![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Samuel berdecak tatkala pintu berkusen putih itu terbuka seiring dengan cewek ber-hoodie biru langit lengkap dengan kupluk yang terpasang masuk ke kamar inapnya. Cowok berwajah memar itu menekan sebuah tombol di brankarnya hingga benda itu sedikit menegakkan tubuhnya.
Yah, Samuel pun masuk rumah sakit setelah pertarungan besar itu. Memar dan darah yang tidak kunjung berhenti membuatnya terpaksa dirawat di tempat terkutuk ini.
"Aku bawain bubur buat kamu."
Samuel kembali berdecak. Menatap tanpa minat bubur ayam yang disajikan cewek yang duduk di sisi ranjangnya dengan kursi putar.
"Sakit gue gak parah-parah amat, ngapain lo bawa bubur?" cetus Samuel, dia mengambil remot di nakas lantas menyalakan televisi untuk membuang atensinya dari cewek bermata biru laut itu.
Terdengar helaan nafas kecil dari sampingnya. Samuel hanya melirik sekilas lalu kembali acuh.
"Kamu kenapa, sih, sensi banget sama aku? Aku ini tunangan kamu, loh!" cerca Bianca. Menutup bubur yang dia sajikan terlebih dahulu agar tidak dingin lalu bersedekap menatap Samuel.
Samuel menoleh, mengangkat sebelah alisnya dengan senyum miring. Terlihat keren namun menyebalkan di mata Bianca. "Sensi?" cowok itu terkekeh entah kenapa. "Seharusnya gue yang nanya. Lo ngapain ke sini? Gak jengukin mantan lo yang sekarat itu?" Samuel kembali fokus pada televisi setelah menekankan kata 'mantan' pada Bianca.
Bianca berdecak. "Kamu lebih penting dari dia. Sek---"
"Lebih tepatnya, saham gue yang lebih penting sekarang. Bener, kan, gue?" Samuel kembali mengangkat alis. Menyeringai kecil saat melihat Bianca bungkam.
Memilih mengabaikan televisi, Samuel sedikit memiringkan tubuhnya lalu mengangkat dagu Bianca hingga cewek itu menatapnya.
"Jangan lo kira gue gak tau kebusukan lo, Bi. Gue tau apa alasan lo nerima pertunangan ini, dan apa alasan lo dekatin Alka." Samuel menghentakkan dagu cewek itu tanpa manusiawi hingga ringisan kecil terdengar dari Bianca.
Bukannya kasihan, Samuel malah berdecih lalu kembali menekan sebuah tombol di brankarnya agar benda itu kembali ke posisi awal. Samuel merebahkan tubuh lalu memejamkan mata.
"Pergi dari sini. Gue alergi deketan sama cewek munafik," ujar Samuel dalam pejamannya.
Tidak ingin direndahkan lebih jauh lagi, Bianca menghentakkan kaki lalu keluar dari ruangan itu. Dia kesal pada Samuel yang selalu membuatnya kalah telak.
####
Malam ini, Meira kembali duduk di kursi putar tempatnya tadi pagi. Tempat yang menyadarkannya bahwa ini bukanlah mimpi di tidur paginya. Terbukti saat Alka tidak kunjung sadar hingga malam ini walau Dokter mengatakan tidak ada yang perlu dicemaskan.
Meira menghela nafas lalu menaruh bunga lily putih yang dia beli di sebuah toko bunga terdekat. Cewek itu menghela nafas sejenak sebelum akhirnya berbalik menatap pintu yang terbuka.
Ada Devan, dan Bagus. Serta seorang perempuan cantik bercelana jeans dan baju rajut seperti Meira, bedanya Meira memakai rok jeans selutut bukan celana.
"Udah lama, Mei?" pertanyaan Devan menyentak Meira dari lamunannya pada perempuan yang Devan genggam tangannya.
Meira mengangguk, matanya tidak lepas dari cewek itu.
Mengikuti arah pandang Meira, Devan memberi kode pada Aluna untuk memperkenalkan diri, sedangkan dia beralih duduk di samping Bagus yang cengar-cengir dengan jari yang sibuk mengetik pada ponsel. Bisa Devan pastikan, cowok berambut gondrong tanpa ikat rambut itu pasti tengah bertukar pesan dengan Dita.
"Meira," balasnya. Dia sempat terpaku pada paras Aluna. Wajahnya bulat, hidungnya cukup mancung dan bulu matanya lentik tanpa maskara. Di tambah senyum milik cewek itu yang begitu manis hingga Meira pangling melihatnya.
Aluna mendekat ke arah nakas lalu menyimpan pengharum ruangan yang sempat dia beli bersama Devan.
"Kata Devan, Alka gak suka bau rumah sakit, makanya kami beli ini," jelas Aluna tanpa diminta. Tapi Meira tidak masalah, dia senang dengan kepribadian Aluna yang terlihat dewasa.
"Kakak pacarnya Kak Devan?" tanya Meira.
Aluna membalikkan badan setelah kegiatannya selasai. Dia mengangguk seraya tersenyum lalu menatap Devan sekilas yang tengah tengkurap di sofa. Aluna yakin, pacarnya itu pasti tengah bermain game.
Meira tersenyum antusias. "Cie... Kak Devan gak jomblo lagi. Traktir dong, Kak. Katanya kaya!" cibir Meira. Dia terkekeh saat melihat Devan mendelik padanya.
Meira beralih pada Aluna yang juga terkekeh. Lagi-lagi Meira terpaku, Aluna bukan cewek dengan segala image yang di jaga. Dia juga sama seperti Meira, tidak sungkan tertawa di depan orang-orang dan terbuka, bedanya Aluna agak kalem, sedangkan Meira versi chaldish-nya.
Aluna bergerak duduk di tepi kasur Alka seraya menatap Alka dan Meira bergantian. "Kamu pacarnya Alka?" tanya Aluna. Pertanyaan yang saat ini benar-benar membuat Meira ingin berkata 'iya'. Tapi, Meira cukup sadar diri untuk kata itu.
Dia menggeleng lalu tersenyum dan menjatuhkan pandangan pada Alka. "Maunya sih gitu, Kak. Tapi dianya gak mau."
Aluna kembali terkekeh. Memperlihatkan gigi gingsul dan lesung pipinya. "Kamu sabar, yah. Alka itu tipe orang yang gak tau ekspresiin perasannya. Jadi jangan heran kalau dia sering bikin kamu jatuh bangun." Aluna mengelus bahu Meira.
Meira mengangguk membenarkan. Alka memang orang yang pelit ekspresi dan pengendali ekspresi terbaik hingga tidak ada satupun orang yang bisa menebak jalan pikiran cowok itu.
Obrolan Aluna dan Meira berlanjut tentang banyak hal. Entah itu tentang Alka, Devan, The Lion serta kuliah Aluna di Oxford.
Dan ada beberapa fakta yang Meira tahu dari Aluna. Dia adalah sepupu Bagus yang besar dalam ruang lingkup keluarga Bagus karena kedua orang tuanya yang sudah meninggal sejak kecil. Dan Aluna memilih jurusan Psikolog di Oxford seperti Bunda Hana.
Setelah Aluna menarik diri dan duduk di samping Devan, Meira beralih menaikkan sedikit tinggi kursinya lalu menidurkan kepala di bahu Alka. Memejamkan mata erat-erat untuk menghirup aroma khas tubuh Alka yang beraroma mint.
Membuka mata kembali, tangan kanan Meira yang bebas bergerak mengelus punggung tangan Alka yang terinfus. Itu tangan yang pernah menolong Meira dan memberinya jaket saat di bully Naila dulu.
Meira tersenyum tipis. Menggeliatkan kepalanya di ceruk leher Alka lalu mendongak sekilas menatap wajah cowok itu dari bawah. Meira tidak peduli pada Bagus yang sudah tertidur, dan Aluna yang mungkin sudah tertidur juga dengan bahu Devan sebagai bantalnya. Devan yang asik bermain ponsel dengan tangan kiri yang merangkul pundak Aluna. Meira hanya ingin menatap wajah Alka.
Merasa puas menatap wajah Alka, Meira menegakkan badannya hendak meneguk air mineral di nakas. Tapi, sesuatu yang ditangkap matanya membuat dia memekik. Hingga Bagus yang tidur sontak terlonjak, dan Devan yang refleks menjatuhkan ponselnya ke lantai serta Aluna yang menggeliat lalu menegakkan badan.
.
.
.
KENAPA TUH SIH MEI?