[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR END



Meira Annastasia, cewek polos yang mendadak viral seantero SMA Garuda hanya karena hari pertamanya datang ke sekolah dia bersama seorang Alka.


Cewek ceria dengan segala kenekatannya yang membuat dia dekat dengan Alka dan anak The Lion. Sifatnya yang seperti anak-anak membuat teman-teman Alka tidak tega menyakitinya sekalipun mereka ingin sebab, cewek itu selalu mencari celah agar bisa bersama mereka, khususnya Ketua Geng mereka.


Pertemuan yang diawali penolongan, peminjaman jaket, dan hukuman ini membuat Alka tidak sadar bahwa dia dan Meira akan sejauh ini. Meira yang awalnya hanya mendekati dirinya beralih gencar mendekati teman-temannya kemudian mamanya.


Alka tidak tahu, apa mantra yang cewek itu gunakan hingga dengan mudah menarik perhatian teman-temannya termasuk mamanya sendiri yang sakit waktu itu. Khususnya Devan dan Bagus yang sangat mendukung Meira dan Alka. Berbeda dengan Arnold yang terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya pada cewek itu dikarenakan tidak percaya pada perempuan kecuali ibunya, mungkin.


Jika boleh jujur, awalnya Alka berpihak pada Arnold. Dia juga tidak menyukai cewek bernama Meira itu. Ceroboh, nekat, manja, kekanak-kanakan. Sifatnya yang seperti itu kadang membuat Alka muak sendiri hingga selalu mencari cara untuk menjauhi cewek itu.


Namun sayang, Dewi Fortuna tampak berpihak pada cewek itu hingga di setiap kejadian yang Alka lalui, selalu saja melibatkan Meira. Mencueki, membentak, menolak mentah-mentah telah Alka lakukan agar Meira kapok dengannya dan memilih menjauh.


Tapi, entah apa yang diidamkan ibunya ketika hamil cewek itu hingga dia benar-benar pantang menyerah walau berkali-kali disakiti oleh Alka.


Bukannya menjauh, cewek itu malah menunjukkan rasa sukanya pada Alka secara terang-terangan walau sering mendapat bully-an dari salah satu fans fanatik Alka, Naila namanya.


Lama bersama cewek itu akhirnya Alka tahu bagaimana Meira. Sekalipun dia childish, cewek itu memiliki semangat yang membara, terlebih jika menyangkut tentang Alka.


Hingga suatu ketika Alka mengingat tentang amanah sahabat yang selalu menolongnya, pesan yang menyuruh Alka untuk menjaga adiknya tersebut.


Sialnya, adik sahabatnya itu adalah Meira sendiri. Alka rasanya ingin menghilang saja ketika tahu bahwa cewek yang selama ini dia hindari mati-matian adalah cewek yang juga dia cari habis-habisan bersama temannya. Mau tidak mau, sejak itu dia mulai dekat dan tidak terlalu menghindar dari Meira lagi.


Bersama Meira juga Alka tahu bahwa cewek itu punya hati yang tulus. Melihat Meira dengan senang menjaga dan menemani mamanya di rumah sakit membuat Alka merasakan kehangatan tersendiri. Senyum cewek itu terlalu tulus untuk diabaikan, tatapan matanya terlalu jernih untuk dipelototi.


Kedekatan yang awalnya hanya sebatas ‘melindungi’ Meira karena amanah, perlahan berganti. Alka mulai peduli saat cewek itu marah hingga dia rela bertanya pada Ezra cara membujuk perempuan. Alka mulai peduli saat cewek itu pulang sendiri atau diganggu oleh Naila dan antek-anteknya.


Rasa tidak suka mulai menghinggapi hati Alka saat cewek itu pulang bersama Bima.


Alka tidak tahu, sekuat apa harapan dan doa Meira hingga hati Alka mulai luluh padanya. Teman-temannya pun semakin gencar menjodoh-jodohkannya dengan Meira. Mamanya juga menyukai Meira hingga saat mamanya akan meninggalpun dia masih ingin bertemu Meira.


Meira yang selalu ada di saat Alka susah dan kesepian juga berhasil merubuhkan dinding es dalam hati Alka sedikit demi sedikit. Hingga kini, Alka merasa sedang bermimpi. Duduk di dalam masjid besar disaksikan banyak orang dia menjabat tangan Arya, mengucapkan qobul secara lantang dengan satu tarikan nafas hingga seruan kata ‘SAH’ dari orang yang menyaksikannya sukses membuat rasa haru menyeruak dari dirinya.


Alka lalu menoleh, gadis cantik dengan kebaya putih serta make-up tipis menyambut pandangannya ditambah dengan senyum manis yang kini menghiasi wajah perempuan yang baru saja menjadi istrinya.


Cincin putih dengan permata berlian Alka sematkan di jari manis cewek itu lalu dibalas sang empu dan diakhiri cewek itu yang mencium punggung tangan Alka.


“Makasih udah mau nungguin aku,” ucap Alka lalu mencium kening gadisnya.


Dia tersenyum dengan mata yang terpejam menyambut kecupan hangat Alka di keningnya. Empat tahun dia menunggu kedatangan lelakinya dengan banyak rintangan, akhirnya terbayarkan dengan manis saat ini. Rasa syukur tak henti-hentinya dia panjatkan untuk Tuhan yang selalu menjaga hatinya.


####


“Kakak gimana ngebujuk papa sampai restuin kita?”


“Gampang. Tapi itu rahasia aku sama papa. Kamu gak usah tau.”


Cewek berdress putih itu mengerucutkan bibir lalu memukul pelan lengan cowok berkaos hijau army yang duduk di sampingnya dengan menertawai dirinya.


“Aku serius tau. Papa, kan, gak suka sama Kakak. Masa iya langsung restuin gitu aja, sih?”


“Aku jampi-jampi biar papa restuin kita.”


“Ih, makin ngaco! Di Amerika makan apa, sih, sampe nyebelinnya akut gini?!” bantal kepala berwarna putih melayang hingga mendarat tepat di wajah Alka.


“Makan cewek bule tiap hari.”


“APA?!” Alka menggosok-gosok telinganya yang terasa berdengung setelah Meira berteriak di sana. Cewek ini, sudah empat tahun lamanya namun dia masih sama. Walaupun sudah terlihat dewasa, sifat kekanak-kanakannya masih saja ada.


“Becanda sayang. Sini-sini.” Alka merapatkan dirinya pada Meira lalu memeluk gemas cewek yang baru menjadi istrinya tadi pagi.


“Alasannya karna aku cinta sama anaknya. Udah itu aja.”


Meira yang awalnya ingin menarik diri pun gagal saat suaminya ini malah mempererat pelukannya lalu berbaring hingga kepala Meira jatuh ke dada cowok itu. Tangan Alka bergerak mengelus rambut Meira.


“Kamu kira aku ke Amerika buat apa, Mei? Selain nuntut ilmu, aku juga mau buktiin ke papa Arya kalau aku bisa dampingin kamu. Aku mau patahin persepsi papa kamu kalau aku brandalan yang cuma bisa kasih dampak buruk buat kamu.”


Tangan Alka yang mengelus rambut Meira terhenti saat cewek itu mendongak menatap Alka lalu membaringkan kepala di samping Alka. Menjadikan lengan kekar cowok itu sebagai bantalnya. “Jadi itu alasan papa nerima Kakak? Karna Kakak udah bisa buktiin kalau Kakak gak seperti apa yang papa pikirin?”


Alka mengangguk singkat. “Mungkin. Selebihnya tanya Gilang. Dia juga ikut andil, kok.”


Meira memberenggut. “Males, ah, nanya Kak Gilang. Hobinya pacaran mulu, entar dikacangin kayak dulu-dulu lagi. Orang udah bucin akut.”


Alka terkekeh lalu menyampingkan tubuh agar sepenuhnya berhadapan dengan Meira. Tangan kirinya yang bebas memeluk pinggang cewek itu. “Masa? Selama pulang dari Amerika aku jarang liat Gilang pacaran.”


“Itu karna gak mau ketahuan. Katanya gak mau dikatain bucin. Tapi pernah sih kepergok sama kak Bagus lagi ciuman pas kita barbeku sebelum Kakak balik ke Indo.”


“Oh, ya?” Meira tertawa lalu mengangguk. Membayangkan wajah memerah Gilang yang malu sekaligus kesal karena kepergok ciuman itu benar-benar menggemaskan.


“Iya.”


“Mending suruh Gilang nikahin anak orang, gih, biar gak dosa terus. Apalagi udah cium-ciuman gitu.”


“Kayak Kakak gak pernah cium aku aja,” gumam Meira dengan rendah seraya memainkan leher kaos yang digunakan Alka.


Alka menyeringai kecil. “Tadi bilang apa?” tanyanya pura-pura tidak tahu padahal dia mendengar jelas apa yang Meira katakan tadi.


Meira mendongak lalu mengerjap beberapa kali. “Apa?” tanyanya.


“Tadi kayaknya ada yang bilang sesuatu. Bilang apa?”


Meira menggeleng cepat. “Gak. Gak bilang apa-apa. Telinga Kakak kali yang bermasalah.”


Mendelik, Alka kemudian terkekeh. “Mei?”


“Iya?”


“Boleh, gak?”


Mendongak, Meira lalu mengangkat alis. “Boleh apanya?”


“Itu.”


“Itu apa?”


“Ya, itu.”


Meira mengikuti arah pandang Alka. Sepersekian detik berikutnya, dia terbelalak saat mata Alka mengarah pada bibirnya. Refleks, dia menutup mulut dengan kedua tangannya hingga membuat Alka tertawa.


“Gak boleh, ya?” tanya Alka di sela-sela tawanya yang perlahan lenyap.


Meira tidak menjawab. Dia sibuk berperang dengan otaknya. Empat tahun ternyata tidak membuat rasa gugupnya terkikis jika berhadapan dengan Alka. Meira belum siap jika boleh jujur, tapi di sisi lain Alka adalah suaminya. Alka berhak atas dirinya.


Dengan jantung yang bertalu-talu, Meira mengulas senyum lalu mengangguk. Senyum yang menular pada Alka. Hingga akhirnya, Meira memejamkan mata saat Alka kembali mencium keningnya dengan lembut.


-END-


❤❤