[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
SENIOR 21



Cewek berseragam putih abu-abu itu berdiri dengan senyum lebar di depan cermin yang ada dalam kamarnya. Ia tak henti-hentinya mengecek kerapian seragamnya dan juga rambutnya.


Rambut hitam sepunggung miliknya ia gerai. Tak lupa mengambil bando Micky Mouse berwarna hitam dengan bola-bola merah di dalam laci. Bando itu ia kenakan dengan pas di kepalanya. Cewek itu menyisir sedikit rambutnya lalu menggapai tas yang ada di atas kasur. Membuka pintu lalu turun ke lantai satu menemui orang tuanya.


"Cie... Pagi-pagi udah senyum pepsodent gitu. Ada apa, nih? Latihan buat foto endors pepsodent, yah?" Hanin menaruh sepiring ayam tumis kecap di atas meja. Menyiapkan beberapa piring untuk Meira dan suaminya.


Meira menekuk bibirnya lalu duduk di kursi pantry. Menatap berbagai macam sarapan yang ada di atas meja. "Mama, mah. Gak bisa liat anaknya seneng dikit langsung di buat down." bahu Meira merosot sok kecewa.


Hanin terkekeh lalu menaruh nasi di atas piring makan Meira. "Mama bercanda kali, baperan amat, neng," balas Hanin.


"Tapi emang bener, loh. Gak ada hujan, gak ada angin pagi-pagi langsung pamer gigi. Gak kayak biasanya." Hanin ikut duduk di kursi, tepat di hadapan Meira.


Tak lama kemudian Arya—Papa Meira—ikut bergabung di meja makan.


"Morning, Papa." Meira tersenyum lebar lalu berdiri mencium pipi papanya.


"Morning, sayang." Arya mengecup kening Meira lalu ikut duduk di pantry. Dengan sigap, Hanin melayani suaminya.


"Kamu belum jawab pertanyaan Mama, Mei."


Meira mendelik tipis. "Mama, ih, kepo." cewek itu menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.


"Salah sendiri kamu buat Mama Kepo." Hanin melakukan hal yang sama dengan Meira. Sedangkan Arya hanya sibuk dengan makanannya.


"Meira senang aja, Mah. Akhirnya Kak Alka gak cuek lagi sama aku. Kemarin kita ngobrol banyak, sampe lupa waktu." ada gurat bahagia di wajah Meira kala mengingat itu.


Mendengar nama Alka, sukses membuat fokus Arya terbagi antara makanan dan ucapan Meira.


Hanin berbinar ceria mendengar itu. "Kamu serius? Gak lagi mimpi kan, Mei?" tanya Hanin, semangat.


"Enggak, Mama. Mei serius!" Meira mengangkat dua jarinya membentuk huruf 'V'.


Arya meletakkan sendok dan garpunya pelan lalu membersihkan bibirnya dengan serbet.


"Kamu masih dekat dengan Alka?" Arya angkat suara.


Meira yang hendak memasukkan sesendok nasi kemulutnya, harus terhenti. Membiarkan sendok itu melayang di udara. Cewek itu menatap Arya sekilas lalu mengangguk. Kembali memasukkan sesendok nasi yang sempat tertunda.


"Kamu lupa kalau Papa pernah larang kamu buat dekat sama dia?" nada Arya datar.


Meira menghabiskan nasi yang ia kunyah lalu meneguk setengah gelas air. Membersihkan mulutnya dengan tissue lalu mengenggam tangan Arya yang ada di atas meja.


Meira tersenyum. "Pa, percaya sama Meira. Meira gak bakal kenapa-napa kalau dekat dengan Kak Alka. Dia orangnya baik, Pa."


Arya menghela nafas. Memandang Meira dengan tatapan tak terdefinisikan. "Kamu sendiri, kan, yang bilang kalau dia itu anak geng motor?" Meira mengangguk.


Arya mengelus tangan Meira yang menggenggam tangan kekarnya. "Mei, di luar sana Alka punya banyak musuh yang berbahaya. Kalau sampai musuh dia tau kamu dekat dengan Alka, bisa-bisa kamu yang jadi incaran mereka. Cukup Papa hampir kehilangan kakak kamu. Papa gak mau kamu bernasib sama dengan dia."


Hanin yang sejak tadi hanya mendengarkan, berdiri lalu mengelus pundak suaminya. "Papa percaya, kan, sama anak-anak Papa?" tanya Hanin.


Arya mengangguk satu kali. "Sekarang, papa gak usah khawatir. Alka pasti bisa jagain Meira."


Arya menghela nafas. Bangkit lalu pergi begitu saja, menyisakan Meira dan Hanin yang menatap punggung tegapnya. Hanin menatap Meira lalu tersenyum, mengelus bahu anaknya seolah mengatakan 'semua baik-baik saja'.


***


Mobil Marcedes Benz berwarna hitam itu terparkir indah di parkiran sekolah. Sepatu converse terlihat turun dari mobil itu, di susul dengan selatu balet berwarna hitam milik seorang perempuan.


Semua yang ada di parkiran sekolah menatap tak percaya pada sepasang insan manusia yang baru  saja turun dari mobil mewah itu. Bahkan dari mereka ada yang membekap mulutnya, menahan agar sesuatu yang dapat memekakkan telinga tidak keluar dari sana.


"Makasih, yah, Kak tumpangannya. Kalo gak ada Kak Bima mungkin aku bakal telat ke sekolah." Meira memberikan senyum manisnya pada Bima.


"Santai aja, Mei." Bima menepuk puncak kepala Meira yang tidak terhalangi bando.


Yah. Kedua insan manusia itu adalah Bima dan Meira. Kedatangan mereka bersama pagi ini membuat seisi sekolah gempar. Bahkan berita ini sampai ke telinga Alka dan kawan-kawan. Serta Naila dan dua kacungnya.


Saat ini, cewek itu—Naila—duduk di sudut kantin sembari menatap tajam pada satu objek. Dimana objeknya sedang tertawa riang bersama kedua temannya.


"Dasar bocah murahan! Kemarin sama Alka, sekarang sama Bima. Gak cukup apa dia sama satu aja?!" dada Naila naik turun. Emosi dalam dirinya sudah lama memberontak untuk di keluarkan.


Sandra—salah satu kacung Naila— menyeruput jus alpukatnya lalu mengikuti arah pandang Naila. "Ini gak bisa di biarin Nai. Bisa-bisa famous lo sebagai cewek paling di gilai di sekolah ini turun gara-gara, tuh, cewek," ujar Sandra, mengompori.


Naila mengeraskan rahangnya. Bangkit dari kursi lalu berniat melangkah menghampiri Meira. Tapi tangan Jessy lebih dulu mencekalnya.


"Nai, jaga emosi lo. Liat, noh." mata Jessy menunjuk pada sudut lain di kantin.


Naila mengikuti arah pandang Jessy begitupun dengan Sandra. "Disana ada Alka cs. Terus di sana ada Bima." Jessy menunjuk ke tengah-tengah meja. Di sana ada Bima dan Rio—wakil ketua osis.


Naila menghempaskan tangan Jessy. "Gue gak peduli!" tukasnya.


Dengan emosi menggebu. Naila melangkah cepat ke Meira. menarik rambut cewek itu hingga sang empu memekik.


"Aw!"


"Ini buat lo yang udah sok cantik!" Naila menggoyangkan ke kanan dan ke kiri tangannya yang menjambak rambut Meira dengan kasar. Tak peduli dengan rintihan kesakitan cewek itu.


"Dasar cewek murahan!" Naila mendorong keras kedua bahu Meira hingga cewek itu tersungkur ke lantai.


"Eh, lo apa-apaan, sih?!" itu Dita yang membentak. Cewek itu hendak maju namun dengan cepat di cegah oleh Jessy. Begitupun dengan Bella yang di tahan oleh Sandra karena berniat membantu Meira.


Sejak kedatangan Naila cs ke meja Meira. Semua pasang mata sudah menyorot ke arah mereka. Tak terkecuali salah satu cowok di sudut kantin. Alka.


"Lepasin gue sialan!" Bella berteriak marah.


"Lo diem aja!" bentak Sandra.


Tangan Naila bergerak mengambil jus stobery entah milik siapa. Selanjutnya ia menumpahkan jus yang masih tersisa banyak itu ke kepala Meira.


Naila tersenyum menyeringai. Jongkok di depan Meira lalu mencengkeram dagu cewek yang sudah berantakan dengan jus itu. "Ini baru peringatan buat, lo. Kalau lo masih berani dekatin Alka ataupun Bima, lo bakal ngerasain lebih dari ini. Ngerti, lo?"


Meira diam. Tidak menggeleng maupun mengangguk. "NGERTI GAK?!" Naila berteriak tepat di depan wajah Meira hingga mata cewek itu terpejam takut.


Meira menepis kasar tangan Naila yang mencengkeram dagunya lalu pergi dari sana. Sungguh, ia benar-benar malu. Apalagi seragam putihnya yang tipis, membuat tanktop hitam yang ia pakai terlihat dengan jelas.


***


"Al, bantuin Mei, gih." Devan menatap Alka yang hanya diam menyaksikan aksi Naila. Dengan tenang cowok itu menyeruput es tehnya. Terlihat sangat tidak peduli!


Melihat itu, Bagus berdecak lalu angkat suara. "Lo gak kasian liat si Bocil di aniaya kayak gitu. Itu juga gara-gara lo, kali!" cerca Bagus.


Alka menatap Bagus sekilas lalu beralih pada ponselnya. "Kenapa gue?" tanyanya, dengan pandangan lurus menatap layar ponsel.


Bagus mendelik. "Yah, karna Meira udah deket sama, lo. Itu yang buat Naila marah sampai-sampai ngelakuin itu ke Bocil."


Devan mendesah frustasi sedangkan Bagus mengacak kesal rambut gondrongnya. Entah kesalahan apa yang telah mereka perbuat dahulu hingga di karuniai teman tak berhati seperti Alka.


***


Hiks!


Hiks!


Sudah sejak tadi Meira menahan air matanya. Ia sudah tidak kuat lagi berpura-pura di hadapan Naila. Selama ini ia hanya berlindung di balik senyum cerianya.


Meira memutar kran air lalu membasuh wajahnya. Mendongak menatap wajahnya yang sembab dan rambutnya yang berantakan akibat ulah Naila. Meira tersenyum kecut. Kenapa mendapatkan Alka harus sesulit ini?


Pandangan Meira jatuh pada bagian depan seragamnya. Disana, tanktop hitamnya tercetak dengan jelas, seragam putihnya sudah berubah warna menjadi merah. Cewek itu membasuh tangannya lalu memercikkan air ke seragamnya yang bernoda.


Nihil! Seragam itu tetap merah. Lalu apa yang harus Meira lakukan sekarang? Masuk ke kelas dengan keadaan seperti ini? Tidak mungkin!


"Apa aku pulang aja, yah?" Meira menghela nafas lalu menumpukan kedua tangannya di pinggir westafel. "Kalo aku pulang terus Papa liat, bisa-bisa Papa dateng ke sini terus marahin Kak Naila."


"Aku harus gimana?" Meira menundukkan wajahnya. Menahan air matanya yang kembali ingin keluar. Di seperkian detiknya, Meira merasakan aroma maskulin melekat di tubuhnya.


Cewek itu mendongak. Menatap bayangan orang tersebut di cermin dengan tatapan tak percaya. "Kak Alka?"gumamnya lirih.


Sebuah jaket hitam bertengger di bahu Meira. "Pake itu." Dagu Alka menunujuk jaket tersebut.


Meira menyunggingkan senyum lalu segera memakai jaket yang di bawa Alka. Menarik resleting hingga leher lalu berbalik menatap Alka. Cewek itu membersihkan jejak air mata di pipinya dengan tangan.


"Makasih," ucapnya, tersenyum.


Alka mengangguk. "Itu jaket Bagus."


Senyum Meira perlahan luntur. Hatinya kembali sakit dengan kekecewaan. "Pantes baunya gak sama, sama jaket yang dulu," batin Meira.


"Lo kenapa gak ngelawan?" tanya Alka setelah diam beberapa detik.


Meira melengkungkan bibirnya ke bawah. "Aku takut liat Kak Naila marah." jawabnya.


Alka memutar matanya malas. "Lo takut sama Naila?" Meira mengangguk lemah.


"Kalo sama gue?" tanya Alka lagi. Meira menggeleng dengan senyum lebar.


Helaan nafas pelan terdengar dari Alka. "Lo takut sama Naila tapi sama gue, enggak?"


Meira merapikan bandonya. "Kan, Kak Naila itu manusia harimau. Kalau Kak Alka, mah, manusia tampan! Apalagi kemarin Kak Alka udah mau ngobrol banyak sama aku."


Alis Alka bertaut bingung." Gue? Ngobrol banyak sama lo?" Meira mengangguk semangat dengan senyum lebar yang kembali terbit.


"Iya, bahkan kita ngobrolin masa depan. Berdua!"


Alka menampilkan wajah bingung. Di seperkian detiknya cowok itu mendesis. "Azka sialan!" gerutunya dalam hati.


Alka berdecak. "Gak usah kegeeran. Itu bukan gue."


"Terus siapa kalo bukan Kak Alka?" Meira sedikit memiringkan wajahnya menatap Alka.


"Azka."


Lagi-lagi, kekecewaan menyapa Meira.


***


"Jadi bukan Petra yang jatuh pas balapan kemarin?" Ezra bertanya tak percaya.


Alka mengangguk. "Itu anak Warrior."


"Anak Warrior?" beo Tian.


The Lion kini berada di apartemen Alka. Duduk melantai di atas karpet dengan beberapa cemilan. Tak lupa juga dengan Adnan yang sudah bergabung dengan mereka.


"Kata Leo dia itu wakil ketuanya geng Warrior. Dan dia paling gak suka dengan kekalahan," celetuk Arnold.


Mereka sempat saling melempar pandang. "Maksud lo dia bakal balas dendam ke kita?" ini Bagus yang bertanya.


Arnold mengangkat bahu tak tahu. "Gue juga kurang tahu. Tapi kata Leo kita waspada aja." Leo adalah mentor sekaligus teman baik mereka dalam dunia balap.


"Lo semua jaga-jaga." Alka kembali bersuara.


Mereka mengangguk paham.


"Gimana keadaan adek lo, Nan?" tanya Devan, beralih pada Adnan. Mengigit sepotong biskuitnya lalu menatap Adnan.


Yang di tanya tersenyum tipis. "Masih sama seperti dulu. Gak ada perubahan sama kesehatannya. Tapi gue tetap bersyukur, setidaknya kondisi dia gak down."


Malik menepuk bahu Adnan dua kali. "Lo jangan sedih gitu, bruh. Ingat, kita semua selalu support lo dan adek, lo."


Adnan menunduk. Merasakan rasa bersalah dan penyesalan yang besar karena sempat berkhianat dari mereka.


"Sorry, Al, Devan, Bagus dan yang lainnya. Sorry karena gue udah khianatin kalian. Gue bener-bener gak maksud." terdengar ada banyak kesedihan di kalimat itu.


Malik yang ada di dekat Adnan langsung merangkul cowok itu ala pria.


"Heh, bro. Gak usah sedih gitu, kali. Kita semua udah maafin lo, kok. Iya kan, Al?" Alka mengangguk, sedikit tersenyum tipis.


Alka bergerak mendekat ke Adnan. "Gue yang harusnya minta maaf, Nan." Adnan menoleh pada Alka. Begitu pun dengan yang lainnya.


"Gara-gara keluarga gue lo jadi terbebani gini."


Semua menampilkan wajah bingung. Terkecuali Bagus dan Devan tentunya.


"Maksud lo, Al?" Tian yang bersuara.


Alka menghela nafas. "Kalian boleh benci sama gue setelah tau kenyataan ini."


"Kenyataan?" Arnold membeo.


"Jangan bikin kita penasaran gini, lah, Al." Malik memasang wajah ingin tahunya.


Alka menatap satu persatu temannya yang juga menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan.


"Samuel itu saudara gue."