lo serius?"
"Asli kan nih?"
Tian menghela nafas sejenak. " Iya gue serius. Waktu gue anterin adik gue yang masih TK, gue gak sengaja liat Adnan ngomong sama Petra gak jauh dari gue."
"Terus terus?" tanya mereka penasaran.
Tian menatap Alka yang tampak tenang memejamkan matanya dan bersandar di sofa dengan bersedekap dada, tapi Tian yakin bahwa Alka pasti mendengarkannya.
"Terus gue penasarankan sama apa aja yang mereka omongin, akhirnya gue mutusin buat nguping pembicaraan mereka. Gak banyak sih yang dapat gue tangkap, tapi yang gue tau intinya itu Adnan punya utang sama Petra, ah ralat maksud gue Samuel."
Alka refleks membuka matanya saat mendengar nama yang sudah lama tidak terdengar itu.
"Samuel?!" beo mereka terkejut kecuali Alka.
"Sejak kapan Adnan minjem duit sama Sam? Bukannya Sam ada di Amerika?" tanya Malik bingung.
"Gue juga gak tau kapan, tapi yang gue denger Adnan minjam duit itu ke Sam karna adiknya yang mau cuci darah. Dan soal keberadaan Sam, gue denger dia udah balik seminggu yang lalu dari Amerika."
Devan menggelengkan kepalanya tak percaya. "Sebenarnya Adnan anggap kita sahabatnya bukan sih?! Kenapa dia malah minjem duit sama musuh kita coba?!" tutur Devan dengan kekesalan yang menggebu.
"Sabar Van, mungkin Adnan punya alasan buat ini." Ucap Arnold.
"Alasan apa?! Dia kira kalo dia bilang sama kita, kita gak bakal bantuin gitu?! Sahabat macam apa yang raguin sahabatnya sendiri!"
"Diam!" Devan sukses bungkam saat Alka bersuara untuk pertama kalinya.
"Berapa yang dia pinjam?" tanya Alka pada Tian.
"50 juta. Karna selain buat cuci darah adiknya, orang tua Adnan juga udah punya pinjam sama keluarga Samuel dulu." jelas Tian yang membuat Alka diam seolah memikirkan sesuatu.
"Keluarga Sam?" batin Alka.
"Jadi apa keputusan lo Al buat masalah Adnan ini?" tanya Bagus.
"Boleh juga," balas Bagus.
"Tapi kalo cuma kongsi gitu gak bakal cukup deh," celetuk Arnold. "Gimana kalo kita adain bazar juga?" semuanya tampak menimang.
"Emang mau bazar apaan?" tanya Ezra.
"Apa aja gitu yang penting dapet duit." semuanya pun mengangguk setuju.
"Gimana menurut lo Al?" tanya Bagus dan Alka mengangguk.
"Boleh."
"Oke, jadi lusa kita siapin semuanya buat bazar nanti. Gimana?"
"SETUJU!!" pekik mereka bersama lalu bertos ala pria.
"Eh btw gue dapet informasi nih dari sosmed," celetuk salah satu anggota The Lion yang sepertinya adalah adik kelas.
"Apaan?" tanya Devan.
"Ini, minggu depan bakal diadain balapan di sircuit jam 11 malam, hadianya lumayan juga nih buat pemenangnya."
"Emang apaan hadiahnya?" tanya Ezra.
"Yang juara 1 bakal dapat uang tunai senilai 30 juta, yang juara dua 15 juta dan yang terakhir 5 juta."
"Wah lumayan juga tuh!" seru Malik riang.
"Eh gimana kalo salah satu dari kita ikutan? Kan lumayan juga tuh buat bantu Adnan, yakan?" tanya Arnold antusias. Semuanya mengangguk membenarkan.
"Lo mau Van?" tanya Alka pada Devan.
Devan, soal skill balap membalap tidak udah ditanyakan lagi pada cowok itu. Devan selalu punya trik tersendiri untuk memenangkan pertandingan tanpa bermain kotor, itulah sebabnya The Lion mempercayakan soal masalah seperti ini pada Devan.
Devan mengangguk semangat. "Siap gue mah!"
***
Rebahan, hanya itu yang bisa Meira lakukan siang ini. Subuh tadi tamu bulanannya datang hingga membuat perutnya terasa melilit dan berakhir tidak masuk sekolah.
Meira berguling kesana kemari dengan tangan yang memeluk perutnya sendiri seolah menahan sakit.
"Ya Allah, sakit banget. Rasanya perut aku kek diaduk-aduk."
Meira mengambil nafas panjang lalu meraih minyak kayu putih yang telah tersedia di atas nakasnya.
"Huhhh... Leganya..." gumamnya setelah menyapukan minyak kayu putih itu pada perutnya.
"Sekarang aku mau ngapain yah?" Meira berdiri dari kasurnya lalu berkacak pinggang dengan ekspresi berfikir.
"Nonton drakor? Ah, bosan drakoran mulu!"
"Main ps? Aih kan Papa belum balik, gak ada temen!"
"Main sosmed? Ck, tap--" Meira menghentikan ucapannya saat mengingat sesuatu.
Detik berikutnya cewek itu tersenyum riang lalu meraih ponselnya dan mencari kontak seseorang.
"Aku chat Kak Alka aja kali yah? Kan lumayan tuh kalo bisa bikin Kak Alka kesel hihi..." cewek itu terkikik sendiri dengan gumamannya.
Me:
Assalamualikum...
Ada orang gak nih?
Hello?
Haii??
Kak Alka
Spa?
Mulut Meira sedikit terbuka saat mendapat balasan dari Alka walaupun sangat singkat. Gadis itu memperbaiki posisi duduknya lalu mengambil bantal kepala ke pangkuannya.
Me:
Jawab salam itu wajib tau!
Meira menggigit kukunya saat menunggu balasan Alka yang terbilang cukup lama.
Kak Alka
Wlaikumslam
"Ish! Gak di chat, gak di aslinya semua serba singkat. Moga-moga aja umur Kak Alka panjang!
Me:
Yang jelas dong Kak Alka jangan disingkat-singkat.
Kak Alka
Spa sih lo?!
Meira terkikik geli. "Pasti Kak Alka udah mulai kesel,"
Me:
Your future wife:)
Kak Alka
Ok gue blok!
Mata Meira membulat kaget. Dengan kekuatan sekuat angin cewek itu menelfon kontak Alka.
"Ish! Kak Alka Mei jangan diblok dong! Masa cewek cantik gini mau di blok." rengeknya dengan bibir mengerucut saat panggilannya sudah tersambung dengan Alka.
"Bodo amat!" Meira mencabikkan bibirnya menatap layar ponselnya.
"Untung Mei sayang!" batinnya.
"Jangan gitu dong Kak, kalo Kak Alka blok kontak aku gak ada lagi loh yang ngechat Kakak. Kakak mau kolom chat kakak kosong?"
"Gak peduli!"
"Harus peduli dong Kak Alka. Cukup hati Kakak aja yang kosong karna belum cinta sama Mei, kolom chat kita jangan hehe..."
Tut... Tut...
"KOK DI MATIIN SIH?!" Meira melempar asal ponselnya ke atas kasur lalu menenggelamkan kepalanya di bantal yang ada di pangkuannya.
"Ish! Kak Alka nyebelin tapi Meira sayang! Huaaa... Mama Meira sakit atii..." Meira berguling asal di atas kasurnya dengan berbagai macam rengekan terhadap Alka.
"Kamu gak gila kan di pms kamu kali ini Mei?" Hanin, Mama Meira masuk kedalam kamar anaknya saat mendengar suara Meira.
"Ish! Mama! Anaknya lagi kesel bukannya di hibur malah dikatain gila! Huaaa... Mama sama Kak Alka sama aja! Meira doain semoga Kak Alka jadi mantu Mama!" tutur Meira lalu duduk kembali dengan rambut yang acak-acakan serta kaosnya yang sudah kusut.
"Hah?" Hanin mengernyit tidak mengerti dengan yang Meira katakan. Awalnya bersikap seperti orang kesal namun mendoakan diakhirnya.
Hanin duduk di tepi ranjang Meira lalu menatap miris rambut anaknya yang melebihi rambut singa.
"Kamu kenapa sih Mei?"
Meira memasang wajah cemberut lalu memeluk Mamanya.
"Meira jatuh cinta Ma..." lirihnya.
Hanin terdiam sejenak sebelum akhirnya memandang Meira yang memeluknya.
"Jatuh cinta?" beonya dan Meira mengangguk.
"Hm... Meira jatuh cinta sama Kak Alka."
"Siapa Kak Alka?"
"Cowok paling ganteng di SMA Garuda!" jawabnya senang.
Hanin terkekeh lalu merapikan rambut Meira yang acak-acakan. "Terus tadi kenapa teriak-teriak gitu?"
Meira melepaskan pelukannya lalu menatap Mamanya dengan wajah cemberut.
"Kak Alka gak cinta sama Mei..." jawabnya sok sedih.
"Kenapa dia gak cinta sama kamu?"
Dengan ekspresi sedihnya Meira menceritakan semua pada Mamanya dengan ekspresi yang berubah-ubah. Kadang cemberut, tersenyum malu, tertawa bahkan sedikit mendramatis.
"Mama sih gak heran kalo dia gak cinta sama kamu," ujar Hanin setelah mendengar cerita Meira.
"Loh kok Mama ngomong gitu sih?! Kan Mei cantik, imut, gemesin lagi!"
Hanin terkekeh lalu berdiri. "Tapi sayang, kamu gila." setelah itu Hanin hilang di balik pintu.
"AKU GAK GILA MAMA!!"