![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
XII IPS 4. Kelas terkutuk menurut para guru di SMA Garuda. Kelas yang dominan berisi anak-anak kurang waras namun memiliki wajah yang di atas rata-rata. Contohnya saja The Lion. Semua anggota The Lion selain Dimas adalah penghuni kelas tersebut. Pemimpin di antara murid-murid pembuat onar lainnya.
Namun, beda lagi dengan Alea—Ketua kelas XII IPS 4—cewek itu terkenal dengan kedisiplinan, kegalakan, ke-toa-an dan kepintarannya hingga menjadi satu-satunya siswi kesayangan guru-guru yang pernah masuk ke kelas itu.
Cewek berparas lugu nan cantik namun memiliki sisi galak khas seorang pemimpin. Seperti sekarang ini contohnya.
"CHRISTIAAANN!! ADNAAANN!!"
Teriakannya menggema di antara keramaian kelas itu. Matanya menyorot tajam pada dua cowok yang sudah cengengesan di sudut kelas.
Alea berjalan dengan nafas memburu. Kedua tangannya berkacak saat kedua kaki bersepatu pentofel itu berhenti di depan Tian dan Adnan.
"Apa?" tanya Tian, santai. Dia duduk di atas meja dengan kaki bersila. Di sampingnya Adnan juga duduk di atas meja dengan kaki kanan di tekuk di atas meja dan kaki kiri dibiarkan menjuntai.
"Apa! Apa! Gak usah sok polos lo! Lo bedua kan, yang ngambil pulpen gue?! Ngaku kalian?!" kelakar Alea penuh amarah.
Tian dan Adnan saling memandang lalu terkekeh menatap Alea.
"Maksud lo pulpen warna pink terus penutupnya itu kepala kelinci?" tanya Tian.
Alea mengangguk dengan perasaan dongkol.
Adnan langsung turun dari meja lalu menjauh dari Alea. Tian sontak berdiri di atas meja kala sudah tahu apa yang akan Adnan lakukan.
"Lea! Maksud lo ini?!" teriak Adnan dari depan papan tulis dengan mengacungkan pulpen berwarna pink yang bertutupkan kepala kelinci.
Alea yang ada di belakang sontak menoleh dan membulatkan matanya saat pulpen kesayangannya melayang-layang di udara akibat lemparan Adnan.
"ADNAAANN!! JANGAN DI LEMPAR-LEMPAR KAMBING! ENTAR RUSAK KALO JATOH!" Alea berteriak murka.
Dia hendak menghampiri Adnan namun tarikan Tian di rambutnya lebih dulu menahan.
"TIAN SAKIT MONYET!!"
Tian tertawa lalu menarik tangannya, lompat dari meja lalu memasang wajah menjengkelkan di depan Alea. Matanya di julingkan, lidahnya sedikit keluar dari bibirnya serta kepala yang di gelengkan mengejek Alea.
Alea mengeraskan rahang, dengan tangan terkepal kuat. Menatap nyalang pada Tian dan Adnan yang sudah tertawa di depan sana.
"DASAR PENGGANGGU! LO BERDUA YAH, GAK PERNAH MASUK KELAS TAPI SEKALINYA MASUK LANGSUNG BUAT ULAH!"
"ENTAR GUE LAPORIN LO SAMA WALI KELAS!!"
"BODO AMAT!!" teriakan Adnan dan Tian yang berbarengan semakin menyulut amarah Alea.
Melihat muka merah Alea, Adnan dan Tian bertos ria lalu tertawa. Sangat senang melihat Alea menampilkan wajah seperti itu.
Arnold yang kebetulan tidur di meja dekat Alea yang berteriak, berdecak kesal lalu mengusap wajahnya. Merasa terganggu dengan teriakan Alea yang benar-benar memekakkan telinga. Arnold sontak berdiri lalu merangkul Alea. Membisikkan kalimat yang semakin membuat darah Alea sampai ke ubun-ubun.
"Lo cantik kalo teriak gitu," bisik Arnold lalu bergabung dengan Adnan dan Tian yang tertawa.
Mereka kemudian meninggalkan kelas begitu saja. Tapi sebelum itu Tian sempat memberikan finger heart atau jari yang di bentuk love ala-ala orang Korea. Bukannya membalas dengan hal yang sama, Alea malah membalas Tian dengan jari tengah.
Hal itu tentu membuat tawa Tian semakin terdengar nyaring.
Alea mendengus. The Lion memang sering membuat amarahnya meluap-luap ke permukaan. Kadang Alea suka heran dengan cewek-cewek di luar sana yang menggilai The Lion karena ketampanannya tanpa tahu betapa tengil dan jahilnya mereka. Alea menggeleng tak habis pikir.
Cewek itu kemudian mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum menuju bangkunya.
Namun, lagi-lagi seseorang kembali menyulut emosinya. Di bangkunya, seorang cowok dengan tampilan brandal tidur dengan berbantal tas miliknya.
"MALIIIIIIKKKK!!!"
***
"Omegad! Gila, gila, gila! Mereka ganteng banget!"
"Fix Adnan pacar gue!"
"Ih, apaan sih, gue pacarnya Adnan!"
"Arnold, saranghae!"
"Malik semangat!"
"Gue pengen neriakin nama Alka tapi takut di bacok."
"Bagus milik gue gak mau tau!"
"Devan is mine!"
"Tian ototnya buat gue pen di peluk!"
Semua teriakan-teriakan dari beberapa siswi yang berdiri di tepi lapangan mengudara saat tujuh cowok berwajah tampan tengah bermain basket di depan sana, satu lagi menjadi wasit.
Alka. Cowok dengan seragam putih tak terkancing hingga menampilkan kaos hitamnya men-shoot bola ke ring hingga mengundang pekikan histeris.
Bagus—cowok dengan rambut gondrong terikat serta kaki baju yang di keluarkan—terkekeh lalu bertos dengan Alka.
Devan—cowok berambut acak-acakan dengan tampilan baju seperti Bagus di tambah dengan dasi yang terpasang asal—mendengus melihat itu sebagai tim lawan Alka dan Bagus.
Bola kembali melambung di udara karena lemparan Tian, hal itu tentu saja kembali membuat sorak-sorai penonton semakin menggema.
Arnold. Cowok dengan topi khas SMA yang di pasang terbalik mengulas seringai lalu merebut bola dari Bagus. Mengoper ke Devan lalu shoot, dan berhasil.
Sekarang giliran Devan dan timnya yang bertos.
Malik, Alka dan Bagus terkekeh ringan. Begitupun dengan Arnold, Tian dan Devan. Adnan sebagai wasit meniup peluit sebagai pertanda berakhirnya pertandingan asal mereka.
Ke tujuh cowok itu berkumpul lalu duduk di tengah lapangan. Mereka tersentak saat melihat pinggiran lapangan yang sudah ramai dengan berbagai macam ekspresi kagum.
"Gila, gue gak sadar kalo kita jadi tontonan," celetuk Malik.
Adnan terkekeh. "Orang ganteng mah, gitu. Bersin aja langsung di liatin," timpalnya.
Bagus melepas ikat rambut karetnya lalu mengibaskan rambutnya. Pekikan semakin bertambah histeris.
"Gak usah sok ganteng lo. Entar kutu lo terbang baru tau rasa," cecar Devan menarik pelan rambut gondrong Bagus.
Bagus mendelik. "Gue bukannya sok ganteng, tapi memperjelas aja kalau gue emang benar-benar ganteng."
Arnold yang di samping Bagus mendengus lalu mengusap lehernya. "Gue kok pengen muntah, yah?" gumamnya.
Yang mendengar itu sontak tertawa selain Bagus yang sekarang menjitak kepala Arnold.
"Eh, bentar, bentar." suara Tian menyelah di antara tawa mereka.
Semuanya menghentikan tawa lalu menatap Tian yang menajamkan matanya melihat sesuatu.
"Kenapa?" tanya Alka.
Diam beberapa detik sebelum akhirnya Tian menjawab sambil menunjuk objek tatapannya.
"Itu bukannya Bianca?" tunjuk Tian pada seorang cewek dan tiga cowok yang tampak menggoda cewek tersebut.
Semua mata menatap arah tunjuk Tian. Termasuk Alka.
***
"Minta WA-nya dong, Dek. Jangan pelit gitu." cowok dengan rambut tatanan messy mencolek dagu Bianca namun segera di tepis oleh cewek beriris biru laut itu.
"Pe-permisi, Kak. Sa-saya mau ke kelas," ucap Bianca, gugup. Cewek itu menunduk menatap ujung sepatunya.
Salah satu di antara tiga cowok itu terkekeh lalu mendekat pada Bianca.
"Ayolah, gak usah sok jual mahal gitu," ujarnya. Tangannya bersedekap menatap Bianca yang tak tahu harus berbuat apa.
Sebagai murid baru Bianca tentunya belum berani melawan. Terlebih lagi ketiga cowok itu adalah seniornya. Kelas XII.
"Saya gak punya WA, Kak. Sa---"
"Lo hidup di zaman purba? Masa WA aja gak ada!" kelakar cowok berjabrik.
Bianca memberanikan diri mendongak lalu menyorot sungguh-sungguh pada mereka. Namun bukannya percaya, cowok berambut messy itu malah mengambil tangan kanan Bianca lalu memegangnya. Menarik agar Bianca ikut dengannya.
Bianca langsung memberontak, namun kekuatan cowok itu jauh lebih kuat darinya. Airmata Bianca hampir saja jatuh jika saja suara berat seseorang tidak menyelah perbuatan tiga cowok itu.
"Lepasin tangan lo!"
Ketiga cowok itu menatap cowok jangkung di belakang Bianca dengan tatapan takut.
Saat merasa pegangan cowok itu mengendur, Bianca dengan cepat menarik tangannya dan membalikkan badan untuk berterima kasih pada orang yang membantunya.
"Makas---"
Mata Bianca terpaku.
"Alka?" gumamnya rendah.
🦁
🦁
🦁