[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 27



Jam dinding yang tertera di kamar Meira yang berwarna bluebaby itu baru menunjukkan pukul 05:30 namun Meira sudah sibuk dengan segala keperluannya.


"Buku mtk udah. Bahasa Inggris udah. Kimia udah. Huh! Selasai!" Dia menghembuskan nafas lega.


Cewek itu kemudian berjalan menuju meja rias. Seragam putih abu-abunya sudah melekat dalam tubuh mungilnya.


Meira kemudian memakai bedak baby ke wajahnya lalu di tambah dengan polesan liptint tipis berwarna merah muda agar tidak terlihat pucat.


Setelahnya dia tersenyum lebar pada cermin. "Ya ampun. Kenapa? Kenapa? Kenapa?" Meira mendramatis menatap cermin. "Kenapa aku cantik banget, sih?!" pekiknya kepedean.


Setelah memutar-mutar badannya di hadapan cermin. Dia kemudian merogoh laci meja rias mencari sesuatu bernama bando.


Laci pertama tidak ada begitupun laci kedua dan seterusnya.


"Kok, bando aku gak ada, yah? Perasaan aku taruh di sini, deh, kalau habis pakai." Dahinya berkerut tanda berpikir. "Apa mungkin sekarang ada tuyul bando, yah?"


"Masa iya, sih?"


Saat masih sibuk mencari bandonya kesana kemari. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka hingga tampaklah Hanin yang menggeleng miris menatap kamar anak gadisnya.


"Mei, sebelum mandi itu kasurnya di beresin dulu, sayang. Masa anak gadis kamarnya gini, sih." Hanin masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi kasur Meira. Memandang anaknya yang sibuk ke sana kemari mencari sesuatu.


"Mei, kamu dengerin Mama, gak, sih?"


"Aduh, Ma...., ini Mei lagi nyari bando mickey mouse aku yang warna merah item. Jangan ngajakin ngobrol dulu." Meira tetap sibuk dengan pencariannya. Menggeledah lemarinya hingga berhamburan.


"Kamu gak bisa pake yang lain aja? Lagian ngapain pake bando segala, sih?"


"Ih, Mama, mah, gak ngerti. Kecantikan Meira itu bertambah 99,9 persen kalau pake bando."


Hanin mendelik mendengar penuturan anaknya. Dia kemudian menepuk jidat saat mengingat sesuatu.


"Oh iya, Mama lupa mau ngasih tau kamu kalau Alka ada di bawah nungguin kamu," ujarnya. Menatap punggung Meira yang sibuk membolak-balikkan bantal sofa.


"Hm." Meira berdehem acuh. Beberapa detik kemudian kegiatannya terhenti. Dia berbalik menatap Mamanya dengan mata sedikit membulat.


"Ma-mama tadi bilang apa?" tanyanya.


Alis Hanin berkerut. "Alka tungguin kamu di bawah. Sekarang udah jam enam lewat sepuluh menit."


"APA?!" Meira menatap jam dinding berwarna pinkbaby itu. Matanya kian membasar.


"Ih, Mama, kok, gak bilang dari tadi, sih." cewek itu buru-buru merogoh laci riasnya lagi. Mengambil satu jepitan rambut berwarna biru lalu di sematkan pada rambutnya.


"Kamu kenapa, kok, buru-buru gitu?" tanya Hanin. Berdiri bersedekap menatap Meira yang kerempongan.


"Kalau Mei lamban yang ada Mei ditinggalin sama Kak Alka." Dia menuju tempat sepatu. Mengambil dua pasang sepatu Converse dan Pentofel. Dia menunjukkan sepatu itu pada Hanin.


"Meira bagusnya pake yang mana? Ini atau ini?" Meira mengangkat sepatu Converse dan Pentofel secara bergantian di tangan kanan dan kirinya.


"It---"


"Oke, Mei pake yang Converse aja."


"Aduh..., Mah. Mama liat gak kaos kaki Mei yang warna putih?"


"Coba cari di panci dapur."


Meira memberenggut. "Ih, Mama. Serius tau!"


Hanin terkekeh lalu memungut sesuatu di bawah tumpukan baju Meira yang sempat jatuh saat mencari bando.


"Ini apa?" tanya Hanin. Mengangkat kaos kaki terlipat ke hadapan Meira.


Meira kemudian cengengesan. "Makasih, Mama." Dia mengecup pipi Hanin.


"Cepetan, gih. Alka kasian nunggunya."


"Iya, iya." Meira mulai memakai kaos kakinya dilanjutkan dengan sepatunya.


"Yuk, Ma. Mei udah siap."


Hanin berdecak pelan lalu merapikan rambut Meira. "Jadi cewek itu gak usah terlalu rempong," cibir Hanin. Dia lebih dulu keluar kamar.


Meira menghembuskan nafas gugup. Entah kenapa rasanya berbeda saat tahu bahwa Alka datang menjemputnya. Padahal dia sudah tahu ini akan terjadi. Mengingat chat yang dikirim Alka semalam.


"Oke, Meira. Jangan gugup! Tarik nafas dalam-dalam, tapi jangan sampai kentut." Dia kemudian menarik nafas dalam- dalam lalu menghembuskannya pelan melalui mulut.


***


Dan kembali lagi, SMA Garuda kembali dihebohkan saat melihat sang most wanted mereka datang bersama seorang gadis pagi ini.


Siapa lagi jika bukan Meira dan Alka. Dua insan manusia yang sontak menghebohkan sekolah di jam yang masih sangat pagi.


Saat turun dari motor Alka, Meira mulai mendengar lontaran-lontaran yang mulai mengudara membicarakannya.


"Itu bukannya si Meira, yah?"


"Iya. Kok, bisa sama Alka, yah?"


"Tau, tuh. Apa mungkin mereka udah taken? Kan, Meira deket sama anak The Lion."


"Ish, apaan, sih! Gak mungkin lah, Alka sama bocah kayak dia. Dandanannya aja kayak anak TK gitu!"


"Enaknya kasi tau Naila, nih. Bakal seru dah!"


Meira berusaha menulikan telinganya dari lontaran-lontaran yang jujur sedikit membuat Meira sakit hati.


Cewek itu menghembuskan nafasnya pelan. Dia mendongak saat Alka sudah ada di sampingnya.


"Lo bisa ke kelas sendiri, kan?" tanya Alka. Tatapannya datar menghunus para penggosip murahan SMA Garuda.


"Kakak gak mau anterin aku sampai kelas?" pelas Meira. Dia menatap memohon pada Alka.


Alka melirik sejenak pada Meira lalu mendengus pelan. "Gua ada urusan," balasnya.


"Tapi aku takut, Kak. Nanti kalau di koridor ketemu sama Kak Naila gimana? Kalau aku dibully lagi gimana?"


Alka diam. Helaan nafas terdengar dari cowok itu. "Yaudah." Dia berjalan lebih dulu meninggalkan Meira yang mengernyit.


"Yaudah apa, yah?" gumam Meira. Bingung. Namun dia tetap mengikuti Alka yang ternyata berjalan menuju kelasnya.


Diam-diam Meira menahan senyum. Menatap punggung Alka yang berjalan dengan langkah tegap. Sungguh, Meira sangat mengagumi makhluk Tuhan yang satu itu.


Meira menyamakan langkahnya saat Alka mulai menapaki tangga menuju lantai dua kelas sebelas.


"Kakak mau masuk kelas hari ini?" tanya Meira. Memegang kedua tali tasnya dengan erat.


"Gak," jawab Alka. Pandangannya lurus enggan menatap Meira.


"Kenapa?" Meira menoleh sebentar. Hanya untuk melihat wajah Alka.


"Udah sampai. Sana masuk." cowok itu menunjuk masuk ke dalam kelas Meira dengan dagu.


Meira mencebikkan bibirnya. Dia belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


"Jawab dulu pertanyaan, Mei. Kakak kenapa gak ma---"


"Ih, dasar kulkas berjalan! Untung aja ganteng. Gak bisa apa ngomongnya banyak-banyak. Gemes aku, tuh!"


***


Saat jam istirahat tiba, SMA Garuda kembali dihebohkan dengan kembalinya salah satu anggota The Lion yang sempat pindah dari sekolah.


Cowok itu—Dimas—berjalan di koridor dengan siulan-siulan sok coolnya. Kedua tangannya tenggelam dalam saku celana. Matanya sibuk mengerling pada setiap cewek cantik yang dia lihat.


"Eh, itu bukannya Dimas, yah? Yang waktu itu sempat pindah pas satu bulan di kelas sepuluh?"


"Iya. Yang pindah ke Bandung itu, kan?"


"Bukannya dia emang orang Bandung, yah?"


"Iya, sih. Tapi, kok, dia bisa balik lagi, yah? bukannya kalo udah pindah gak bisa balik lagi ke sini?"


"Apasih, yang gak bisa selagi punya duit."


"Oh, gitu... Mainnya lewat uang, yah."


Kaki bersepatu Nike hitam putih itu berhenti melangkah saat telinganya menangkap cibiran yang kurang mengenakkan.


Dia menoleh dengan alis terangkat satu pada dua cowok yang tengah berdiri bersedekap di dinding koridor.


Dimas kemudian melangkah mendekat pada dua cowok itu. Tak sengaja matanya menangkap lambang kelas pada lengan baju keduanya.


"Kelas 11. Huh." Dia berdecih dalam batinnya.


"Punten, yah, Kang. Tadi, teh, Akang ngomong apa, yak?" Dia berlagak sok kenal.


"Akang, Akang, lo kira gue Akang tukang bakso apa!" salah satu dari cowok itu menyentak tak santai pada Dimas.


Dimas mengangkat kedua tangannya. "Woho... Santuy, atuh, Kang. Saya kan, nanya baik-baik, akang malah ngegas. Kelebihan bensin, yah, kang?" Dimas menunjukkan senyum mengejeknya.


Kedua cowok itu tersulut. "Eh, lo masih adik kelas udah songong, yah. Sopan-sopan lo sama Senior!" pekik salah satunya lagi. Beberapa orang mulai berkerumun menonton mereka bertiga.


Dimas masih santai walaupun tangan cowok yang menyentak itu menunjuk wajahnya.


"Saya teh, kurang sopan apa lagi, euy. Manggil akang, situ marah. Terus situ mau saya panggil, naon? Senior? Atau Kakak?"


"Lo emang bener-bener, yah! Mentang-mentang lo anggota The Lion, gak usah songong!"


"Lah, ini kenapa atuh, bawa-bawa The Lion. Entar singa marah situ mau di terkam?" Dimas terkekeh di akhir kalimatnya. Kekehan yang terdengar mengejek dan tentu saja memancing emosi kedua cowok itu.


Saat salah satu dari cowok itu mengangkat tangan hendak membogem Dimas, tiba-tiba saja tangannya di tangkup dengan sebuah tangan kekar.


Semua yang menjadi penonton membulatkan mata. Ada pula yang menggigit jari saat melihat pemilik tangan itu.


"Bosan hidup?" suara itu. Suara berat yang dihafal betul siapa pemiliknya.


Alka. Cowok itu perlahan berdiri di antara Dimas dan cowok yang hendak memukul Dimas. Tangannya masih setia menangkup kepalan tangan cowok itu.


Kaki kedua cowok itu mulai gemetaran. Meneguk ludahnya susah payah saat melihat raut dingin dari wajah Alka.


"Nah, Kan. Saya kan, udah ngomong. Kenapa bawa-bawa The Lion. Marah, kan, singanya." Dimas terkekeh lagi. Mengedipkan satu matanya pada kedua cowok itu.


"Ma-maaf, Kak Alka. Ka-kami minta maaf." cowok itu meringis saat Alka mengeratkan tangkupan tangannya.


"Minta maaf sama Dimas."


Cowok itu mengangguk. Meringis keras saat Alka menghentak kasar tangannya. Kedua cowok itu kemudian mendekat pada Dimas. Menundukkan kepala berkali-kali dengan gumaman kata maaf lalu berlari meninggalkan koridor.


"Kapan-kapan kita main lagi, yah, Kang!" teriak Dimas pada kedua cowok yang berlari itu.


Dia kemudian tertawa lalu merangkul Alka dengan erat. "Abang Alkaaaa... Dimas teh, kangen pisan sama Abang...."


Alka menoyor kepala Dimas lalu berdecak. "Gak usah banyak gaya lo." setelahnya dia pergi menuju kantin belakang sekolah diikuti oleh Dimas.


***


"Lo, sih. Baru masuk aja langsung nyari gara-gara!" Bagus menoyor kepala Dimas yang kini sudah memakai topi hitam milik Malik dengan posisi terbalik.


Dimas mencomot cirengnya. "Pertama masuk sekolah teh, kudu buat sesuatu yang indah di kenang, Bang Gus." dia menjawab santai seolah ini bukanlah masalah.


"Dasar titisan neraka jahannam. Entar lo masuk BK langsung di DO. Baru masuk udah nyari masalah sama senior." Devan berceletuk. Cowok itu membantu Dimas menghabiskan cireng.


"Masalahnya, yah, Bang. Dimas teh, kagak suka si senior-senior itu. Iya, sih, Dimas ganteng dan kaya raya. Secara anak konglomerat, kok. Tapi kagak usah di omongin juga, atuh. Kan, Dimas ngerasa jadi selebriti papan atas," ujarnya dengan santai namun terkesan sombong.


Malik menjitak kepalanya. "Masih kayaan Devan, songong lo kampret!" cibirnya.


Dimas cengengesan. Di detik berikutnya, matanya tak sengaja menangkap Arnold yang diam saja menatap ponselnya.


"Bang Arnold kunaon, atuh? Diam-diam bae," candanya.


Arnold mendongak lalu mendengus pelan.


"Sensi dia akhir-akhir ini. Putus cinta gegara di selingkuhin sama ceweknya," celetuk Tian.


"Meira aja dia sensiin," timpal Adnan.


Dimas tertawa lalu melempar kulit kuaci pada Arnold.


"Sialan," umpat Arnold saat kulit kuaci itu mengenai tangannya.


"Eh, Bang. Gak usah galau merana gitu kalau cewek doang, mah. Nih, yah, Dimas teh, punya banyak stok cewek di sini." Dimas mengangkat ponselnya.


"Kalau Bang Arnold mau entar Dimas kasih deh, tapi atu aja, yah." Dimas cengegesan di akhir kalimatnya.


"Semerdeka lo aja!" dengus Arnold.


"Eh, btw lo ngapain di sini? Kagak masuk kelas?" tanya Adnan. Memandang Dimas yang menyeringai kecil.


"Kagak penting. Entar juga bahasnya materi itu-itu lagi. Aing mah, udah hapal materinya! Muntah materi aing di Bandung, mah."


"Heleh, songong! Baru kelas satu aja songong lu, nyet! Entar kagak naik kelas gegara bolos kebanyakan baru dah, tuh, nangis kejer ke emaknya!" cibir Tian.


Dimas mendelik. "Bang Tian, mah, kagak paham atuh. Masa sekolah tuh, kagak ada indah-indahnya tanpa bolos."


"Iya, deh, iya." dengus Adnan.


"Karna apa?" Dimas menatap mereka satu persatu dengan seringai miring.


"KARNA NAKAL ITU MILIKNYA COWOK!" pekik mereka bersamaan. Saling bertos ria lalu tertawa. Benar-benar sederhana untuk bahagia.


Alka yang baru saja datang dari toilet juga ikut tertawa kecil saat mendengar pekikan mereka.


🦁


🦁


🦁


20 MENUJU PART BERIKUTNYA😊