![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Alka baru saja keluar dari gerbang belakang sekolah. Gerbang di mana semua cowok yang katanya nakal sering lewat di sana untuk membolos, ataupun untuk nongkrong di warung belakang.
Cowok itu membuang permen karet dari mulutnya ke tempat sampah terdekat lalu kembali melangkah menuju kelas. Waktu yang tersisa untuk Alka berjalan hanyalah tiga menit dan setelah itu berakhir pelajaran akan dimulai. Namun dengan sikap biasa-biasa saja, dia menapaki tangga menuju lantai tiga. Tidak peduli dengan waktu yang terus berdetak cepat.
Di pertengahan jalan menuju lantai tiga, Alka menabrak seseorang saat dia sibuk berselancar di dunia maya. Sekedar melihat perkembangan anggota The Lion yang berbeda sekolah dengannya.
Suara mengadu dari cewek itu karena menabrak Alka, terdengar. Alka terpaku, begitupun cewek tersebut.
Keduanya diam dengan dua bola mata yang saling memandang.
"A-al...," lirih Bianca. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.
"Al...," lirihnya lagi.
Alka bergeming. Berusaha menetralkan degup jantungnya. Degup yang sangat Alka benci setelah satu tahun yang lalu.
Tanpa memperdulikan Bianca, Alka kembali menggerakkan tungkainya untuk pergi. Tapi, cekalan Bianca di lengannya memaksa Alka untuk berhenti lalu berbalik menatap sang empu dengan datar.
Alka menghempaskan tangan Bianca tidak santai.
"A-al..., maafin aku... Aku bener-ben---"
"Sesuatu yang udah lo sia-siain, jangan harap bisa lo miliki lagi," ucap Alka, dia menjeda dua detik ucapannya. "Bersikap seolah-olah lo gak tau siapa gue. Karna seharusnya emang gitu."
Hati Bianca mencelos. Kata-kata pedas itu menampar keras hatinya bahwa semuanya memang tidak akan sama lagi.
Bianca tersadar saat suara seseorang yang amat dia kenali ikut bergabung.
"Loh, Bianca sama Kak Alka ngapain berduaan di sini?" itu Meira, di dekapannya ada beberapa buku tugas. Cewek yang hendak menyetor tugas pada Bu Ratna—Guru bahasa Jerman—harus menunda tujuannya karena melihat Alka dan Bianca.
Bianca gugup. Matanya bergerak gelisah menatap Alka dan Meira bergantian. "Ah, eh, itu. Aku---"
"Pulang sama gue. Jangan ngehindar lagi." Setelah mengatakan kalimat itu dengan mata terarah pada Meira, Alka pergi begitu saja.
Meira mengangguk walau Alka tidak lagi melihatnya karena cowok itu sudah menapaki tangga menuju lantai tiga.
"Bianca kenapa bisa sama Kak Alka?" tanya Meira, lagi. Demi ****** ***** spongebob yang warnanya putih, Meira benar-benar penasaran.
Bianca tersenyum kikuk. "Ehm, itu tadi Kak Alka no-nolongin aku. Ta-tadi ada senior yang iseng ngegodain. Iya!"
Meira terdiam dua detik lalu mengangguk dengan mulut membulat hingga Bianca dapat bernafas lega.
"Yaudah, Bianca ke kelas, yah. Bu Indah udah mau masuk, ini aku mau ke ruangannya Bu Ratna dulu."
"Iya."
Meira, Dita dan Bella. Ketiga cewek itu berjalan menuju taman samping sekolah yang cukup sejuk setelah dari kantin sekedar membeli makanan dan minuman. Terdapat beberapa cemilan di tangan kanan Meira, begitupun dua sahabatnya.
Bella sibuk dengan ponsel sesekali cekikikan. Meira yakin sekali, sahabatnya itu pasti tengah men-stalker akun instagram Bima. Kegiatan yang akhir-akhir ini Bella gemari.
Mereka refleks berhenti melangkah saat Dita lebih dulu berhenti dengan raut wajah tidak percaya menatap sebuah bangunan cukup luas yang harus mereka lewati untuk ke taman samping.
Mushalla.
Bukan, bukan tempat itu yang membuat ketiganya terpaku, melainkan seorang cowok jangkung —dengan rambut sedikit basah—keluar dari sana. Di susul dua cowok berperawakan sama.
Mereka Alka, Ezra dan Dimas. Ketua dan dua inti The Lion itu baru saja keluar dari pintu mushalla dengan rambut yang sedikit basah akibat wudhu, mungkin.
Mata ketiganya masih terpaku menatap ketiga cowok yang kini tengah duduk memakai sepatu masing-masing.
Berbagai macam pertanyaan menyerang. Pentolan Garuda kenapa mendadak shalat? Sudah insaf? Atau pernah terbentur?
Tapi bukankah umat Islam memang berkewajiban shalat siapa pun dia dan bagaimana pun tampilannya?
Meira cepat-cepat sadar saat tiba-tiba pundaknya terasa di rangkul. Dia menoleh ke kanan dan mendapati Tian yang mencengir.
"Mau shalat, yah, Mei?" tanya Tian.
Meira menggeleng. Masih mencerna kejadian ini.
Tian terkekeh lalu menatap Alka yang tampak mengobrol dengan Dimas dan Ezra.
"Alka emang orangnya biasa shalat, Dimas dan Ezra juga. Biasanya Devan sama Bagus juga ikut, tapi gak tau mereka kemana sekarang."
Meira kembali di buat kaget mendengar fakta itu. Fakta yang benar-benar tidak pernah terlintas di pikiran Meira. Bahwa Alka adalah tipikal Badboy yang biasa shalat. Bella dan Dita yang sudah pergi entah kemana tidak lagi Meira pedulikan.
"Ke-kenapa aku baru liat Kak Alka shalat kalau emang dia biasa?" tanya Meira. Ingin info lebih lanjut.
"Emang harus lo liat dulu, Mei?"
Meira cengengesan
🦁
🦁
🦁