![[TLS#1] Senior](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-tls-1--senior.webp)
Sejak tadi Meira tidak bisa fokus menyelesaikan tugas matematika yang diberikan Bima padanya. Kehadiran cowok bertopi SMA dengan posisi terbalik di sampingnya adalah penyebab ketidakfokusannya. Mata hitam yang sejak tadi menatapnya membuat Meira salah tingkah bukan main.
Di dalam perpustakaan yang sepi, Meira mengedarkan pandangan untuk membuang wajah agar tidak terus ditatap oleh cowok di sampingnya. Kekehan dari samping membuat Meira menoleh pada sang empu. Meira memberengut dengan memukul pelan lengan cowok itu.
“Jangan diliatin mulu dong!” ujarnya sedikit kesal.
Bukannya membalas, Alka malah semakin terkekeh lalu membuka ikat rambut Meira hingga rambut cewek itu jatuh ke masing-masing bahu. “Jangan kuncir rambut kalau di sekolah,” ucapnya dengan memasukkan ikat rambut hitam Meira ke saku bajunya.
“Heran, deh. Dari kemarin-kemarin setiap nguncir rambut pasti dilepas. Gak tau apa kalau panas!” berusaha mengalihkan kegugupannya Meira kembali mencoba memfokuskan pikirannya ke buku matematikanya dengan mengerjakan beberapa soal yang dia mengerti.
Lagi, fokus Meira buyar digantikan dengan jantung yang berdegup kencang saat Alka menumpuhkan kepala di bahu kanannya. Meira meneguk ludah susah payah. Dia belum pernah sedekat ini dengan laki-laki kecuali Gilang dan papanya.
“Kak …,” lirihnya. Tangan kanannya memegang erat pulpen berwarna pink dengan penutup kepala kelinci yang dia pegang.
“Kerja aja, gak usah banyak omong.” Alka tetap abai. Cowok dengan seragam tidak tertib itu tetap pada posisinya. Bertumpuh kepala di bahu Meira dengan menghirup aroma manis yang menguar dari tubuh pacarnya.
Dengan susah payah Meira menarik nafas lalu berusaha mengabaikan jantungnya yang selalu menggila jika berdekatan dengan Alka. Sekian lama cewek itu berusaha untuk fokus, Meira akhirnya menyerah dengan meletakkan pulpennya ke atas meja lalu menjatuhkan tatapan pada Alka.
“Mei gak bisa fokus kalau Kakak kayak gini. Jantung Mei dangdutan tau!” cercanya dengan suara yang sedikit kesal.
Meira bukannya tidak suka Alka bersikap seperti ini, malah dia sangat menyukainya jika saja ini tidak berdampak buruk pada jantungnya.
Terkekeh, Alka beralih menumpuhkan dagunya di bahu Meira dan menatap ceweknya dari samping. “Lo gak suka gue kayak gini?” tanyanya.
Dengan cepat Meira menggeleng yang kontan membuat Alka tertawa gemas. Cowok itu kemudian menarik wajahnya lalu mengacak rambut Meira. “Gemesinnya sama gue doang, ya. Jangan sama cowok lain.”
Mau tidak mau, bibir Meira berkedut hingga akhirnya senyum terbit dari bibir merah muda itu. Meski Alka tetap dingin walau mereka telah berpacaran, namun ada satu hal yang Meira sukai dari cowok berkepribadian ganda itu. Sifat posesif Alka selalu membuat Meira merasa berharga. Rasanya, dia benar-benar diinginkan oleh cowok itu.
Meira memutar tubuh hingga sepenuhnya berhadapan dengan Alka. “Emang kenapa kalau sama cowok lain? Kan, Mei emang gemesin, gimana dong?" senyum Meira terkulum saat melihat mata Alka yang memicing menatapnya.
Alka mengangkat bahu lalu meraih jemari Meira untuk dia mainkan. “Gak bisa jamin kalau habis itu dia masih hidup.”
Kini, tawa Meira sukses lepas.
Dengan gemas dia mencubit pipi Alka dengan satu tangannya yang bebas. “Kalau sama Kak Gilang dan papa gimana?” dia mengangkat alis.
“Kecuali mereka.”
Meira mengangguk mengerti. Dia kemudian sedikit memiringkan kepalanya untuk menatap Alka yang tetap fokus memainkan jarinya. “Kakak mau tau satu hal gak?” ujarnya yang mengundang tatapan Alka. Cowok bermata hitam itu kemudian beralih menaruh tangan Meira ke pipinya.
“Apa?” tanyanya.
“Aku kalau liat senyum Kakak itu selalu pengen bilang, fabiayyi alai rabbikuma tukazziban.” Dia terkekeh saat Alka menatapnya dengan senyum tipis. “Artinya, manakah nikmat Tuhanmu yang engkau dustakan,” tambahnya disusul kekehan geli dari dirinya sendiri.
Mau tidak mau Alka kembali terkekeh dengan mengacak gemas rambut Meira. Alka tidak tahu jika rasa yang selama ini disangkalnya membuat dirinya bahagia bukan main. Rasanya, sesuatu yang kosong dalam dirinya kembali terisi. Rasa sepi yang selalu menjadi temannya, kini telah hilang digantikan keramaian saat cewek di depannya ini tertawa. Alka tidak pernah kesepian lagi walau dia hanya berdua dengan Meira.
Cewek yang tidak lain adalah adik dari sahabatnya sendiri itu telah berhasil merobohkan dinding pertahanan yang Alka buat. Meira telah berhasil memasuki hidupnya. Dan Alka berjanji, tidak akan melepaskan Meira walau harus menghadapi ribuan saingan di depan sana.
“Sekarang Kakak yang gombalin aku!” lamunan Alka buyar saat suara Meira terdengar.
“Jadi tadi itu gak ikhlas?” tudingnya dengan mata memicing.
Meira mencengir. “Ikhlas, sih. Tapi semua harus ada balasannya!” dia bersedekap dengan mengangkat dagu menantang Alka. Meira sangat yakin, cowok kaku yang tidak lain adalah pacarnya sendiri itu tidak mungkin bisa melontarkan kalimat alay padanya.
Alka mengangguk singkat lalu menumpuh dagu menatap Meira. “Cinta gue ke lo itu kayak ngehitung pasir di padang pasir.”
“Tak terhingga dong?” Alka menggeleng dengan senyum geli yang dia tahan.
“Yang bener dong, Kak,” rajuknya dengan wajah cemberut. Benar yang dia pikirkan, Alka tetaplah Alka. Si cowok pelit ekspresi yang tidak suka berkata-kata alay.
Menghela nafas pelan, Alka mengambil kedua tangan Meira ke dalam genggamannya. Mata hitamnya menghunus mata Meira dengan tatapan teduhnya.
“Gombalan gak selamanya bentuk ungkapan cinta, Mei. Gue gak butuh rentetan kata-kata alay buat ungkapin perasaan gue ke lo.” Dia kemudian menepuk ujung hidung Meira dengan telunjuknya.
“Karna bagi gue, cinta itu pembuktian. Bukan gombalan.”
Bolehkah Meira berteriak sekarang? Alka memang dingin, datar dan kaku. Namun cowok itu selalu punya cara tersendiri untuk membuat Meira merasa benar-benar disayangi. Benar kata Alka, cinta bukanlah tentang janji-janji atau gombalan yang hanyalah omong kosong belaka.
Melainkan sebuah pembuktian bahwa kita benar-benar cinta.
“Dan ada satu hal yang perlu lo tau, Mei.”
Dengan jantung yang kembali berdegup di luar kendali, Meira mengangkat alis. “A-apa?”
Alka tersenyum tipis saat mendengar nada gugup dari Meira. “Tanpa gombalan pun, cinta gue akan tetap utuh buat lo."
Sebuah kecupan singkat mendarat di punggung tangan Meira.
####
“Lo tau, kan. Sejak awal kita emang gak ada rasa lebih. Dulu, gue deketin lo karna gue pengen balas dendam ke Alka. Dia udah rebut semua perhatian bokap gue dengan statusnya yang cuma anak haram!”
Bianca menatap tidak percaya pada cowok ber-hoodie putih yang duduk di depannya. Hati Bianca sakit saat cowok itu hanya memanfaatkan dirinya untuk membalas dendam pada orang lain yang ternyata adalah saudara cowok itu sendiri.
“Kamu jahat! Dulu aku putusin Alka karna milih kamu. Aku rela ngebuang orang yang tulus sayang sama aku demi cowok berengsek kayak kamu, Sam! Mana balas budi kamu?!” cercanya. Mata Bianca memanas. Bianca menyesal. Menyesal karena dulu lebih memilih Samuel daripada Alka karena mengetahui status cowok itu.
“Dari mananya lo milih gue? Bukannya lo putusin Alka karna malu punya cowok yang lahir di luar nikah?” seringai Samuel terulas. Dengan santai dia menyilangkan kaki dengan menyeruput Americanno yang dia pesan.
Bianca mengedarkan matanya pada seisi Cafe yang cukup ramai ini untuk sekedar menghembuskan nafas. Kedua tangannya terkepal di atas meja. Dan itu tidak luput dari tatapan Samuel hingga seringai cowok itu semakin lebar.
“Keputusan gue buat batalin pertunangan ini udah bulat.” Samuel berdiri lalu mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya dan menaruh di atas meja.
“Baik keluarga lo ataupun keluarga gue gak ada yang bisa ngehalangin gue. Jadi gak usah berharap lagi!” tambahnya dengan nada datar kemudian berlalu dari dalam Cafe.
Meninggalkan Bianca yang menatap pintu Cafe yang dia lalui dengan tatapan marah. Saat ini, hati Bianca benar-benar panas. Rasanya dia seperti cewek murahan yang dengan gampangnya dipermainkan oleh Samuel. Bianca tahu, pertunangannya dengan Samuel memang hanyalah sebuah perjanjian bisnis antar dua perusahaan demi sebuah saham.
Tapi, apakah salah jika Bianca ingin mempertahankan pertunangan itu? Bukan karena takut kehilangan saham, melainkan Bianca takut kehilangan untuk yang kedua kalinya. Helaan nafas berat terdengar dari cewek ber-drees biru dongker itu.
Mungkin ini harga yang harus dibayar Bianca karena telah meninggalkan Alka dengan gampangnya. Dan ini mungkin juga balasan buat Bianca yang telah membuat Alka sakit hati di masa lalu.
Bianca menggelengkan kepalanya. Tidak! Ini bukan balasan untuknya. Melainkan ada seseorang yang membuatnya harus menanggung semua ini. Orang yang telah merebut dua lelaki incarannya. Alka dan Samuel.
Bianca bangkit dari kursinya lalu menyampirkan slingbag-nya ke bahu kanan dan meninggalkan Cafe. Bianca tahu orangnya. Dia adalah sumber dari penderitaan Bianca. Jika saja orang itu tidak hadir di antara Alka dan Samuel, maka Bianca mungkin bisa kembali mendapatkan Alka. Atau paling tidak Samuel tidak akan membatalkan pertunangan mereka.
“Gue gak bakal tinggal diam, Mei.”
.
.
.