[TLS#1] Senior

[TLS#1] Senior
1SENIOR 29



CIITT!!


Suara decitan ban motor Alka dengan aspal cukup mendengungkan telinga di jalanan yang lumayan sepi itu. Hanya terdapat dua atau tiga kendaraan saja yang berlalu.


Meira menutup rapat-rapat matanya, pelukannya mengerat saat motor sport Alka hampir saja terjungkal ke depan akibat rem mendadak.


Dada Meira naik turun dengan deru nafas yang memburu saat motor Alka sudah stabil. Matanya mulai memanas karena ketakutan.


"Lo oke?" masih dengan posisi yang sama Meira mengangguk di punggung Alka.


Cowok itu—Alka—melepas lengan Meira yang melingkari perutnya dengan pelan lalu turun setelah men-standar motornya.


Alka mengedarkan pandangan. Sudah berdiri sekitaran delapan orang yang melingkarinya dengan seringai tajam.


"Srigala." batin Alka mendesis saat tahu siapa orang-orang itu.


Dia lebih dulu mengangkat Meira turun dari motornya lalu memegang bahu cewek yang tengah menunduk itu. "Lo bisa bela diri?"


Meira menggeleng lalu mendongak menatap mata tajam Alka. "A-aku takut, Kak. Aku g-gak tau bela diri," lirih Meira bergetar. Matanya bergerak gelisah menatap orang-orang berpakaian preman itu.


Alka menarik nafas lalu mengeratkan tangannya pada bahu Meira.


"Kita lawan sama-sama."


Kalimat itu sukses membuat mata Meira membola. Dia sama sekali tidak tahu ilmu bela diri dan sekarang Alka ingin melawan mereka bersama?


Yang benar saja!


"Tap---"


"Oiy! Gak usah drama lo berdua!" teriakan salah satu dari orang itu memotong ucapan Meira.


Lingkaran itu pecah saat orang yang tadi berteriak menyerang Alka.


Bugh!


Satu bogeman mendarat di pipi Alka. Cowok itu mendesis lalu menatap tajam sang pelaku. Menggenggam tangan Meira lalu melayangkan tendangan telak pada dada cowok itu.


"Sialan!" Alka mengumpat saat cowok berperawakan tinggi dengan kepala botak hendak memukul Meira.


Bugh!


Tendangan dari kaki Meira ke pusaka cowok itu sukses membuat sang empu mengerang kesakitan.


Meira menatap kakinya tak percaya lalu merapatkan punggungnya pada punggung Alka. Orang-orang itu kembali mempersempit jarak mereka dengan seringai tajam yang tak pernah lepas.


"Ikutin aba-aba gue, Oke?" Meira mengangguki bisikan Alka.


"Tendang!" Alka mengangkat pinggang Meira hingga kaki cewek itu melayang di wajah cowok berambut jabrik tersebut.


"Sialan," umpat orang itu.


Alka kembali melayangkan kepalan tangan kanannya pada cowok yang hendak memukulnya, sedangkan tangan kirinya menggenggam erat tangan kanan Meira.


Ini posisi yang menyulitkan untuk Alka saat ruang geraknya terbatasi. Dia sebenarnya bisa saja menghabisi orang-orang itu jika saja tidak ada Meira yang harus dia lindungi.


Alka menatap sekilas pada Meira yang menatap orang-orang itu. Alka tidak bisa menyalahkan Meira. Bagaimana pun sudah tugasnya menjaga Meira.


Karna Gilang.


Bugh!


Alka tersungkur ke samping saat salah seorang menendang lengannya. Genggamannya pada Meira terlepas hingga akhirnya cewek itu terperangkap dalam kungkungan cowok yang menendang Alka.


Alka bangkit lalu berniat melayang kan bogeman pada cowok itu sebelum akhirnya sebuah pisau lipat teracung di leher Meira.


Alka terpaku. Matanya lurus menatap pisau dan Meira yang sudah menangis secara bergantian.


"K-kak. Tolongin, Mei. A-aku ta-takut."


Suara lirih itu berhasil membangunkan Singa yang tidur dalam diri Alka. Seringai tajam mulai terpatri di wajah dingin itu. Matanya menajam dengan iris Elang yang siap menghunus siapa saja.


"Mau apa lo? Berani lo melangkah satu kali, aja. Nih, cewek mati!" kelakar orang tersebut. Pisaunya semakin mendekat ke arah leher jenjang Meira.


Seringai Alka semakin tajam. "Kita liat siapa yang bakal mati," ujarnya rendah namun mencekam. Khas seorang Alka. Pembawaan yang tenang namun mampu membuat musuhnya bergetar ketakutan.


Saat orang itu sibuk menghentikan berontakan Meira. Alka merogoh saku jaketnya.


DOR!


Suara petasan berukuran kecil namun memiliki suara besar berhasil Alka ledakkan di samping cowok itu hingga sang empu terperanjat dan melepaskan kungkungannya dari Meira.


Dengan cepat Alka menarik Meira lalu menyembunyikan cewek itu di punggungnya. Mata Alka menatap sekitar. Sisa tiga orang yang kini sudah berdiri menatapnya tajam.


"Jadi begini cara kerja seorang Alka?" cowok itu berdecih. "Pengecut!" lanjutnya mencibir.


Alka mendudukkan Meira yang sudah menangis di atas motor lalu menghampiri tiga orang itu.


"Bukan pengecut. Tapi cerdik."


Bugh!


Satu lawan tiga akhirnya terjadi. Alka dengan lincah melayangkan kepalan tangannya pada orang-orang itu. Melayangkan tendangan beberapa kali saat di perlukan.


Bugh!


Krek!


Aakhh!


Dia semakin berteriak saat Alka memutarnya lebih jauh kebelakang.


"A-ampun...." lirihnya dengan wajah yang sudah tak terbentuk.


Alka tidak memperdulikan itu. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun. Tidak lagi ada kata tenang dalam dirinya. Darahnya sudah mendidih ingin melihat lawannya tak sadarkan diri.


Bugh!


Bugh!


Alka memberikan bogeman pada pipi kanan dan kiri cowok itu.


Bugh!


Dan terakhir, bogeman Alka di dagu cowok itu menjadi penutup mata cowok tersebut.


***


Sudah sejak beberapa jam yang lalu The Lion, Meira, dan Hadi berada di luar ruangan operasi yang masih berwarna merah pada lampunya. Menandakan bahwa operasi masih berlangsung di dalam sana walaupun jam telah menujukkan pukul delapan malam.


Mata Alka sejak tadi menatap Meira yang menangis kecil di pelukan Devan. Alka tahu cewek itu pasti masih ketakutan. Alka hanya diam saja, membiarkan Devan menenangkan Meira.


Tak berselang lama, lampu ruangan tersebut berubah warna menjadi hijau. Semua yang duduk sontak berdiri. Yang sudah berdiri kian menegakkan badannya. Yang bersandar pada tembok sontak menarik badan saat satu orang Dokter wanita dan dua Suster di belakangnya keluar dari ruangan dengan seragam operasi.


"Bagaimana dengan Mama saya, Dok?" Alka langsung saja berdiri paling depan. Wajahnya datar namun terlihat ke khawatiran yang mendalam pada mata Elang cowok itu.


"Operasi istri saya berjalan lancar, kan, Dok?" tambah Hadi bertanya. Pria itu berdiri di samping Alka dengan wajah khawatir.


Dokter tersebut menurunkan maskernya lalu menatap Alka dan Hadi bergantian. Dia mengghela nafas sejenak lalu menjawab.


"Kami mohon maaf. Operasinya gagal karena pasien mengeluarkan darah yang sangat banyak hingga jantungnya melemah. Pasien telah di nyatakan meninggal tiga menit yang lalu."


Runtuh sudah dunia Alka. Tatapan cowok itu menajam menatap Dokter tersebut. Demi apapun Alka akan menghajar Dokter itu jika saja dia lupa bahwa Dokter tersebut seorang wanita.


Semua anggota The Lion menunduk. Tangis Meira pecah di pelukan Devan.


Hadi sendiri sudah kehilangan keseimbangannya. Pria itu hampir saja ambruk ke lantai jika saja Ezra tidak menangkap tubuhnya.


"Anda jangan bercanda, Dokter! Mama saya itu kuat! Dia selama ini gak pernah ngeluh kesakitan! Gak mungkin Mama saya meninggal!" suara Alka meninggi. Deru nafas cowok itu memburu.


Dokter tersebut hanya menunduk. Tatapan Alka begitu mengerikan.


"Al, sabar. Lo harus ikhlas. Mungkin Tuhan sayang banget sama Tante Raya."


Alka menepis tangan Bagus yang memegang pundaknya. Dia—Alka—melangkah mundur dan bersandar pada tembok rumah sakit. Badannya perlahan luruh ke lantai dingin itu.


Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


Mamanya telah pergi. Tujuan hidupnya sudah tidak ada lagi. Alasannya untuk tetap kuat melawan dunia sudah lebih dulu mundur tanpa menunggu Alka berhasil menaklukkan dunia.


Alka menangis dalam diam. Mata yang biasa menatap tajam itu redup di gantikan dengan tatapan kosong dan setetes air mata yang berhasil lolos dari sudut matanya.


Sekarang, Alka hanya berjuang sendiri untuk keadilan hidupnya.


***


Pagi ini, semua orang yang hadir di pemakaman Mama Alka menunduk dengan hati yang memanjatkan do'a dan tangan menengadah.


Setelah itu terdengar gumaman 'Aamiin' dari mereka semua di lanjutkan dengan mengusap wajah.


Satu-persatu orang berpakaian hitam tanda berduka itu mulai meninggalkan area pemakaman. Kini tinggal-lah Alka, Hadi, Meira, Hanin dan The Lion yang masih setia berdiri.


Perlahan, Alka merendahkan dirinya untuk menumpuhkan lutut kanannya yang terbaluti jeans hitam ke tanah dan kaki kirinya membentuk siku.


Tangannya terangkat mengelus nisan Mamanya dengan tatapan kosong.


Meira ikut memposisikan diri lalu mengelus bahu Alka. Meira juga merasa kehilangan. Soraya adalah sosok wanita kuat, penyabar, dan penuh kasih sayang yang pernah Meira kenal. Wanita yang selalu membuat Meira terkagum-kagum dengan kesabarannya. Dan kini, Beliau telah berpulang ke pangkuan-Nya.


Meira menyeka airmatanya yang kembali hadir lalu mendongak saat Hanin mengelus bahunya.


"Mama duluan, Yah? Papa kamu bentar lagi pulang."


Meira mengangguki ucapan Mamanya dan kembali menatap sendu pada Alka.


"Kakak yang ikhlas, yah. Biarin Tante Raya tidur dengan tenang."


Tidak ada respon kalimat dari Alka. Cowok itu hanya menatap sekilas pada Meira lalu kembali menatap pusaran Mamanya.


Hadi ikut membungkukkan badan lalu mencium nisan istri tercintanya. Berdoa dalam hati agar Allah memberikan tempat terbaik untuk wanita terkuatnya.


Setelah itu dia menepuk bahu Alka lalu pergi. Menyisakan Alka, Meira dan The Lion yang masih berdiri dengan kepala tertunduk.


Saat Alka hendak menengadahkan wajahnya untuk menahan cairan bening yang ingin keluar dari sudut matanya, pandangannya menangkap sosok Samuel dan Megan yang berdiri tak jauh dari mereka.


Kedua anak dan ibu itu juga memakai pakaian serba hitam dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mereka.


Alka hanya menatap datar. Saat matanya hendak berpaling, dia kembali di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang baru saja berdiri di samping Samuel.


Orang itu memakai pakaian yang serupa. Hanya saja tidak ada kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Dan saat itulah, Alka merasakan dirinya seolah tersengat arus listrik bertegangan tinggi kala mata biru laut itu bertubrukan dengan mata hitamnya.


Dia Bianca Kimberly. Gadis yang pernah Alka cintai dengan tulus.