[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 65



Bukan berhenti mencintai. Namun, mundur lebih baik daripada harus mengganggu.


Dimas memiringkan sedikit kepalanya seolah berpikir mengenai caption dari foto yang baru saja Bagus unggah di Instagram cowok itu. Teman-temannya yang lain pun memusatkan perhatian pada Dimas termasuk Alka yang sejak tadi sedang sibuk memeriksa soal matematika.


Seperti biasa, pojok kantin yang telah di-booking anak TheLion ramai dikarenakan kerusuhan cowok-cowok itu. Meja bundar yang cukup besar di paling pojok menjadi perkumpulan para inti, di sebelahnya yang berjarak 30 sentimeter ada beberapa anggota lain.


“Diputusin lo sama Freya, Dim?” tanya Tian angkat suara.


Dimas. Cowok bertopi SMA dengan posisi terbalik itu menggeleng lantas menunjukkan layar ponselnya pada Tian lalu ke yang lain. “Aneh gak sih bang Bagus pake caption ginian?” tanyanya mengernyit.


Semua anggota inti---minus Devan, Bagus, dan Gilang---diam. Memikirkan maksud dari caption feedstagram Bagus yang seperti lagi patah hati.


“Lagi iseng kali, lo tau kan gimana si Bagus? Suka cari sensasi tuh bocah,” celetuk Malik sembari menguap. Katanya, cowok itu menghabiskan malam di kelab hingga pukul 3 dini hari dan tertidur pukul 4 subuh.


“Mungkin lagi belajar jadi titisannya Boy Candra.” Arnold ikut menimpali sesekali melirik Alka yang masih fokus pada beberapa soal matematika yang dipercayakan guru untuk cowok itu periksa.


Dimas mendengusi setiap timpalan teman-temannya. Baru saja dia akan membuka suara, pekikan seseorang lebih dulu terdengar nyaring hingga menggema di kantin.


“Oi, bruh! Gue kambeekkk!!!”


Semuanya hanya menatap datar pada cowok berseragam tidak terkancing dengan kaos hitam polos itu yang tengah merentangkan tangan. Sepersekian detik berikutnya, mereka ber-oh ria seolah ini bukanlah hal yang istimewa ataupun perlu diribut-ributkan.


“Anjirr! Gue baru balik bukannya disambut pake karpet merah malah dicuekin. Anak sultan ini, woy! Anak sultan!” Devan memekik heboh hingga beberapa mata penghuni kantin menyorot dirinya. Pandangan terganggu datang dari anak cowok, berbeda dengan anak cewek yang hanya cekikikan geli.


“B aja, sih,” sahut Arnold datar. Cowok berkaos volcom navy itu lebih memilih mencomot cireng ketimbang menyambut Devan.


Mendengus, Devan bergabung dengan mereka lalu duduk di antara Alka dan Arnold. “Ngapain, bray? Serius amat kayak mau lamaran,” ujarnya pada Alka.


Alka menatap sekilas pada Devan lalu kembali fokus. “Mata lo kan gak buta. Liat aja sendiri gue ngapain.” Jawaban dari Alka membuat teman-temannya tertawa sedangkan Devan mendelik tajam.


“Si bos lagi sensi belum dimaafin sama bu Ketua.” Adnan tertawa walaupun dipelototi oleh Alka. “Gak dapat jatah dong!” sahutan Devan disambut gelak tawa. Arnold pun bahkan ikut tertawa. Mengingat bagaimana Meira dan Alka yang selalu menempel bak perangko setelah berpacaran.


“Eh, ini calon kakak ipar gue mana? Dari tadi gak keliatan rambutnya, nih.” Kepala Devan celingukan ke seluruh sudut kantin untuk mencari seseorang. Bagus. Cowok yang masih menjadi tanda tanya mengenai caption fotonya.


“Gak ta---”


“GUE GAK SUKA YAH LO PADA NGUMPUL TERUS GAK NGAJAK GUE!!”


Mereka menoleh pada pintu kantin untuk mencari tahu siapa yang memotong ucapan Ezra. Bukan cuma anak The Lion, melainkan semua pun ikut memandang cowok gondrong yang kini berjalan berkacak ke meja anggota inti.


“Oh …, jadi gini yah sekarang, ngumpul gak ngajak-ngajak, ngerumpi gak kasih tau. Tau gue, mah. Gue gak penting.” Bagus duduk di sebelah Tian yang baru saja mengambil gitar dari kolong meja.


“Dih, sensi lo kayak cewek PMS. Salah sendiri sibuk PDKT sama Dita,” tukas Devan dengan tangan kanan yang mengambil cireng. “Nold, bayar yah,” ujar Devan seenaknya pada Arnold dan dibalas anggukan serta dengusan cowok datar bermulut tajam itu.


Mendengar Dita, wajah yang tadinya dibuat kesal kini berganti datar namun siapapun yang melihatnya pasti tahu bahwa, wajah datar itu tersirat akan kesenduhan yang berusaha disembunyikan. Alka yang awalnya fokus mulai menghentikan kegiatannya disaat menyadari situasi yang mulai berbeda.


“PDKT apaan orang dia udah punya pacar.” Gumaman yang terdengar rendah itu bisa ditangkap oleh pendengaran tajam milik Ezra. Cowok dengan kaos putih polos serta seragam yang tersampir di bahu kanan itu melotot tidak percaya.


“Lo bilang apa? Yang punya pacar siapa? Si Dita atau lo?” cercanya penuh tuntutan. Semua temannya pun menatap penasaran pada Bagus. Apalagi saat mendengar helaan napas berat dari cowok berambut gondrong terikat itu.


Dengan lemah, Bagus mengangguk. “Dita udah punya pacar,” pungkasnya.


“Jangan bercanda deh, Bang. Selama ini kita kan tau Abang teuh PDKT sama neng Dita.” Dimas kemudian memicingkan mata. “Apa jangan-jangan pacar yang Bang Gus maksud itu Bang Gus sendiri? Bener, kan?!” Dimas menepuk meja bersamaan dengan ujung kalimatnya yang melengking.


“Jadi lo udah jadian sama Dita, bray?” timpal Devan dengan wajah berseri-seri. Pasalnya, sahabatnya dari dulu ini belum pernah mengenal yang namanya pacaran. Dan Devan yakin, Dita adalah perempuan pertama yang mengisi hati Bagus.


“PJ-lah boskuh! Kuy, abisin cireng di sini.” Tian ikut bersorak heboh. “Temen gue yang gondrong udah soldout, oi!” Adnan ikut berteriak heboh.


“Bunda Hana bentar lagi dapat mantu, nih.” Malik tertawa disusul Arnold. “Langgeng, yah, Kanda!” imbuh Ezra.


Alka? Cowok itu hanya diam mengamati raut wajah Bagus yang tidak berbinar sama sekali dengan semua seruan teman-temannya. Alka merasa ada yang tidak beres di sini. Kalau memang Bagus adalah pacar Dita saat ini, cowok itu pasti akan merasa senang. Namun, yang Alka tangkap hanyalah raut sendu.


“Pacar Dita bukan gue. Tapi Rio, si Waketos.”


“WHAT THE---” mereka kompak memekik tertahan. Bagus menghela napas.


“Kaget kan lo semua? Gue juga awalnya kaget pas gue mau jemput dia ke sekolah, dia malah bilang dijemput sama orang lain. Pas gue tanya dia gak mau jawab, sampai akhirnya orang yang dia maksud datang. Rio yang ngasih tau gue kalau mereka udah pacaran. Seminggu.”


“WHAT THE FUUCCKK!!” kali ini umpatan mereka berhasil keluar. Tidak habis pikir pada Dita yang ternyata telah berpacaran dengan Rio selama satu minggu. Dan itu tanpa sepengetahuan Bagus.


“Jadi caption di IG itu buat Dita?” tanya Dimas yang dibalas angkatan bahu oleh Bagus.


Tiba-tiba, Tian berteriak keras saat Dita baru saja memasuki area kantin. “Ku belikan bakwan malah dia yang jadian. Aku yang berjuang malah aku yang terbuang. Sekarang diriku cemburu tanpa ikatan, kini kusadari kita cuma teman ….”


Dita yang tahu persis lagu itu ditujukan dengan maksud menyindir dirinya hanya bisa menunduk. Apalagi suara Tian yang dikeraskan dan mata cowok itu terang-terangan menatap Dita.


####


Alka mengulum senyum geli melihat cewek berambut kuncir di depannya berjalan tergesa-gesa menghindari dirinya. Dengan kedua tangan yang tenggelam dalam saku celana abunya, Alka mulai mempercepat langkahnya sebelum ceweknya itu sampai di ujung koridor.


Tangan kanan Alka dengan cepat keluar dari saku lalu menarik tangan Meira agar cewek itu berbalik, bersamaan dengan tangan kirinya yang membuka kunciran rambut Meira.


“Kan, udah dibilangin jangan nguncir kalo di sekolah,” ujarnya. Ikat rambut merah mudah bermotif telinga kelinci itu Alka kantongi hingga membuat sang empu memberengut dengan bibir tertekuk ke bawah.


“Ikat rambu Mei di rumah udah hampir habis tau! Dan itu semua Kakak yang ambil!” cercanya kesal. Lebih kesal lagi saat cowok jangkung di hadapannya ini hanya terkekeh lalu merapikan rambut Meira yang teracak setelah dia membuka kuncirannya.


Kemudian, Alka mendekat pada cewek yang mulai was-was ini. Mendekatkan bibirnya ke telinga Meira seraya berbisik. “Lo lupa kata gue?” Sebuah kecupan singkat mendarat di pelipis Meira hingga cewek itu membulatkan mata lalu mendorong dada Alka.


“Ih, malu tau! Nanti kalau ada orang yang liat gimana?! Entar dikirain buat mesum lagi!” pekiknya benar-benar kesal.


Alka mengedarkan pandangan kemudian mengangkat alis. “Gak ada siapa-siapa. Cuma lo yang mau di sekolah sampai jam empat gini.”


“Terus Kakak sendiri ngapain masih di sini? Sana pulang!” setelah berkata garang, Meira berbalik melanjutkan langkahnya pada gerbang di karenakan Gilang yang sudah menunggu.


Alka terkekeh lalu menyusul Meira kemudian merangkul pundak cewek itu. “Gue gak bisa pulang kalo cewek gue belum pulang. Entar diculik om-om.”


Meira berdecih mendengarnya namun tidak berusaha melepas rangkulan Alka. Dia hanya berjalan dengan wajah datar yang berusaha dipertahankan.


“Jangan lama-lama marahnya. Entar gue khilaf lagi kayak di lapangan.”


Menghentikan langkah, Meira kemudian menghujami cowoknya itu dengan cubitan di sekitaran perut. Mengingat kejadian di lapangan tempo hari membuat Meira merasa salah tingkah, ditambah dengan wajahnya yang memerah mengalahkan kepiting rebus.


Alka mengaduh pelan lalu menghentikan pergerakan Meira dengan menggenggam tangan ceweknya. Menyematkan jari-jari besarnya di antara jari-jari mungil Meira. “Lo cantik kalo marah, tapi lebih cantik lagi kalo pipi lo merah kayak gitu,” ujarnya lalu terkekeh melihat Meira yang memalingkan wajah.


“WOI, MARKONAH!! BAWA ADIK GUE SINI!!”


Keduanya menoleh pada cowok ber-hoodie maroon dengan celana cargo pendek hitam di dekat sebuah mobil HRV putih. Alka terkekeh disusul kekehan Meira. Cewek itu melepaskan genggaman Alka lalu berlari pada Gilang.


“Meira!” panggil Alka yang bisa menghentikan langkah cewek itu disusul tubuh mungilnya yang berbalik.


“Kenapa?” sahutnya tidak santai.


"Jangan cantik-cantik. Gue gak kuat."


.


.


.